Beranda Berita Nasional Hilirisasi Nikel Dinilai Belum Maksimal Dorong Industri Baterai Nasional

Hilirisasi Nikel Dinilai Belum Maksimal Dorong Industri Baterai Nasional

Ilustrasi smelter nikel (Foto: Dok APL)
Oleh Fithrotul Uyun

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Hilirisasi nikel yang dijalankan di Indonesia dinilai belum maksimal untuk perkembangan industri baterai nasional. Karena, kendaraan listrik yang beredar di Indonesia saat ini mayoritas menggunakan baterai lithium ferrophosphate (LFP), bukan baterai berbasis nikel. Penilaian tersebut disampaikan Purnomo Yusgiantoro Center.

Ketua Umum Purnomo Yusgiantoro Center, Filda C. Yusgiantoro, mengatakan, Indonesia yang memiliki 40% cadangan nikel dunia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai globar. Tetapi, keunggulan sumber daya tersebut perlu didukung oleh pengelolaan rantai pasok yang berkelanjutan, mencakup seluruh tahapan mulai dari aktivitas pertambangan hingga proses manufaktur baterai.

Iklan
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

“Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai global melalui cadangan nikel yang mencapai lebih dari 40% cadangan dunia. Namun, perkembangan tersebut belum sepenuhnya selaras dengan tujuan pengembangan industri baterai berbasis nikel, serta proses penambangan hingga manufaktur perlu dikelola secara bertanggung jawab agar berkelanjutan,” kata Filda, di Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Sementara itu, Subkoordinator Perencanaan Produksi Mineral dan Batu Bara, Juanda Volo Sinaga,  menegaskan, pemerintah terus mengembangkan hilirisasi mineral dan industri kendaraan listrik dengan berbagai insentif. Hal itu dilakukan sebagai langkah membangun ekosistem baterai dan kendaraan listrik nasional dengan memanfaatkan keunggulan sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia.

Selain itu, dikatakan kondisi penggunaan kendaraan listrik baterai LFP yang tidak membutuhkan nikel sebagai bahan baku utama dan beredar di Indonesia membuat kebijakan hilirisasi nikel di Indonesia masih belum maksimal.

Iklan
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Meski memiliki potensi besar dari sisi sumber daya, kapasitas produksi baterai Indonesia masih tertinggal dibandingkan kapasitas produksi global. Kondisi ini mencerminkan masih adanya sejumlah tantangan yang perlu diatasi agar industri manufaktur baterai nasional dapat meningkatkan daya saing dan berkompetisi di pasar internasional. (Fi Yun)

Artikel ini berguna?

Perkembangan cerita ini

Topik Nikel →

  1. Alcide Ponga: Kaledonia Baru Belum Petakan Cadangan Saprolit dan Limonit
  2. Bahlil Buka Opsi Moratorium Industri Setengah Jadi
  3. KLH Tegaskan Pengawasan Aktivitas Pertambangan Nikel
  4. APNI dan Kaledonia Baru Buka Peluang Kolaborasi Industri Nikel
  5. Limbah Slag Nikel Dikembangkan Jadi Katalis untuk Energi Terbarukan
  6. Hilirisasi Nikel Dinilai Belum Maksimal Dorong Industri Baterai Nasional sedang Anda baca

Agenda industri terdekat

Semua agenda →