Tanpa Nikel, Transisi ke Energi Terbarukan Bakal Delay

NIKEL.CO.ID – Dunia tengah bertransisi dari pemakaian energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT). Untuk melakukan transisi, maka dibutuhkan komoditas mineral berupa nikel. Jika tidak, maka transisi energi bisa saja tertunda.

Hal tersebut disampaikan oleh Steven Brown, praktisi industri nikel dalam diskusi terkait hilirisasi nikel secara daring, Selasa (29/06/2021).

Dia mengatakan, banyak opsi di sektor EBT yang bisa dimanfaatkan, mulai dari energi surya, angin, dan lainnya. Namun, sifat dari energi ini adalah intermittent atau tidak selalu ada, sehingga ini menjadi masalah yang dihadapi di sektor energi baru terbarukan. Oleh karena itu, salah satu solusi dari masalah ini adalah dengan pemanfaatan baterai.

“Renewable ini intermittent, matahari ada malam, wind tidak selalu ada, jadi renewable ada sedikit masalah. Solusinya adalah baterai, baterai ini sangat penting dalam transisi dunia ke EBT,” jelasnya.

Bahkan dia menyebut, tanpa adanya baterai, maka transisi energi tidak akan terjadi. Teknologi baterai menurutnya berkembang dengan cepat, baik menggunakan nikel atau bukan.

Meski nikel bisa digantikan dengan komoditas mineral lain, namun menurutnya komoditas yang bisa membuat baterai optimum adalah nikel.

“Yang jelas nikel ini optimum. Baterai yang optimum punya nikel karena dia high energy, namun downside high cost,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, dengan kelebihan yang dimiliki nikel, maka transisi energi akan bergantung pada nikel. Tanpa adanya nikel, menurutnya transisi energi bisa saja tertunda.

“Jadi bisa lihat transisi energi tergantung pada nikel, tanpa ada nikel, kita mungkin akan ada transisi ke EBT, tapi akan delay,” ungkapnya.

Sumber: CNBC Indonesia