Beranda Berita Nasional Nikel Berperan Menguatkan Surplus Perdagangan Indonesia Tahun 2025

Nikel Berperan Menguatkan Surplus Perdagangan Indonesia Tahun 2025

437
0
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono (Foto: Humas BPS)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Komoditas nikel kembali mempertegas posisinya sebagai salah satu penggerak utama ekonomi Indonesia pada 2025. Kinerja perdagangan nasional yang tetap kuat sepanjang tahun tidak hanya mencerminkan ketahanan sektor ekspor, tetapi juga menunjukkan bagaimana nikel dan produk turunannya berperan signifikan dalam menopang surplus perdagangan nonmigas.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan terbarunya menegaskan bahwa akumulasi surplus neraca dagang sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai US$41,05 miliar, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya.

”Hingga Desember 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$41,05 miliar, menandai surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus sepanjang periode Januari-Desember 2025 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$60,75 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$19,70 miliar,” ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, pada konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/2/2026).

Ateng menjelaskan, kinerja ekspor nasional menunjukkan peningkatan sebesar 6,15% dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan tersebut dipicu oleh perkembangan industri pengolahan, yang berhasil menorehkan nilai ekspor mencapai US$227,10 miliar. Di antara berbagai subsektor, hilirisasi nikel tampil menonjol melalui produksi nikel olahan yang meningkat signifikan mulai dari feronikel hingga bahan baku komponen baterai.

Sementara itu, Tiongkok masih menjadi mitra dagang terbesar Indonesia, terutama dalam ekspor nonmigas. Negara tersebut banyak menyerap produk logam dasar, termasuk nikel, seiring kebutuhan industri manufakturnya. Amerika Serikat dan India menempati posisi berikutnya, sekaligus menunjukkan bahwa permintaan global terhadap produk mineral Indonesia tetap stabil.

Dari sisi impor, nilai transaksi sepanjang 2025 mencapai US$241,86 miliar. Kenaikan impor barang modal sebesar 20,06% menunjukkan adanya percepatan proyek-proyek industri, termasuk perluasan kapasitas smelter nikel yang membutuhkan mesin dan peralatan teknis dari luar negeri. Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat menjadi pemasok terbesar dalam kategori ini.

Kontribusi nikel tercermin jelas dalam daftar komoditas penyumbang surplus nonmigas. Dengan nilai mencapai US$9,63 miliar, nikel dan produk hasil olahannya berada di posisi empat besar, memperlihatkan perannya sebagai komoditas strategis dalam memperkuat cadangan devisa.

Ke depan, peningkatan permintaan global terhadap bahan baku baterai kendaraan listrik diperkirakan akan semakin memperkuat posisi nikel Indonesia. Capaian tahun 2025 menunjukkan bahwa industri nikel bukan hanya penopang ekspor, tetapi juga bagian penting dalam upaya transformasi ekonomi menuju industri bernilai tambah tinggi. (Lili Handayani)