

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Peran perempuan di industri pertambangan nikel kian menguat dan melampaui sekadar simbol inklusivitas. Di lingkungan operasional Harita Nickel, para perempuan justru tampil di posisi krusial—mulai dari pengelolaan sosial, keselamatan proses, hingga pengawasan lingkungan—menjadi representasi nyata semangat emansipasi ala Kartini di era modern.
Dalam memperingati Hari Kartini, yang jatuh setiap 21 April, dua putri daerah Pulau Obi, Margarita Luwudara dan Yufita Tuhuteru, menjadi contoh paling menonjol. Keduanya memegang peran strategis yang menyentuh langsung aspek sosial dan teknis operasional perusahaan.
Margarita, yang menjabat sebagai Community Relations Superintendent PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (TBP), telah menjadi penghubung utama antara perusahaan dan masyarakat sejak 2018. Sebagai warga Desa Kawasi, ia membawa pendekatan berbasis kearifan lokal dalam memastikan program sosial berjalan efektif.
“Sebagai anak Obi, saya bersyukur atas dukungan perusahaan. Ini berdampak besar bagi masa depan kami, dan saya berharap generasi muda Obi berani bermimpi,” ujar Margarita dilansir Harita Nickel, Rabu (22/4/2026).

Sementara itu, Yufita Tuhuteru beroperasi di sektor berisiko tinggi sebagai process safety engineer di PT Halmahera Persada Lygend (HPL). Dengan latar belakang magister kimia dari Universitas Gadjah Mada, ia bertanggung jawab memastikan keselamatan proses di fasilitas pengolahan bahan baku baterai kendaraan listrik. Bagi Yufita, keselamatan bukan sekadar kepatuhan prosedural.
“Ini adalah bentuk tanggung jawab untuk melindungi rekan kerja dan masyarakat sekitar dari risiko,” ujarnya.
Di sisi lain, tantangan lingkungan juga ditangani oleh para perempuan di garis depan. Esmar Sulea Datu Lalong bersama Mira Marlinda mengelola sistem pengendalian limpasan di area tambang, termasuk kolam sedimen seluas 43 hektare.
“Kualitas air dikontrol secara ketat melalui metode fisika dan kimia agar memenuhi baku mutu sebelum dialirkan kembali ke alam,” jelas keduanya.

Pengawasan serupa dilakukan Rahma Maulida di fasilitas dry stack tailing facility (DSTF). Ia memastikan, kualitas air limbah tetap sesuai standar melalui pemantauan harian di titik inlet dan outlet.
Upaya pelestarian lingkungan bahkan meluas hingga wilayah pesisir. Putri Wulandari memimpin program rehabilitasi ekosistem laut melalui penanaman mangrove dan pemantauan kualitas perairan secara berkala.
Sementara itu, aspek keselamatan kerja diperkuat oleh Claudia Kowaas di pabrik peleburan PT Halmahera Jaya Ferronikel (HJF). Ia memastikan implementasi standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) berjalan optimal.
“Kepatuhan adalah landasan mutlak. Ini adalah nyawa yang menjamin keselamatan setiap pekerja bisa pulang kepada keluarganya,” tegas Claudia.

Fenomena ini mencerminkan perubahan signifikan dalam industri pertambangan nasional. Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA), Hendra Sinadia, mencatat bahwa keterlibatan perempuan di sektor tambang terus meningkat, bahkan hingga level pimpinan.
Di Harita Nickel, kehadiran perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian inti dari pengambilan keputusan strategis. Mereka berperan sebagai penjaga harmoni sosial, pengelola risiko, sekaligus garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan operasional.
Momentum ini sekaligus menegaskan bahwa semangat Raden Ajeng Kartini hidup dalam wajah baru, para perempuan tangguh di industri tambang yang berkontribusi nyata bagi pembangunan dan masa depan daerahnya. (Shiddiq)



















































