
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Upaya mendorong transisi energi bersih di sektor pertambangan dinilai semakin mendesak, seiring meningkatnya tantangan global dan kebutuhan akan efisiensi industri. Sinergi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci dalam memastikan keberhasilan agenda transisi energi nasional, termasuk melalui reformasi regulasi, mobilisasi pembiayaan, serta adopsi teknologi yang tepat guna.
Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Perencanaan Strategis, Jisman P. Hutajulu, mengatakan, penggunaan electric vehilce (EV) di kawasan pertambangan tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat daya saing industri tambang. Selain itu, langkah ini mencerminkan komitmen sektor pertambangan dalam mendukung target keberlanjutan lingkungan.

“Dengan EV, perusahaan tambang bisa lebih berkontribusi terhadap penciptaan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Jisman, di Jakarta, pekan lalu.
Selain itu, guna mendukung implementasi EV pemerintah melalui Kementerian ESDM bekerja sama dengan PT PLN (Persero) serta mitra strategis, seperti lembaga Climate Institute, telah menyusun peta jalan pengembangan infrastruktur pengisian kendaraan listrik nasional (National Charging Infrastructure Roadmap).

Sementara itu, akselerasi transisi energi pada sektor pertambangan menjadi bagian penting dalam menurunkan emisi sekaligus mendukung target network emisi nasional.
“Dibutuhkan penguatan ekosistem industri dengan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan penyedia energi untuk membangun rantai pasok baterai, infrastruktur pengisian dan layanan pendukung,” pungkasnya. (Fi Yun)













































