Beranda Berita Nasional Kurangnya Role Model Jadi Tantangan Perempuan Berkarier di Industri Pertambangan

Kurangnya Role Model Jadi Tantangan Perempuan Berkarier di Industri Pertambangan

81
0
Direktur Eksekutif Women in Mining and Energy Indonesia, Noormaya Muchlis (Foto: MNI)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Kesetaraan gender dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri pertambangan dan energi. Selain mendorong produktivitas dan profitabilitas perusahaan, penerapan prinsip keberagaman, kesetaraan, dan inklusi juga diyakini mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif.

Direktur Eksekutif Women in Mining and Energy (WIME) Indonesia, Noormaya Muchlis, mengatakan, sektor pertambangan dan energi di Indonesia masih membutuhkan lebih banyak keterlibatan perempuan, baik sebagai tenaga profesional maupun pemimpin. Karena itu, perusahaan didorong untuk semakin serius menerapkan program diversity, equity, and inclusion (DEI) guna membuka peluang yang lebih luas bagi talenta perempuan.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

“Kita ingin lebih perusahaan-perusahaan di Indonesia mendukung program diversity, equity, dan inclusion, sehingga lebih banyak talenta perempuan yang bisa berada di sektor ini dan meningkatkan representasi perempuan di sektor pertambangan dan energi,” kata Noormaya, di Le Meridien Hotel, Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Namun, upaya meningkatkan partisipasi perempuan masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya adalah minimnya figur perempuan yang dapat menjadi panutan di industri pertambangan dan energi. Selain itu, masih banyak juga perusahaan yang dinilai belum memiliki kebijakan dan fasilitas yang mampu mendukung perempuan untuk bertahan dan berkembang di industri pertambangan.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg

“Tantangan pertama adalah kurangnya role model perempuan yang berada di sektor pertambangan dan energi ini. Lalu, masih banyak perusahaan yang belum memberikan benefit kepada perempuan untuk bisa bertahan di industri ini. Kita ingin lebih banyak kebijakan dan prosedur perusahaan yang memberikan akses yang sama bagi perempuan,” ungkapnya.

Selain itu, menurut dia, masih adanya stereotip di lingkungan kerja yang mempengaruhi perkembangan karier perempuan sehingga perempuan masih kerap dipandang kurang kompeten dibandingkan laki-laki sehingga memiliki peluang yang lebih kecil untuk memperoleh promosi maupun kesempatan mengembangkan karier.

“Masih banyak perempuan yang dianggap tidak kompeten berada di tempat kerja, kemudian tidak mendapatkan promosi dan tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kariernya di sektor ini,” ujarnya.

Berdasarkan data, ujarnya lagi, jumlah mahasiswa perempuan di perguruan tinggi sebenarnya hampir seimbang dengan laki-laki, tetapi ketika memasuki dunia kerja, khususnya sektor pertambangan dan energi, jumlah perempuan menurun secara signifikan.

“Kalau melihat angka statistik di Indonesia, di perkuliahan perempuan dan laki-laki hampir seimbang. Tetapi, ketika memasuki sektor pekerjaan, jumlah perempuan langsung menurun drastis,” tuturnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat berbagai hambatan yang menyebabkan perempuan belum banyak memilih berkarier di sektor pertambangan dan energi. Oleh karena itu, ia menilai kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan dunia pendidikan diperlukan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif sehingga semakin banyak perempuan tertarik berkontribusi di industri strategis tersebut.

Ia mengungkapkan berdasarkan angka statistik semakin banyak perusahaan global yang melihat kesetaraan gender sebagai bagian dari strategi bisnis. Lebih dari 50% perusahaan percaya bahwa kesetaraan gender dapat meningkatkan produktivitas perusahaan, meningkatkan profitabilitas, dan juga membuat lingkungan kerja lebih inklusif. (Fi Yun)