Beranda Berita Nasional Investasi dan Hilirisasi Jadi Motor Transformasi Ekonomi Indonesia

Investasi dan Hilirisasi Jadi Motor Transformasi Ekonomi Indonesia

74
0
(Foto: Istimewa)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah terus mendorong investasi dan hilirisasi sebagai fondasi penguatan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Kebijakan tersebut diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan pembiayaan pembangunan, tetapi juga menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, memperkuat industri nasional, dan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengatakan, realisasi investasi tetap menunjukkan pertumbuhan meski kondisi perekonomian global masih penuh tantangan. Sepanjang 2025, realisasi investasi mencapai Rp1.931 triliun dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 2,7 juta orang.

“Alhamdulillah, karena kerja keras kita, karena kepercayaan rakyat kepada pemerintah. Di tengah ketidakpastian global, investasi tetap tumbuh. Sepanjang 2025, realisasi investasi mencapai Rp1.931 triliun dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja. Pada semester 1 tahun 2026, realisasi investasi mencapai Rp1.010 triliun dan menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja,” kata Prabowo dalam Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Republik Indonesia, dikutip Jumat (14/8/2026).

Dari total tersebut realisasi investasi tahun 2025, investasi dalam negeri mencapai Rp1.030,3 triliun atau 53,4%, sementara penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp900,9 triliun atau 46,6%. Momentum pertumbuhan tersebut berlanjut pada 2026. Hingga Semester I 2026, capaian realisasi investasi dalam negeri mencapai Rp502,9 triliun dan PMA sebesar Rp507,6 triliun, dengan total setara dengan 49,5% dari target investasi nasional 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.

Dari capaian investasi 2025, penanaman modal dalam negeri (PMDN) berkontribusi Rp1.030,3 triliun atau 53,4%. Berlanjut pada semester I 2026. Realisasi PMDN tercatat Rp502,9 triliun, sementara PMA mencapai Rp507,6 triliun. Secara keseluruhan, capaian tersebut telah mencapai sekitar 49,5% dari target investasi nasional 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.

Sejalan dengan upaya membangun ekonomi yang lebih mandiri, pemerintah terus mempercepat program hilirisasi sumber daya alam. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah sekaligus meningkatkan kapasitas pengolahan dan produksi bernilai tambah di dalam negeri.

Sepanjang 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau sekitar 30,2% dari total realisasi investasi nasional. Angka tersebut meningkat 43,3% dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Sementara pada semester I 2026, investasi hilirisasi telah mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7% dari total realisasi investasi nasional.

Investasi tersebut mencakup sejumlah sektor berbasis sumber daya alam, antara lain nikel, bauksit, tembaga, besi dan baja, serta pasir silika. Perkembangan ini menunjukkan perubahan arah investasi nasional yang semakin berorientasi pada pembangunan kapasitas pengolahan, manufaktur, dan pengembangan ekosistem industri. Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya alam tidak berhenti pada kegiatan ekstraksi, tetapi dilanjutkan melalui proses pengolahan hingga menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Memperingati 81 tahun Kemerdekaan Indonesia, pemerintah menempatkan investasi dan hilirisasi sebagai bagian dari strategi mewujudkan perekonomian yang mandiri, berdaya saing, dan memiliki nilai tambah lebih besar di dalam negeri.

Pemerintah akan melanjutkan penguatan ekosistem investasi melalui penyederhanaan perizinan, pembangunan kawasan industri, percepatan hilirisasi, peningkatan kemitraan dengan investor domestik maupun global, serta pengembangan kualitas sumber daya manusia.

Prabowo menegaskan, pertumbuhan investasi bukan merupakan tujuan akhir dari kebijakan ekonomi pemerintah. Menurutnya, investasi harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kualitas hidup.

Pertumbuhan dan investasi bukanlah tujuan akhir tetapi kesejahteraan rakya merupakan akhir tujuan pemerintah. Maka, setiap investasi harus menciptakan pekerjaan dan menghasilkan perbaikan kualitas hidup rakyat kita, terutama rakyat paling bawah. (Fi Yun)