Anggota Komisi VII DPR RI Desak Pemerintah Periksa Kualifikasi TKA Yang Bekerja di Pertambangan Nikel

NIKEL.CO.ID – Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mendesak pemerintah, dalam hal ini  Dirjen Minerba Kementerian ESDM melakukan pemeriksaan terhadap tenaga kerja asing (TKA) yang banyak bekerja di pertambangan nikel.

“Ini perlu dilakukan untuk memastikan dan menindaklanjuti laporan dari masyarakat bahwa banyak TKA yang bekerja di pertambangan nikel ditengarai tidak memiliki kualifikasi yang memadai,” kata Mulyanto, Rabu (16/6/2021).

Menurut Mulyanto, laporan aspirasi ini penting untuk ditindaklanjuti agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Pemerintah jangan sungkan mengambil tindakan tegas, karena perbuatan ini jelas merugikan negara dari aspek ketenagakerjaan maupun pajak.

“Pemerintah harus memastikan bahwa tenaga kerja asing pada industri smelter nikel memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan, baik dari segi keahlian maupun dokumen keimigrasian yang dibawa,” kata Mulyanto yang juga menyuarakan itu saat Rapat Panitia Kerja (Panja) Minerba Komisi VII DPR RI dengan Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Dirjen ILMATE, Kementerian Perindustrian dan Deputi Investasi dan Pertambangan Menkomarinves, Selasa (15/6/2021).

Dia juga merasa heran jika jika TKA yang datang pada industri smelter ini berkualifikasi pekerja kasar dan dengan visa kunjungan. Kalau ini benar, sudah pasti merugikan Indonesia. Agar tidak jadi isu liar, dia meminta pemerintah untuk  memastikannya.

Mulyanto mengusulkan kepada Ketua Komisi VII DPR RI agar isu kualifikasi TKA ini dijadikan fokus pembahasan saat kunjungan spesifik (kunsfik) Komisi VII ke industri smelter dalam waktu dekat ini.

Selain soal TKA tersebut, Mulyanto juga mendesak pemerintah untuk terus mengevaluasi pelaksanaan program hilirisasi nikel ini. Jangan sampai nilai tambah dan efek pengganda (multiflyer effect) yang konkret dari program ini jauh dari apa yang dijanjikan pemerintah.

“Hal ini dapat mengecewakan masyarakat, apalagi setelah adanya pelarangan ekspor bijih nikel dan soal harga jual bijih nikel (HPM) pada industri smelter, yang sempat bermasalah. Hilirisasi nikel ini adalah program yang bagus, agar kita tidak mengekspor bahan mentah, tetapi bahan jadi dengan nilai tambah tinggi.  Dengan demikian, penerimaan negara akan meningkat,” katanya.

Selain itu dengan pengoperasian industri smelter ini akan menyerap banyak tenaga kerja lokal. Serta manfaat sosial-ekonomi lainnya.  Namun, kalau prakteknya yang terjadi, bahwa produk yang dihasilkan hanyalah nikel setengah jadi dengan nilai tambah rendah serta maraknya TKA berkualifikasi kasar. Tentu ini tidak sesuai dengan harapan.

Untuk diketahui sebanyak 80% yang dihasilkan industri smelter nasional adalah bahan setengah jadi feronikel yang berkadar rendah (NPI). Hanya 20% hasilnya berupa stainless steel (SS). Karena itu nilai tambah industri smelter ini hanya mencapai 3-4 kali dari bahan mentahnya. Tidak sebesar 19 kali sebagaimana yang dijanjikan Pemerintah bila yang dihasilkan adalah bahan jadi hasil fabrikasi siap pakai.

Nikel setengah jadi inilah yang diekspor ke perusahaan induk untuk diolah menjadi barang jadi. Tidak heran kalau beberapa pihak menduga bahwa praktek program hilirisasi ini lebih menguntungakn pihak asing karena mereka mendapatkan jaminan pasokan konsentrat nikel dengan harga murah dan memperoleh nilai tambah tinggi dari proses fabrikasi nikel setengah jadi menjadi barang jadi.  Sementara masyarakat dilarang mengekspor nikel mental yang harganya tinggi di luar.

Sumber: harianhaluan.com

Read More

Penjualan Tembus Rp9,21 Triliun, Antam Peroleh Laba Bersih Rp630,37 Miliar Pada Q1 2021

NIKEL.CO.ID – PT Aneka Tambang Tbk (JK:ANTM) mencatatkan kinerja yang cemerlang pada kuartal pertama tahun ini. Berdasarkan laporan keuangan perseroan di laman Bursa Efek Indonesia, Antam berhasil mencatatkan penjualan sebesar Rp9,21 triliun. Capaian tersebut meroket dibandingkan dengan kinerja di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,20 triliun.

Penjualan produk emas di kuartal I tercatat sebesar Rp6,58 triliun atau 72% dari total penjualan, naik dari Rp3,97 triliun pada Q1 2020. Kemudian, penjualan feronikel juga tumbuh dari Rp965,95 miliar menjadi Rp1,22 triliun pada akhir Maret 2021. Di kuartal ini, Antam juga mencatatkan penjualan bijih nikel yang mencapai Rp950 miliar.

Seiring dengan naiknya penjualan, maka beban pokok penjualan Antam juga naik secara tahunan. Pada Q1 2020, beban pokok penjualan tercatat Rp4,64 triliun dan naik menjadi Rp7,58 triliun pada akhir kuartal I tahun ini. Kenaikan terbesar terjadi di pos biaya produksi yakni pembelian logam mulia yang tercatat sebesar Rp5,69 triliun.

“Pandemi COVID-19 telah menyebabkan ketidakpastian yang signifikan. Dampak menengah maupun jangka panjang dari pandemi ini terhadap operasi dan kinerja keuangan Grup sulit diperkirakan saat ini,” jelas manajemen Antam dalam laporan keuangannya.

Pada Q1 2020, Antam mencatatkan rugi bersih sebesar Rp281,83 miliar. Namun, di tengah pandemi COVID-19, kinerja Antam tumbuh di tahun ini. Pada akhir kuartal I 2021, Antam berhasil meningkatkan pendapatan dan menekan beberapa pos biaya sehingga dapat mencatatkan laba bersih sebesar Rp630,37 miliar.

Sebagai informasi, selama periode Januari-Maret 2021, harga saham Antam bergerak di kisaran Rp2.170 – Rp3.190 per saham dan kapitalisasi pasar pada akhir Maret mencapai Rp54,07 triliun.

Sumber: investing,com

Read More

Indonesia Andalkan Nikel Untuk Kejar Vietnam Gaet Investor

NIKEL.CO.ID – Vietnam menjadi salah satu negara di Asia yang industri dan ekonominya tumbuh pesat. Banyak investor asing mau menanamkan modal dan membangun pabrik di sana.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, pertumbuhan ekonomi Vietnam salah satunya bisa melesat karena bergabung dalam perjanjian Trans Trans Pacific Partnership (TPP) atau Kemitraan Trans Pasifik.

TPP merupakan sebuah blok perdagangan bebas beranggotakan 12 negara yaitu Amerika Serikat, Kanada, Australia, Jepang, Selandia Baru, Meksiko, Chile, Peru, dan empat negara Asia Tenggara: Malaysia, Singapura, Brunei, dan Vietnam.

Sementara Indonesia hingga kini belum bergabung ke dalam TPP. Berdasarkan catatan kumparan, Kementerian Perindustrian pernah menilai Indonesia belum siap bergabung. Banyak yang harus dibahas dan negosiasikan sehingga baru bisa bergabung dalam TPP pada 2022 mendatang.

Apalagi, Indonesia merupakan negara demokratis yang perlu persetujuan DPR untuk bisa bergabung dalam perjanjian perdagangan bebas.

Sementara Vietnam kebalikannya, bukan negara demokratis yang memerlukan persetujuan parlemen untuk perjanjian seperti itu. Vietnam sangat diuntungkan dengan masuknya para investor ke negara tersebut.

“Tiba-tiba ada banyak investasi terutama untuk elektronik datang ke Vietnam. Saya menghitung, setidaknya USD 8 miliar dalam dua tahun saat itu,” katanya dalam dalam diskusi Inaugural Indonesia Policy Dialogue ‘The Future of Indonesia’s Foreign Trade‘ secara daring, Kamis (22/4/2021).

Kejar Ketertinggalan, Indonesia Andalkan Nikel

Lufti mengatakan, sebenarnya tidak ada alasan bagi Indonesia kalah dari Vietnam, sebab negara ini memiliki banyak sumber daya yang bisa menjadi nilai ekonomi dan tempat bagi banyak investor.

Indonesia memiliki tambang nikel dan kobalt terbesar di dunia. Komoditas ini merupakan bahan baku utama baterai kendaraan listrik (EV Battery) yang tengah dikembangkan dari sektor hulu hingga hilirnya. Indonesia akan menjadi produsen EV Battery untuk memenuhi rantai pasokan global (global chain supply).

“Jadi sekarang yang membedakan Vietnam dan Indonesia adalah (investasi) Indonesia yang tumbuh dari hulu. Sementara Vietnam ada tengah-tengahnya,” ujarnya.

Lufti mengatakan, dalam waktu dekat di Indonesia juga akan unggul di bidang manufaktur baja tahan karat dan akan menjualnya ke China. Hal ini juga akan diikuti oleh produk stainless steel untuk otomotif dari produk turunan nikel.

“Jadi kami mengambil studi, agar dapat menarik investasi, kami harus membuka pasar kami. Orang-orang datang dan berinvestasi,” ucap Lufti.

Seperti diketahui, saat ini Indonesia membangun perusahaan patungan bernama Industri Baterai Indonesia (IBI) untuk mengolah baterai kendaraan listrik dari hulu hingga hilirnya.

IBI terdiri dari PT Antam Tbk (Persero), MIND ID yang merupakan induk Holding BUMN Tambang, PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan dua perusahaan asing yaitu CATL dan LG Chem. Keduanya berasal dari China dan Korea Selatan.

Sumber: KUMPARAN

Read More

Kepala BKPM: Kesempatan Emas Kita Hanya Nikel

NIKEL.CO.ID – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal atau BKPM Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia memiliki kesempatan untuk mengembangkan investasi di sektor nikel setelah kehilangan tiga fase keemasan industri yang meliputi olahan kayu, emas, dan batu bara.

“Satu kesempatan emas kita hanya nikel. Nikel sangat strategis karena hampir semua negara di Eropa pada 2030 mereka tidak akan pakai kendaraan yang berbahan bakar fosil,” kata Bahlil dalam diskusi virtual Katadata, Kamis, 25 Maret 2021.

Bahlil menjelaskan nikel merupakan komponen utama atau bahan baku bagi baterai mobil listrik yang biayanya bisa mencapai 40 persen dari keseluruhan bagian kendaraan. Saat ini, sekitar 25 persen cadangan nikel di dunia ada di Indonesia dan berpotensi dikembangkan.

Bahlil menyebut sejumlah perusahaan asing telah tertarik menanamkan modal untuk membangun industri nikel di dalam negeri, seperti LG Energy Solution, China’s Contemporary Amperex Technology (CATL), Tesla, dan BASF. LG misalnya, telah memiliki komitmen investasi senilai US$ 9,8 miliar dan CATL senilai US$ 5,2 miliar.

Dengan potensi yang dimiliki, Indonesia pada 2035 digadang-gadang dapat memproduksi 4 juta mobil listrik dan 10 juta motor listrik.

“Kita dukung pembangunan sumber daya alam untuk dikelola sampai hiliriasi,” ujar Bahlil.

Dia menjelaskan, Indonesia pada masa lalu kehilangan fase keemasannya untuk industri kayu dan olahan kayu karena tidak mampu mengoptimalkan pengembangannya di sisi hilir.

Menurut dia, tidak ada satu pun perusahaan furnitur yang masuk peringkat sepuluh besar dunia. Padahal potensi kayu di Indonesia sangat besar, khususnya di Kalimantan, Maluku, Papua, dan Sulawesi.

Di sisi lain, Indonesia juga kehilangan fase keemasan untuk industri pertambangan, khususnya emas.

“Kita tidak mampu memaksimalkan karena kita tidak membangun smelter yang baik,” ujar Bahlil.

Di fase selanjutnya, Indonesia hampir melewati masa keemasan untuk industri batu bara karena tidak mengembangkan gasifikasi dan etanol. Padahal selama ini, kata Kepala BKPM itu, Indonesia masih mengimpor gas setiap tahun.

Sumber: tempo.co

Read More

Ifishdeco (IFSH) Targetkan Pendapatan Rp1,01 Triliun

Direktur Ifishdeco Muhammad Ishaq mengatakan bahwa perseroan menargetkan volume penjualan nikel pada 2021 sebesar 2 juta ton, melonjak 155,83 persen.

NIKEL.CO.ID – Emiten pertambangan mineral, PT Ifishdeco Tbk., memasang target agresif pada 2021 setelah membukukan kinerja loyo pada 2020. Direktur Ifishdeco Muhammad Ishaq mengatakan bahwa perseroan menargetkan volume penjualan nikel pada 2021 sebesar 2 juta ton.

Angka tersebut jauh lebih tinggi 155,83 persen dibandingkan dengan perolehan 2020 yang hanya sebesar 781.767 ton.

Adapun, perolehan penjualan 2020 itu anjlok 65 persen dari perolehan 2019 sebesar 2,26 juta ton.

Sejalan dengan target penjualan itu, maka pendapatan 2021 emiten berkode saham IFSH itu diproyeksi dapat mencapai Rp1,01 triliun. Lagi-lagi, pendapatan itu juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja pendapatan (unaudited) pada 2020 yang hanya sebesar Rp395,01 miliar.

Kinerja pendapatan (unaudited) 2020 itu, menyusut 63,5 persen dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar Rp1,08 triliun.

IFSH mengaku siap untuk mengejar target itu dan telah mempertimbangkan beberapa hal dalam mengajukan target itu dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) Tahunan 2021.

“Sekarang penjualan 3 bulan sudah mencapai 100.000 ton. Kami yakin dengan menjaga kualitas dan pengiriman, kami berharap sepanjang tahun nanti bisa capai 2 juta ton,” ujar Ishaq saat paparan publik insidentil, Kamis (25/3/2021).

Adapun, Ishaq menjelaskan bahwa penurunan kinerja perseroan pada 2020 seiring dengan banyaknya katalis negatif yang menekan kinerja pada tahun lalu.

Pandemi Covid-19 dan penghentian ekspor bijih nikel oleh Pemerintah Indonesia pada tahun lalu menjadi salah dua faktor yang paling menekan kinerja perseroan.

Dia pun optimistis smelter domestik dapat menyerap penjualan bijih nikel dari perseroan lebih banyak pada tahun ini, sehingga dapat membantu perseroan memulihkan kinerja. Pasalnya, pada 2019 mayoritas penjualan perseroan masih pasar ekspor.

Untuk mengejar target tersebut, IFSH telah merevitalisasi sejumlah fasilitas dan infrastruktur, salah satunya fasilitas jetty pada awal tahun ini.

Jika sebelumnya jetty perseroan hanya dapat menampung kapal tongkang kecil, dengan revitalisasi itu kapasitas jetty menjadi lebih besar sehingga dapat menerima kapal tongkang yang juga jauh lebih besar. Dengan demikian, jumlah pengiriman juga berpotensi menjadi lebih besar.

Selain itu, IFSH juga berencana untuk melakukan akuisisi lahan tambang baru, sehingga dapat memperbesar cadangan nikel perseroan. Namun, perseroan belum menjelaskan secara detail atas rencana ekspansi tersebut.

“Untuk akuisisi lahan tambang, kami masih mencari dan tidak ada negosiasi yang final sampai saat ini. Jadi kami belum bisa mengungkapkan itu tapi nanti kalau jadi aksi korporasi pasti akan kami publikasikan,” papar Ishaq.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “Emiten Nikel Ifishdeco (IFSH) Targetkan Pendapatan Tembus Rp1 Triliun

Read More

Laba Bersih Antam Melonjak 492% Menjadi Rp 1,14 Triliun

NIKEL.CO.ID – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan lonjakan laba besih pada akhir tahun 2020 sebesar 492% menjadi Rp 1,14 triliun, dibandingkan perolehan pada akhir tahun 2019 Rp 193,85 miliar.

Dalam paparan kinerja keuangannya, Senin (15/3), penjualan perseroan justru turun 16,33% menjadi Rp 27,37 triliun hingga akhir 2020, dibandingkan periode sama tahun 2019 senilai Rp 32,71 triliun.

Peningkatan laba bersih tersebut didukung penurunan beban pokok penjualan juga menjadi Rp 22,89 triliun atau turun 19,01% dari sebelumnya Rp 28,27 triliun. Alhasil laba kotor perseroan sebesar Rp 4,47 triliun atau naik 0,64% dari semula Rp 4,44 triliun.

Jumlah beban usaha perseroan sepanjang tahun 2020 juga turun 30,01% menjadi Rp 2,44 triliun, dibandingkan periode 31 Desember 2019 yang mencatatkan sejumlah Rp 3,49 triliun. Raihan ini diperoleh dari beban umum dan administrasi sebesar Rp 1,91 triliun serta beban penjualan dan pemasar sejumlah Rp 533,06 miliar pada akhir tahun 2020.

Lebih lanjut, laba usaha perseroan sebesar Rp 2,03 triliun atau naik 112% dari akhir tahun 2019 yang mencatatkan sejumlah Rp 955,61 miliar. Sementara laba sebelum pajak penghasilan dicatatkan sebesar Rp 1,64 triliun atau naik 138% dari sebelumnya Rp 687,03 miliar Sedangkan total aset perseroan hingga 31 Desember 2020 mencapai Rp 31,72 triliun, naik 5,08% dari 31 Desember 2019 yakni Rp 30,19 triliun.

Sedangkan liabilitas sebesar Rp 12,69 triliun, naik 5,21% dari semula Rp 12,06 triliun dan total ekuitas naik 4,99% menjadi Rp 19,03 triliun dari sebelumnya Rp 18,13 triliun.

Di sisi lain, perseroan memproyeksikan kinerja produksi maupun komoditas tumbuh positif pada 2021. Untuk jenis produk feronikel, pihaknya menargetkan volume produksi dan penjualan mencapai 26,000 ton nikel (TNi). Jumlah ini relatif stabil apabila dibandingkan dengan capaian produksi dan penjualan pada tahun 2020 lalu yakni masing-masing sebesar 25,970 TNi dan 26,163 TNi.

“Target produksi tersebut sejalan dengan optimalisasi yang perseroan lakukan pada produksi Feronikel Pomalaa di pabrik yang berlokasi di Sulawesi Tenggara,” jelas Sekretaris perusahaan Aneka Tambang Kunto Hendrapawoko dalam keterangan resmi.

Untuk komoditas bijih nikel, Aneka Tambang menargetkan total produksi mencapai 8,44 juta wet metric ton (WMT). Peningkatan ini nantinya akan digunakan oleh perseroan sebagai bahan baku pabrik feronikel dan juga mendukung penjualan kepada pelanggan domestik.

Adapun, pihaknya menargetkan komoditas bijih nikel pada tahun ini dapat terjual sebanyak 6,71 wmt, atau naik 104% dibandingkan penjualan di tahun 2020 yaitu 3,30 juta wmt (unaudited). Membaiknya outlook pertumbuhan industri pengolahan nikel dalam negeri menjadi sebab perseroan meningkatkan target penjualannya.

Kemudian, pada komoditas ketiga yakni emas, Aneka Tambang memproyeksikan produksi mencapai 1,37 ton emas yang akan dikontribusi dari tambang emas Pongkor dan Cibaliung yaitu 18 ton. Untuk memuluskan rencana itu, perseroan berfokus pada pengembangan basis pelanggan logam mulia di pasar dalam negeri.

“Target tersebut meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat dalam berinvestasi pada emas dan pertumbuhan permintaan emas di pasar domestik yang terus naik.” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul “Laba Bersih Antam Melonjak 492% Menjadi Rp 1,14 Triliun

Read More

[Video] APNI Optimistis Akan Terjadi Over Demand Bijih Nikel

NIKEL.CO.ID – Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) sangat optimistis terhadap masa depan sektor nikel dimana tingginya pembangunan smelter menjadi masa depan bagi penyerapan hasil tambang nikel baik nikel ore rendah hingga tinggi. Sekjen APNI, Meidy Katrin Lengkey menyebutkan dari 31 smelter yang fix akan dibangun membutuhkan 150 juta ton bijih nikel per tahun, sehingga proyeksi over demand masih sangat besar.

Seperti apa optimisme di sektor nikel? Selengkapnya saksikan dialog Savira Wardoyo dengan Sekjen Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey Dalam Closing Bell, CNBCIndonesia yang telah tayang pada Rabu, 10/03/2021.

#APNI
#Meidy Katrin Lengkey
#AsosiasiNikel

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Sinergi BUMN dan Perusahaan Tambang Sangat Dibutuhkan

NIKEL.CO.ID – Indonesia dinilai bisa menjadi produsen utama komponen baterai dan kendaraan listrik di kawasan Asia Tenggara. Ke depan, kendaraan listrik atau electric vehicles (EV) bakal mendominasi pasar moda transportasi.

“Indonesia diharapkan dapat menjadi pemain utama untuk manufaktur baterai dan produsen EV di Asia Tenggara dan tidak hanya sekadar menjadi perpanjangan pasar,” kata Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha dalam diskusi virtual, Rabu (10/3).

Menurut Satya, baterai merupakan salah satu komponen terpenting dalam pengembangan EV. Indonesia, lanjutnya, bisa menjadi pemain utama baterai kendaraan listrik karena memiliki cadangan nikel dan kobalt sulfat sebagai bahan baku baterai, yang cukup besar.

Namun, dia berpendapat dibutuhkan kerja sama yang intensif dari BUMN dan perusahaan tambang guna mewujudkan hal tersebut.

Satya menambahkan EV sangat linear dengan kebijakan pemerintah Indonesia terkait Ratifikasi Perjanjian Paris yaitu mengurangi emisi karbon sebesar 29 persen dan 41 persen dengan bantuan internasional hingga 2030. Selain juga linear dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama poin nomor tujuh.

Menurut dia, Indonesia merupakan salah satu negara pengguna kendaraan roda dua terbesar yang menghasilkan banyak emisi karbon, sehingga adanya kendaraan listrik merupakan salah satu solusi mengatasi emisi karbon tersebut.

Peran Swasta

Pada 2025, Indonesia menargetkan mampu memproduksi 2,1 juta sepeda motor listrik. Peran sektor swasta di Indonesia, lanjutnya, juga penting dalam mengakselerasi pengembangan EV.

Satya menambahkan salah satu kendala pengembangan EV, yaitu mengenai harga. Kebanyakan pengguna kendaraan roda dua, merupakan kelompok masyarakat ekonomi menengah ke bawah, sehingga cukup sulit membeli motor listrik, yang harganya relatif mahal.

Karenanya, menurut dia, perlu adanya kebijakan yang bisa membuat harganya menjadi lebih kompetitif, misalnya melalui pemberian insentif fiskal maupun nonfiskal.

Satya juga mengatakan kolaborasi dan koordinasi dari swasta dan pemerintah di kawasan Asia Tenggara menjadi hal yang penting, dalam upaya percepatan pengembangan EV

Sumber: Koran Jakarta

Read More

Antara Baterai Listrik, Kaledonia Baru dan Tesla

Adakah hubungan antara baterai listrik, Kaledonia Baru dan Tesla? Mengapa Tesla pada akhirnya memilih untuk bekerja sama dengan tambang di negara tersebut?

Apakah maksud dari hubungan antara Kaledonia Baru dan Tesla?

NIKEL.CO.ID –

Jika sebelumnya perusahaan otomotif ternama Tesla Inc. memilih India sebagai destinasi untuk membuat pabrik mobil listrik atau electric vehicle (EV),  dilaporkan dari Reuters tepatnya pada hari Kamis, 4 Maret 2021 lalu perusahaan yang didirikan oleh Elon Musk tersebut setuju untuk bermitra dengan tambang nikel di Kaledonia Baru. Bentuk kerja sama antara Tesla dan Kaledonia Baru tersebut sebagai upaya Tesla dalam mengamankan sumber daya nikel dengan jumlah yang lebih banyak.

Indonesia menjadi produsen nikel terbesar kedua di dunia, sedangkan Kaledonia Baru menduduki peringkat keempat. Perlu diketahui bahwa selain Indonesia dan Kaledonia Baru, beberapa negara lain yang menjadi produsen dari kunci bahan baku pembuat baterai kendaraan listrik yaitu ada di Kanada dan Rusia.

Tentunya untuk mendapatkan nikel Kaledonia Baru, Tesla telah membuat perjanjian dengan pemerintah di negara tersebut. Mereka turut membantu dengan produk dan standar keberlanjutan dan membeli nikel untuk produksi baterai.

Lewat cuitan di akun Twitter sang CEO Tesla pada 25 Februari lalu, dirinya menuliskan bahwa perhatian utama perusahaan tersebut adalah untuk meningkatkan produksi sel lithium-ion. Sebelumnya, di bulan Juli Elon Musk juga mengungkapkan bahwa nikel menjadi tantangan terbesar untuk baterai jarak jauh volume tinggi.

Permintaan nikel terus meningkatkan, hal tersebut dikarenakan adanya produksi kendaraan listrik saat ini mengalami percepatan. Adanya percepatan produksi tersebut mengakibatkan pasokan menjadi rendah. 

Elon Musk mengakui produksi nikel di Indonesia, Kanada, dan Australia berjalan dengan baik. Sementara di Amerika Serikat justru berat sebelah. Mengapa demikian? Apakah yang akhirnya membuat Tesla dan Kaledonia Baru bergandengan tangan?

Tesla dikabarkan akan menjadi penasihat industri di tambang Goro, Pulau Pasifik. Dimana tambang tersebut dipegang oleh Vale (Brazil) dan merupakan wilayah luar negara Prancis. Di Amerika Serikat mengalami kerusuhan sejak Vale dan negara Prancis memutuskan untuk menjual tambang nikel ke pedagang komoditas Swiss Trafigura pada awal Desember.

Berbagai protes dari kelompok pro-kemerdekaan pun terjadi. Mereka memaksa Vale untuk menutup situs di bulan Desember. Dilansir dari Routers, perjanjian tersebut berisi 51 persen saham dalam operasi Vale dapat dipegang oleh otoritas provinsi Kaledonia Baru dan kepentingan lokal, sedangkan Trafigura memiliki 19 persen saham kurang dari 25 persen yang telah direncanakan dalam perjanjian penjualan awal bersama Vale.

Pihak Vale menjelaskan bahwa tugasnya kini menyelesaikan setiap dan semua item yang belum terselesaikan untuk memungkinkan transaksi secara resmi diselesaikan. Dalam hal ini, Tesla disebutkan tidak memiliki saham namun perannya hanya sebagai mitra yang bertugas mengamankan rantai pasokan baterai listrik saat meningkatkan produksi.

Sumber: wiracarita.com

Read More

Harga Nikel Turun Terendah Sejak 2016 Setelah Ada Kesepakatan Tsingshan

NIKEL.CO.ID – Harga nikel di London merosot lebih dari 8% pada hari Kamis (04/03/2021) dan harga logam di Shanghai turun terbesar dalam sembilan bulan setelah adanya kesepakatan besar oleh perusahaan China Tsingshan yang meredakan kekhawatiran kekurangan pasokan nikel untuk bahan baku baterai.

Harga patokan nikel diperdagangkan pada level tertinggi sepanjang enam tahun yang tembus pada minggu lalu di tengah ekspektasi lonjakan permintaan dari sektor kendaraan listrik akan memacu kekurangan. Elon Musk mengatakan pada bulan Februari bahwa nikel adalah perhatian utama Tesla.

Nikel tiga bulan di London Metal Exchange turun sebanyak 8,5% menjadi $ 15.945 per ton, kerugian intraday terbesar sejak Desember 2016, juga karena berita bahwa Norilsk Nickel mengharapkan untuk menstabilkan masalah banjir di tambang Oktyabrsky dan Taimyrsky minggu depan.

Kontrak nikel Juni yang paling banyak diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange berakhir 6% lebih rendah pada 130.510 yuan ($ 20.180,61) per ton, membukukan kerugian harian terbesar sejak Mei 2020.

[Click here for an interactive nickel price chart]

Tsingshan Holding Group Co., produsen baja tahan karat terkemuka dunia, akan segera mulai memasok nikel matte ke produsen bahan baterai China dan berencana untuk memperluas investasi nikelnya di Indonesia. Matte adalah produk antara yang terbuat dari konsentrat yang dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan kimia kelas baterai.

“Produksi massal nikel matte Tsingshan memicu reformasi sisi pasokan. Hambatan pasokan nikel sulfat telah rusak. Ada ruang terbatas untuk harga nikel naik, “kata Huatai Futures dalam sebuah catatan.

Produsen nikel-pig-iron sekarang dapat membuat nikel matte dengan sedikit menyesuaikan proses pembuatannya, Celia Wang, seorang analis di Mysteel mengatakan kepada Bloomberg.

“Ini secara substansial akan meredakan kekhawatiran kekurangan bahan baterai,” katanya.

Penurunan harga nikel mendorong harga saham turun. Di Sydney, Nickel Mines Ltd. turun 10% dan IGO Ltd. kehilangan hampir 8%. Di Cina, Zhejiang Huayou Cobalt Co merosot 10% dan Ganfeng Lithium Co turun 9,7%.

(Dengan file dari Bloomberg dan Reuters)

Sumber: mining.com

Read More