Ifishdeco Targetkan Penjualan Bijih Nikel 2 Juta Ton di Tahun 2021

NIKEL.CO.ID PT Ifishdeco Tbk (IFSH) mendongkrak target penjualan bijih nikel pada tahun ini. IFSH membidik volume penjualan bijih nikel hingga 2 juta metrik ton (MT) pada 2021, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan realisasi pada 2020.

Sekretaris Perusahaan Ifishdeco Christo Pranoto membeberkan, pada tahun lalu, penjualan bijih nikel IFSH mencapai 781.767 MT. Angka itu mencapai 98% dari target tahun 2020 yang sebesar 800.000 MT.

Realisasi penjualan tahun 2020 jauh lebih rendah dibandingkan realisasi 2019 yang mencapai 2.264.400 MT. Christo menjelaskan, ada sejumlah alasan mengapa realisasi penjualan IFSH anjlok pada 2020.

Pertama, adanya penghentian izin ekspor pada akhir tahun 2019. Sehingga, pada 2020 penjualan terbatas pada pasar domestik yang mana pangsa pasarnya lebih mini dibandingkan pasar ekspor.

Kedua, pelaku usaha menunggu terbitnya aturan tata niaga nikel terkait pengaturan Harga Patokan Mineral (HPM). Aturan yang ditetapkan oleh Kementerian ESDM tersebut membuat harga bijih nikel di dalam negeri bisa lebih baik.

Selanjutnya, realisasi penjualan tahun lalu juga dipengaruhi oleh faktor pandemi covid-19 dan cuaca ekstrem.

“Pandemi covid-19 yang mempengaruhi mobilitas operasional. Juga cuaca ekstrem dengan musim hujan yang panjang,” terang Christo, Minggu (31/1/2021).

Pada 2021, IFSH berencana untuk kembali mendongkrak penjualan ke level 2 juta MT. Hal itu sudah disetujui dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada tahun ini.

Christo bilang, kenaikan kinerja pada 2021 diharapkan datang dari tren kenaikan harga bijih nikel melalui HPM yang berbasis pada harga nikel London Metal Exchange (LME).

“Khususnya harga pasar bijih nikel diharapkan akan memiliki tren meningkat dengan adanya sentimen pasar terhadap potensi peningkatan kebutuhan bijih nikel dalam produksi baterai untuk kendaraan listrik,” terangnya.

Lebih lanjut, rencana peningkatan volume penjualan didorong dengan proyeksi kenaikan permintaan pasar domestik seiring dengan penambahan smelter baru yang beroperasi maupun dari peningkatan kapasitas produksi smelter eksisting.

Selain itu, sambung Christo, kinerja IFSH pada tahun ini akan ditunjang dengan peningkatan daya tampung jetty, serta penambahan kontraktor yang akan mendukung produktivitas penambangan.

Untuk mendukung target penjualan 2 juta MT tersebut, IFSH akan mengalokasikan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 9 miliar. Capex itu digunakan untuk perbaikan jetty, pembelian alat laboratorium, kendaraan dan peralatan operasional.

Rencana ekspansi

Christo menyampaikan, IFSH juga tetap mengusung rencana ekspansi termasuk dalam lahan tambang baru.

“Tetap dijalankan yang dilakukan dengan prinsip kehati-hatian,” katanya.

Contohnya ialah PT Patrindo Jaya Makmur, yang saat ini telah menjadi bagian dalam group IFSH. PT Patrindo ini direncanakan akan segera berproduksi dan berpotensi menambah volume bijih nikel IFSH hingga 500.000 MT.

Selain itu, strategi bisnis IFSH pada 2021 ialah dengan optimalisasi eksploitasi cadangan bijih nikel pada lahan Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik IFSH, dengan memperhatikan ketersediaan cadangan.

Hal itu penting untuk memastikan ketersediaan dalam memenuhi kebutuhan smelter IFSH di bawah anak usahanya, yakni PT Bintang Smelter Indonesia (BSI).

Dari sisi hilirisasi, IFSH juga masih berfokus untuk menyelesaikan proyek smelternya. Untuk smelter Blast Furnace, saat ini PT BSI dalam penjajakan kerjasama dengan perusahaan smelter dari China yang memiliki teknologi atau peralatan untuk memodifikasi smelter Blast Furnace miliki PT BSI.

“Sehingga smelter Blast Furnace dapat berproduksi dengan lebih efisien. Kalau memang jadi berkontrak dengan partner yang memiliki teknologi efisien, diharapkan akhir 2021 atau awal 2022 bisa mulai produksi komersial,” sebut Christo.

Untuk proyek smelter dengan teknologi rotary kin electric furnace (RKEF), hingga sekarang IFSH masih dalam proses mencari pendanaan baik dari lokal maupun luar negeri. Hal itu dilakukan untuk dapat merealisasikan kerjasama dengan mitra strategis dalam membangun dan mengoperasikan smelter RKEF tersebut.

“RKEF target financial close akhir 2021, kemungkinan bisa produksi akhir 2023 atau awal 2024,” pungkas Christo.

Sumber: KONTAN

Read More

Vale Indonesia Bilang Naiknya Harga Nikel Bukan Dari Faktor Fundamental

PT Vale Indonesia Tbk. menyikapi perkembangan harga nikel global yang tengah melonjak saat ini dengan hati-hati. Sementara itu, Antam akan tetap menurunkan lebih lanjut biaya tunai produksi untuk meningkatkan daya saing.

NIKEL.co.id – Perusahaan pertambangan nikel harus tetap mempertahankan efisiensi biaya produksi sehingga dapat mempertebal margin di tengah lonjakan harga nikel global.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Rabu (16/9/2020) harga nikel di bursa London menguat 0,18 persen ke level US$15.226 per ton.

Harga nikel secara perlahan pulih sejak anjlok pada akhir Maret lalu hingga ke level US$10.880 per ton. Harga telah menguat 39,94 persen dari level terendah itu. Sementara itu, sepanjang tahun berjalan 2020 harga telah menguat 8,56 persen.

Direktur Keuangan PT Vale Indonesia Tbk., Bernardus Irmanto mengatakan bahwa perseroan akan menyikapi perkembangan harga nikel global yang tengah melonjak saat ini dengan hati-hati.

Pasalnya, menurut dia kenaikan harga nikel saat ini lebih didorong sentimen ekspektasi positif pasar ketimbang faktor fundamental, seperti persediaan nikel di bursa London yang turun. Nyatanya, saat ini persediaan nikel di bursa London masih cenderung stabil, bahkan naik.

Dengan demikian, bukan tidak mungkin harga kembali melemah di sisa tahun ini atau hingga tahun depan.

“Strategi perusahaan masih tetap sama, berusaha mengoptimalkan produksi sampai dengan akhir tahun sembari mengontrol biaya,” ujar Bernardus, Kamis (17/9/2020).

Perseroan akan mempertahankan beban produksi di posisi yang lebih rendah di tengah volume produksi yang diproyeksi lebih tinggi daripada perkiraan pada awal tahun.

Dengan demikian, INCO berpotensi mencetak kinerja yang lebih baik di sisa tahun ini jika kenaikan harga nikel global berhasil bertahan hingga akhir tahun.

Untuk diketahui, volume produksi emiten berkode efek INCO itu hingga akhir tahun naik menjadi 73.000 ton seiring dengan proyek peremajaan furnace 4 yang terpaksa mundur hingga tahun depan akibat pandemi Covid-19.

Adapun, biaya produksi per unit perseroan hingga Agustus 2020 berada di kisaran US$6.700 per ton, lebih rendah daripada biaya produksi per unit hingga Juni 2020 di kisaran US$7.000 per ton.

Selain itu, realisasi itu juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya produksi per unit INCO sepanjang 2019 sebesar US$7.500 per ton.

Sementara itu, SVP Corporate Secretary PT Aneka Tambang Tbk. Kunto Hendrapawoko mengatakan bahwa di tengah tren kenaikan harga, perseroan juga akan tetap menurunkan lebih lanjut biaya tunai produksi untuk meningkatkan daya saing biaya sehingga dapat mengakselerasi pendapatan perseroan hingga akhir tahun.

Emiten berkode saham ANTM itu juga mengaku akan terus berupaya meningkatkan capaian produksi dan penjualan komoditas utama.

“Kami optimis, kinerja bisnis nikel perseroan akan tetap optimal pada 2020, melalui evaluasi yang selektif dengan mengedepankan skala prioritas dalam penyusunan rencana belanja modal, selain mendukung proyek pengembangan utama dan aktivitas eksplorasi,” ujar Kunto, Rabu (16/9/2020) lalu.

Adapun, pada tahun ini perseroan menargetkan produksi dan penjualan feronikel di kisaran 27.000 TNi, sedangkan untuk penjualan bijih nikel dalam negeri di kisaran 1 juta wmt.

Hingga Juni 2020, ANTM berhasil memiliki biaya tunai produksi feronikel sebesar US$3,33 per pon.

Di sisi lain, Research Associate MNC Sekuritas Catherina Vincentia mengatakan bahwa kenaikan harga logam, baik logam mulia maupun logam dasar, menjadi sinyal kebangkitan untuk sektor pertambangan mineral.

Harga emas hingga nikel diyakini masih akan berada di jalur kenaikannya hingga akhir tahun.

Kendati demikian, pihaknya masih mempertahankan posisi neutral terhadap saham sektor pertambangan mineral dengan pilihan saham utama adalah ANTM, MDKA, dan INCO.

“Kami rekomendasi buy untuk ANTM dengan TP Rp920 dan INCO dengan TP Rp3.590 seiring dengan kenaikan harga emas dan nikel yang masih akan menguat sedangkan secara year to date harga saham masih terkoreksi,” tulis Catherina seperti dikutip dari publikasi risetnya, Kamis (17/9/2020).

Sementara itu, untuk MDKA, Catherine merekomendasikan trading sell karena potensi profit taking dari investor.

Sumber: BISNIS.COM

Read More