
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Inestasi semakin berkontribusi secara posifif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Persentasi investasi pada triwulan II 2026 sebanyak 30% terhadap total pertumbuhan.
Hak tersebut diungkapkan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan P. Roeslani, dalam keterangannya, dikutip Selasa (18/8/2026).
“Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 sebesar 5,29% dan investasi menyumbang kurang lebih 39%, biasanya di atas kisaran 28-29%. Investasi bukan sekadar angka realisasi, tetapi kami terus memastikan investasi yang masuk ke Indonesia dapat menjadi bagian dari penguatan fondasi ekonomi nasional,” ungkap Rosan, dalam keterangannya, dikutip Selasa (18/8/2026).

Pada triwulan ini, ia menambahkan, investasi tumbuh 6,87% lebih tinggi daripada pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,06% dari sisi pengeluaran. Kondisi ini mencerminkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin didorong oleh penguatan kapasitas produksi, bukan semata-mata oleh konsumsi masyarakat. Meningkatnya kontribusi investasi tersebut menjadi fondasi penting dalam mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional pada 2027.
“Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2027 berada pada kisaran 5,8–6,5%. Sejalan dengan sasaran tersebut, realisasi investasi pada 2027 ditargetkan mencapai Rp2.322,0 triliun, meningkat dari target 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun,” ujarnya.
Ia menyebutkan, investasi hilirisasi pada semester I 2026 mencapat Rp300,1 triliun atau 29,7% dari total investasi nasional. Angka tersebut naik 6,9% diandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Hilirisasi ini dari tahun ke tahun memerankan peranan yang sangat penting dari tahun ke tahun, tepatnya berkontribusi 29,7%, ini masih didominasi oleh hilirisasi mineral. Ke depan, kami mendorong hilirisasi di sektor perkebunan, kehutanan, minyak dan gas bumi. Memang jika investasi di sektor perkebunan dan kehutanan itu penyerapan tenaga kerjanya lebih besar, walaupun dari segi nominal investasinya lebih kecil dibanding investasi di sektor mineral,” pungkasnya.
Investasi hilirisasi masih didominasi sektor mineral yaitu Rp206,5 triliun diantaranya, sektor nikel sebesar Rp71,0 triliun, bauksit Rp53,8 triliun, tembaga Rp37,4 triliun, besi baja Rp30,2triliun, serta pasir silika Rp5,9 triliun. Selain sektor mineral, investasi hilirisasi sektor perkebunan dan kehutanan sebesar Rp54,4 triliun, minyak dan gas bumi Rp35,4 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp3,8 triliun. Sebanyak 75,7% investasi hilirisasi berada di luar Jawa, terutama di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.
Target investasi pada 2027 dicanangkan sebagai bagian dari kebutuhan investasi sepanjang 2025-2029 sebesar Rp13.032 triliun atau sekitar 143% dari pencapaian investasi selama 10 tahun terakhir. Investasi tersebut bukan merupakan belanja negara, melainkan penanaman modal oleh badan usaha, baik dalam negeri maupun asing, untuk meningkatkan kapasitas perekonomian nasional. (Fi Yun)









































