Mimpi Pemain Nasional dalam Industri Hilir Nikel Global

NIKEL.CO.ID – Acara CEO Forum 2021 yang diadakan oleh Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) dihelat secara online pada tanggal 28 April 2021 ini menghadirkan beberapa CEO atau jajaran direksi perusahaan yang berperan dalam industri tambang dan logam. Rangkaian acara yang diselenggarakan oleh MGEI ini bertujuan untuk mempertemukan berbagai sosok di balik perusahaan-perusahaan yang turut andil dalam industri pertambangan mineral logam di Indonesia.

Salah dua dari perusahaan yang berunjuk gigi mengenai sepak terjang hingga rencana pengembangan adalah PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan PT Ceria Nugraha Indotama.

Merepresentasikan PT IMIP, Alexander Barus selaku CEO mengisi slot awal dari sesi pertama dari acara CEO Forum 2021. Alexander memaparkan fakta-fakta dasar mengenai IMIP, seperti tanggal berdiri perusahaan pada 3 Oktober 2012. Selain itu, IMIP memiliki area konsesi mencapai 47.000 hektar dengan area operasi tambang IMIP berkisar 2.000 Ha dan berencana ekspansi hingga 3.000 Ha. Saat ini IMIP mempekerjakan sekitar 46.000 orang, dengan 7.000 di antaranya berkewarganegaraan asing. Dari sisi investor, Alexander menyebutkan Tsingshan Group, Bintang Delapan Group, serta Hanwha.

Alexander juga menyinggung mengenai budaya kerja di IMIP. Perusahaan ini memiliki motto “United We Can”, dengan poin-poin budaya dalam akronim WTS: Working Hard, Target Oriented, dan Smart.

Sepanjang perkembangan dari kiprah dalam industri, IMIP memiliki beberapa anak perusahaan dengan spesialisasi yang berbeda. IMIP memiliki 14 smelter nickel pig iron (NPI), dengan kapasitas smelter mencapai 3 juta metrik ton per tahun (MTPY). Selain nikel, IMIP juga memiliki 1 smelter baja karbon dengan kapasitas 3,5 juta MTPY, 5 smelter katoda nikel-kobalt-mangan berkapasitas 240 ribu MTPY, serta fasilitas pengolahan daur ulang baterai EV dengan kapasitas 20 ribu MTPY. Tidak hanya itu, PT IMIP pun berencana membangun pusat penelitian dan pengembangan yang terkait dengan HPAL.

Dalam perjalanan industri, operasi PT IMIP pun ditunjang oleh pembangkit listrik berkapasitas 3.000 MW, pelabuhan, bandara, serta infrastruktur dasar seperti wisma. Bahkan PT IMIP pun juga memiliki institusi, yakni Politeknik Industri Logam Morowali yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan perusahaan. Saat ini politeknik tersebut memiliki kapasitas 96 mahasiswa per tahun yang tersebar di tiga jurusan.

Dalam rencana ke depan, PT IMIP tidak berhenti untuk berekspansi selagi mengikuti prinsip yang berkelanjutan. PT IMIP sedang dan akan bergerak ke bisnis ramah lingkungan, dengan fokus pada pengembangan EBT seperti energi surya melalui ekonomisasi slag nikel. Dalam segi operasi, IMIP berencana untuk berfokus lebih ke pengolahan bijih nikel dengan grade rendah. Selain itu, IMIP juga ingin untuk menyerap lebih banyak tenaga lokal, serta meningkatkan wujud dari pengabdian masyarakat.

Selain PT IMIP, sesi pertama juga diisi oleh PT Ceria Nugraha Indotama yang disampaikan oleh CEO, Derian Sakmiwata. Ceria sendiri merupakan perusahaan swasta nasional dengan wilayah IUP berlokasi di Kolaka, Sulawesi Tenggara dan mencakup luas sebesar 6.785 Ha. Ceria berfokus pada komoditas nikel dan kobal.

Pada periode 2017 – 2019 Ceria memperdagangkan sekitar 2 juta metrik ton (wmt) per tahun. Namun sejak Tahun 2020, Ceria hanya melakukan perdagangan domestik. Sesuai RKAB 2021, pada tahun ini, Ceria berencana meningkatkan volume dagang menjadi 4.8 juta wmt.

Saat ini, Ceria sedang membangun Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dengan kapasitas produksi 379.000 tpa FeNi dan selajutnya HPAL sebagai upaya memproduksi bahan baterai dengan kapasitas produksi 103.000 tpa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Pembangunan smelter ini telah melibatkan beberapa BUMN diantaranya PT PP, PT WIKA dengan pemasok listrik dari PT PLN.

Tidak hanya fokus di peningkatan produksi dan operasi, Ceria juga berkomitmen terhadap lingkungan, yang dibuktikan dengan sertifikasi Blue Proper Rating dari Kementerian Lingkungan dan Kehutanan selama dua tahun berturut-turut, yaitu Tahun 2019 dan 2020. Selain itu Ceria juga sudah mendapatkan Sertifikat ISO 9001:2015, ISO 45001:2018 dan ISO 14001:2015 serta 12 jam kerja tanpa LTI.

Derian memaparkan bahwa 2021 diperkirakan akan menjadi tahun ekonomi global kembali ke normal (rebound) di tengah ambang pandemik, dengan harga nikel dan kobal kembali mengalami kenaikan. Berdasarkan Wood Mackenzie, 2021, pada tahun 2023, bahkan diperkirakan bahwa permintaan terhadap nikel untuk baterai EV akan sangat signifikan dalam pangsa pasar. Konsumsi nikel akan meningkat sebesar 100 kiloton dalam rentang waktu 2020 dan 2023, dan terus meningkat sebesar 130 kt hingga 2025. Derian juga optimis bahwa mengikuti prediksi, harga nikel akan meningkat ke level 19.275 dolar AS/ ton pada 2030.

Sampai tahun ini, Ceria telah melakukan pengeboran dengan jumlah lubang bor sebanyak lebih dari 40.000 yang umumnya terkonsentrasi di bagian timur dan utara cebakan Lapaopao, mengikuti area prospek laterit. Berdasarkan survey GPR, terdapat cebakan laterit dari 500 juta ton. Hingga Tahun 2019, erdasarkan laporan sumberdaya JORC oleh Ade Kadarusman (AKGC) dan Mick Elias (CSA), dilaporkan bahwa Ceria telah memiliki sumberdaya mineral sebanyak 168 juta dengan potential upside 196 juta ton  dan cadangan bijih sebanyak 53 juta dengan potential upside 172 juta ton, kombinasi saprolit dan limonit. Lebih dalam dari itu, Ceria juga memiliki rencana jangka panjang untuk pengembangan industri. Ceria pun berharap tidak hanya sekedar menjadi penyedia sumber daya nikel semata tetapi juga mampu menjadi pusat industri nikel dan baterai dalam skala regional hingga global.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More

Tsingshan Amankan Pasokan Bijih Nikel dari Indonesia Hingga Akhir 2022

Tsingshan akan mendapat pasokan nikel dari tambang milik Silkroad Nickel di Morowali, Sulawesi Tengah.

NIKEL.CO.ID – Produsen baja dan nikel asal Tiongkok, Tsingshan, telah menandatangani kesepakatan pembelian bijih nikel selama dua tahun dari Silkroad Nickel. Komoditas itu akan berasal dari tambang bijih nikel laterit di Morowali, Sulawesi Tengah.

Silkroad akan memasok 2,7 juta metrik ton kering (dmt) bijih nikel kadar tinggi dari Maret 2021 hingga Desember 2022. Perusahaan tambang yang berbasis di Singapura itu telah bersiap untuk pengiriman perdana dalam dua minggu ke depan.

Minimum pengirimannya adalah 50 ribu metrik ton per bulan.

“Secara bertahap kami akan meningkatkan produksi mulai April 2021 dan seterusnya untuk memenuhi komitmen offtaker yang baru,” kata Direktur Eksekutif dan Kepala Eksekutif Silkroad Hong Kah Ing, dikutip dari Argus Media, Rabu (17/3/2021).

Nilai kontraknya diperkirakan mencapai US$ 90 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun. Angka ini berdasarkan harga patokan bijih nikel yang ditetapkan pemerintah Indonesia.
Tsingshan pada awal bulan ini sepakat untuk memasok nikel matte ke pabrik peleburan kobalt, Huayou Cobalt, dan produsen energi terbarukan, CNGR. Nikel matte merupakan nikel sulfida yang diproduksi dari hasil peleburan atau smelting. Produk tersebut dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan kimia untuk produksi baterai.

Kesepakatan itu telah merusak perkiraan pasar. Harga nikel lalu anjlok 8% pada 4 Maret 2021 di London Metal Exchange. Angkanya menjadi US$ 15.945 per ton, kerugian intraday terbesar sejak Desember 2016.

Padahal, harga patokan itu sempat mencapai level tertinggi dalam enam tahun terakhir. Pelaku pasar sebelumnya memprediksi harga akan terus naik karena lonjakan permintaan dari sektor kendaraan listrik tapi produksinya terbatas.

Bos Tesla, Elon Musk, bahkan menyebut produksi nikel menjadi perhatian utama perusahaan. Mineral ini merupakan salah satu bahan baku pembuatan baterai lithium-ion untuk menggerakkan mobil listrik.

Dengan hadirnya kesepakatan Tsingshan untuk memproduksi massal nikel matte, kenaikan harganya menjadi terbatas.

“Ini secara substansial akan meredakan kekhawatiran kekurangan bahan baterai,” kata analis Mysteel Celia Wang kepada Bloomberg.

Pasokan nikel dari Silkroad akan digunakan untuk produksi nikel matte Tsingshan. Perusahaan juga berencana membangun fasilitas energi bersih berkapasitas dua ribu megawatt di Indonesia dalam tiga hingga lima tahun ke depan untuk mendukung operasinya di Asia Tenggar.

Sedangkan Silkroad, mengutip dari Reuters, adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang eksplorasi, penambangan, produksi, dan penjualan bijih nikel. Perusahaan memiliki izin usaha pertambangan untuk melakukan operasi penambangan bijih nikel di sekitar 1.301 hektare (ha) di wilayah konsesi Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Proyek Tsingshan di Indonesia

Tsingshan juga sempat disebut oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam proyek pabrik pemurnian atau smelter tembaga PT Freeport Indonesia.

Kedua perusahaan bakal membangun pabrik itu di Kawasan Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

“Ini tinggal finalisasi perjanjian antara Freeport dan Tsingshan,” katanya pada awal Februari 2021.

Rencananya, produsen baterai listrik terbesar dunia asal Negeri Panda, Contemporary Amperex Technologi atau CATL, juga akan ikut bergabung. Luhut memperkirakan investasi yang masuk dalam tiga tahun ke depan mencapai US$ 30 miliar atau sekitar Rp 420 triliun.

Ia mengatakan CATL telah menandatangani komitmen investasi sebesar US$ 10 miliar atau Rp 140 triliun. Lalu, produsen kobalt asal Tiongkok, yaitu Huayou Group, bersama Tsingshan dan Freeport akan menandatangani kontrak senilai US$ 2,8 miliar atau Rp 39,2 triliun untuk smelter.

“Ini akan melahirkan turunan pabrik pipa dan kawat tembaga, mungkin sampai US$ 10 miliar,” ucap Luhut.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Tsingshan Amankan Pasokan Bijih Nikel dari Indonesia Hingga Akhir 2022

Read More

Dari Morowali Menjadi Bintang Dunia

Oleh: Dahlan Iskan

INDONESIA sudah bisa mendikte harga nikel dunia –lewat Xiang Guangda dan He Xiuqin. Minggu lalu harga nikel dunia turun sampai 5 persen. Itu karena Tsingshan Holding Group –yang memiliki pabrik nikel di Morowali, Sulawesi Tengah– membuat pengumuman: akan memproduksi nikel jenis tertentu yang bisa untuk bahan baku baterai mobil listrik.

Dunia pun gempar. Indonesia hebat. Para produsen mobil listrik menjadi tenang.

Selama ini mereka khawatir. Tidak akan cukup nikel untuk baterai mobil listrik. Produksi mobil listrik sudah mencapai tipping point. Sampai Bos Tesla Elon Musk menyerukan agar negara yang punya cadangan nikel mau menambangnya besar-besaran.

Akibat kekhawatiran itu, harga nikel dunia terus naik. Sampai Mr Xiang Guangda membuat kejutan awal bulan tadi.

Bulan lalu harga nikel masih USD 14,070 per ton. Sekarang tinggal USD 11,055. Tapi itu masih lebih tinggi dibanding harga tahun 2017 yang USD 10.200.

Mr Xiang Guangda kini sudah ikut menentukan pasar nikel dunia. Lewat giga pabriknya yang di Indonesia. Tsingshan Holding sendiri kini sudah menjadi salah satu dari 500 perusahaan terbesar di dunia. Perusahaan Mr Xiang itu di nomor 361 di ranking Fortune 500. Dengan kekayaan (2018) RMB 226.5 miliar.

Mula-mula saya tidak tahu apa arti Tsingshan. Kok Mr Xiang mendirikan perusahaan dengan nama Tsingshan.

Yang saya tahu itu bukan nama Mandarin. Lalu saya cari tahu apa nama Mandarin perusahaan Mr Xiang itu. Ketemu: 青山. Dalam huruf latin mestinya ditulis Qingshan. Artinya: bukit yang tenang. Tapi ejaan itu menjadi Tsingshan, kemungkinan ikut ejaan Taiwan.

Di Tiongkok nama lengkap perusahaan itu: 青山控股集团. Artinya: Grup Holding Gunung Tenang.

Mengapa ejaan latinnya ikut Taiwan itu karena letak kampung halaman Mr Xiang memang di seberang pulau Taiwan. Yakni di Kabupaten Wenzhou, masuk provinsi Zhejiang. Atau itu ikut ejaan lama sebelum ada standardisasi ejaan baru di Tiongkok.

Mr Xiang awalnya memang pengusaha kecil di Kabupaten Wenzhou. Ia menjadi pemasok salah satu unsur kecil untuk pintu mobil. Yakni bagian yang terbuat dari stainless steel.

Kabupaten Wenzhou memang pusat industri kecil di Tiongkok –seperti Sidoarjo dulu. Pun sejak sebelum ekonomi Tiongkok dibuka, ekonomi Wenzhou sudah berkembang.

Ketika di seluruh Tiongkok sibuk dengan politik dan revolusi (1965-1975) penduduk Wenzhou tetap asyik berdagang. Mereka sampai menciptakan infrastruktur keuangan sendiri –di luar sistem bank. Itulah sistem kredit bawah tanah –di Indonesia disebut rentenir. Di Wenzhou rentenir tumbuh sangat subur. Pun sampai sekarang. Ketika sistem perbankan di Tiongkok sudah demikian majunya sistem keuangan bawah tanah itu masih subur di sana.

Saya beberapa kali ke Wenzhou. Di Tiongkok orang memberi gelar Wenzhou itu Yahudi-nya Tiongkok. Dari Kabupaten ini lahir pengusaha-pengusaha ulet dan tangguh.

Salah satunya Mr Xiang Guangda itu. Yang nekat membangun giga pabrik nikel di Morowali.

Pemilik grup holding Tsingshan itu hanya dua orang. Yang satu Mr Xiang Guangda itu. Satunya lagi: istrinya sendiri, He Xiuqin. Benar-benar khas Wenzhou.

Ketika masih menjadi pengusaha kecil –pemasok bagian pintu mobil– Mr Xiang bisa menjaga kepercayaan. Ketika industri mobil di Tiongkok meroket Mr Xiang seperti menunggang air pasang. Kebutuhan bagian pintu mobil meningkat.

Mr Xiang lantas membangun pabrik stainless steel kecil-kecilan –di Wenzhou. Di sinilah Mr Xiang belajar banyak membuat industri stainless steel yang efisien. Orang di Tiongkok terheran-heran: kok bisa ada pabrik stainless steel yang bisa jual produk sangat murah. Maka muncul guyon di sana: “Kenapa heran? Kan ia orang Wenzhou?”

Berkat Mr Xiang rakyat biasa pun bisa membeli stainless steel untuk pagar rumah.

Ilmu teknik industri ala Wenzhou itulah yang membuat dirinya yakin: bisa mengalahkan pesaing di seluruh dunia. Termasuk pesaing dari Tiongkok sendiri.

Salah satu kuncinya: pabriknya harus di dekat bahan baku. Itulah logika yang membawa Mr Xiang ke pelosok Morowali –siapa sih pengusaha kita yang mau ke sana?

Maka tanggal 2 Oktober 2013, terjadi penandatanganan di Shanghai. Antara perusahaan Mr Xiang dengan grup Bintang Delapan dari Indonesia. Presiden SBY menyaksikannya. Demikian juga Presiden XI Jinping.

Di situlah diputuskan untuk membangun Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Luasnya: 47.000 hektare. Penuh dengan nikel di bawahnya.

Di masa Presiden Jokowi Tsingshan akhirnya membangun mega pabrik itu. Luasnya 2.000 hektare. Lengkap sekali. Termasuk pelabuhan raksasanya.

Yang membuatnya terkenal adalah: Mr Xiang menerapkan perhitungan biaya rendah sejak dari perencanaan. Itulah untungnya membangun pabrik dari nol. Tidak ada tambal-sulam. Termasuk perencanaan furnish-nya.

Inovasi terbesar dan terbaru yang dilakukan Mr Xiang di Morowali adalah: penggunaan rotary kiln furnace. Untuk memproses nikel yang masih bercampur tanah. Bahan baku itu dimasukkan smelter, lalu dihubungkan dengan furnace untuk stainless steel secara tersambung melalui continuous hot flow.

Dengan gaya Mr Xiang ini, biaya produksi stainless steel dari Morowali bahkan lebih rendah dari biaya di Tiongkok –yang sudah terkenal murah itu.

Saya pun semula mengira Mr Xiang hanya fokus di stainless steel. Ternyata belum lama ini ia mengeluarkan pernyataan resmi. Mengumumkannya di London pula. Bahwa Tsingshan juga akan memproduksi nikel untuk bahan baku baterai.

Berarti saya harus meralat tulisan saya di Disway bulan lalu. Bahwa mesin-mesin smelter yang di Morowali tidak akan bisa untuk memproduksi bahan baku baterai. Ternyata bisa. Dengan upaya tertentu. Tsingshan memang harus investasi lagi untuk membuat bahan baku baterai itu.

Dan memang Tsingshan akan investasi sampai total USD 15 miliar. Itu sama dengan Rp 200 triliun.

Mana tahan.

Di zaman Presiden Jokowi semua itu terwujud. Morowali pun berubah total. Dari ”siapa yang sudi ke sana” menjadi ”bintang dunia”. Sampai ada yang membandingkannya di medsos: apa yang diperbuat Amerika di Papua selama 50 tahun, sudah kalah dengan yang dilakukan Mr Xiang di Morowali dalam lima tahun.

Berlebihan? (Dahlan Iskan)

Sumber: DISWAY

Read More

TKA China Datang Lagi ke Tambang Nikel Morowali, Kali Ini 3 Minibus

NIKEL.CO.ID – Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Banggai, di Morowali, Sulawesi Tengah, beberapa hari lalu menerima sejumlah tenaga kerja asing (TKA) untuk melakukan perpanjangan izin bekerja.

“Mereka melakukan perjalanan domestik yang artinya TKA tersebut dilindungi dalam aspek hukumnya,” kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Banggai, Sulteng, Wijaya, dihubungi melalui telepon, Selasa (16/3/2021).

Pernyataan tersebut disampaikan Wijaya menyusul banyaknya aduan masyarakat terkait keberadaan TKA ilegal di beberapa perusahaan baik di Kabupaten Morowali ataupun di Morowali Utara.

“Itu yang barusan datang kemarin yang menumpang mobil tiga bus itu adalah TKA dari perusahaan tambang di Morowali yakni Gunbuster Nickel Industri (GNI),” kata Wijaya.

Para TKA tersebut menurut Wijaya, bekerja di perusahaan proyek strategis nasional. Perusahaan tersebut sengaja mempekerjakan TKA sesuai kebutuhan perusahaan dan mematuhi aturan perundang-undangan.

“Jadi bukan karena mereka tenaga kerja asing sehingga dicurigai mereka melanggar aturan. Mereka datang kemari sudah melalui airport dan sudah diperiksa,” tambahnya.

Ia mengklaim tidak ada satu pun TKA ilegal yang bekerja di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara. Kalaupun sekiranya ditemukan pelanggaran pada aspek keimigrasian, baru kemudian dilakukan tindakan.

“Sementara kedatangan TKA juga membantu pendapatan asli daerah (PAD). TKA di Morut itu berasal dari China,” ujarnya.

Sumber: kumparan.com

Read More

Kunjungi IMIP, Begini Harapan Wagub Sulteng

NIKEL.CO.ID – Manajemen Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menerima kunjungan rombongan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Dr. H. Rusli Dg Palabbi, SH, MH pada Rabu (24/2/2021).

Pada kesempatan itu, Rusli mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah dan mengapresiasi kontribusi IMIP bagi perekonomian daerah dan bangsa.

“Tentu ke depan apa yang sudah dilakukan (IMIP) memberi manfaat luar biasa bagi Sulawesi Tengah,” Ujar Rusli dalam sambutannya.

Rusli Dg Palabbi juga menyampaikan harapan agar IMIP dapat membuka kantor cabang di Palu dan memfasilitasi vaksinasi mandiri bagi 40 ribuan karyawan perusahaan nikel terbesar itu.

Sementara Kadis PMDPTSP Ir. Christina Sandra Tobondo, MT menyampaikan bahwa hampir 50% realisasi investasi Sulteng berasal dari IMIP.

Hal ini lanjutnya mengantarkan Sulteng ke peringkat 12 nasional.

Pada bulan Maret nanti, Ia informasikan akan dilaksanakan training bagi perusahaan dan DPMPTSP tentang OSS berbasis resiko.

Lebih lanjut Ia meminta IMIP bermitra dengan UMKM lokal dalam meningkatkan perekonomian daerah.

Merespon keinginan wagub dan kadis maka IMIP lewat juru bicara Syarif akan berkoordinasi dulu dengan manajemen pusat.

Terkait kemitraan dengan UMKM menurutnya selama ini telah berjalan sangat baik.

“Hampir seluruh UMKM wilayah Bahodopi sudah terlibatkan,” singkatnya memastikan.

Nampak ikut hadir, Wakil Ketua Komisi III DPRD Sulteng H. Zainal Abidin Ishak, ST, Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Dr. Syaifullah Djafar, M.Si dan Manajemen IMIP

Sumber: obormotindok.co.id

Read More

GEM China Segera Kuasai Nikel di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP)

NIKEL.CO.ID – Perusahaan baterai kendaraan listrik China GEM Co Ltd akan menggandakan kepemilikannya dalam proyek nikel Indonesia, sehingga menjadi investor mayoritas untuk memperkuat kendali strategis atas sumber daya mineral di tengah kekurangan nikel.

Dikutip dari The Star, Rabu (5/1/2021), melalui kerangka nota kesepahaman (MoU), GEM mengatakan dalam sebuah pernyataan, Jingmen salah satu unit usaha GEM, telah setuju dengan mitra di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) untuk meningkatkan kepemilikannya menjadi 72 persen dari 36 persen.

Adapun ketentuan finansial dari MoU yang belum diselesaikan tidak diungkapkan. Selain itu tidak jelas kapan MoU akan diimplementasikan.

Pabrik yang dirancang untuk memproduksi bahan kimia yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik dengan kapasitas tahunan 50.000 ton, diharapkan mulai berproduksi pada akhir 2020 namun ditunda karena pandemi global Covid-19.

GEM telah merencanakan proyek tersebut bersama dengan produsen stainless dan nikel Tsingshan Group, sebuah unit dari Contemporary Amperex Technology Ltd (CATL), rumah perdagangan Jepang Hanwa Co Ltd dan PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) pada 2018.

Di samping 36 persen saham unit GEM Jingmen saat ini, unit CATL memegang 25 persen, Tsingshan memiliki 21 persen dan sisanya dimiliki oleh IMIP dan Hanwa.

Berdasarkan MoU tersebut, Jingmen akan meningkatkan kepemilikannya di unit CATL dan Tsingshan masing-masing sebesar 60 persen dan 100 persen, meningkatkan kepemilikan keseluruhannya atas proyek Indonesia menjadi 72 persen.

Saham IMIP dan Hanwa akan terpengaruh langsung oleh kesepakatan tersebut. CATL, Hanwa dan IMIP tidak menjawab panggilan telepon untuk meminta komentar, sementara Tsingshan menolak berkomentar.

Sumber: asiatoday.id

Read More

Smelter Nikel Dibakar, CEO IMIP Khawatir Investor Kabur

NIKEL.CO.ID – Smelter nikel milik PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, pada Senin (14/12/2020) lalu diamuk massa, bahkan sejumlah fasilitas dan kendaraan maupun alat berat dibakar.

Hal itu terjadi saat pekerja smelter melakukan aksi unjuk rasa karena menuntut dua hal terkait kejelasan status karyawan yang telah bekerja lebih dari tiga tahun dan kenaikan gaji bagi pekerja yang telah bekerja selama lebih dari satu tahun.

Melihat kejadian ini, pengusaha smelter nikel lainnya pun menyayangkan peristiwa tersebut. Berharap agar kejadian ini tidak berdampak negatif pada iklim investasi Indonesia.

Hal itu disampaikan CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Alexander Barus kepada CNBC Indonesia.

Alex berharap agar kejadian ini tidak menjadi alasan bagi para investor untuk menilai iklim investasi di Indonesia tidak baik.

“Kita tentu sangat menyayangkan peristiwa tersebut. Semoga kejadian ini tidak menjadi dasar para investor untuk menilai iklim investasi di Indonesia,” tuturnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (16/12/2020).

Pihaknya pun berharap agar pihak aparat dapat segera menyelesaikan persoalan ini, sehingga peristiwa ini tidak menjalar ke pabrik lainnya.

“Aparat harus segera menyelesaikan persoalan yang ada agar peristiwa ini tidak menjalar ke pabrik lainnya,” ujarnya.

Sebelumnya, dia sempat mengungkapkan ada salah satu investor stainless steel asal China yang berencana menutup pabriknya di Indonesia karena investor China tersebut akan membangun pabrik stainless steel di China dengan kapasitas 4 juta metric ton.

“Saya mendengar, mudah-mudahan ini tidak benar, bahwa partner kami akan bangun pabrik stainless steel di Wuhan 4 juta metric ton dengan mengharapkan NPI dari Indonesia, artinya apa? Artinya fasilitas stainless steel di Indonesia ini akan ditutup,” tuturnya dalam sebuah diskusi nikel pada Selasa (14/10/2020).

Namun sayangnya dia enggan menuturkan alasan utama rencana hengkangnya investor asal China tersebut, dan perusahaan mana yang dimaksud.

Menurutnya, bila investor tersebut benar akan hengkang dari Indonesia, maka kebanggaan terhadap industri stainless steel di Tanah Air akan memudar.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Smelter Nikel Kobalt Terbesar Dunia Sedang Dibangun Di Morowali

NIKEL.CO.IDPemerintah terus mendorong hilirisasi mineral, termasuk nikel, demi mendorong nilai tambah dari produksi tambang di dalam negeri. Pembangunan smelter dengan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) juga didorong agar bisa menyerap nikel kadar rendah.

Chief Executive Officer (CEO) PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Alexander Barus mengatakan di Morowali sudah dilakukan ground breaking empat pabrik yang akan memproduksi katoda nikel cobalt dengan total kapasitas sebesar 240 ribu ton nikel murni. Bila ini selesai dibangun, maka ini akan menjadi salah satu smelter nikel cobalt terbesar di dunia.

Selain itu, imbuhnya, di kawasan industri Morowali ini juga dibangun pabrik daur ulang (recycle) baterai lithium. Menurutnya, pembangunan pabrik daur ulang baterai juga sudah dilakukan di beberapa tempat lain, namun belum semaju di IMIP.

Dia mengatakan, total investasi untuk empat pabrik nikel cobalt dengan teknologi HPAL ini mencapai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 43,5 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$).

“Jadi, ada empat pabrik yang akan kita bangun dengan kapasitas 240 ribu ton nikel murni dan satu recycling baterai bekas. Nah total investasinya yang kita rencanakan adalah US$ 3 miliar, di luar dari investasi untuk power plant (pembangkit listrik),” ungkapnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Jumat (06/11/2020).

Untuk memenuhi pendanaan ini, pihaknya akan menggunakan dana dari ekuitas sebesar 40% dan perbankan 60%. Adapun investor yang akan membangun pabrik komponen baterai lithium ini juga berasal dari China.

“Equity 40%, 60% dari bank, biasanya bank-bank di China mendanai proyek-proyek seperti ini, jadi dananya murni Penanaman Modal Asing (PMA),” imbuhnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk imbal hasil mulanya diharapkan dalam tempo enam sampai tujuh tahun sudah ada imbal hasil. Namun dalam perjalanannya, karena pandemi Covid-19 melanda, akhirnya membuat harus ada re-evaluasi. Namun pihaknya optimis dengan permintaan yang tinggi pada mobil listrik, maka prospek dari komponen baterai ini masih sangat tinggi.

“Perhitungan awal tidak ada Covid-19, enam sampai tujuh tahun sudah return (balik modal). Dengan adanya Covid-19, kelihatannya ada sedikit banyak re-evaluasi,” ucapnya.

Pasar yang menjanjikan di sektor kendaraan listrik membuat pemain besar mobil listrik dunia seperti Tesla berencana membangun pabrik baterai di Indonesia. Pabrik baterai tersebut direncanakan bakal dibangun di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah.

Siapa sangka kabar rencana pembangunan pabrik oleh Tesla jadi perhatian produsen mobil dunia. Hal tersebut disampaikan oleh Septian Hario Seto, Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Selasa (27/10/2020), dia mengatakan beredarnya pemberitaan mengenai Tesla, membuat salah satu perusahaan otomotif global menjadi lebih agresif untuk mengembangkan mobil listrik di Indonesia.

“Saya mendengar ada satu perusahaan otomotif global juga yang kemudian menjadi lebih agresif untuk pengembangan mobil listrik di Indonesia,” paparnya.

Sumber: CNBC Indonesia

 

Read More

IMIP Dominasi Pengolahan Nikel di Indonesia

NIKEL.CO.ID – Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) bisa memberikan pengaruh yang cukup besar dalam pengolahan nikel di Indonesia dalam waktu 4 tahun . IMIP terbukti mampu mengungguli PT Vale Indonesia (INCO) dan juga PT Aneka Tambang (ANTM) yang sebelumnya mendominasi produksi nikel olahan di Tanah Air.

Ada sejumlah faktor hingga akhirnya IMIP begitu unggul dari Vale Indonesia maupun Aneka Tambang yang lebih dulu menjalankan industri pengolahan nikel. Sejumlah pakar menilai, baik Vale Indonesia dan Aneka Tambang sebenarnya sudah lama berencana mengembangkan kapasitas produksi pengolahan nikel mereka. Namun sayangnya, langkah yang diambil kedua perusahaan itu, dianggap terlalu lambat.

Vale Indonesia dan Aneka Tambang kurang gesit dalam menjalankan rencana yang sudah ditargetkan. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena adanya sejumlah hambatan dan tantangan yang dihadapi kedua perusahaan tersebut. Faktor utamanya yakni karena masalah proses perizinan birokrasi dan langkah eksekusi yang kerap mundur karena beragam alasan.

“Vale dan Antam sudah lama berencana mengembangkan pengolahan nikel, namun keputusan akhir selalu mundur dengan beragam alasan. Kedua perusahaan butuh waktu lama dan proses persetujuan yang panjang untuk mengeluarkan keputusan dengan jalur birokrasi,” kata Arif S. Tiammar, praktisi tambang dan smelter nikel.

Hal yang berbeda justru dialami oleh IMIP yang mendapatkan lebih banyak dukungan, salah satunya dari perusahaan asal Cina yakni Tsingshan Group. Mereka pun juga cukup tanggap dalam mengeluarkan keputusan serta melaksanakannya.

“Setelah melakukan kajian mendalam dan evaluasi final, keputusan diambil oleh pemegang saham terbesar dengan kuasa penuh yakni Tsingshan Group,” tambah Arif.

Lalu tipikal proses pengembangan produk nikel antara IMIP dengan Vale Indonesia dan Aneka Tambang juga memiliki perbedaan yang signifikan. Vale Indonesia dan Aneka Tambang dalam menjalankan bisnisnya berawal dari pemain tambang dan menjadi penghasil produk. Sementara Tsingshan Group yang memegang saham terbesar di IMIP berangkat dari bisnis usaha stainless steel.

Terakhir faktor utama yang paling mempengaruhi tentunya dukungan dana. Pasalnya, dalam proses pengembangan smelter, membutuhkan biaya yang sangat besar. IMIP mendapatkan dukungan dana dengan skema pinjaman sangat murah. Hal ini tidak dialami oleh Vale Indonesia dan Aneka Tambang.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More

IMIP Jadi Klaster Baru Covid-19, Jatam Minta Hentikan Kegiatan

NIKEL.co.id – Sedikitnya sembilan orang karyawan PT. Indonesia Morowali Industrial Park )IMIP) terkonfirmasi positif Covid-19, agar penyebaran Covid-19 terkendali, sebaiknya dilakukan segera langkah pencegahannya dengan menghentikan sementara aktivitas produksi di wilayah kawasan industri tersebut.

“Mengingat konsentrasi manusia yang cukup besar, bekerja di wilayah kawasan industri PT. IMIP. Penghentian sementara ini juga tentunya harus dibarengi dengan pemenuhan hak-hak pekerja yang harus dilakukan pihak perusahaan, “ kata Koordinator Pelaksana Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Sulawesi Tengah (Sulteng), Muh. Taufik.

Penghentian sementara ini juga diatur didalam Undang Undang Nomor 3 Tahun 2020 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, dalam Pasal 113, yang menjelaskan “Suspensi Kegiatan Usaha Pertambangan dapat diberikan kepada Pemegang IUP dan IUPK jika terjadi “keadaan kahar”, seperti yang disebutkan huruf (a) dalam pasal 113.

Penjelasan keadaan kahar dalam undang-undang ini dimaksud dalam huruf (a) adalah keadaan kahar antara lain, perang, kerusuhan sipil, pemberontakan, epidemi, gempa bumi, banjir, kebakaran, dan bencana alam ataupun nonalam diluar kempampuan manusia.

“Sehingga, bagi kami penting untuk diberhentikan sementara aktivitas industri tambang di wilayah kawasan industri PT. IMIP. Karena Covid-19, bisa masuk dalam kategori epidemi atau bencana nonalam. Sesuai dengan penjelasan Pasal 113 ayat 1 huruf (a), “ tegas Muh. Taufik.

Jatam juga mendesak agar manajemen PT. IMIP memeriksakan kesehatan para karyawannya.

“Kami juga mendesak kepada pihak perusahaan yang beroperasi di wilayah kawasan indsutri PT. IMIP, untuk segera melakukan pemeriksaan kesehatan kepada seluruh pekerja/karyawan yang bekerja di kawasan industri tersebut. Guna memastikan kesehatan para karyawan/pekerja dalam bekerja di dalam kawasan industri PT. IMIP.” ujar Taufik.

Jatam tak lupa pula mendesak kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng untuk menutup sementara akse-akses masuk tenaga kerja asing ke Morowali dan lokasi pertambangan sekitarnya.

“Dalam kesempatan ini, kami juga mendesak pemerintah Sulawesi Tengah, untuk menutup sementara akses-akses masuk tenaga kerja asing yang akan bekerja di wilayah industri tambang di Sulawesi Tengah, seperti yang terjadi beberapa minggu lalu di wilayah Kabupaten Morowali Utara, diduga ada ratusan tenaga kerja asing yang masuk disalah satu wilayah rencana pembangunan kawasan industri di Kabupaten Morowali Utara. Penutupan akses sementara ini untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Sulteng yang terus meningkat, “ tandas Taufik.

Sumber: radarsulteng.id

Read More