Beranda Berita Nasional Gejolak BBM Global Jadi Momentum, Hilirisasi Nikel RI Kian Strategis untuk EV

Gejolak BBM Global Jadi Momentum, Hilirisasi Nikel RI Kian Strategis untuk EV

386
0
(Foto: Dok QMB)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Ketidakpastian pasokan BBM dan volatilitas harga minyak global merupakan momentum yang tepat bagi Indnesia untuk mempercepat hilirisasi nikel yang menjadi penopang ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Head of External Relations Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Mordekhai Aruan, mengatakan, situasi energi global saat ini dapat memperkuat pembangunan rantai pasok kendaraan listrik berbasis nikel di dalam negeri terlebih dengan cadangan nikel yang merupakan komoditas utama produksi baterai kendaraan listrik yang melimpah.

“Urgensi pembangunan supply chain EV berbasis nikel di Indonesia sebetulnya telah terasa cukup tinggi sejak 2–3 tahun terakhir, sejalan dengan peta jalan dekarbonisasi pemerintah menuju Net Zero Emission 2060,” kata Mordekhai dalam keterangannya, dikutip Jumat (17/4/2026).

Menurutnya, selama lima tahun terakhir, industri nikel nasional saat ini telah berkembang. Produk yang saat ini dihasilkan tidak hanya terbatas pada nickel pig iron (NPI), tetapi telah masuk ke produk bernilai tambah, seperti MHP, nikel sulfat, kobalt sulfat, hingga precursor cathode active material (PCAM). Perkembangan ini dinilai memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok EV global, terutama di tengah kebutuhan dunia terhadap material baterai.

“Indonesia saat ini berada dalam posisi yang sangat strategis dalam rantai pasok EV global,” ujarnya.

Selain itu, keunggulan tersebut ditopang daro besarnya cadangan nikel nasional serta investasi teknologi pengolahan, khususnya smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL) yang menjadi tulang punggung produksi bahan baku baterai kelas EV.

Sementara itu, PT QMB New Energy Materials, anak usaha GEM, salah satu yang turut memperkuat rantai pasok baterai EV dengan produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) 150.000 ton per tahun, serta 30.000 ton NCM sulfates dan 50.000 ton prekursor. Produksi terintegrasi ini menjaga pasokan bahan baku domestik dan meningkatkan daya saing ekspor.

Ia pun menjelaskan ke depan, dibutuhkan investasi untuk membangun ekosistem pengolahan nikel end-to-end dari hulu ke hilir agar hilirisasi menjadi pendorong ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi.

Di luar investasi pengembangan industri hilirisasi, GEM menginvestasikan lebih dari US$40 juta untuk pengembangan talenta Indonesia melalui program beasiswa sebagai bagian dari investasi jangka panjang pada modal manusia. Saat ini, perusahaan juga membina 266 talenta Indonesia melalui kolaborasi dengan LPDP Indonesia dan Central South University, China untuk mendukung industri energi baru dan hilirisasi nikel.

Penguatan SDM ini dinilai penting bagi keberlanjutan hilirisasi, karena dapat meningkatkan produktivitas industri, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai nilai global baterai dan kendaraan listrik.

Sebagai informasi, menurut Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi hilirisasi mencapai lebih dari Rp 431 triliun hingga September 2025. Investasi sektor nikel menyumbang lebih dari Rp136 triliun. Ini menegaskan peran strategisnya dalam rantai pasok EV global. (Fiyun)