Beranda Berita Nasional Kuasai 42% Nikel Global, Pemerintah Indonesia Dorong Hilirisasi Jadi Senjata Geopolitik

Kuasai 42% Nikel Global, Pemerintah Indonesia Dorong Hilirisasi Jadi Senjata Geopolitik

110
0
Andre Omer Siregar (Foto: MNI/Tubagus)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai pemain kunci global dalam rantai pasok mineral kritis, terutama nikel, di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan disrupsi ekonomi dunia.

Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Andre Omer Siregar, menyatakan, Indonesia kini memegang peran vital, bukan hanya sebagai pemasok bahan mentah, tetapi sebagai pusat baru industri bernilai tambah tinggi berbasis mineral kritis.

“Indonesia nomor satu di dunia untuk nikel dengan kontribusi sekitar 42% produksi global. Ini bukan sekadar komoditas, tetapi aset strategis untuk masa depan industri dunia,” tegas Andre memaparkan dalam acara “Briefing Makan Siang Fastmarkets”, di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Menurut dia, posisi tersebut semakin penting di tengah perubahan global yang ditandai dengan fragmentasi geopolitik, krisis energi, hingga pergeseran rantai pasok. Kondisi ini mendorong negara-negara besar mencari mitra yang stabil dan dapat dipercaya.

“Di tengah ketidakpastian global, Indonesia hadir menjadi partner yang netral, stabil, dan terpercaya dalam rantai pasok mineral kritis,” ujarnya.

Nikel, katanya menekankan, kini menjadi tulang punggung berbagai teknologi masa depan, mulai dari baterai kendaraan listrik hingga energi terbarukan. Karena itu, pemerintah mengubah strategi dari sekadar ekspor bahan mentah menuju hilirisasi industri.

“Kami tidak lagi fokus pada ekspor raw material. Indonesia mendorong transformasi ke produk bernilai tambah, seperti baterai kendaraan listrik dan panel surya,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan, sektor mineral, termasuk nikel, menjadi penyumbang terbesar investasi nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, investasi di sektor ini menunjukkan pertumbuhan signifikan dan menjadi penggerak utama industrialisasi.

“Peningkatan investasi terbesar berasal dari sektor mineral, khususnya nikel, tembaga, dan bauksit. Ini menunjukkan kepercayaan global terhadap potensi Indonesia,” jelasnya.

Lebih jauh, pemerintah telah menyiapkan peta jalan hilirisasi untuk puluhan komoditas strategis dengan potensi investasi ratusan miliar dolar hingga 2040. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja serta meningkatkan nilai ekspor nasional.

Di sisi lain, Indonesia juga mulai mengintegrasikan pengembangan industri nikel dengan agenda transisi energi dan ekonomi hijau. Produk turunan nikel diarahkan untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik dan energi bersih.

“Mineral kritis, seperti nikel, adalah fondasi bagi teknologi masa depan, mulai dari baterai, semikonduktor, hingga energi terbarukan. Indonesia ingin menjadi bagian utama dalam ekosistem itu,” ujarnya.

Untuk mempercepat realisasi investasi, pemerintah juga menawarkan berbagai insentif, mulai dari pengurangan pajak, pembebasan bea impor, hingga super deduction untuk riset dan pengembangan.

Menutup pernyataannya, Andre menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya ingin menjadi pemain besar, tetapi juga mitra strategis global dalam membangun rantai pasok yang tangguh dan berkelanjutan.

“Mineral kritis akan menentukan masa depan ekonomi global. Indonesia siap menjadi hub yang resilien dan terpercaya dalam ekosistem tersebut,” pungkasnya. (Shiddiq/Tubagus)