Sabtu, Oktober 23
Shadow

Vale Indonesia Bilang Naiknya Harga Nikel Bukan Dari Faktor Fundamental

PT Vale Indonesia Tbk. menyikapi perkembangan harga nikel global yang tengah melonjak saat ini dengan hati-hati. Sementara itu, Antam akan tetap menurunkan lebih lanjut biaya tunai produksi untuk meningkatkan daya saing.

NIKEL.co.id – Perusahaan pertambangan nikel harus tetap mempertahankan efisiensi biaya produksi sehingga dapat mempertebal margin di tengah lonjakan harga nikel global.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Rabu (16/9/2020) harga nikel di bursa London menguat 0,18 persen ke level US$15.226 per ton.

Harga nikel secara perlahan pulih sejak anjlok pada akhir Maret lalu hingga ke level US$10.880 per ton. Harga telah menguat 39,94 persen dari level terendah itu. Sementara itu, sepanjang tahun berjalan 2020 harga telah menguat 8,56 persen.

Direktur Keuangan PT Vale Indonesia Tbk., Bernardus Irmanto mengatakan bahwa perseroan akan menyikapi perkembangan harga nikel global yang tengah melonjak saat ini dengan hati-hati.

Pasalnya, menurut dia kenaikan harga nikel saat ini lebih didorong sentimen ekspektasi positif pasar ketimbang faktor fundamental, seperti persediaan nikel di bursa London yang turun. Nyatanya, saat ini persediaan nikel di bursa London masih cenderung stabil, bahkan naik.

Dengan demikian, bukan tidak mungkin harga kembali melemah di sisa tahun ini atau hingga tahun depan.

“Strategi perusahaan masih tetap sama, berusaha mengoptimalkan produksi sampai dengan akhir tahun sembari mengontrol biaya,” ujar Bernardus, Kamis (17/9/2020).

Perseroan akan mempertahankan beban produksi di posisi yang lebih rendah di tengah volume produksi yang diproyeksi lebih tinggi daripada perkiraan pada awal tahun.

Dengan demikian, INCO berpotensi mencetak kinerja yang lebih baik di sisa tahun ini jika kenaikan harga nikel global berhasil bertahan hingga akhir tahun.

Untuk diketahui, volume produksi emiten berkode efek INCO itu hingga akhir tahun naik menjadi 73.000 ton seiring dengan proyek peremajaan furnace 4 yang terpaksa mundur hingga tahun depan akibat pandemi Covid-19.

Adapun, biaya produksi per unit perseroan hingga Agustus 2020 berada di kisaran US$6.700 per ton, lebih rendah daripada biaya produksi per unit hingga Juni 2020 di kisaran US$7.000 per ton.

Selain itu, realisasi itu juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya produksi per unit INCO sepanjang 2019 sebesar US$7.500 per ton.

Sementara itu, SVP Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk. Kunto Hendrapawoko mengatakan bahwa di tengah tren kenaikan harga, perseroan juga akan tetap menurunkan lebih lanjut biaya tunai produksi untuk meningkatkan daya saing biaya sehingga dapat mengakselerasi pendapatan perseroan hingga akhir tahun.

Emiten berkode saham ANTM itu juga mengaku akan terus berupaya meningkatkan capaian produksi dan penjualan komoditas utama.

“Kami optimis, kinerja bisnis nikel perseroan akan tetap optimal pada 2020, melalui evaluasi yang selektif dengan mengedepankan skala prioritas dalam penyusunan rencana belanja modal, selain mendukung proyek pengembangan utama dan aktivitas eksplorasi,” ujar Kunto, Rabu (16/9/2020) lalu.

Adapun, pada tahun ini perseroan menargetkan produksi dan penjualan feronikel di kisaran 27.000 TNi, sedangkan untuk penjualan bijih nikel dalam negeri di kisaran 1 juta wmt.

Hingga Juni 2020, ANTM berhasil memiliki biaya tunai produksi feronikel sebesar US$3,33 per pon.

Di sisi lain, Research Associate MNC Sekuritas Catherina Vincentia mengatakan bahwa kenaikan harga logam, baik logam mulia maupun logam dasar, menjadi sinyal kebangkitan untuk sektor pertambangan mineral.

Harga emas hingga nikel diyakini masih akan berada di jalur kenaikannya hingga akhir tahun.

Kendati demikian, pihaknya masih mempertahankan posisi neutral terhadap saham sektor pertambangan mineral dengan pilihan saham utama adalah ANTM, MDKA, dan INCO.

“Kami rekomendasi buy untuk ANTM dengan TP Rp920 dan INCO dengan TP Rp3.590 seiring dengan kenaikan harga emas dan nikel yang masih akan menguat sedangkan secara year to date harga saham masih terkoreksi,” tulis Catherina seperti dikutip dari publikasi risetnya, Kamis (17/9/2020).

Sementara itu, untuk MDKA, Catherine merekomendasikan trading sell karena potensi profit taking dari investor.

Sumber: BISNIS.COM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Open chat