Beranda Korporasi Autoclave Tiba, Vale Percepat Pembangunan Smelter HPAL Sambalagi

Autoclave Tiba, Vale Percepat Pembangunan Smelter HPAL Sambalagi

69
0
Autoclave PT Vale Indonesia Tbk. (Foto: Dok Vale)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Pembangunan fasilitas high pressure acid leaching (HPAL) Sambalagi di Morowali, Sulawesi Tengah, memasuki tahapan penting setelah peralatan utama berupa autoclave tiba di lokasi proyek. Kehadiran peralatan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam pembangunan fasilitas pengolahan nikel yang akan menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai bahan baku industri baterai kendaraan listrik.

Autoclave merupakan peralatan utama dalam teknologi HPAL yang digunakan untuk mengolah bijih limonit melalui kombinasi suhu tinggi, tekanan tinggi, dan asam sulfat guna mengekstraksi nikel dan kobalt secara efisien. Hasil pengolahan tersebut berupa MHP yang menjadi material antara untuk mendukung rantai pasok industri baterai kendaraan listrik.

“Kedatangan autoclave ini merupakan tonggak penting dalam Proyek HPAL Sambalagi. Sebagai jantung dari proses HPAL, autoclave akan memungkinkan pengolahan bijih limonit menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mendukung rantai pasok global kendaraan listrik,” ujar Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale Indonesia Tbk., Bernardus Irmanto, dalam keterangan resmi yang dikutip redaksi, Kamis (23/7/2026).

Fasilitas HPAL Sambalagi dirancang untuk mengolah bijih limonit menjadi MHP yang akan menjadi bahan baku penting dalam rantai pasok industri baterai kendaraan listrik. Pabrik tersebut ditargetkan memiliki kapasitas produksi sekitar 90.000 ton kandungan nikel per tahun dalam bentuk MHP dengan target mencapai first mechanical completion pada akhir 2026.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

“Momentum ini mencerminkan komitmen PT Vale bersama para mitra untuk menghadirkan industri pengolahan nikel yang berdaya saing, mengedepankan prinsip keberlanjutan, keselamatan kerja, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi Indonesia dan masyarakat di sekitar wilayah operasi,” lanjut Bernardus.

Ia menambahkan, sebagai bagian dari pengembangan fasilitas, proyek HPAL Sambalagi juga mengintegrasikan berbagai solusi rendah karbon. Kebutuhan listrik operasional akan didukung oleh waste heat recovery power generation (WHRPG) yang memanfaatkan panas sisa proses produksi menjadi energi listrik secara lebih efisien. Selain itu, pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) juga direncanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemanfaatan energi bersih di kawasan industri.

Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, menilai, pembangunan HPAL Sambalagi mencerminkan arah baru hilirisasi Indonesia yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai tambah mineral, tetapi juga mengedepankan kolaborasi internasional, keberlanjutan, dan pembangunan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg

“HPAL Sambalagi hari ini menempatkan standar baru, bukan sekadar mengikuti standar yang sudah ada. Proyek ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi lintas negara—Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok—dapat berjalan selaras dengan kepentingan nasional kita, yaitu membangun kedaulatan sumber daya, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Rosan.

Ia menambahkan, pengembangan kawasan industri rendah karbon yang dilakukan PT Vale bersama para mitra sejalan dengan agenda pemerintah Indonesia untuk mencapai target net zero emissions. Menurutnya, pembangunan yang dilakukan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.

“Hari ini kita memang menyambut kedatangan autoclave di HPAL Sambalagi. Namun yang sesungguhnya sedang kita bangun bukan hanya sebuah fasilitas industri. Kita sedang membangun ekosistem hilirisasi yang lengkap dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Sulawesi Tengah dan Indonesia. Inilah makna sesungguhnya dari hilirisasi: menciptakan nilai, menciptakan kesempatan, dan menciptakan harapan,” pungkasnya. (Tubagus)