Timur Terang

Oleh: Dahlan Iskan

KUBURAN uang itu akan bangkit dari dalam tanah nikel. Anak bangsa baru saja menemukan teknologinya.

Saya kenal baik anak itu –kini berumur 55 tahun. Dua kali saya rapat dengan anak itu delapan tahun lalu. Yakni di awal ide melahirkan mobil listrik nasional.

Saya juga kenal begitu banyak pengusaha yang ”tewas” akibat terlalu banyak menanam uang di tambang nikel. Di Sulawesi Tengah dan Tenggara. Banyak juga pengusaha bertengkar akibat kongsi di bisnis nikel. Pun sampai ke pengadilan.

Belum lagi yang merasa ditipu sesama teman pengusaha. Lokal menipu nasional. Nasional menipu internasional. Dan sebaliknya.

Pokoknya Sulteng dan Sultra akhirnya saya kenal sebagai kuburan uang. Triliunan rupiah. Tanpa harapan.

Lalu begitu banyak orang yang mengajukan penawaran kepada saya. Untuk membeli kuburan itu. Atau kerja sama. Saya menolak. Saya sudah terlalu tua untuk menjadi penggali kuburan seperti itu.

Sampai akhirnya muncullah perusahaan raksasa asing di sana. Di Morowali. Yang sangat mengagumkan itu.

Banyak pengusaha lokal-nasional gigit jari: hanya bisa menonton Morowali. Sambil merenungkan kuburan uangnya.

Tapi mendung tidak akan terus menerus berada di satu tempat. Sebentar lagi mendung di atas kuburan itu akan bergeser. Mendung tidak akan lagi menggelayut di situ.

Maka janganlah bersedih lagi.

Sudah lahir anak bangsa yang menemukan teknologi untuk ”membongkar kuburan uang” itu.

Namanya: Widodo Sucipto.

Tempat lahir: Porong, Jatim. Berarti Widodo ini sekampung dengan Inul Daratista.

Inul ngebor dangdut. Widodo ngebor nikel.

Widodo Sucipto bersama Disway, delapan tahun lalu, saat mendiskusikan baterai mobil listrik.

Kuburan uang itu terjadi akibat lahirnya UU Nikel di tahun 2009. Pemerintah, di tahun 2013, seperti hampir lupa: bahwa di tahun 2014, UU tersebut sudah harus dilaksanakan. Batas waktu lima tahun tinggal 24 bulan.

Maka harus diapakan buah simalakama itu: tidak dilaksanakan melanggar UU, dilaksanakan belum siap.

Inti UU itu sebenarnya mulia sekali. Bagi bangsa. Ekspor bahan mentah nikel (tanah mengandung nikel) dilarang. Harus diolah di dalam negeri.

Keputusan di tahun 2013 itu: UU tetap harus dilaksanakan.

Para pengusaha pun heboh: tidak siap. Investasi untuk mengolah nikel itu mahal. Membangun smelter itu perlu waktu setidaknya tiga tahun. Itu pun kalau pakai teknologi yang sederhana, yang sangat merusak lingkungan.

Pemerintah lengah: tidak sejak awal memberi penegasan bahwa UU tersebut pasti dilaksanakan.

Pengusaha juga lengah: mengira pemerintah tidak akan tegas. Mereka mengira pelaksanaan UU itu bisa ditunda.

Akibat UU tersebut: lahirlah kuburan uang di lahan nikel. Para pengusaha tidak bisa ekspor bahan baku. Juga tidak punya pabrik pengolah (smelter).

Korban terbesar adalah: PT Antam. Milik BUMN. Langsung klepek-klepek. Sampai sekarang.

Proyek besar smelternya di Halmahera kandas. Larangan ekspor itu membuat PT Antam tiba-tiba tidak punya dana untuk meneruskan proyek itu. Padahal sudah telanjur membangun pelabuhan besar di Halmahera. Nganggur.

Ratusan pengusaha tambang bernasib sama: tidak bisa lagi ekspor bahan mentah nikel. Juga tidak bisa membangun smelter.

Saya setuju: ekspor bahan mentah itu memang harus dilarang. Tidak masuk akal. Sudah puluhan tahun. Kita telanjur terlalu lama jual tanah air –dalam pengertian fisik.

Tiap satu ton tanah yang mengandung nikel itu, nikelnya hanya 8 kg. Bahkan untuk tanah permukaan, nikelnya hanya 1 sampai 2 kg. Tanah permukaan itu tidak efisien untuk diolah. Harus disingkirkan. Tebal tanah permukaan itu sampai 6 meter. Baru di bawah 6 meter, kadar nikelnya bisa 8 persen.

Ada juga, memang, satu dua pengusaha memaksakan diri membangun smelter. Kecil-kecilan. Selebihnya hanya bisa merenungi kuburan uang mereka.

Banyak juga di antara mereka yang memilih bertengkar. Merasa ditipu. Atau saling menipu. Pun ada yang sampai ke pengadilan.

Kini telah lahir teknologi baru pengolahan nikel. Yang lebih murah. Yang lebih ramah lingkungan. Yang sangat efisien.

Penemunya Inul Daratista –tetangganya: Widodo Sucipto tadi.

Teknologi lama: tanah yang mengandung nikel itu dibakar. Agar nikelnya terpisah dari tanah.

Teknologi Widodo: tanah itu dipanaskan tanpa dibakar.

Caranya: tanah dimasukkan kiln, dipanasi sampai 700 derajat.

Hasilnya bisa sama: tiap 100 ton tanah bahan baku menghasilkan 8-15 ton nikel.

Widodo menamakan teknologinya itu STAL –singkatan dari Step Temperature Acid Leach.

Kunci keunggulannya: biaya investasinya jauh lebih murah. Bisa 30 kali lebih murah. Bukan lagi langit dan bumi –tapi langit dan sumur.

Investasi sistem lama (Hpal) memerlukan biaya Rp 15 triliun. Dengan teknologi Widodo hanya Rp 4,5 triliun. Untuk kapasitas yang sama. Masih pun memiliki banyak kelebihan lain.

Satu smelter Hpal berkapasitas 6.000 ton bahan baku per hari. Satu modul STAL 600 ton/hari. Kapasitas Hpal memang 10 kali lipat. Tapi biaya investasi Hpal lebih dari tiga kali lipat.

Menurut Widodo, di samping jauh lebih murah, teknologi STAL lebih cocok untuk Indonesia.

Modul 1 pabrik STAL “hanya” berkapasitas 600 ton/hari (bahan baku). Akan banyak pengusaha nasional yang mampu mengerjakan. Pemilik tambang kecil-kecil bisa memiliki smelter sendiri. Kalau toh harus bergabung cukup 5 atau 6 pemilik tambang sudah bisa membangun 1 pabrik.

Pengusaha lokal hampir mustahil mampu membangun smelter nikel dengan teknologi Hpal. Itu kelasnya perusahaan global.

Maka kuburan investasi nikel di Sulteng dan Sultra menemukan jalan baru. Widodo telah menemukan jalan keluarnya.

Widodo –Alhamdulillah, Puji Tuhan– telah menerbitkan matahari di atas kuburan nikel terbesar di dunia. (Dahlan Iskan)

Sumber: disway.id

Read More

Saham-saham Nikel Masih Kuat Nanjak, Ada Apa Gerangan?

NIKEL CO.ID – Setelah mayoritas menguat pada perdagangan Jumat (16/7) pekan lalu, saham emiten tambang nikel bergerak beragam dengan kecenderungan menguat pada perdagangan pagi ini, Senin (19/7/2021).

Pergerakan saham nickel ini terjadi di tengah kenaikan harga komoditas nikel dalam sepekan lalu.

Berikut pergerakan saham nikel, pukul 10.27 WIB:

  • Harum Energy (HRUM), saham +3,08%, ke Rp 5.850, transaksi Rp 29 M
  • Pelat Timah Nusantara (NIKL), +1,39%, ke Rp 1.095, transaksi Rp 152 juta
  • Aneka Tambang (ANTM), +1,15%, ke Rp 2.650, transaksi Rp 74 M
  • Timah (TINS), +0,88%, ke Rp 1.710, transaksi Rp 23 M
  • Central Omega Resources (DKFT), +0,69%, ke Rp 146, transaksi Rp 160 juta
  • Trinitan Metals and Minerals (PURE), 0,00%, ke Rp 96, transaksi Rp 174 juta
  • Vale Indonesia (INCO), -0,47%, ke Rp 5.325, transaksi Rp 29 M
  • PAM Mineral (NICL), -6,76%, ke Rp 276, transaksi Rp 30 M.

Menurut data di atas, dari 8 saham yang diamati, 5 saham menguat, 1 saham stagnan, dan 2 saham anjlok.

Saham emiten milik taipan Kiki Barki, HRUM, memimpin penguatan dengan naik 3,08% ke Rp 5.850/saham, melanjutkan kenaikan pada Jumat pekan lalu yang sebesar 6,57%. Kenaikan saham HRUM diiringi dengan masuknya investor asing dengan catatan beli bersih Rp 3,27 miliar.

Dalam sepekan, saham ini melesat 12,14%, sementara dalam sebulan melejit 14,85%.

Di posisi kedua ada saham NIKL yang naik 1,39%, setelah pada Jumat lalu menguat 4,35%. Kendati naik, dalam sepekan saham NIKL masih minus 1,79%.

Saham emiten pelat merah ANTM berada di posisi ketiga dengan terapresiasi 1,15% ke Rp 2.650/saham. Dengan ini, saham ANTM sudah mencatatkan reli kenaikan selama 4 hari beruntun. Dalam sepekan saham ANTM naik 4,31%, sementara dalam sebulan melonjak 20,91%.

Asing juga tercatat masuk ke saham ANTM dengan nilai net buy Rp 6,36 miliar.

Berbeda, saham INCO malah turun 0,93% setelah Jumat lalu naik 2,39%. Kendati demikian, dalam seminggu saham INCO masih tumbuh 1,92% dan selama sebulan melejit 22,97%.

Di tengah pelemahan saham INCO, asing berbondong-bondong masuk dengan catatan beli bersih Rp 11,84 miliar.

Setali tiga uang, saham ‘anak baru’ NICL kembali menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 6,76%, setelah pada Jumat minggu lalu juga ARB 6,92%. Dua kali ARB yang dialami saham NICL ini mengakhiri reli kenaikan selama 5 hari atau sejak melantai pada 9 Juli lalu. Dalam sepekan saham ini masih melesat 51,65%.

Informasi saja, harga komoditas nikel dengan kontrak pembelian 3 bulan di London Metal Exchange (LME) cenderung naik dalam sepekan lalu. Secara harian, per Jumat (16/7), kenaikan harga nikel sebesar 1,13% ke harga kontrak 3 bulan US$ 18.907/ton. Sementara, dalam sepekan nikel naik 1,19% dan dalam sebulan nikel melesat sebesar 7,92%.

Sentimen terbaru untuk saham-saham emiten nikel adalah terkait PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) yang mulai menyampaikan rencana investasi pembuatan pabrik baterai kendaraan listrik

Diwartakan sebelumnya, Direktur Utama IBC Toto Nugroho, menyampaikan bahwa RI punya cita-cita menjadi pemain baterai kelas dunia dan optimistis bisa dicapai pada 2025 mendatang.

Dia mengatakan, ada dua alasan kenapa RI harus menjadi pemain baterai kelas dunia. Pertama, karena Indonesia dianugerahi cadangan nikel dan menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Tak hanya nikel, Indonesia juga memiliki cadangan komoditas mineral lainnya yang bisa dijadikan bahan baku baterai hingga kendaraan listrik.

Alasan kedua adalah Indonesia memiliki pasar yang besar. Namun potensi pasar baterai tidak hanya di Indonesia, potensi pasar besar juga ada di Asia Tenggara.

“Kita harus jadi perusahaan baterai kendaraan listrik kelas dunia. Cadangan nikel yang besar dan menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Pasar besar di Indonesia dan ASEAN region,” jelasnya dalam Investor Daily Summit 2021, Rabu (14/07/2021).

Kebutuhan baterai untuk kendaraan listrik (electric vehicle/ EV) di Indonesia pada 2030 diperkirakan bakal mencapai sekitar 11-12 Giga Watt hours (GWh) atau ekuivalen dengan 140.000 unit kendaraan roda empat.

“Pasar di Indonesia sendiri hampir 30 GW dan kami sampaikan baterai ini gak hanya four wheel (roda empat), tapi energy solution di mana kita harus menyimpan sumber listrik renewable,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, diperlukan investasi yang sangat besar dan pembangunan beberapa fasilitas perlu waktu yang panjang. Menurutnya, saat ini IBC sudah tahap rinci untuk uji kelayakan atau feasibility study (FS) dan mencari sumber pendanaan proyek dengan menggaet dua calon mitra utama.

“Dua calon mitra utama dan kemarin sempat disampaikan Kementerian Investasi, sudah diumumkan 2022 ada satu factory 10 GW break through baterai, di 2024 komponen besar-besar RKEF [Rotary Kiln Electric Furnace], HPAL [High Pressure Acid Leaching] beroperasi, sehingga di 2025 dapatkan baterai skala besar benar-benar produksi di Indonesia,” jelasnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Ini Raja-Raja Komoditas Tambang Andalan RI, Siapa Saja?

NIKEL.CO.ID – Indonesia dikaruniai sumber daya alam (SDA) yang melimpah, termasuk untuk komoditas tambang mineral seperti nikel dan emas, serta batu bara. ‘Harta karun’ komoditas tambang yang tersimpan pun berjumlah hingga miliaran ton.

Menyadari banyaknya ‘harta karun’ yang tersimpan di Tanah Air, maka pemerintah pun memutuskan untuk mewajibkan hilirisasi komoditas tambang, sehingga tidak dijual dalam bentuk ‘barang mentah’ hasil tambang, namun memiliki nilai tambah lebih besar.

Hal ini dimulai dengan mengolah komoditas mineral melalui fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter), lalu membangun pabrik komponen baterai, hingga rencana menjadi pemain baterai hingga kendaraan listrik kelas dunia.

Begitu juga di sektor batu bara. Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga mewajibkan para produsen batu bara untuk terjun ke industri hilir batu bara seperti gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) untuk menggantikan liquefied petroleum gas (LPG), methanol, peningkatan kadar batu bara (coal upgrading), hingga pencairan batu bara.

Dengan demikian, Indonesia tak lagi bergantung dari penjualan ‘barang mentah’, namun hasil pengolahan dan hilirisasi dengan nilai jual lebih tinggi.

Terlebih, saat ini sejumlah komoditas tambang mengalami super siklus di mana harga-harga melonjak tajam dan diperkirakan bertahan cukup lama. Lantas, siapa saja yang akan diuntungkan dari kondisi ini?

Berikut CNBC Indonesia rangkum siapa saja produsen komoditas tambang terbesar RI, mengutip data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM):

1. Emas

Untuk komoditas emas, sumber dayanya tercatat miliaran ton. Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), status per Juli 2020, sumber daya emas RI mencapai 15,05 miliar ton dan cadangan emas mencapai 3,56 miliar ton.

Meski potensinya besar, namun produksinya belum terlalu tinggi.

Berdasarkan data dari Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian ESDM yang dikutip CNBC Indonesia, Kamis (08/07/2021), tren produksi emas dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan penurunan.

Tahun 2018 produksi emas mencapai 135,29 ton, namun turun pada 2019 menjadi hanya 109,02 ton. Lalu saat pandemi pada tahun 2020 lalu, produksi turun drastis menjadi hanya 28,88 ton. Kemudian, pada 2021 ini ditargetkan produksi hanya sekitar 31,67 ton.

Realisasi produksi emas berdasarkan data terakhir per hari ini, Kamis (08/07/2021), produksi emas nasional baru mencapai 10,57 ton atau 33,38% dari target 31,67 ton.

Secara rinci produksi emas dari bulan ke bulan yakni, Januari sebesar 2,17 ton, naik di bulan Februari 2,38 ton, turun di bulan Maret menjadi 1,94 ton, kembali turun di April menjadi 1,88 ton, turun lagi Mei 1,67 ton dan Juni data terakhir 0,54 ton.

Berikut daftar lima perusahaan dengan produksi emas terbesar di Indonesia saat ini, seperti dikutip dari data Kementerian ESDM:

1. PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB)

PT J Resources Asia Pasifik Tbk (J Resources) merupakan perusahaan induk yang berbasis di Indonesia. Beroperasi, menambang, mengeksplorasi, dan berinvestasi di sektor pertambangan emas.

Produksi emas di lahan seluas 38.150 hektar berlokasi di Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara.

2. PT Agincourt Resources

PT Agincourt Resources merupakan sebuah perusahaan tambang berbasis di Indonesia bergerak dalam bidang eksplorasi, penambangan, dan pengolahan mineral batangan emas dan perak.

Produksi emas di lahan seluas 130.252 hektar berlokasi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Mandailing Natal, Sumatera Utara.

3. PT Bumi Suksesindo

PT Bumi Suksesindo merupakan perusahaan PMDN dengan kegiatan utama produksi emas dan tembaga. Terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Berada di lahan seluas 4.998 hektar.

4. PT Meares Soputan

PT Meares Soputan beroperasi di tambang seluas 8.969 hektar berlokasi di wilayah Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Bitung, Sulawesi Utara.

5. PT Indo Muro Kencana

PT Indo Muro Kencana melakukan penambangan di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, di lahan seluas 47.940 hektar.

Perlu diketahui, untuk PT Freeport Indonesia, meskipun juga memproduksi emas, namun data Kementerian ESDM memasukkan Freeport sebagai produsen tembaga. Untuk produsen tembaga, PT Freeport Indonesia tak dipungkiri menjadi produsen tembaga terbesar RI.

2. Nikel

Untuk komoditas nikel, cadangannya sampai miliaran ton. Indonesia merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar dunia. Besarnya cadangan menjadi alasan Indonesia bercita-cita menjadi pemain baterai kelas dunia.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat pada 2020 sumber daya bijih nikel RI mencapai 8,26 miliar ton dengan kadar 1%-2,5%, di mana kadar kurang dari 1,7% sebesar 4,33 miliar ton, dan kadar lebih dari 1,7% sebesar 3,93 miliar ton.

Adapun cadangan bijih nikel mencapai 3,65 miliar ton untuk kadar 1%-2,5%, di mana cadangan bijih nikel dengan kadar kurang dari 1,7% sebanyak 1,89 miliar ton dan bijih nikel dengan kadar di atas 1,7% sebesar 1,76 miliar ton.

Pemerintah pun menyadari pentingnya ‘harta karun’ nikel ini dengan menghentikan ekspor bijih nikel, dan mendorong investasi hilirisasi nikel. Bahkan, sejumlah proyek pabrik (smelter) bahan baku baterai dengan nilai investasi mencapai US$ 6,25 miliar atau sekitar Rp 91 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$) pun tengah dikembangkan di Tanah Air.

Untuk menggarap proyek pabrik bahan baku baterai tersebut, setidaknya 32 juta ton bijih nikel per tahun dibutuhkan. Ini tentunya menjadi ajang penambang bijih nikel untuk berlomba-lomba meningkatkan produksi bijihnya.

Berdasarkan data dari MODI Kementerian ESDM yang dikutip CNBC Indonesia, Rabu (07/07/2021), produksi Nickel Pig Iron (NPI) per hari ini mencapai 389.245,40 ton atau 43,20% dari target produksi tahun ini 901.080,00 ton.

Secara rinci, produksi Januari sebesar 68.928,02 ton, lalu naik di bulan Februari menjadi 74.801,70 ton, kembali naik di bulan Maret menjadi 77.923,55 ton. Lalu untuk bulan April turun menjari 73.371,16 ton, Mei naik jadi 80.958,03 ton, dan Juni data terakhir 12.790,99 ton.

Kemudian, produksi feronikel sebesar 760.819,92 ton atau 36,11% dari target produksi tahun ini 2.107.071,00 ton. Secara rinci, produksi bulan Januari sebesar 138.167,76 ton, kemudian naik di Februari menjadi 124.247,79 ton, dan kembali naik di Maret menjadi 141.260,31 ton. Selanjutnya di bulan April turun menjadi sebesar 135.595,81 ton, bulan Mei kembali turun menjadi 128.967,75 ton, dan bulan Juni data terakhir 91.187,25 ton.

Sementara itu, produksi nickel matte sampai saat ini mencapai 38.008,86 ton atau 48,73% dari target 78.000 ton. Secara rinci, produksi pada bulan Januari 6.088,82 ton, kemudian turun di bulan Februari menjadi 5.304,95 ton. Pada bulan Maret naik menjadi 7.703,24 ton, turun di bulan April menjadi 6.826,61 ton, Mei naik lagi jadi 7.657,30 ton, dan Juni data terakhir mencapai 4.427,95 ton.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, berikut daftar lima perusahaan dengan produksi bijih nikel terbesar di Indonesia saat ini:

1. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)

PT Vale Indonesia Tbk memiliki sejumlah wilayah tambang nikel di Indonesia, antara lain:

– Blok Soroako, Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan) dan Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) dengan status operasi produksi.

– Blok Suasua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, dengan status operasi produksi.

– Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka dan Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, dengan status operasi produksi.

– Blok Bahodopi, Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) dan Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan), dengan status operasi produksi.

2. PT Bintang Delapan Mineral

Memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Desa Bahomoahi, Bahomotefe, Lalampu, Lele, Dampala, Siumbatu, Bahodopi, Keurea, dan Fatufia, Kecamatan Bungku Tengah dan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dengan status operasi produksi dan luas wilayah 21.695 Ha.

3. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Memiliki sejumlah wilayah tambang, antara lain:

– Pulau Maniang, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Asera dan Molawe, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Maba dan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara.

4. PT Makmur Lestari Primatama

Memiliki wilayah tambang di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, dengan luas wilayah tambang 407 Ha.

5. PT Citra Silika Mallawa

Memiliki wilayah tambang di Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara dengan luas wilayah 475 Ha.

3. Batubara

Kementerian ESDM menyampaikan sampai dengan semester I 2021 PT Kaltim Prima Coal (KPC) memimpin sebagai perusahaan yang memproduksi batu bara terbesar di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batu Bara Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Sujatmiko. Setelah KPC, PT Adaro Indonesia menyusul di posisi kedua.

“10 besar sampai dengan semester I 2021,” ungkapnya singkat kepada CNBC Indonesia, Jumat (02/07/2021).

Namun sayangnya dia tidak menyampaikan secara rinci berapa besar kontribusi kesepuluh produsen tersebut terhadap total produksi batu bara nasional.

Berdasarkan data dari Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian ESDM yang dikutip CNBC Indonesia, Jumat (02/07/2021), total produksi batu bara sampai dengan Juni 2021 sebesar 287,84 juta ton atau 46,05% dari target tahun ini 625 juta ton.

Secara rinci, produksi batu bara pada Januari sebesar 47,81 juta ton, kemudian turun pada Februari menjadi 45,91 juta ton dan kembali naik pada Maret menjadi 49,77 juta ton.

Produksi tidak ada kenaikan pada April dibandingkan bulan sebelumnya yakni sebesar 49,77 juta ton, lalu turun tipis di bulan Mei menjadi 48,52 juta ton, dan kembali turun di bulan Juni menjadi 46,06 juta ton.

Berikut daftar 10 produsen batu bara terbesar RI:

1. PT Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
2. PT Adaro Indonesia, anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO)
3. PT Kideco Jaya Agung, anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY)
4. PT Borneo Indobara, anak usaha Golden Energy and Resources Ltd yang tercatat di Bursa Efek Singapura.
5. PT Berau Coal, anak usaha PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU)
6. PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA)
7. PT Bara Tambang
8. PT Arutmin Indonesia, anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
9. PT Multi Harapan Utama
10.PT Indexim Coalindo.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Ini 5 Produsen Nikel Terbesar RI, Siapa Jawaranya?

NIKEL.CO.ID – Indonesia dikaruniai ‘harta karun’ nikel yang sangat melimpah, bahkan cadangannya sampai miliaran ton dan merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar dunia.

Besarnya ‘harta karun’ tambang RI ini, tak ayal bila RI bercita-cita menjadi pemain baterai kelas dunia. Pemerintah pun memulainya dengan menghentikan ekspor bijih nikel, dan mendorong investasi hilirisasi nikel.

Bahkan, sejumlah proyek pabrik (smelter) bahan baku baterai dengan nilai investasi mencapai US$ 6,25 miliar atau sekitar Rp 91 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$) pun tengah dikembangkan di Tanah Air.

Untuk menggarap proyek pabrik bahan baku baterai tersebut, setidaknya 32 juta ton bijih nikel per tahun dibutuhkan. Ini tentunya menjadi ajang penambang bijih nikel untuk berlomba-lomba meningkatkan produksi bijihnya.

Lantas, siapa saja yang akan diuntungkan dari proyek hilirisasi nikel ini? Siapa saja penambang bijih nikel terbesar di negara ini?

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), berikut daftar lima perusahaan dengan produksi bijih nikel terbesar di Indonesia saat ini:

1. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)

PT Vale Indonesia Tbk memiliki sejumlah wilayah tambang nikel di Indonesia, antara lain:

– Blok Soroako, Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan) dan Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) dengan status operasi produksi.

– Blok Suasua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, dengan status operasi produksi.

– Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka dan Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, dengan status operasi produksi.

– Blok Bahodopi, Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) dan Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan), dengan status operasi produksi.

2. PT Bintang Delapan Mineral

Memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Desa Bahomoahi, Bahomotefe, Lalampu, Lele, Dampala, Siumbatu, Bahodopi, Keurea, dan Fatufia, Kecamatan Bungku Tengah dan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dengan status operasi produksi dan luas wilayah 21.695 Ha.

3. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Memiliki sejumlah wilayah tambang, antara lain:

– Pulau Maniang, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Asera dan Molawe, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Maba dan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara.

4. PT Makmur Lestari Primatama

Memiliki wilayah tambang di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, dengan luas wilayah tambang 407 Ha.

5. PT Citra Silika Mallawa

Memiliki wilayah tambang di Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara dengan luas wilayah 475 Ha.

Berdasarkan data dari Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian ESDM yang dikutip CNBC Indonesia, hari ini, Rabu (07/07/2021), produksi Nickel Pig Iron (NPI) per hari ini mencapai 389.245,40 ton atau 43,20% dari target produksi tahun ini 901.080,00 ton.

Secara rinci, produksi Januari sebesar 68.928,02 ton, lalu naik di bulan Februari menjadi 74.801,70 ton, kembali naik di bulan Maret menjadi 77.923,55 ton. Lalu untuk bulan April turun menjari 73.371,16 ton, Mei naik jadi 80.958,03 ton, dan Juni data terakhir 12.790,99 ton.

Kemudian, produksi feronikel sebesar 760.819,92 ton atau 36,11% dari target produksi tahun ini 2.107.071,00 ton. Secara rinci, produksi bulan Januari sebesar 138.167,76 ton, kemudian naik di Februari menjadi 124.247,79 ton, dan kembali naik di Maret menjadi 141.260,31 ton. Selanjutnya di bulan April turun menjadi sebesar 135.595,81 ton, bulan Mei kembali turun menjadi 128.967,75 ton, dan bulan Juni data terakhir 91.187,25 ton.

Sementara itu, produksi nickel matte sampai saat ini mencapai 38.008,86 ton atau 48,73% dari target 78.000 ton. Secara rinci, produksi pada bulan Januari 6.088,82 ton, kemudian turun di bulan Februari menjadi 5.304,95 ton. Pada bulan Maret naik menjadi 7.703,24 ton, turun di bulan April menjadi 6.826,61 ton, Mei naik lagi jadi 7.657,30 ton, dan Juni data terakhir mencapai 4.427,95 ton.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Bupati Parigi Moutong Imbau Masyarakat Tak Terprovokasi Isu Tanah Berpotensi Nikel

NIKEL.CO.ID – Bupati Parigi Moutong Samsurizal Tombolotutu mengimbau masyarakat Parimo tak mudah terprovokasi terkait adanya potensi nikel di KEK.

Hal tersebut akibat adanya isu berkembang ditengah masyarakat potensi adanya nikel.

Nikel tersebut menurut isu liar di masyarakat, berada di sebagian lintasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Parigi Moutong.

Samsurizal menegaskan, aparat desa agar tidak membuat isu yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Akibat itu, membuat masyarakat memikirkan tentang tanah di desanya tersebut.

“Kasihan masyarakat kita dibuat menghayal tentang tanah di desanya. Masyarakat sudah menghayal katanya mereka akan kaya mendadak jika tanahnya yang kena jalur kawasan KEK dibeli karena didalamnya terdapat Nikel,” sebut Bupati Parimo Samsurizal Tombolotutu, Senin (28/6/2021).

Mantan Komandan Peleton 3/A Yonif 501/KOSTRAD Pare-pare itu menyebutkan, isu adanya nikel KEK di Parimo sudah ditanyakan kepada pengelola KEK Tawaili, Kota Palu.

Pengelola KEK Kota Palu, Mulhanan Tombolotutu merupakan sepupu dari Samsurizal mengatakan tidak benar adanya issu dibawah tanah untuk lintasan kawasan KEK ada Nikel.

Kata Toni sapan akrab Mulhanan, Nikel dibawa dari Kabupaten Morowali yang rencananya melewati lintasan KEK jalur kebun kopi atau Marantale tembus di kawasan KEK Tawaili.

Bupati Parimo dua periode itu mengingatkan kepada masyarakat dan aparat desa khususnya, untuk mentaati aturan sesuai Keputusan Presiden (Kepres) nomor 34 tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan.

“Saya minta kepala OPD terkait, agar segera melaporkan hal tersebut kepada aparat penegak hukum untuk memproses oknum yang melanggar aturan, ” tandas mantan Komandan Kompi A YONIF 501/KOSTRAD tersebut.

Sumber: Tribunnews

Read More

Anggota Komisi VII DPR RI Desak Pemerintah Periksa Kualifikasi TKA Yang Bekerja di Pertambangan Nikel

NIKEL.CO.ID – Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mendesak pemerintah, dalam hal ini  Dirjen Minerba Kementerian ESDM melakukan pemeriksaan terhadap tenaga kerja asing (TKA) yang banyak bekerja di pertambangan nikel.

“Ini perlu dilakukan untuk memastikan dan menindaklanjuti laporan dari masyarakat bahwa banyak TKA yang bekerja di pertambangan nikel ditengarai tidak memiliki kualifikasi yang memadai,” kata Mulyanto, Rabu (16/6/2021).

Menurut Mulyanto, laporan aspirasi ini penting untuk ditindaklanjuti agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Pemerintah jangan sungkan mengambil tindakan tegas, karena perbuatan ini jelas merugikan negara dari aspek ketenagakerjaan maupun pajak.

“Pemerintah harus memastikan bahwa tenaga kerja asing pada industri smelter nikel memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan, baik dari segi keahlian maupun dokumen keimigrasian yang dibawa,” kata Mulyanto yang juga menyuarakan itu saat Rapat Panitia Kerja (Panja) Minerba Komisi VII DPR RI dengan Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Dirjen ILMATE, Kementerian Perindustrian dan Deputi Investasi dan Pertambangan Menkomarinves, Selasa (15/6/2021).

Dia juga merasa heran jika jika TKA yang datang pada industri smelter ini berkualifikasi pekerja kasar dan dengan visa kunjungan. Kalau ini benar, sudah pasti merugikan Indonesia. Agar tidak jadi isu liar, dia meminta pemerintah untuk  memastikannya.

Mulyanto mengusulkan kepada Ketua Komisi VII DPR RI agar isu kualifikasi TKA ini dijadikan fokus pembahasan saat kunjungan spesifik (kunsfik) Komisi VII ke industri smelter dalam waktu dekat ini.

Selain soal TKA tersebut, Mulyanto juga mendesak pemerintah untuk terus mengevaluasi pelaksanaan program hilirisasi nikel ini. Jangan sampai nilai tambah dan efek pengganda (multiflyer effect) yang konkret dari program ini jauh dari apa yang dijanjikan pemerintah.

“Hal ini dapat mengecewakan masyarakat, apalagi setelah adanya pelarangan ekspor bijih nikel dan soal harga jual bijih nikel (HPM) pada industri smelter, yang sempat bermasalah. Hilirisasi nikel ini adalah program yang bagus, agar kita tidak mengekspor bahan mentah, tetapi bahan jadi dengan nilai tambah tinggi.  Dengan demikian, penerimaan negara akan meningkat,” katanya.

Selain itu dengan pengoperasian industri smelter ini akan menyerap banyak tenaga kerja lokal. Serta manfaat sosial-ekonomi lainnya.  Namun, kalau prakteknya yang terjadi, bahwa produk yang dihasilkan hanyalah nikel setengah jadi dengan nilai tambah rendah serta maraknya TKA berkualifikasi kasar. Tentu ini tidak sesuai dengan harapan.

Untuk diketahui sebanyak 80% yang dihasilkan industri smelter nasional adalah bahan setengah jadi feronikel yang berkadar rendah (NPI). Hanya 20% hasilnya berupa stainless steel (SS). Karena itu nilai tambah industri smelter ini hanya mencapai 3-4 kali dari bahan mentahnya. Tidak sebesar 19 kali sebagaimana yang dijanjikan Pemerintah bila yang dihasilkan adalah bahan jadi hasil fabrikasi siap pakai.

Nikel setengah jadi inilah yang diekspor ke perusahaan induk untuk diolah menjadi barang jadi. Tidak heran kalau beberapa pihak menduga bahwa praktek program hilirisasi ini lebih menguntungakn pihak asing karena mereka mendapatkan jaminan pasokan konsentrat nikel dengan harga murah dan memperoleh nilai tambah tinggi dari proses fabrikasi nikel setengah jadi menjadi barang jadi.  Sementara masyarakat dilarang mengekspor nikel mental yang harganya tinggi di luar.

Sumber: harianhaluan.com

Read More

Penjualan Tembus Rp9,21 Triliun, Antam Peroleh Laba Bersih Rp630,37 Miliar Pada Q1 2021

NIKEL.CO.ID – PT Aneka Tambang Tbk (JK:ANTM) mencatatkan kinerja yang cemerlang pada kuartal pertama tahun ini. Berdasarkan laporan keuangan perseroan di laman Bursa Efek Indonesia, Antam berhasil mencatatkan penjualan sebesar Rp9,21 triliun. Capaian tersebut meroket dibandingkan dengan kinerja di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,20 triliun.

Penjualan produk emas di kuartal I tercatat sebesar Rp6,58 triliun atau 72% dari total penjualan, naik dari Rp3,97 triliun pada Q1 2020. Kemudian, penjualan feronikel juga tumbuh dari Rp965,95 miliar menjadi Rp1,22 triliun pada akhir Maret 2021. Di kuartal ini, Antam juga mencatatkan penjualan bijih nikel yang mencapai Rp950 miliar.

Seiring dengan naiknya penjualan, maka beban pokok penjualan Antam juga naik secara tahunan. Pada Q1 2020, beban pokok penjualan tercatat Rp4,64 triliun dan naik menjadi Rp7,58 triliun pada akhir kuartal I tahun ini. Kenaikan terbesar terjadi di pos biaya produksi yakni pembelian logam mulia yang tercatat sebesar Rp5,69 triliun.

“Pandemi COVID-19 telah menyebabkan ketidakpastian yang signifikan. Dampak menengah maupun jangka panjang dari pandemi ini terhadap operasi dan kinerja keuangan Grup sulit diperkirakan saat ini,” jelas manajemen Antam dalam laporan keuangannya.

Pada Q1 2020, Antam mencatatkan rugi bersih sebesar Rp281,83 miliar. Namun, di tengah pandemi COVID-19, kinerja Antam tumbuh di tahun ini. Pada akhir kuartal I 2021, Antam berhasil meningkatkan pendapatan dan menekan beberapa pos biaya sehingga dapat mencatatkan laba bersih sebesar Rp630,37 miliar.

Sebagai informasi, selama periode Januari-Maret 2021, harga saham Antam bergerak di kisaran Rp2.170 – Rp3.190 per saham dan kapitalisasi pasar pada akhir Maret mencapai Rp54,07 triliun.

Sumber: investing,com

Read More

Indonesia Andalkan Nikel Untuk Kejar Vietnam Gaet Investor

NIKEL.CO.ID – Vietnam menjadi salah satu negara di Asia yang industri dan ekonominya tumbuh pesat. Banyak investor asing mau menanamkan modal dan membangun pabrik di sana.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, pertumbuhan ekonomi Vietnam salah satunya bisa melesat karena bergabung dalam perjanjian Trans Trans Pacific Partnership (TPP) atau Kemitraan Trans Pasifik.

TPP merupakan sebuah blok perdagangan bebas beranggotakan 12 negara yaitu Amerika Serikat, Kanada, Australia, Jepang, Selandia Baru, Meksiko, Chile, Peru, dan empat negara Asia Tenggara: Malaysia, Singapura, Brunei, dan Vietnam.

Sementara Indonesia hingga kini belum bergabung ke dalam TPP. Berdasarkan catatan kumparan, Kementerian Perindustrian pernah menilai Indonesia belum siap bergabung. Banyak yang harus dibahas dan negosiasikan sehingga baru bisa bergabung dalam TPP pada 2022 mendatang.

Apalagi, Indonesia merupakan negara demokratis yang perlu persetujuan DPR untuk bisa bergabung dalam perjanjian perdagangan bebas.

Sementara Vietnam kebalikannya, bukan negara demokratis yang memerlukan persetujuan parlemen untuk perjanjian seperti itu. Vietnam sangat diuntungkan dengan masuknya para investor ke negara tersebut.

“Tiba-tiba ada banyak investasi terutama untuk elektronik datang ke Vietnam. Saya menghitung, setidaknya USD 8 miliar dalam dua tahun saat itu,” katanya dalam dalam diskusi Inaugural Indonesia Policy Dialogue ‘The Future of Indonesia’s Foreign Trade‘ secara daring, Kamis (22/4/2021).

Kejar Ketertinggalan, Indonesia Andalkan Nikel

Lufti mengatakan, sebenarnya tidak ada alasan bagi Indonesia kalah dari Vietnam, sebab negara ini memiliki banyak sumber daya yang bisa menjadi nilai ekonomi dan tempat bagi banyak investor.

Indonesia memiliki tambang nikel dan kobalt terbesar di dunia. Komoditas ini merupakan bahan baku utama baterai kendaraan listrik (EV Battery) yang tengah dikembangkan dari sektor hulu hingga hilirnya. Indonesia akan menjadi produsen EV Battery untuk memenuhi rantai pasokan global (global chain supply).

“Jadi sekarang yang membedakan Vietnam dan Indonesia adalah (investasi) Indonesia yang tumbuh dari hulu. Sementara Vietnam ada tengah-tengahnya,” ujarnya.

Lufti mengatakan, dalam waktu dekat di Indonesia juga akan unggul di bidang manufaktur baja tahan karat dan akan menjualnya ke China. Hal ini juga akan diikuti oleh produk stainless steel untuk otomotif dari produk turunan nikel.

“Jadi kami mengambil studi, agar dapat menarik investasi, kami harus membuka pasar kami. Orang-orang datang dan berinvestasi,” ucap Lufti.

Seperti diketahui, saat ini Indonesia membangun perusahaan patungan bernama Industri Baterai Indonesia (IBI) untuk mengolah baterai kendaraan listrik dari hulu hingga hilirnya.

IBI terdiri dari PT Antam Tbk (Persero), MIND ID yang merupakan induk Holding BUMN Tambang, PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan dua perusahaan asing yaitu CATL dan LG Chem. Keduanya berasal dari China dan Korea Selatan.

Sumber: KUMPARAN

Read More

Kepala BKPM: Kesempatan Emas Kita Hanya Nikel

NIKEL.CO.ID – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal atau BKPM Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia memiliki kesempatan untuk mengembangkan investasi di sektor nikel setelah kehilangan tiga fase keemasan industri yang meliputi olahan kayu, emas, dan batu bara.

“Satu kesempatan emas kita hanya nikel. Nikel sangat strategis karena hampir semua negara di Eropa pada 2030 mereka tidak akan pakai kendaraan yang berbahan bakar fosil,” kata Bahlil dalam diskusi virtual Katadata, Kamis, 25 Maret 2021.

Bahlil menjelaskan nikel merupakan komponen utama atau bahan baku bagi baterai mobil listrik yang biayanya bisa mencapai 40 persen dari keseluruhan bagian kendaraan. Saat ini, sekitar 25 persen cadangan nikel di dunia ada di Indonesia dan berpotensi dikembangkan.

Bahlil menyebut sejumlah perusahaan asing telah tertarik menanamkan modal untuk membangun industri nikel di dalam negeri, seperti LG Energy Solution, China’s Contemporary Amperex Technology (CATL), Tesla, dan BASF. LG misalnya, telah memiliki komitmen investasi senilai US$ 9,8 miliar dan CATL senilai US$ 5,2 miliar.

Dengan potensi yang dimiliki, Indonesia pada 2035 digadang-gadang dapat memproduksi 4 juta mobil listrik dan 10 juta motor listrik.

“Kita dukung pembangunan sumber daya alam untuk dikelola sampai hiliriasi,” ujar Bahlil.

Dia menjelaskan, Indonesia pada masa lalu kehilangan fase keemasannya untuk industri kayu dan olahan kayu karena tidak mampu mengoptimalkan pengembangannya di sisi hilir.

Menurut dia, tidak ada satu pun perusahaan furnitur yang masuk peringkat sepuluh besar dunia. Padahal potensi kayu di Indonesia sangat besar, khususnya di Kalimantan, Maluku, Papua, dan Sulawesi.

Di sisi lain, Indonesia juga kehilangan fase keemasan untuk industri pertambangan, khususnya emas.

“Kita tidak mampu memaksimalkan karena kita tidak membangun smelter yang baik,” ujar Bahlil.

Di fase selanjutnya, Indonesia hampir melewati masa keemasan untuk industri batu bara karena tidak mengembangkan gasifikasi dan etanol. Padahal selama ini, kata Kepala BKPM itu, Indonesia masih mengimpor gas setiap tahun.

Sumber: tempo.co

Read More

Ifishdeco (IFSH) Targetkan Pendapatan Rp1,01 Triliun

Direktur Ifishdeco Muhammad Ishaq mengatakan bahwa perseroan menargetkan volume penjualan nikel pada 2021 sebesar 2 juta ton, melonjak 155,83 persen.

NIKEL.CO.ID – Emiten pertambangan mineral, PT Ifishdeco Tbk., memasang target agresif pada 2021 setelah membukukan kinerja loyo pada 2020. Direktur Ifishdeco Muhammad Ishaq mengatakan bahwa perseroan menargetkan volume penjualan nikel pada 2021 sebesar 2 juta ton.

Angka tersebut jauh lebih tinggi 155,83 persen dibandingkan dengan perolehan 2020 yang hanya sebesar 781.767 ton.

Adapun, perolehan penjualan 2020 itu anjlok 65 persen dari perolehan 2019 sebesar 2,26 juta ton.

Sejalan dengan target penjualan itu, maka pendapatan 2021 emiten berkode saham IFSH itu diproyeksi dapat mencapai Rp1,01 triliun. Lagi-lagi, pendapatan itu juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja pendapatan (unaudited) pada 2020 yang hanya sebesar Rp395,01 miliar.

Kinerja pendapatan (unaudited) 2020 itu, menyusut 63,5 persen dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar Rp1,08 triliun.

IFSH mengaku siap untuk mengejar target itu dan telah mempertimbangkan beberapa hal dalam mengajukan target itu dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) Tahunan 2021.

“Sekarang penjualan 3 bulan sudah mencapai 100.000 ton. Kami yakin dengan menjaga kualitas dan pengiriman, kami berharap sepanjang tahun nanti bisa capai 2 juta ton,” ujar Ishaq saat paparan publik insidentil, Kamis (25/3/2021).

Adapun, Ishaq menjelaskan bahwa penurunan kinerja perseroan pada 2020 seiring dengan banyaknya katalis negatif yang menekan kinerja pada tahun lalu.

Pandemi Covid-19 dan penghentian ekspor bijih nikel oleh Pemerintah Indonesia pada tahun lalu menjadi salah dua faktor yang paling menekan kinerja perseroan.

Dia pun optimistis smelter domestik dapat menyerap penjualan bijih nikel dari perseroan lebih banyak pada tahun ini, sehingga dapat membantu perseroan memulihkan kinerja. Pasalnya, pada 2019 mayoritas penjualan perseroan masih pasar ekspor.

Untuk mengejar target tersebut, IFSH telah merevitalisasi sejumlah fasilitas dan infrastruktur, salah satunya fasilitas jetty pada awal tahun ini.

Jika sebelumnya jetty perseroan hanya dapat menampung kapal tongkang kecil, dengan revitalisasi itu kapasitas jetty menjadi lebih besar sehingga dapat menerima kapal tongkang yang juga jauh lebih besar. Dengan demikian, jumlah pengiriman juga berpotensi menjadi lebih besar.

Selain itu, IFSH juga berencana untuk melakukan akuisisi lahan tambang baru, sehingga dapat memperbesar cadangan nikel perseroan. Namun, perseroan belum menjelaskan secara detail atas rencana ekspansi tersebut.

“Untuk akuisisi lahan tambang, kami masih mencari dan tidak ada negosiasi yang final sampai saat ini. Jadi kami belum bisa mengungkapkan itu tapi nanti kalau jadi aksi korporasi pasti akan kami publikasikan,” papar Ishaq.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Emiten Nikel Ifishdeco (IFSH) Targetkan Pendapatan Tembus Rp1 Triliun

Read More