Beranda Berita Nasional APNI: Reformulasi HPM dan Pengendalian Produksi adalah Repositioning Strategis Indonesia

APNI: Reformulasi HPM dan Pengendalian Produksi adalah Repositioning Strategis Indonesia

105
0
Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey (Foto: Dok. APNI)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) secara resmi mengubah formula harga patokan komoditas mineral dan batu bara (minerba) yang berlaku efektif hari ini, 15 April 2026. Perubahan tersebut termaktub dalam Kepmen ESDM No. 144.K/MB.01/MEM.B/2026 tentang Perubahan atas Kepmen ESDM No. 268.K/MB.01/MEM.B/2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Minerba.

Dalam beleid terbaru ini, terdapat sejumlah perubahan utama, di antaranya penyesuaian faktor koreksi serta penambahan mineral ikutan dalam perhitungan harga patokan mineral (HPM), khususnya untuk komoditas bijih nikel. Selain itu, pemerintah juga mengubah satuan HPM dari sebelumnya menggunakan dolar AS per dry metric ton (dmt) menjadi dolar AS per wet metric ton (wmt).

Bagaimana tanggapan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) atas perubahan yang cukup mendasar ini? Berikut tanggapan Meidy Katrin Lengkey, sekretaris umum organisasi yang mewadahi perusahaan pertambangan nikel di Indonesia itu.

1. Bagaimana kondisi terkini industri nikel?

Saat ini pasar nikel global masih berada dalam fase tekanan oversupply jangka pendek, terutama di pasar China. Hal ini terlihat dari penurunan harga di level upstream, seperti bijih nikel, nickel pig iron (NPI), dan nikel sulfat, sementara demand belum sepenuhnya pulih, khususnya dari sektor baterai.

Namun, di sisi lain, kita melihat adanya perubahan struktural besar dari Indonesia, melalui kebijakan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) dan reformulasi HPM yang mulai berlaku April ini. Ini menjadi sinyal bahwa Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti pasar, tetapi mulai mengatur keseimbangan supply dan pricing secara aktif.

2. Apa dampak kebijakan HPM baru terhadap industri?

Reformulasi HPM ini signifikan karena harga acuan naik hingga lebih 100% sampai lebih 140%. Sekarang HPM tidak hanya berbasis nikel, tetapi juga memasukkan kobalt, besi, dan krom sebagai bagian dari valuasi

Tentu saja reformulasi HPM memberikan dampak yang signifikan, antara lain naiknya harga nikel di bursa London Metal Exchange (LME) beberapa jam setelah pemerintah merilis HPM baru, dari US$17.090 menjadi US$17.680.

Bagi para penambang, perubahan HPM ini memperkuat dasar harga (price floor), sebaliknyakebijakan ini bagi smelter, terutama yang berteknologi high pressure acid leach (HPAL), akan menambah tekanan biaya produksi.

Jadi, kondisi yang terjadi saat ini bukan kenaikan margin, tapi justru margin compression di tengah rantai industri.

3. Apa tantangan terbesar industri nikel saat ini?

Ada tiga tantangan utama: tekanan biaya produksi, ketidak seimbangan permintaan (demand), dan risiko rantai pasok (supply chain).

Pertama, saat ini industri nikel saat ini mengalami tekanan biaya produksi karena naiknya harga sulfur secara signifikan, dari sebelumnya US$200/ton – US$300/ton menjadi lebih dari US$900/ton. Kenaikan sulfur dipicu kondisi geopolitik yang berpusat pada konflik di Timur Tengah, wilayah yang menyumbang 24% pasokan sulfur global.

Naiknya harga sulfur berdampak besar bagi smelter dengan teknologi HPAL, dengan tambahan biaya sekitar US$4.000 per ton nikel. Sulfur adalah bahan baku strategis krusial dalam teknologi HPAL untuk memproses nikel laterit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan baku baterai EV.

Tantangan kedua, ketidakseimbangan permintaan (demand). Permintaan nikel untuk baja nirkarat (stainless steel) masih kuat, tetapi, sebaliknya demand untuk baterai masih belum optimal.

Tantangan ketiga adalah risiko rantai pasok (supply chain), yakni Indonesia masih sangat bergantung pada impor sulfur, sehingga gangguan geopolitik dapat langsung mempengaruhi produksi nasional.

4. Apakah kondisi ini akan berdampak ke produksi dan tenaga kerja?

Dalam jangka pendek, perusahaan pasti akan melakukan penyesuaian strategi, seperti efisiensi operasional, penyesuaian capital expenditure (Capex), dan optimalisasi produksi.

Namun, sejauh ini, industri masih fokus pada menjaga keberlanjutan operasi, bukan pengurangan tenaga kerja secara masif. Karena, kita melihat ini sebagai fase transisi, bukan krisis permanen.

5. Bagaimana outlook industri nikel ke depan?

Dalam jangka pendek, pasar masih akan sideways cenderung melemah karena persediaan (inventory) masih tinggi dan demand belum pulih sepenuhnya.

Namun, dalam jangka menengah potensi mengalami tren kenaikan harga (bullish) cukup kuat karena suplai mulai dikontrol melalui RKAB, biaya produksi (cost production) global meningkat, dan Indonesia semakin memperkuat peran sebagai penentu pasar (market stabilizer).

Saat ini industri nikel global masih dalam tekanan oversupply, namun Indonesia sedang melakukan repositioning strategis melalui reformulasi HPM dan pengendalian produksi. Ini bukan hanya menjaga harga, tapi juga memastikan nilai tambah dan keberlanjutan industri ke depan. (RDj)