
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Industri baterai lithium-ion (Li-ion) global diperkirakan terus tumbuh pesat seiring meningkatnya permintaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dan battery storage system (BSS). Di tengah dominasi baterai lithium ferro phosphate (LFP), Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk mengembangkan hilirisasi baterai berbasis nikel atau nikel mangan kobalt (NMC).
Portofolio Management Departement Head of PT Indonesia Battery Corporation (IBC), Marvin Reinhart, mengatakan, kapasitas baterai Li-ion dunia pada 2025 mencapai sekitar 1,4 terawatt hour (TWh) dan angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 3,5 TWh pada 2030.

“Sekarang, pada 2025, ada sekitar 1,4 TWh baterai Li-ion di dunia. Semoga pada 2030, kita akan mencapai sekitar 3,5 TWh,” kata Marvin, dalam paparannya pada acara Met Connex 2026, Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Ia menjelaskan, sekitar 80% permintaan baterai Li-ion berasal dari sektor EV. Bahkan, dalam lima tahun terakhir pertumbuhan industri baterai Li-ion disebut telah mencapai lebih dari 700%. Selain itu, meskipun baterai LFP saat ini mendominasi pasar EV global, baterai berbasis nikel diperkirakan tetap memiliki pangsa pasar yang signifikan dalam satu dekade mendatang.

“Selama lima tahun ini, baterai Li-ion telah mencapai pertumbuhan lebih dari 700%. Meskipun LFP masih akan menjadi mayoritas baterai EV di dunia, kami percaya setidaknya 35% pasar masih akan menjadi NMC,” jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat hilirisasi produk berbasis nikel. Apalagi, Indonesia memiliki cadangan sumber daya penting untuk industri baterai, mulai dari nikel, kobalt, karbon, hingga aluminium.

“Dari seluruh komponen baterai EV, seperti kobalt, karbon, nikel, dan aluminium, Indonesia memiliki sekitar 40% sumber daya. Jadi, kita berada pada posisi yang kuat untuk mengambil peluang ini,” paparnya.
Sementara itu, Indonesia, menurut dia, memiliki peluang besar untuk masuk dalam pengembangan teknologi baterai masa depan, termasuk solid-state battery dan sodium-ion battery.
“Hampir semua pengembangan baterai masa depan dapat ditemukan sumber dayanya di Indonesia. Kita hanya perlu memastikan Indonesia tidak tertinggal,” pungkasnya. (Fi Yun)














































