
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah terus mengintensifkan promosi investasi ke berbagai negara guna memperkuat arus modal masuk, khususnya di sektor hilirisasi mineral termasuk nikel. Upaya ini dilakukan melalui kunjungan kerja bersama presiden ke sejumlah negara, seperti Jepang, Korea Selatan, China, hingga Singapura.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Rosan P. Roeslani, mengatakan, investasi di sektor hilirisasi menunjukkan kontribusi signifikan, yakni sekitar 29–30% dari total investasi nasional. Angka ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang berada di kisaran 24–25%.

“Tren ini kami lihat akan tetap stabil ke depan karena hilirisasi memberikan nilai tambah sekaligus membangun ekosistem industri secara menyeluruh,” kata Rosan dalam Konferensi Pers Realisasi Investasi Triwulan I Tahun 2026, di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Menurut dia, pemerintah optimis akan mencapai target investasi nasional pada 2026 dari yang telah ditargetkan, terbukti dengan tingginya minat investor serta stabilitas ekonomi dan politik Indonesia yang dinilai menjadi faktor utama dalam menarik investasi.

“Kepercayaan investor terhadap Indonesia terus meningkat karena stabilitas yang kita jaga, baik dari sisi ekonomi maupun politik,” pungkasnya.
Pengembangan ekosistem industri nikel menjadi salah satu fokus utama, mulai dari kegiatan pertambangan hingga produksi baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV), termasuk daur ulang baterai. Pemerintah menargetkan seluruh rantai pasok tersebut dapat terintegrasi di dalam negeri.

Meski demikian, pemerintah juga mulai mendorong diversifikasi investasi hilirisasi ke sektor lain, seperti perkebunan dan perikanan. Komoditas seperti kelapa, serta subsektor akuakultur seperti tilapia dan rumput laut, dinilai memiliki potensi besar terutama dari sisi penciptaan lapangan kerja.
Diketahui, Singapura masih menjadi investor terbesar di Indonesia pada triwulan I tahun 2026 dengan nilai investasi US$4,6 M. Lalu, posisi kedua ada Hongkong dengan nilai investasi US$2,7 M. Ketiga, Tiongkok (China) dengan nilai investasi US$2,2 M. Dengan nilai investasi sebesar US$1,3 M, Amerika Serikat ada di posisi empat. Lalu, posisi kelima ditempati Jepang dengan nilai investasi US$1,0 M. (Uyun)





















































