Beranda Berita Nasional Investasi 2025 Tembus Rp1.931,2 Triliun, Rosan Tegaskan Hilirisasi Ciptakan Nilai Tambah

Investasi 2025 Tembus Rp1.931,2 Triliun, Rosan Tegaskan Hilirisasi Ciptakan Nilai Tambah

53
0
Menteri Inhil/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani (Foto: Dok TV Parlemen)
Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Tujuan investasi dan hilirisasi tidak sekadar meningkatkan nilai tambah sumber daya alam (SDA), tetapi juga menjadi fondasi pembangunan industri nasional yang produktif, transparan, berdaya saing, dan mampu meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja.

Penegasan tersebut diungkapkan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara, Rosan P. Roeslani, dalam sebuah acara di Jakarta.

“Kami meyakini keberadaan dari Bapak, Ibu, dan para mahasiswa di universitas, terutama di bidang riset dan development-nya, tentunya memberikan kontribusi yang sangat sangat positif. Oleh sebab itu, kita tinggal memikirkan kolaborasi ke depannya supaya hal-hal positif yang sudah dilahirkan dari investasi dan hilirisasi ini bisa diimplementasikan ke dalam industri-industri yang ada dan bisa menghasilkan manfaat yang luar biasa ke depannya,” kata Rosan, dalam keterangannya, dikutip, Selasa (30/6/2026).

Kebijakan hilirisasi telah memberikan hasil positif terhadap kinerja investasi nasional. Sepanjang 2025, realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.931,2 triliun atau tumbuh 12,7% secara tahunan (year-on-year). Angka tersebut juga melampaui target pemerintah dengan tingkat pencapaian sebesar 101,3%. Selain mendorong pertumbuhan investasi, capaian tersebut turut menyerap lebih dari 2,7 juta tenaga kerja secara langsung atau meningkat 10,4% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Riset yang terhubung dengan industri menjadi salah satu faktor penting dalam membangun industri yang sehat dan berkelanjutan. Kepastian regulasi, good governance, serta kemudahan berusaha akan meningkatkan kepercayaan investor sekaligus menciptakan persaingan usaha yang adil,” ujarnya.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg

Menurut menteri yang sempat menduduki peringkat 87 Orang Terkaya Indonesia versi Forbes tahun 2021 itu, kebijakan hilirisasi Indonesia harus diarahkan untuk membentuk ekosistem industri yang berkelanjutan. Karena itu, keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja berkualitas, peningkatan produktivitas nasional, penguasaan teknologi, serta besarnya nilai tambah yang dihasilkan bagi perekonomian.

Ia juga menekankan, pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung agenda hilirisasi melalui riset dan pengembangan. Kolaborasi antara dunia akademik dan industri perlu diperkuat agar berbagai hasil penelitian dapat diterapkan secara nyata dalam sektor industri.

Selain itu, ia menilai keterhubungan antara riset dan kebutuhan industri menjadi faktor penting dalam membangun sektor industri yang sehat dan berkelanjutan. Kepastian regulasi, penerapan tata kelola yang baik, serta kemudahan berusaha akan meningkatkan kepercayaan investor sekaligus menciptakan iklim usaha yang kompetitif.

Sebagai upaya memperkuat ekosistem inovasi nasional, pemerintah telah menyiapkan berbagai insentif, termasuk fasilitas super tax deduction hingga 300% untuk kegiatan riset dan pengembangan (research and development/R&D) serta hingga 200% untuk kegiatan pendidikan dan pelatihan.

Namun, ia menegaskan, berbagai insentif tersebut akan memberikan hasil optimal apabila seluruh pemangku kepentingan mampu memperkuat kolaborasi dalam menghasilkan inovasi yang dapat diimplementasikan di sektor industri.

Ditekankan juga bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan bagian penting dari agenda hilirisasi nasional. Menurutnya, pembangunan industri harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui pelatihan, penguatan riset, peningkatan keterampilan, penerapan keselamatan kerja, serta terciptanya hubungan industrial yang harmonis. (Fi Yun)