NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) terus memperkuat diplomasi tatap muka dengan pasar global untuk memastikan standar keberlanjutan atau environment, social, and governance (ESG) Indonesia selaras dengan kebutuhan pembeli mineral internasional. Langkah ini menjadi penting mengingat semakin ketatnya persyaratan pasar, khususnya perusahaan otomotif dunia yang mengandalkan bahan baku nikel untuk teknologi baterai kendaraan listrik.
Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, mengatakan, pihaknya telah melakukan serangkaian kunjungan ke sejumlah produsen otomotif dan lembaga internasional. APNI telah bertemu langsung dengan Tesla di Stanford, berdiskusi dengan ESG head departement, hingga berkunjung ke pabrik besar yang ada di Jerman, seperti Mercedes dan BMW di Munich dan Stuttgart.
“Dari awal, Indonesia sebenarnya sudah mengadopsi 57 regulasi ESG. Itu kita ambil dari banyak regulasi Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Kesehatan, hingga undang-undang, peraturan pemerintah (PP), dan turunannya. Semua ini sudah comply,” kata Meidy dalam “Dialog Kebijakan: Dekarbonisasi Industri Nikel yang Berkeadilan”, di Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Sebagian standar internasional, ungkapnya lebih lanjut, dibuat tanpa mempertimbangkan kondisi geografis, sosial, dan operasional negara produsen seperti Indonesia. Maka dari itu, ia mendorong dialog intensif agar standar global dapat diadaptasi secara realistis bagi produsen di Indonesia tanpa mengurangi kualitas keberlanjutan.
“Kalau IRMA membuat standar di Eropa, apakah mereka ambil sampel dari Indonesia? Kan tidak. Cuaca beda, proses beda, dan kondisi masyarakat beda. Kalau diterapkan mentah-mentah tentu nggak fair,” katanya berargumen.
Selain itu, ia menjelaskan, guna memastikan transparansi dan menghapus kerguan pasar terhadap Indonesia, APNI berencana mengundang langsung para pembeli global ke Indonesia pada Januari mendatang. Wadah para penambang nikel ini akan mengundang sejumlah perusahaan besar, di antaranya Tesla, Mercedes-Benz, BMW, Stellantis, dan Jaya Motor untuk mengunjungi kawasan industri nikel yang ada di Indonesia, termasuk Weda Bay dan Morowali. “Datang, lihat, rasakan langsung. First hand experience itu penting. Kalau ada yang kurang, kita diskusikan bersama. Ini ruang komunikasi untuk isi gap-gap regulasi,” tegasnya. (Uyun)































