Beranda Berita Nasional Hilirisasi Nikel Dinilai Belum Maksimal Dorong Industri Baterai Nasional

Hilirisasi Nikel Dinilai Belum Maksimal Dorong Industri Baterai Nasional

85
0
Ilustrasi smelter nikel (Foto: Dok APL)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Hilirisasi nikel yang dijalankan di Indonesia dinilai belum maksimal untuk perkembangan industri baterai nasional. Karena, kendaraan listrik yang beredar di Indonesia saat ini mayoritas menggunakan baterai lithium ferrophosphate (LFP), bukan baterai berbasis nikel. Penilaian tersebut disampaikan Purnomo Yusgiantoro Center.

Ketua Umum Purnomo Yusgiantoro Center, Filda C. Yusgiantoro, mengatakan, Indonesia yang memiliki 40% cadangan nikel dunia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai globar. Tetapi, keunggulan sumber daya tersebut perlu didukung oleh pengelolaan rantai pasok yang berkelanjutan, mencakup seluruh tahapan mulai dari aktivitas pertambangan hingga proses manufaktur baterai.

“Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai global melalui cadangan nikel yang mencapai lebih dari 40% cadangan dunia. Namun, perkembangan tersebut belum sepenuhnya selaras dengan tujuan pengembangan industri baterai berbasis nikel, serta proses penambangan hingga manufaktur perlu dikelola secara bertanggung jawab agar berkelanjutan,” kata Filda, di Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Sementara itu, Subkoordinator Perencanaan Produksi Mineral dan Batu Bara, Juanda Volo Sinaga,  menegaskan, pemerintah terus mengembangkan hilirisasi mineral dan industri kendaraan listrik dengan berbagai insentif. Hal itu dilakukan sebagai langkah membangun ekosistem baterai dan kendaraan listrik nasional dengan memanfaatkan keunggulan sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

Selain itu, dikatakan kondisi penggunaan kendaraan listrik baterai LFP yang tidak membutuhkan nikel sebagai bahan baku utama dan beredar di Indonesia membuat kebijakan hilirisasi nikel di Indonesia masih belum maksimal.

Meski memiliki potensi besar dari sisi sumber daya, kapasitas produksi baterai Indonesia masih tertinggal dibandingkan kapasitas produksi global. Kondisi ini mencerminkan masih adanya sejumlah tantangan yang perlu diatasi agar industri manufaktur baterai nasional dapat meningkatkan daya saing dan berkompetisi di pasar internasional. (Fi Yun)

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg