Beranda Berita Nasional Sulteng dan Malut Jadi Pusat Pertumbuhan Hilirisasi Nikel dan Ekosistem Baterai EV

Sulteng dan Malut Jadi Pusat Pertumbuhan Hilirisasi Nikel dan Ekosistem Baterai EV

99
0
Menteri Inhil/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani (Foto: Dok TV Parlemen)
Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-International-Critical-Minerals-Summit-Indonesia-2026-1024x341.jpg

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Sebanyak 75,5% pertumbuhan hilirisasi pada triwulan I 2026 berada di luar Pulau Jawa. Sulawesi Tengah (Sulteng) dan Maluku Utara (Malut) menjadi daerah utama yang menopang pertumbuhan tersebut melalui pengembangan hilirisasi nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Hal itu disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Senin (15/6/2026).

“Persebaran pertumbuhan hilirisasi pada triwulan 2026, 75,5% hilirisasi justru berada di luar Jawa, terutama di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara yang ditopang oleh hilirisasi nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik,” ujarnya.

Selain memaparkan persebaran pertumbuhan hilirisasi, Rosan juga menyampaikan, sektor hilirisasi sumber daya alam berkontribusi sebesar 30% terhadap total realisasi investasi yang masuk ke Indonesia pada triwulan I 2026. Nilainya mencapai Rp147,5 triliun atau tumbuh 8,2% secara tahunan (year on year/YOY).

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

Data realisasi investasi triwulan I 2026 juga menempatkan Sulteng dan Malut dalam 10 besar daerah dengan realisasi investasi terbesar di Indonesia. Sulteng berada di peringkat kelima dengan nilai investasi mencapai Rp32,1 triliun atau 6,4% dari total investasi nasional, sedangkan Malut menempati peringkat keenam dengan realisasi investasi sebesar Rp25,2 triliun atau 5%.

Investasi hilirisasi masih didominasi sektor mineral. Investasi di industri nikel tercatat sebesar Rp41,5 triliun, disusul tembaga Rp20,7 triliun dan besi baja Rp17 triliun. Ketiga sektor tersebut menyumbang sekitar 67 persen dari total investasi hilirisasi pada triwulan I 2026.

Sementara itu, investasi hilirisasi di sektor perkebunan dan kehutanan mencapai Rp29,8 triliun. Adapun sektor minyak dan gas bumi menyumbang Rp17,7 triliun, sedangkan sektor perikanan dan kelautan tercatat sebesar Rp1,7 triliun.

Dominasi investasi di sektor mineral menunjukkan hilirisasi nikel masih menjadi motor utama investasi berbasis sumber daya alam pada triwulan I 2026, di tengah berkembangnya investasi pada sektor-sektor strategis lainnya. (Tubagus)

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg