Beranda Berita Nasional Indonesia Mengusulkan FTA Mineral Kritis dengan AS

Indonesia Mengusulkan FTA Mineral Kritis dengan AS

568
0
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. (foto: Dokumen Kemenko Marves).

NIKEL.CO.ID, 11 APRIL 2023- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Panjaitan akan mengajukan usulan perjanjian dagang bebas dengan Amerika Serikat (AS) terkait beberapa produk mineral kritis.

Luhut mengatakan dengan perjanjian dagang bebas ini, nantinya perusahaan penyedia rantai pasok baterai listrik yang beroperasi di AS dan menggunakan bahan mentah dari Indonesia bakal mendapatkan keuntungan.

“Kita tidak ada FTA dengan mereka (AS). Sekarang kami mengusulkan Limited Free Trade Agreement (FTA) dengan mereka,” ujar Luhut kepada media, Selasa (11/4/2023).

Pemerintah menilai perusahaan dalam rantai pasokan baterai kendaraan listrik yang beroperasi di negara tersebut dapat memperoleh keuntungan dari kredit pajak AS.

Washington telah mengeluarkan panduan baru untuk kredit pajak kendaraan listrik berdasarkan Undang-Undang Pengurangan Inflasi (IRA), yang mensyaratkan nilai tertentu dari komponen baterai untuk diproduksi atau dirakit di Amerika Utara atau mitra dagang bebas. Aturan tersebut bertujuan untuk menghilangkan ketergantungan Amerika Serikat pada China untuk pengembangan rantai pasokan baterai EV-nya.

Indonesia tidak memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Amerika Serikat, tetapi produk nikelnya semakin penting dalam rantai pasokan. 

Negara Asia Tenggara itu telah mencoba memanfaatkan cadangan nikelnya, yang terbesar di dunia, untuk menarik investasi dari pembuat baterai dan EV, termasuk perusahaan AS seperti Tesla dan Ford.

Ditanya terkait pedoman baru IRA, Luhut, yang telah mempelopori upaya untuk menarik perusahaan AS, mengatakan pada konferensi pers bahwa Jakarta akan mengusulkan perjanjian perdagangan bebas terbatas dengan Washington.

Luhut mengutarakan akan bertemu dengan eksekutif Ford dan Tesla untuk membahas masalah tersebut saat ia melakukan perjalanan ke Amerika Serikat akhir pekan ini.

IRA merupakan Undang-Undang pengurangan inflasi yang dirilis AS pada tahun lalu. UU ini terdiri dari berbagai hal untuk menekan inflasi, termasuk untuk sektor kendaraan listrik.

Deputi bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves, Septian Hario Seto, mengatakan proposal FTA yang masih dalam tahap awal kemungkinan akan serupa dengan yang ditandatangani Amerika Serikat dengan Jepang untuk perdagangan mineral kritis.

Amerika Serikat dan Jepang pada bulan Maret menyetujui kesepakatan perdagangan yang dinegosiasikan dengan cepat pada mineral baterai EV, termasuk litium, nikel, kobalt, grafit, dan mangan.

“Pokoknya sama, untuk mineral kritis akan ada perdagangan bebas dengan persyaratan pengolahan seperti nikel, aluminium, kobalt, tembaga,” katanya.

Sejak Indonesia melarang ekspor bijih nikel pada tahun 2020, banyak perusahaan China berinvestasi di fasilitas pemurnian, termasuk pabrik pelindian asam bertekanan tinggi (HPAL), yang menghasilkan endapan hidroksida campuran, bahan yang diekstrak dari bijih nikel yang digunakan dalam baterai EV.

Bulan lalu, Ford menandatangani perjanjian dengan unit penambang nikel Brazil Vale dan Zhejiang Huayou Cobalt dari China untuk bermitra dalam pabrik HPAL senilai $4,5 miliar di pulau Sulawesi di Indonesia.

Luhut memimpin delegasi Indonesia pekan lalu dalam perjalanan ke China untuk mempromosikan peluang investasi.

Seto mengatakan, para pejabat akan mengadakan pembicaraan dengan perusahaan EV China BYD Group pada Mei tentang potensi investasi. Dia menolak mengomentari kemajuan pembicaraan dengan Tesla, mengutip perjanjian non-disclosure. (Lili Handayani)