Ifishdeco (IFSH) Optimistis Dengan Pasar Domestik

NIKEL.CO.ID – PT Ifishdeco Tbk (IFSH) optimistis dengan prospek pasar nikel domestik kendati pemerintah telah menutup keran ekspor bijih nikel.

Direktur Ifishdeco, Muhammad Ishaq mengungkapkan kehadiran proyek-proyek smelter membuat kebutuhan nikel domestik meningkat hingga 71,2 juta ton.

“Perseroan juga optimistis bisnis bijih nikel sangat prospektif. Oleh karena itu kami buat target 2 juta metrik ton, karena market di domestik juga sangat bagus,” kata Ishaq dalam Public Expose yang digelar virtual, Rabu (28/7/2021).

Sebagai informasi, Ifishdeco mematok target produksi untuk tahun ini meningkat dua kali lipat dari realisasi sepanjang tahun 2020 yang mencapai 781.767 MT. Ishaq mengungkapkan, kinerja sepanjang tahun lalu mengalami penurunan signifikan ketimbang 2019 menyusul pemberlakuan larangan ekspor bijih nikel dan pandemi covid-19.

Mengutip laporan keuangan Ifishdeco, pada tahun 2020 penjualan mencapai Rp 395,57 miliar atau terkoreksi cukup dalam sebesar 63,55% year on year (yoy). Pada tahun 2019 pendapatan IFSH mencapai Rp 1,08 triliun.

Sementara itu, laba bersih pada tahun 2020 mencapai Rp 31,93 miliar atau terpangkas 71,43% yoy dimana pada tahun 2019 IFSH membukukan laba bersih Rp 111,79 miliar. Untuk itu, di tahun ini seiring peningkatan produksi, penjualan diharapkan dapat mencapai Rp 1,01 triliun.

Hingga kuartal I 2021, Ifishdeco mencatatkan kenaikan penjualan signifikan mencapai Rp 255,07 miliar atau terkerek hingga 386% yoy dimana pada periode yang sama di tahun sebelumnya hanya mencapai Rp 52,48 miliar.

Ishaq mengungkapkan kenaikan penjualan ini ditopang oleh produksi yang juga meningkat. Sepanjang kuartal I 2021, IFSH membukukan produksi nikel mencapai 425,56 ribu MT. Raihan nilai penjualan ini pun mencapai 25% dari target tahun ini.

Sementara itu, laba bersih IFSH pada kuartal I 2021 mencapai Rp 12,82 miliar. Pada kuartal I 2020, IFSH tercatat merugi Rp 45,09 miliar. Dalam catatan Kontan, perusahaan menargetkan belanja modal tahun ini bisa mencapai Rp 9 miliar. Capex itu digunakan untuk perbaikan jetty, pembelian alat laboratorium, kendaraan dan peralatan operasional.

Sumber: KONTAN