Beranda Berita Nasional Indonesia Punya Peluang Besar di Industri Baterai Nikel Meski LFP Mendominasi Pasar...

Indonesia Punya Peluang Besar di Industri Baterai Nikel Meski LFP Mendominasi Pasar EV

Portofolio Management Departement Head of IBC, Marvin Reinhart (Foto: MNI/Fi Yun)
Oleh Admin

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Industri baterai lithium-ion (Li-ion) global diperkirakan terus tumbuh pesat seiring meningkatnya permintaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dan battery storage system (BSS). Di tengah dominasi baterai lithium ferro phosphate (LFP), Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk mengembangkan hilirisasi baterai berbasis nikel atau nikel mangan kobalt (NMC).

Portofolio Management Departement Head of PT Indonesia Battery Corporation (IBC), Marvin Reinhart, mengatakan, kapasitas baterai Li-ion dunia pada 2025 mencapai sekitar 1,4 terawatt hour (TWh) dan angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 3,5 TWh pada 2030.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

“Sekarang, pada 2025, ada sekitar 1,4 TWh baterai Li-ion di dunia. Semoga pada 2030, kita akan mencapai sekitar 3,5 TWh,” kata Marvin, dalam paparannya pada acara Met Connex 2026, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Ia menjelaskan, sekitar 80% permintaan baterai Li-ion berasal dari sektor EV. Bahkan, dalam lima tahun terakhir pertumbuhan industri baterai Li-ion disebut telah mencapai lebih dari 700%. Selain itu, meskipun baterai LFP saat ini mendominasi pasar EV global, baterai berbasis nikel diperkirakan tetap memiliki pangsa pasar yang signifikan dalam satu dekade mendatang.

“Selama lima tahun ini, baterai Li-ion telah mencapai pertumbuhan lebih dari 700%. Meskipun LFP masih akan menjadi mayoritas baterai EV di dunia, kami percaya setidaknya 35% pasar masih akan menjadi NMC,” jelasnya.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat hilirisasi produk berbasis nikel. Apalagi, Indonesia memiliki cadangan sumber daya penting untuk industri baterai, mulai dari nikel, kobalt, karbon, hingga aluminium.

“Dari seluruh komponen baterai EV, seperti kobalt, karbon, nikel, dan aluminium, Indonesia memiliki sekitar 40% sumber daya. Jadi, kita berada pada posisi yang kuat untuk mengambil peluang ini,” paparnya.

Sementara itu, Indonesia, menurut dia, memiliki peluang besar untuk masuk dalam pengembangan teknologi baterai masa depan, termasuk solid-state battery dan sodium-ion battery.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

“Hampir semua pengembangan baterai masa depan dapat ditemukan sumber dayanya di Indonesia. Kita hanya perlu memastikan Indonesia tidak tertinggal,” pungkasnya. (Fi Yun)

Artikel ini berguna?

Perkembangan cerita ini

Topik NMC →

  1. Insentif Kendaraan Listrik Berbasis NMC Dinilai Perkuat Hilirisasi Nasional
  2. Industri Baterai EV: Tuntutlah Ilmu hingga ke Negeri Vietnam
  3. Penggunaan Baterai NMC Diprediksi Meningkat dalam Lima Tahun ke Depan
  4. Hilirisasi Nikel Jangan Berhenti di MHP, Indonesia harus Kuasai Industri Material Baterai
  5. BRIN Kembangkan Katode NMC541 Berbasis Nikel Didorong demi Kemandirian Baterai EV
  6. Indonesia Punya Peluang Besar di Industri Baterai Nikel Meski LFP Mendominasi Pasar EV sedang Anda baca

Agenda industri terdekat

Semua agenda →