Beranda Korporasi Meski Hadapi Pembatasan RKAB, UT Lanjutkan Investasi Smelter RKEF US$113 Juta

Meski Hadapi Pembatasan RKAB, UT Lanjutkan Investasi Smelter RKEF US$113 Juta

125
0
Direktur UT, Vilihati Surya (ketiga dari kiri) (Foto: Dok. UT)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — PT United Tractors Tbk. (UT) tetap melanjutkan pembangunan smelter nikel berbasis teknologi rotary kiln electric furnace (RKEF) di tengah tekanan kebijakan pembatasan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang berpotensi menekan produksi.

Direktur UT, Vilihati Surya, mengungkapkan, perseroan saat ini tengah mengalokasikan investasi sekitar US$113 juta untuk pembangunan fasilitas pengolahan nikel tersebut sebagai bagian dari strategi hilirisasi.

“Untuk nikel, saat ini kami sedang membangun smelter RKEF dengan nilai investasi sekitar US$113 juta,” ujar Vilihati dalam konferensi pers, di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Investasi ini menjadi bagian dari total belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan yang dianggarkan mencapai sekitar US$850 juta. Namun, ia menegaskan, keseluruhan alokasi capex masih dalam tahap evaluasi seiring dinamika kebijakan pemerintah yang berdampak pada produksi tambang.

Menurut dia, pembatasan RKAB untuk komoditas nikel dan batu bara pada 2026 memaksa perusahaan melakukan penyesuaian, baik dari sisi target operasional maupun strategi investasi.

“Karena ada penurunan produksi akibat pembatasan RKAB, kami perlu melakukan review kembali terhadap produksi dan ini akan berimbas kepada belanja modal,” jelasnya.

Kondisi ini memunculkan tantangan tersendiri bagi proyek smelter RKEF yang membutuhkan pasokan bijih nikel secara stabil. Di satu sisi, pembangunan fasilitas hilirisasi tetap didorong untuk meningkatkan nilai tambah, namun di sisi lain pasokan bahan baku berpotensi tertekan akibat kebijakan produksi.

Perempuan yang bergabung dengan Grup Astra pada 2007 ini mengakui, UT saat ini terus melakukan evaluasi menyeluruh untuk menjaga keseimbangan antara kinerja operasional dan keberlanjutan investasi.

“Kami terus memonitor kondisi ini dan melakukan penyesuaian agar kinerja tetap positif dan sesuai target, termasuk dalam menjaga keseimbangan antara produksi dan investasi,” katanya.

Selain proyek smelter, sebagian besar capex UT juga dialokasikan untuk lini bisnis kontraktor tambang melalui Pama Persada serta pengembangan bisnis mineral lainnya.

Perseroan berharap adanya revisi atau penyesuaian RKAB dari pemerintah pada semester pertama tahun ini agar target produksi dapat kembali ditingkatkan dan mendukung optimalisasi proyek hilirisasi yang tengah berjalan.

Dengan tetap melanjutkan pembangunan smelter RKEF di tengah tekanan regulasi, UT menunjukkan komitmen memperkuat posisi di rantai nilai industri nikel, meski dihadapkan pada tantangan pasokan dan ketidakpastian kebijakan. (Shiddiq)