
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pelaku industri nikel tetap optimistis terhadap prospek komoditas nikel dalam beberapa tahun ke depan meski harga saat ini masih berada jauh di bawah level puncaknya pada awal dekade 2020-an.
Hal tersebut disampaikan Head of Sustainability of Nickel Industries, Muchtazar, beberapa waktu lalu dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, sebagaimana dikutip, Senin (27/7/2026).
Sebagai salah satu pelaku usaha yang beroperasi di Indonesia, dia menilai prospek industri nikel masih sangat menjanjikan. Nikel bukan hanya menjadi bahan baku penting untuk baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV), tetapi juga memiliki peran utama dalam industri baja nirkarat (stainless steel).

“Sebagian besar penggunaan nikel, sekitar 65-70%, masih untuk industri baja. Hingga saat ini belum ada material yang mampu menggantikan fungsi nikel dalam paduan logam karena kemampuannya meningkatkan ketahanan terhadap korosi,” ujarnya.
Ia menambahkan, permintaan baja diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, pembangunan infrastruktur, industri otomotif, hingga sektor pertahanan. Di sisi lain, kebutuhan nikel kelas satu untuk industri baterai EV juga diproyeksikan terus bertambah dalam beberapa tahun mendatang.
Menurut Muchtazar, harga nikel yang saat ini berada di kisaran US$16.000-17.000 per ton merupakan hasil penyesuaian pasar setelah sempat melonjak hingga sekitar US$40.000 per ton pada awal dekade 2020-an. Lonjakan harga saat itu dipicu ekspektasi bahwa transisi menuju EV berbasis baterai nikel akan berlangsung sangat cepat. Optimisme tersebut mendorong pelaku pasar meningkatkan persediaan (inventory), sehingga harga nikel melonjak tajam.

Namun, realisasi adopsi EV tidak secepat perkiraan. Pandemi Covid-19 juga turut mempengaruhi perkembangan pasar sehingga terjadi penyesuaian antara pasokan dan permintaan.
“Pada akhirnya terjadi penyesuaian harga karena pertumbuhan permintaan tidak secepat ekspektasi, sementara kapasitas produksi terus meningkat sehingga terjadi kondisi oversupply,” jelasnya.

Meski demikian, dia meyakini, kondisi tersebut tidak akan berlangsung permanen. Dalam tiga hingga lima tahun ke depan permintaan nikel dari sektor baterai EV maupun industri baja akan terus meningkat sehingga menciptakan keseimbangan baru di pasar.
“Saya optimistis dalam tiga sampai lima tahun ke depan penggunaan nikel, baik dari industri baterai maupun baja, akan meningkat. Hal itu akan menciptakan keseimbangan baru yang mendorong harga nikel menjadi lebih baik dibandingkan saat ini, meskipun kemungkinan tidak kembali ke level lima tahun lalu,” katanya. (Li Han)











































