Beranda Agustus 2023 Lonjakan Nikel Matte 300 Persen dan Perkembangan Smelter Indonesia  

Lonjakan Nikel Matte 300 Persen dan Perkembangan Smelter Indonesia  

8143
0
Smelter Nikel

NIKEL.CO.ID, 21 AGUSTUS 2023 – Semenjak Indonesia memberlakukan program Hilirisasi dan Pelarangan Ekspor Sumber Daya Alam (SDA) khususnya mineral logam bijih nikel, ekspor produk hilir mineral logam berupa Nikel Matte tahun 2022 mengalami lonjakan yang fantastis sebesar 300% dari sebelumnya tahun 2021 yang hanya sebesar US$0,95 Miliar meningkat menjadi US$3,82 Miliar.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Jubir Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arif, mengatakan hal ini menguatkan posisi Indonesia sebagai negara eksportir utama produk hilir logam nikel dalam perdagangan internasional.

“Tercatat pada tahun 2022, nilai ekspor ferronikel mencapai USD13,6 Miliar, atau meningkat 92% dibandingkan nilai ekspor pada tahun 2021 yang sebesar USD7,08 Miliar. Nilai ekspor nikel matte juga melonjak sebesar 300%, dari USD0,95 Miliar pada tahun 2021 menjadi USD3,82 Miliar pada tahun 2022,” kata Jubir Kemenperin, Febri sapaan akrabnya seperti dikutip laman resmi Kemenperin.

Menurutnya, ekspor Stainless steel, baik dalam bentuk slab, Hot Rolled Coil (HRC) maupun CRC, menyentuh angka USD10,83 Miliar di tahun 2022. Nilai ekspor ini meningkat 4,9% dari tahun 2021 yang sebesar USD10,32 Miliar. Berdasarkan data worldstopexport tahun 2022, Indonesia menjadi eksportir HRC urutan pertama dunia dengan nilai USD4,1 Miliar.

“Ekspor produk hilir dari nikel lainnya juga terus meningkat pesat,” ujarnya.

Dia menuturkan, selain itu hadirnya nikel di Indonesia juga mampu mengerek Product Domestic Regional Brutto (PDRB) industri di provinsi tempat smelter nikel berada. Sulawesi Tengggara, sebagai produsen nikel terbesar di Indonesia, mengalami pertumbuhan PDRB industri pengolahan sebesar 16,74% pada tahun 2022, yang sebagian besar disumbang oleh industri pengolahan nikel.

Keutamaan lainnya ekonomi hilirisasi ini adalah ekspor Sulawesi Tengggara pada 2022 mencapai USD5,83 Miliar dengan USD5,7 Milliar atau 99,30 persen didominasi oleh golongan besi baja berupa Ferronickel (FENI), Nickel Pig Iron (NPI), dan baja tahan karat yang diproduksi oleh sejumlah pabrik peleburan (smelter) Nikel di wilayah ini.

“Besarnya ekspor nikel ini mengindikasikan besarnya peran dari industri nikel,” tuturnya.

Febri memaparkan, jika dilihat dari perolehan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), sektor logam nikel juga mengalami kenaikan yang mengagumkan, terutama dari daerah-daerah penghasil nikel. Tahun 2022, PNBP dari daerah penghasil nikel mencapai Rp10,8 Triliun, meningkat dari tahun 2021 yang sebesar Rp3,42 Triliun.

“Total PNBP dari lima provinsi penghasil nikel mencapai Rp20,46 Triliun sepanjang 2021 hingga triwulan II – 2023, dengan provinsi Sulawesi Tenggara merupakan penyumbang terbesar PNBP (Rp8,73 Triliun), disusul provinsi Maluku Utara (Rp6,23 Triliun),” paparnya.

Persebaran Tambang Nikel Indonesia dan Luas Area

Dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, Indonesia memiliki tambang nikel seluas 520.877,07 hektare (ha). Tambang tersebut tersebar di tujuh provinsi, antara lain Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Sulawesi Tenggara memiliki tambang nikel terbesar di Indonesia dengan luas mencapai 198.624,66 ha. Salah satu tambang nikel yang dapat ditemui di provinsi tersebut berada di Kabupaten Konawe dengan luas 21.100 ha.

Setelahnya ada Sulawesi Tengah dengan tambang nikel seluas 115.397,37 ha. Kemudian, tambang nikel yang berada di Sulawesi Selatan sebesar 198.624,66 ha.

Papua juga memiliki tambang nikel seluas 16.470 ha. Di Papua Barat, terdapat tambang nikel seluas 22.636 ha.

Luas tambang nikel di Maluku tercatat sebesar 4.389 ha. Sementara, Maluku Utara berada di posisi buncit dengan tambang nikel seluas 156.197,04 ha.

Menurut data Kementerian ESDM Perizinan Usaha Pertambangan ada sebanyak 4.330 dan IUP sebanyak 4.050, IUP sebanyak 9, Kontrak Karya (KK) sebanyak 31, PKP2B sebanyak 60 dan IPR sebanyak 82. Untuk Mineral Logam & Batubara  sebanyak 1.707. Mineral non logam & batuan sebanyak 2.441.

Sedangkan untuk IUP mineral logam sebanyak 783. IUP tambang Mineral logam sedang Eksplorasi sebanyak 4. IUP tambang Mineral logam sedang Operasi berproduksi sebanyak 779.

Perkembangan Smelter Indonesia

Menurut Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufik Bawazier, pada Juni 2023 sudah ada sebanyak 34 smelter Nikel yang berdiri di Indonesia. Namun dari 34 Smelter itu hanya baru empat smelter yang tercatat melakukan operasi pabriknya tersebut. Hal ini seperti dikutip laman republika.co.id, bahwa semenjak berlakunya larangan ekspor nikel mentah, Indonesia kebanjiran pabrik pemurnian nikel.

“Sayangnya, dari 34 smelter yang ada saat ini hanya ada 4 smelter yang termasuk dalam kategori pemurnian yang layak jadi bahan baku industri,” kata Taufik Bawazier.

Dia menjelaskan, hilirisasi nikel semestinya mengubah bijih nikel menjadi nikel hidrometalurgi. Nikel Hidrometalurgi ini merupakan bahan baku utama baterai. Saat ini industri smelter nikel yang ada di Indonesia mayoritas masih memproduksi nikel pirometalurgi. Gubahan nikel ini bahan baku setengah jadi dari produk nikel yang sesungguhnya dibutuhkan industri kendaraan listrik.

 “Kita perlu membalikkan situasi dengan masuk ke industri yang lebih hilir,” jelasnya.

Untuk bisa menghasilkan nikel hidrometalurgi, menurutnya perlu teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL). Saat ini smelter yang mempunyai teknologi ini baru empat perusahaan yang sudah beroperasi yakni PT Huayue Nickel Cobalt, PT QMB New Energy Material, dan PT Halmahera Persada Lygend.

“Saat ini belum ada lagi smelter spesifikasi ini yang konstruksi. Baru ada satu yang sedang melakukan (feasibility studi)” uajrnya.

Taufik menuturkan, untuk Industri Nikel berbasis hidrometalurgi sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik (EV) baru mencapai produksi MHP dengan kapasitas produksi 915.000 ton per tahun.

“Ini bisa dimanfaatkan paling tidak setelah pabrik baterai kita cukup kuat, kita bisa supply bahan baku nasional ke dalam eksosistem EV di dalam negeri,” tuturnya.

Dari perhitungan Kemenperin, kebutuhan nikel untuk baterai kendaraan listrik di 2025 dibutuhkan 25.133 ton, di 2030 dibutuhkan sebanyak 37.699 ton, dan di 2035 sebanyak 59.506 ton.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang, mengatakan, berdasarkan data Kemenperin, per 1 Februari 2023 sudah ada 91 Smelter dan 48 diantaranya telah beroperasi kemudian lebihnya dalam tahapan feasibility study dan kontruksi.

Kemudian untuk sebaran lokasi smelter dan jumlah smelter terbanyak berada di Provinsi Sulawesi Tengah sebanyak 25 smelter, Maluku Utara sebanyak 22 smelter, Sulawesi Tenggara sebanyak 12 smelter, Kalimantan Barat  sebanyak 10 smelter, dan terdapat 34 smelter yang terletak di berbagai provinsi lainnya.

Menurutnya, dari 48 smelter nikel yang telah beroperasi itu memiliki total kapasitas produksi sebesar 262.560 ton per tahun, dengan investasi mencapai Rp5,55 triliun, dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 2.337 orang.

Sedangkan untuk smelter besi baja memiliki total kapasitas produksi sebesar 1,6 juta ton per tahun, investasi mencapai Rp15,96 triliun, dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 2.729 orang. Untuk smelter tembaga memiliki total kapasitas produksi sebesar 150.000 ton per tahun, investasi mencapai Rp266 milliar, dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 525 orang. Kemudian smelter aluminium memiliki total kapasitas produksi 544.563 ton per tahun, investasi Rp15,66 triliun, dan penyerapan tenaga kerja 1.893 orang.

Agus Gumiwang menuturkan, apabila dilakukan hilirisasi untuk komoditas yang akan dibatasi ekspornya, akan memberikan potensi besar untuk penyerapan tenaga kerja, penambahan kapasitas produksi, dan meningkatnya nilai investasi. Contohnya, pada tahun 2022, Indonesia mengekspor bijih bauksit dan konsentratnya sebesar 17,8 juta ton. Apabila bijih bauksit ini dihilirisasi menjadi alumina, dapat menjadi 8,9 juta ton alumina yang akan dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 13.011 orang, dengan potensi nilai investasi sebesar Rp104 triliun.

Apabila dilakukan hilirisasi menjadi aluminium ingot, akan menjadi 4,5 juta ton aluminium ingot yang dapat menyerap tambahan tenaga kerja sebesar 36.885 orang, dengan kebutuhan nilai investasi sebesar Rp455 triliun.

Selanjutnya, komoditas tembaga, pada tahun 2022 Indonesia mengekspor bijih tembaga dan konsentratnya sebesar 3,1 juta ton. Hilirisasi komoditas tersebut menjadi katoda tembaga (copper cathode) berpotensi menyerap tenaga kerja sebanyak 1.045 orang dengan potensi kebutuhan nilai investasi sebesar Rp5,5 triliun.

Lalu untuk komoditas nikel, dimana bijih nikel dan konsentratnya saat ini sudah dilarang ekspor sehingga terjadi potensi hilirisasi yang dimulai dari FeNi/NPI. Jumlah ekspor FeNi/NPI saat ini mencapai 5,8 juta ton.

“Apabila dilakukan hilirisasi ke slab stainless steel, akan dapat menyerap 8.661 orang dengan nilai investasi Rp15 triliun, dan apabila dilakukan hilirisasi menjadi hot rolled stainless steel akan dapat menyerap 5.573 orang dengan investasi Rp8,5 triliun,” pungkasnya. (Shiddiq)