Kawasan Industri Morowali Ternyata Bangun Klaster Baterai EV!

NIKEL.CO.ID – PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, saat ini memiliki tiga klaster industri, salah satunya yang kini tengah dibangun yaitu klaster yang memproduksi komponen baterai kendaraan listrik (EV).

Hal tersebut disampaikan oleh CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Alexander Barus.

Dia memaparkan, klaster pertama adalah klaster stainless steel, yakni mengolah bijih nikel menjadi Nickel Pig Iron (NPI) hingga stainless steel. Di klaster ini, terdapat 44 lines tungku smelter NPI, sementara kapasitas produksi stainless steel sebesar 3 juta metrik ton (MT) per tahun, lalu kapasitas produksi hot rolled coil 3 juta ton per tahun, dan cold rolled coil 0,5 juta ton per tahun.

“Klaster stainless steel, base-nya adalah nikel. Ini merupakan paling besar di dunia untuk satu tempat,” ungkapnya dalam webinar ‘Mineral for Energy’, Selasa malam (14/09/2021).

Klaster kedua adalah carbon steel. Dia mengatakan, klaster ini dibangun berdasarkan permintaan dari dua menteri, yakni Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, saat berkunjung ke kawasan industri ini.

Klaster ini memproduksi carbon steel dengan kapasitas produksi 3,5 juta ton per tahun dan memakan investasi sebesar US$ 1,1 miliar. Klaster ini menyerap sebanyak 5.000 orang tenaga kerja.

“Karena Indonesia menggunakan baja untuk saving devisa, kita bangun dan untungnya investor mau bangun di Morowali, ini untuk kebutuhan baja dalam negeri,” tuturnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk klaster ketiga ini adalah klaster komponen baterai, tepatnya memproduksi katoda baterai untuk kendaraan listrik. Klaster yang masih dalam tahap pembangunan ini menurutnya ditujukan untuk mendukung energi bersih dan terbarukan.

Klaster katoda baterai EV ini terdiri dari sejumlah perusahaan, antara lain:

1. PT Huayue Nickel Cobalt yang memiliki kapasitas produksi 70.000 ton per tahun (Ni-Co).
2. PT QMB New Energy Material dengan kapasitas produksi sebesar 50.000 ton per tahun (Ni Sulfide & Ni-Co).
3. PT Fajar Metal Industry dengan kapasitas 60.000 ton per tahun (Ni Sulfide).
4. PT Teluk Metal Industry dengan kapasitas 60.000 ton per tahun (Ni-Sulfide).

Adapun total investasi untuk pembangunan klaster ketiga ini sebesar US$ 3 miliar dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 5.000 orang.

“Klaster ketiga inilah yang terbentuk kita sebut klaster komponen baterai. Dalam mendukung energi bersih dan terbarukan,” ungkapnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Proyek Nikel di Morowali Bakal Bikin Tiongkok Makin Dekat Dengan Mimpinya Kuasai Dunia

NIKEL.CO.ID – Ketika itu, pada 3 Februari 2020, sebuah akun Twitter mengunggah narasi sembari mencatut media asing asal Prancis, France24.

Cuitan di Twitter itu terkait 40 ribu tenaga kerja asing asal China yang sedang dalam pengawasan terkait virus corona baru.

Tapi, apakah benar ada 40 ribu pekerja China di Morowali yang dikarantina karena virus corona?

Melansir dari antaranews, kantor berita ini melakukan penelusuran terhadap berita-berita France24.

Mereka menemukan berita yang dipublikasikan pada 31 Januari 2020, dengan judul ‘Thousands on virus lockdown at China-backed plant in Indonesia’.

Dalam berita tersebut dilaporkan bahwa ada lebih dari 40 ribu pekerja di kompleks pusat penambangan nikel di Morowali.

Namun, 40 ribu pekerja di PT Indonesia Morowali Industrial Park itu tidak semuanya berasal dari China, hanya sekitar 5.000 pekerja yang berasal dari China daratan.

Para karyawan itu pun telah menjalani tes medis dan tidak ada yang terinfeksi, menurut juru bicara perusahaan.

Terlepas dari hal itu, sebuah perusahaan milik negara yang dikelola secara terpusat dan mengkhususkan diri dalam proyek-proyek infrastruktur turnkey, yaitu China Communications Construction Co Ltd, akan mengubah dirinya menjadi pembangun rantai industri di negara-negara yang tergabung dalam Belt and Road Initiative (BRI).

Hal itu dilakukan selama periode Rencana Lima Tahun ke-14 (2021-2025), menurut seorang eksekutif seniornya pada Chinadaily.

Perusahaan tersebut yakin bisa memanfaatkan peluang perumbuhan baru yang direncanakan oleh banyak negara untuk membangun zona pengembangan ekonomi.

Termasuk jalur pelayaran regional dan pusat layanan, meningkatkan urbanisasi dan memodernisasi ekonomi untuk skala dan pertumbuhan yang berkelanjutan, jelas Sun Ziyu, wakil presiden kelompok yang bermarkas di Beijing.

Negara-negara tersebut telah melihat pembangunan infrastruktur selama bertahun-tahun di bawah kerangka kerja BRI, jelasnya lagi.

Pengetahuan dan pengalaman mereka telah diperoleh dari proyek-proyek tersebut ke bisnis mereka di Sri Lanka, Pakistan, dan Serbia.

Banyak zona ekonomi khusus di luar negeri, terutama di Asia Tenggara, Afrika, dan Timur Tengah, yang menghadapi masalah karena mereka hanya meniru pengalaman dan model dari China dan ekonomi maju.

Bukanlah hal yang benar untuk dilakukan karena sebenarnya hanya perlu menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan dan situasi lokal.

CCCC memiliki lebih dari 60 anak perusahaan, termasuk Shanghai Zhenhua Port Machinery Co, atau ZPMC, salah satu produsen mesin pelabuhan terbesar di dunia berdasarkan pangsa pasar, dan China Road and Bridge Corp, spesialis proyek infrastruktur.

Sementara, BRI sendiri telah membangun lebih dari 13.000 kilometer jalan, 180 jembatan, 121 tempat berlabuh dan 17 bandara di negara dan wilayah yang terlibat dalam BRI.

Maka, dengan lebih dari 900 proyek infrastruktur, industri dan olahraga sedang dibangun dan dikembangkan di seluruh ekonomi BRI, nilai kumulatif dari kontrak ini telah melampaui $100 miliar, kata CCCC.

BUMN tersebut saat ini mempekerjakan 100.000 pekerja di pasar luar negeri, termasuk 70.000 pekerja asing.

China Harbour Engineering Co Ltd, atau CHEC, spesialis proyek rekayasa kelautan dan anak perusahaan CCCC, menandatangani kontrak bulan lalu.

Kontrak tersebut untuk membangun dua tempat berlabuh di dermaga khusus untuk kapal curah berbobot 100.000 ton di Taman Industri Morowali di Indonesia, dengan masa konstruksi berlangsung selama 18 bulan.

Pemilik proyek adalah PT Indonesia Morowali Industrial Park. Terletak di Sulawesi Tengah, Pulau Sulawesi, Indonesia.

Proyek tersebut terutama terdiri dari dua tempat berlabuh khusus untuk kapal curah 100.000 ton, dua jembatan pendekatan dan dua jembatan.

Sebagai pelabuhan pendukung kawasan industri nikel-besi terbesar di Indonesia, Morowali Nickel-Iron Park, proyek ini akan menjadi area pelabuhan khusus bulk carrier terbesar di Indonesia setelah selesai.

Sumber: intisari.grid.id

Read More

TKA Dilarang Masuk Indonesia, Begini Respon Smelter Nikel

NIKEL.CO.ID – Pemerintah memutuskan untuk menutup pintu masuk bagi para Tenaga Kerja Asing (TKA). Hal ini dilakukan dalam rangka mencegah penularan kasus Covid-19 yang semakin meluas.

Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoli, mengungkapkan revisi aturan sudah dikeluarkan di mana tenaga kerja asing terutama dalam proyek strategis nasional sudah dibatasi.

“Sudah kita batasi dan tidak boleh masuk (WNA),” kata Yasonna, Rabu (21/7/2021).

Aturan ini harusnya berlaku pada 21 Juli 2021. Namun Yasonna mengatakan, akan ada masa transisi yakni 2 hari untuk berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri.

“Setelah diskusi dengan Ibu Menlu perlu transisi 2 hari,” katanya.

Lantas, bagaimana tanggapan dari perusahaan smelter nikel di Indonesia yang menggunakan jasa TKA hingga ribuan orang, khususnya asal China yang tak lain negeri asal investor smelter ini?

CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Alexander Barus mengatakan, pihaknya akan patuh terhadap aturan pemerintah dan akan menyesuaikan operasional dengan kebijakan terbaru pemerintah. IMIP merupakan pengelola kawasan industri di Morowali, Sulawesi Tengah, di mana di dalamnya terdapat sejumlah smelter nikel, mulai dari Nickel Pig Iron (NPI) hingga stainless steel.

Adapun investor pengelola smelter di kawasan IMIP ini antara lain berasal dari China seperti Shanghai Decent Investment (Group) Co. Ltd, Tsingshan Holding Group.

“Kita IMIP patuh terhadap aturan dan menyesuaikan,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (22/07/2021).

Dia pun mengatakan, operasional IMIP tidak akan terganggu dengan adanya kebijakan baru ini.

“Kegiatan di IMIP tidak terpengaruh signifikan,” ujarnya.

Dengan ditutupnya pintu masuk untuk TKA baru selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat atau kini disebut dengan PPKM Level 4, menurutnya TKA yang ada di proyek saat ini akan bekerja lebih lama di Indonesia.

Menurutnya, para pekerja ini juga memegang visa yang bisa diperpanjang di dalam negeri selama pandemi Covid-19.

“Mereka umumnya pemegang visa kerja yang bisa diperjanjang di dalam negeri semasa Covid ini,” imbuhnya.

Hal senada diungkapkan Harita Group, perusahaan smelter nikel berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Anie Rahmi, Corporate Communications Manager Harita Group, mengatakan bahwa perusahaan akan patuh sepenuhnya pada semua aturan pemerintah.

“Tentu saja kami patuh sepenuhnya pada semua aturan pemerintah. Ini demi percepatan penanganan Covid-19, serta pemulihan kesehatan dan kebangkitan ekonomi Indonesia,” tuturnya.

Namun sayangnya dia enggan menyebutkan berapa jumlah pekerja TKA di smelter Harita di Pulau Obi ini.

Seperti diketahui, Harita Group melalui anak usahanya, PT Halmahera Persada Lygend, sudah resmi mengoperasikan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel dengan teknologi HPAL di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara pada Juni lalu, tepatnya 23 Juni 2021.

Smelter HPAL ini memiliki kapasitas produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebesar 365 ribu ton per tahun dan merupakan bahan baku dasar baterai kendaraan listrik.

Ini merupakan smelter HPAL pertama yang beroperasi di negara ini.

Diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, kemarin, Rabu (23/06/2021), smelter HPAL ini menjadi pabrik bahan baku baterai kendaraan listrik pertama yang beroperasi di Indonesia. Proyek ini diperkirakan memakan biaya mencapai lebih dari US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,4 triliun (asumsi kurs Rp 14.400 per US$).

Perlu diketahui, peraturan larangan masuknya TKA ke Indonesia ini tertuang dalam Permenkum HAM Nomor 27 Tahun 2021 tentang Pembatasan Orang Asing Masuk ke Wilayah Indonesia Dalam Masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat.

Dalam peraturan ini, sebelumnya Yasonna mengatakan, pekerja asing yang sebelumnya datang ke Indonesia sebagai bagian dari proyek strategis nasional tak lagi bisa masuk ke Tanah Air.

“Dalam Permenkum HAM Nomor 27 Tahun 2021, orang asing yang boleh memasuki wilayah Indonesia hanya pemegang Visa Diplomatik dan Visa Dinas, pemegang Izin Tinggal Diplomatik dan Izin Tinggal Dinas, pemegang Izin Tinggal Terbatas dan Izin Tinggal Tetap, orang asing dengan tujuan kesehatan dan kemanusiaan, serta awak alat angkut yang datang dengan alat angkutnya.”

“Dengan demikian, tenaga kerja asing yang sebelumnya datang sebagai bagian dari proyek strategis nasional atau dengan alasan penyatuan keluarga kini tak bisa lagi masuk ke Indonesia sebagaimana diatur dalam peraturan ini. Perluasan pembatasan orang asing yang masuk ke Indonesia ini dilakukan dalam rangka menekan penyebaran Covid-19,” lanjutnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Mimpi Pemain Nasional dalam Industri Hilir Nikel Global

NIKEL.CO.ID – Acara CEO Forum 2021 yang diadakan oleh Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) dihelat secara online pada tanggal 28 April 2021 ini menghadirkan beberapa CEO atau jajaran direksi perusahaan yang berperan dalam industri tambang dan logam. Rangkaian acara yang diselenggarakan oleh MGEI ini bertujuan untuk mempertemukan berbagai sosok di balik perusahaan-perusahaan yang turut andil dalam industri pertambangan mineral logam di Indonesia.

Salah dua dari perusahaan yang berunjuk gigi mengenai sepak terjang hingga rencana pengembangan adalah PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan PT Ceria Nugraha Indotama.

Merepresentasikan PT IMIP, Alexander Barus selaku CEO mengisi slot awal dari sesi pertama dari acara CEO Forum 2021. Alexander memaparkan fakta-fakta dasar mengenai IMIP, seperti tanggal berdiri perusahaan pada 3 Oktober 2012. Selain itu, IMIP memiliki area konsesi mencapai 47.000 hektar dengan area operasi tambang IMIP berkisar 2.000 Ha dan berencana ekspansi hingga 3.000 Ha. Saat ini IMIP mempekerjakan sekitar 46.000 orang, dengan 7.000 di antaranya berkewarganegaraan asing. Dari sisi investor, Alexander menyebutkan Tsingshan Group, Bintang Delapan Group, serta Hanwha.

Alexander juga menyinggung mengenai budaya kerja di IMIP. Perusahaan ini memiliki motto “United We Can”, dengan poin-poin budaya dalam akronim WTS: Working Hard, Target Oriented, dan Smart.

Sepanjang perkembangan dari kiprah dalam industri, IMIP memiliki beberapa anak perusahaan dengan spesialisasi yang berbeda. IMIP memiliki 14 smelter nickel pig iron (NPI), dengan kapasitas smelter mencapai 3 juta metrik ton per tahun (MTPY). Selain nikel, IMIP juga memiliki 1 smelter baja karbon dengan kapasitas 3,5 juta MTPY, 5 smelter katoda nikel-kobalt-mangan berkapasitas 240 ribu MTPY, serta fasilitas pengolahan daur ulang baterai EV dengan kapasitas 20 ribu MTPY. Tidak hanya itu, PT IMIP pun berencana membangun pusat penelitian dan pengembangan yang terkait dengan HPAL.

Dalam perjalanan industri, operasi PT IMIP pun ditunjang oleh pembangkit listrik berkapasitas 3.000 MW, pelabuhan, bandara, serta infrastruktur dasar seperti wisma. Bahkan PT IMIP pun juga memiliki institusi, yakni Politeknik Industri Logam Morowali yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan perusahaan. Saat ini politeknik tersebut memiliki kapasitas 96 mahasiswa per tahun yang tersebar di tiga jurusan.

Dalam rencana ke depan, PT IMIP tidak berhenti untuk berekspansi selagi mengikuti prinsip yang berkelanjutan. PT IMIP sedang dan akan bergerak ke bisnis ramah lingkungan, dengan fokus pada pengembangan EBT seperti energi surya melalui ekonomisasi slag nikel. Dalam segi operasi, IMIP berencana untuk berfokus lebih ke pengolahan bijih nikel dengan grade rendah. Selain itu, IMIP juga ingin untuk menyerap lebih banyak tenaga lokal, serta meningkatkan wujud dari pengabdian masyarakat.

Selain PT IMIP, sesi pertama juga diisi oleh PT Ceria Nugraha Indotama yang disampaikan oleh CEO, Derian Sakmiwata. Ceria sendiri merupakan perusahaan swasta nasional dengan wilayah IUP berlokasi di Kolaka, Sulawesi Tenggara dan mencakup luas sebesar 6.785 Ha. Ceria berfokus pada komoditas nikel dan kobal.

Pada periode 2017 – 2019 Ceria memperdagangkan sekitar 2 juta metrik ton (wmt) per tahun. Namun sejak Tahun 2020, Ceria hanya melakukan perdagangan domestik. Sesuai RKAB 2021, pada tahun ini, Ceria berencana meningkatkan volume dagang menjadi 4.8 juta wmt.

Saat ini, Ceria sedang membangun Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dengan kapasitas produksi 379.000 tpa FeNi dan selajutnya HPAL sebagai upaya memproduksi bahan baterai dengan kapasitas produksi 103.000 tpa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Pembangunan smelter ini telah melibatkan beberapa BUMN diantaranya PT PP, PT WIKA dengan pemasok listrik dari PT PLN.

Tidak hanya fokus di peningkatan produksi dan operasi, Ceria juga berkomitmen terhadap lingkungan, yang dibuktikan dengan sertifikasi Blue Proper Rating dari Kementerian Lingkungan dan Kehutanan selama dua tahun berturut-turut, yaitu Tahun 2019 dan 2020. Selain itu Ceria juga sudah mendapatkan Sertifikat ISO 9001:2015, ISO 45001:2018 dan ISO 14001:2015 serta 12 jam kerja tanpa LTI.

Derian memaparkan bahwa 2021 diperkirakan akan menjadi tahun ekonomi global kembali ke normal (rebound) di tengah ambang pandemik, dengan harga nikel dan kobal kembali mengalami kenaikan. Berdasarkan Wood Mackenzie, 2021, pada tahun 2023, bahkan diperkirakan bahwa permintaan terhadap nikel untuk baterai EV akan sangat signifikan dalam pangsa pasar. Konsumsi nikel akan meningkat sebesar 100 kiloton dalam rentang waktu 2020 dan 2023, dan terus meningkat sebesar 130 kt hingga 2025. Derian juga optimis bahwa mengikuti prediksi, harga nikel akan meningkat ke level 19.275 dolar AS/ ton pada 2030.

Sampai tahun ini, Ceria telah melakukan pengeboran dengan jumlah lubang bor sebanyak lebih dari 40.000 yang umumnya terkonsentrasi di bagian timur dan utara cebakan Lapaopao, mengikuti area prospek laterit. Berdasarkan survey GPR, terdapat cebakan laterit dari 500 juta ton. Hingga Tahun 2019, erdasarkan laporan sumberdaya JORC oleh Ade Kadarusman (AKGC) dan Mick Elias (CSA), dilaporkan bahwa Ceria telah memiliki sumberdaya mineral sebanyak 168 juta dengan potential upside 196 juta ton  dan cadangan bijih sebanyak 53 juta dengan potential upside 172 juta ton, kombinasi saprolit dan limonit. Lebih dalam dari itu, Ceria juga memiliki rencana jangka panjang untuk pengembangan industri. Ceria pun berharap tidak hanya sekedar menjadi penyedia sumber daya nikel semata tetapi juga mampu menjadi pusat industri nikel dan baterai dalam skala regional hingga global.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More

Tsingshan Amankan Pasokan Bijih Nikel dari Indonesia Hingga Akhir 2022

Tsingshan akan mendapat pasokan nikel dari tambang milik Silkroad Nickel di Morowali, Sulawesi Tengah.

NIKEL.CO.ID – Produsen baja dan nikel asal Tiongkok, Tsingshan, telah menandatangani kesepakatan pembelian bijih nikel selama dua tahun dari Silkroad Nickel. Komoditas itu akan berasal dari tambang bijih nikel laterit di Morowali, Sulawesi Tengah.

Silkroad akan memasok 2,7 juta metrik ton kering (dmt) bijih nikel kadar tinggi dari Maret 2021 hingga Desember 2022. Perusahaan tambang yang berbasis di Singapura itu telah bersiap untuk pengiriman perdana dalam dua minggu ke depan.

Minimum pengirimannya adalah 50 ribu metrik ton per bulan.

“Secara bertahap kami akan meningkatkan produksi mulai April 2021 dan seterusnya untuk memenuhi komitmen offtaker yang baru,” kata Direktur Eksekutif dan Kepala Eksekutif Silkroad Hong Kah Ing, dikutip dari Argus Media, Rabu (17/3/2021).

Nilai kontraknya diperkirakan mencapai US$ 90 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun. Angka ini berdasarkan harga patokan bijih nikel yang ditetapkan pemerintah Indonesia.
Tsingshan pada awal bulan ini sepakat untuk memasok nikel matte ke pabrik peleburan kobalt, Huayou Cobalt, dan produsen energi terbarukan, CNGR. Nikel matte merupakan nikel sulfida yang diproduksi dari hasil peleburan atau smelting. Produk tersebut dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan kimia untuk produksi baterai.

Kesepakatan itu telah merusak perkiraan pasar. Harga nikel lalu anjlok 8% pada 4 Maret 2021 di London Metal Exchange. Angkanya menjadi US$ 15.945 per ton, kerugian intraday terbesar sejak Desember 2016.

Padahal, harga patokan itu sempat mencapai level tertinggi dalam enam tahun terakhir. Pelaku pasar sebelumnya memprediksi harga akan terus naik karena lonjakan permintaan dari sektor kendaraan listrik tapi produksinya terbatas.

Bos Tesla, Elon Musk, bahkan menyebut produksi nikel menjadi perhatian utama perusahaan. Mineral ini merupakan salah satu bahan baku pembuatan baterai lithium-ion untuk menggerakkan mobil listrik.

Dengan hadirnya kesepakatan Tsingshan untuk memproduksi massal nikel matte, kenaikan harganya menjadi terbatas.

“Ini secara substansial akan meredakan kekhawatiran kekurangan bahan baterai,” kata analis Mysteel Celia Wang kepada Bloomberg.

Pasokan nikel dari Silkroad akan digunakan untuk produksi nikel matte Tsingshan. Perusahaan juga berencana membangun fasilitas energi bersih berkapasitas dua ribu megawatt di Indonesia dalam tiga hingga lima tahun ke depan untuk mendukung operasinya di Asia Tenggar.

Sedangkan Silkroad, mengutip dari Reuters, adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang eksplorasi, penambangan, produksi, dan penjualan bijih nikel. Perusahaan memiliki izin usaha pertambangan untuk melakukan operasi penambangan bijih nikel di sekitar 1.301 hektare (ha) di wilayah konsesi Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Proyek Tsingshan di Indonesia

Tsingshan juga sempat disebut oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam proyek pabrik pemurnian atau smelter tembaga PT Freeport Indonesia.

Kedua perusahaan bakal membangun pabrik itu di Kawasan Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

“Ini tinggal finalisasi perjanjian antara Freeport dan Tsingshan,” katanya pada awal Februari 2021.

Rencananya, produsen baterai listrik terbesar dunia asal Negeri Panda, Contemporary Amperex Technologi atau CATL, juga akan ikut bergabung. Luhut memperkirakan investasi yang masuk dalam tiga tahun ke depan mencapai US$ 30 miliar atau sekitar Rp 420 triliun.

Ia mengatakan CATL telah menandatangani komitmen investasi sebesar US$ 10 miliar atau Rp 140 triliun. Lalu, produsen kobalt asal Tiongkok, yaitu Huayou Group, bersama Tsingshan dan Freeport akan menandatangani kontrak senilai US$ 2,8 miliar atau Rp 39,2 triliun untuk smelter.

“Ini akan melahirkan turunan pabrik pipa dan kawat tembaga, mungkin sampai US$ 10 miliar,” ucap Luhut.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Tsingshan Amankan Pasokan Bijih Nikel dari Indonesia Hingga Akhir 2022

Read More

Dari Morowali Menjadi Bintang Dunia

Oleh: Dahlan Iskan

INDONESIA sudah bisa mendikte harga nikel dunia –lewat Xiang Guangda dan He Xiuqin. Minggu lalu harga nikel dunia turun sampai 5 persen. Itu karena Tsingshan Holding Group –yang memiliki pabrik nikel di Morowali, Sulawesi Tengah– membuat pengumuman: akan memproduksi nikel jenis tertentu yang bisa untuk bahan baku baterai mobil listrik.

Dunia pun gempar. Indonesia hebat. Para produsen mobil listrik menjadi tenang.

Selama ini mereka khawatir. Tidak akan cukup nikel untuk baterai mobil listrik. Produksi mobil listrik sudah mencapai tipping point. Sampai Bos Tesla Elon Musk menyerukan agar negara yang punya cadangan nikel mau menambangnya besar-besaran.

Akibat kekhawatiran itu, harga nikel dunia terus naik. Sampai Mr Xiang Guangda membuat kejutan awal bulan tadi.

Bulan lalu harga nikel masih USD 14,070 per ton. Sekarang tinggal USD 11,055. Tapi itu masih lebih tinggi dibanding harga tahun 2017 yang USD 10.200.

Mr Xiang Guangda kini sudah ikut menentukan pasar nikel dunia. Lewat giga pabriknya yang di Indonesia. Tsingshan Holding sendiri kini sudah menjadi salah satu dari 500 perusahaan terbesar di dunia. Perusahaan Mr Xiang itu di nomor 361 di ranking Fortune 500. Dengan kekayaan (2018) RMB 226.5 miliar.

Mula-mula saya tidak tahu apa arti Tsingshan. Kok Mr Xiang mendirikan perusahaan dengan nama Tsingshan.

Yang saya tahu itu bukan nama Mandarin. Lalu saya cari tahu apa nama Mandarin perusahaan Mr Xiang itu. Ketemu: 青山. Dalam huruf latin mestinya ditulis Qingshan. Artinya: bukit yang tenang. Tapi ejaan itu menjadi Tsingshan, kemungkinan ikut ejaan Taiwan.

Di Tiongkok nama lengkap perusahaan itu: 青山控股集团. Artinya: Grup Holding Gunung Tenang.

Mengapa ejaan latinnya ikut Taiwan itu karena letak kampung halaman Mr Xiang memang di seberang pulau Taiwan. Yakni di Kabupaten Wenzhou, masuk provinsi Zhejiang. Atau itu ikut ejaan lama sebelum ada standardisasi ejaan baru di Tiongkok.

Mr Xiang awalnya memang pengusaha kecil di Kabupaten Wenzhou. Ia menjadi pemasok salah satu unsur kecil untuk pintu mobil. Yakni bagian yang terbuat dari stainless steel.

Kabupaten Wenzhou memang pusat industri kecil di Tiongkok –seperti Sidoarjo dulu. Pun sejak sebelum ekonomi Tiongkok dibuka, ekonomi Wenzhou sudah berkembang.

Ketika di seluruh Tiongkok sibuk dengan politik dan revolusi (1965-1975) penduduk Wenzhou tetap asyik berdagang. Mereka sampai menciptakan infrastruktur keuangan sendiri –di luar sistem bank. Itulah sistem kredit bawah tanah –di Indonesia disebut rentenir. Di Wenzhou rentenir tumbuh sangat subur. Pun sampai sekarang. Ketika sistem perbankan di Tiongkok sudah demikian majunya sistem keuangan bawah tanah itu masih subur di sana.

Saya beberapa kali ke Wenzhou. Di Tiongkok orang memberi gelar Wenzhou itu Yahudi-nya Tiongkok. Dari Kabupaten ini lahir pengusaha-pengusaha ulet dan tangguh.

Salah satunya Mr Xiang Guangda itu. Yang nekat membangun giga pabrik nikel di Morowali.

Pemilik grup holding Tsingshan itu hanya dua orang. Yang satu Mr Xiang Guangda itu. Satunya lagi: istrinya sendiri, He Xiuqin. Benar-benar khas Wenzhou.

Ketika masih menjadi pengusaha kecil –pemasok bagian pintu mobil– Mr Xiang bisa menjaga kepercayaan. Ketika industri mobil di Tiongkok meroket Mr Xiang seperti menunggang air pasang. Kebutuhan bagian pintu mobil meningkat.

Mr Xiang lantas membangun pabrik stainless steel kecil-kecilan –di Wenzhou. Di sinilah Mr Xiang belajar banyak membuat industri stainless steel yang efisien. Orang di Tiongkok terheran-heran: kok bisa ada pabrik stainless steel yang bisa jual produk sangat murah. Maka muncul guyon di sana: “Kenapa heran? Kan ia orang Wenzhou?”

Berkat Mr Xiang rakyat biasa pun bisa membeli stainless steel untuk pagar rumah.

Ilmu teknik industri ala Wenzhou itulah yang membuat dirinya yakin: bisa mengalahkan pesaing di seluruh dunia. Termasuk pesaing dari Tiongkok sendiri.

Salah satu kuncinya: pabriknya harus di dekat bahan baku. Itulah logika yang membawa Mr Xiang ke pelosok Morowali –siapa sih pengusaha kita yang mau ke sana?

Maka tanggal 2 Oktober 2013, terjadi penandatanganan di Shanghai. Antara perusahaan Mr Xiang dengan grup Bintang Delapan dari Indonesia. Presiden SBY menyaksikannya. Demikian juga Presiden XI Jinping.

Di situlah diputuskan untuk membangun Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Luasnya: 47.000 hektare. Penuh dengan nikel di bawahnya.

Di masa Presiden Jokowi Tsingshan akhirnya membangun mega pabrik itu. Luasnya 2.000 hektare. Lengkap sekali. Termasuk pelabuhan raksasanya.

Yang membuatnya terkenal adalah: Mr Xiang menerapkan perhitungan biaya rendah sejak dari perencanaan. Itulah untungnya membangun pabrik dari nol. Tidak ada tambal-sulam. Termasuk perencanaan furnish-nya.

Inovasi terbesar dan terbaru yang dilakukan Mr Xiang di Morowali adalah: penggunaan rotary kiln furnace. Untuk memproses nikel yang masih bercampur tanah. Bahan baku itu dimasukkan smelter, lalu dihubungkan dengan furnace untuk stainless steel secara tersambung melalui continuous hot flow.

Dengan gaya Mr Xiang ini, biaya produksi stainless steel dari Morowali bahkan lebih rendah dari biaya di Tiongkok –yang sudah terkenal murah itu.

Saya pun semula mengira Mr Xiang hanya fokus di stainless steel. Ternyata belum lama ini ia mengeluarkan pernyataan resmi. Mengumumkannya di London pula. Bahwa Tsingshan juga akan memproduksi nikel untuk bahan baku baterai.

Berarti saya harus meralat tulisan saya di Disway bulan lalu. Bahwa mesin-mesin smelter yang di Morowali tidak akan bisa untuk memproduksi bahan baku baterai. Ternyata bisa. Dengan upaya tertentu. Tsingshan memang harus investasi lagi untuk membuat bahan baku baterai itu.

Dan memang Tsingshan akan investasi sampai total USD 15 miliar. Itu sama dengan Rp 200 triliun.

Mana tahan.

Di zaman Presiden Jokowi semua itu terwujud. Morowali pun berubah total. Dari ”siapa yang sudi ke sana” menjadi ”bintang dunia”. Sampai ada yang membandingkannya di medsos: apa yang diperbuat Amerika di Papua selama 50 tahun, sudah kalah dengan yang dilakukan Mr Xiang di Morowali dalam lima tahun.

Berlebihan? (Dahlan Iskan)

Sumber: DISWAY

Read More

TKA China Datang Lagi ke Tambang Nikel Morowali, Kali Ini 3 Minibus

NIKEL.CO.ID – Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Banggai, di Morowali, Sulawesi Tengah, beberapa hari lalu menerima sejumlah tenaga kerja asing (TKA) untuk melakukan perpanjangan izin bekerja.

“Mereka melakukan perjalanan domestik yang artinya TKA tersebut dilindungi dalam aspek hukumnya,” kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Banggai, Sulteng, Wijaya, dihubungi melalui telepon, Selasa (16/3/2021).

Pernyataan tersebut disampaikan Wijaya menyusul banyaknya aduan masyarakat terkait keberadaan TKA ilegal di beberapa perusahaan baik di Kabupaten Morowali ataupun di Morowali Utara.

“Itu yang barusan datang kemarin yang menumpang mobil tiga bus itu adalah TKA dari perusahaan tambang di Morowali yakni Gunbuster Nickel Industri (GNI),” kata Wijaya.

Para TKA tersebut menurut Wijaya, bekerja di perusahaan proyek strategis nasional. Perusahaan tersebut sengaja mempekerjakan TKA sesuai kebutuhan perusahaan dan mematuhi aturan perundang-undangan.

“Jadi bukan karena mereka tenaga kerja asing sehingga dicurigai mereka melanggar aturan. Mereka datang kemari sudah melalui airport dan sudah diperiksa,” tambahnya.

Ia mengklaim tidak ada satu pun TKA ilegal yang bekerja di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara. Kalaupun sekiranya ditemukan pelanggaran pada aspek keimigrasian, baru kemudian dilakukan tindakan.

“Sementara kedatangan TKA juga membantu pendapatan asli daerah (PAD). TKA di Morut itu berasal dari China,” ujarnya.

Sumber: kumparan.com

Read More

Kunjungi IMIP, Begini Harapan Wagub Sulteng

NIKEL.CO.ID – Manajemen Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menerima kunjungan rombongan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Dr. H. Rusli Dg Palabbi, SH, MH pada Rabu (24/2/2021).

Pada kesempatan itu, Rusli mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah dan mengapresiasi kontribusi IMIP bagi perekonomian daerah dan bangsa.

“Tentu ke depan apa yang sudah dilakukan (IMIP) memberi manfaat luar biasa bagi Sulawesi Tengah,” Ujar Rusli dalam sambutannya.

Rusli Dg Palabbi juga menyampaikan harapan agar IMIP dapat membuka kantor cabang di Palu dan memfasilitasi vaksinasi mandiri bagi 40 ribuan karyawan perusahaan nikel terbesar itu.

Sementara Kadis PMDPTSP Ir. Christina Sandra Tobondo, MT menyampaikan bahwa hampir 50% realisasi investasi Sulteng berasal dari IMIP.

Hal ini lanjutnya mengantarkan Sulteng ke peringkat 12 nasional.

Pada bulan Maret nanti, Ia informasikan akan dilaksanakan training bagi perusahaan dan DPMPTSP tentang OSS berbasis resiko.

Lebih lanjut Ia meminta IMIP bermitra dengan UMKM lokal dalam meningkatkan perekonomian daerah.

Merespon keinginan wagub dan kadis maka IMIP lewat juru bicara Syarif akan berkoordinasi dulu dengan manajemen pusat.

Terkait kemitraan dengan UMKM menurutnya selama ini telah berjalan sangat baik.

“Hampir seluruh UMKM wilayah Bahodopi sudah terlibatkan,” singkatnya memastikan.

Nampak ikut hadir, Wakil Ketua Komisi III DPRD Sulteng H. Zainal Abidin Ishak, ST, Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Dr. Syaifullah Djafar, M.Si dan Manajemen IMIP

Sumber: obormotindok.co.id

Read More

GEM China Segera Kuasai Nikel di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP)

NIKEL.CO.ID – Perusahaan baterai kendaraan listrik China GEM Co Ltd akan menggandakan kepemilikannya dalam proyek nikel Indonesia, sehingga menjadi investor mayoritas untuk memperkuat kendali strategis atas sumber daya mineral di tengah kekurangan nikel.

Dikutip dari The Star, Rabu (5/1/2021), melalui kerangka nota kesepahaman (MoU), GEM mengatakan dalam sebuah pernyataan, Jingmen salah satu unit usaha GEM, telah setuju dengan mitra di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) untuk meningkatkan kepemilikannya menjadi 72 persen dari 36 persen.

Adapun ketentuan finansial dari MoU yang belum diselesaikan tidak diungkapkan. Selain itu tidak jelas kapan MoU akan diimplementasikan.

Pabrik yang dirancang untuk memproduksi bahan kimia yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik dengan kapasitas tahunan 50.000 ton, diharapkan mulai berproduksi pada akhir 2020 namun ditunda karena pandemi global Covid-19.

GEM telah merencanakan proyek tersebut bersama dengan produsen stainless dan nikel Tsingshan Group, sebuah unit dari Contemporary Amperex Technology Ltd (CATL), rumah perdagangan Jepang Hanwa Co Ltd dan PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) pada 2018.

Di samping 36 persen saham unit GEM Jingmen saat ini, unit CATL memegang 25 persen, Tsingshan memiliki 21 persen dan sisanya dimiliki oleh IMIP dan Hanwa.

Berdasarkan MoU tersebut, Jingmen akan meningkatkan kepemilikannya di unit CATL dan Tsingshan masing-masing sebesar 60 persen dan 100 persen, meningkatkan kepemilikan keseluruhannya atas proyek Indonesia menjadi 72 persen.

Saham IMIP dan Hanwa akan terpengaruh langsung oleh kesepakatan tersebut. CATL, Hanwa dan IMIP tidak menjawab panggilan telepon untuk meminta komentar, sementara Tsingshan menolak berkomentar.

Sumber: asiatoday.id

Read More

Smelter Nikel Dibakar, CEO IMIP Khawatir Investor Kabur

NIKEL.CO.ID – Smelter nikel milik PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, pada Senin (14/12/2020) lalu diamuk massa, bahkan sejumlah fasilitas dan kendaraan maupun alat berat dibakar.

Hal itu terjadi saat pekerja smelter melakukan aksi unjuk rasa karena menuntut dua hal terkait kejelasan status karyawan yang telah bekerja lebih dari tiga tahun dan kenaikan gaji bagi pekerja yang telah bekerja selama lebih dari satu tahun.

Melihat kejadian ini, pengusaha smelter nikel lainnya pun menyayangkan peristiwa tersebut. Berharap agar kejadian ini tidak berdampak negatif pada iklim investasi Indonesia.

Hal itu disampaikan CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Alexander Barus kepada CNBC Indonesia.

Alex berharap agar kejadian ini tidak menjadi alasan bagi para investor untuk menilai iklim investasi di Indonesia tidak baik.

“Kita tentu sangat menyayangkan peristiwa tersebut. Semoga kejadian ini tidak menjadi dasar para investor untuk menilai iklim investasi di Indonesia,” tuturnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (16/12/2020).

Pihaknya pun berharap agar pihak aparat dapat segera menyelesaikan persoalan ini, sehingga peristiwa ini tidak menjalar ke pabrik lainnya.

“Aparat harus segera menyelesaikan persoalan yang ada agar peristiwa ini tidak menjalar ke pabrik lainnya,” ujarnya.

Sebelumnya, dia sempat mengungkapkan ada salah satu investor stainless steel asal China yang berencana menutup pabriknya di Indonesia karena investor China tersebut akan membangun pabrik stainless steel di China dengan kapasitas 4 juta metric ton.

“Saya mendengar, mudah-mudahan ini tidak benar, bahwa partner kami akan bangun pabrik stainless steel di Wuhan 4 juta metric ton dengan mengharapkan NPI dari Indonesia, artinya apa? Artinya fasilitas stainless steel di Indonesia ini akan ditutup,” tuturnya dalam sebuah diskusi nikel pada Selasa (14/10/2020).

Namun sayangnya dia enggan menuturkan alasan utama rencana hengkangnya investor asal China tersebut, dan perusahaan mana yang dimaksud.

Menurutnya, bila investor tersebut benar akan hengkang dari Indonesia, maka kebanggaan terhadap industri stainless steel di Tanah Air akan memudar.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More