

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Indonesian Initiative for Sustainable Mining (IISM) menggelar forum diseminasi riset bertajuk “Menjembatani Nikel dan Keadilan”, di Hotel Swiss-Bell Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Dalam forum tersebut terdapat beragam perspektif terkait masa depan industri nikel di tengah percepatan transisi energi global.
Direktur IISM, Rezki Syahrir, mengatakan, dimensi sosial harus terintegrasi dalam transisi energi agar manfaatnya dapat dirasakan secara adil.

“Nikel kini berada di pusat agenda transisi energi global. Namun, kita juga harus menegaskan manfaatnya agar dirasakan secara adil pada semua level hingga di tingkat lokal. Kita tidak boleh membiarkan transisi ini menciptakan ketimpangan baru,” kata Rezki, Rabu (15/4/2026).
Sementara itu, Dewan Penasihat Bidang Pertambangan Asosiasi Pertambangan Nikel Indonesia (APNI), Djoko Widajatno, menilai, riset sebagai langkah penting untuk memperkaya perspektif sektor pertambangan.

“Ini langkah yang berani. Riset ini menunjukkan bahwa kemajuan industri nikel tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Diperlukan peran strategis banyak pihak untuk memastikan keberlanjutan sektor ini,” ujar Djoko.
Selain itu, Analis Kebijakan Ahli Muda, Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, Kementerian ESDM, Juanda Volo Sinaga, menekankan, riset ini relevan sebagai dasar penguatan kebijakan, khususnya dalam membangun relasi yang lebih seimbang antara industri, masyarakat, dan lingkungan.

“Kita membutuhkan pendekatan kebijakan yang tidak parsial. Relasi antara industri dan berbagai aspek sosial serta lingkungan harus ditata melalui kerangka governance yang kuat,” paparnya.
Kemudian, Chairperson of Advisory Board, Social Investment Indonesia, Jalal, mengapresiasi, pendekatan riset yang dinilai menghadirkan perspektif baru dalam memahami dinamika wilayah tambang.
“Pendekatan metodologis dalam studi ini merupakan terobosan penting. Ini bukan hanya soal data, tetapi juga terkait dengan bagaimana memahami realitas lokal secara lebih utuh. Karena itu, hasilnya perlu terus didiskusikan secara luas,” pungkasnya.

Dalam forum tersebut, IISM menjelaskan, riset tidak hanya berangkat dari pendekatan konvensional, tetapi juga mengembangkan kerangka analisis baru yang lebih kontekstual. Pendekatan yang digunakan merupakan integrasi antara sustainable livelihoods approach (SLA), yang umum digunakan dalam studi pedesaan, dengan kerangka dari ICMM yang melihat relasi antara industri pertambangan dan komunitas.
Dari integrasi tersebut, IISM mengembangkan developed livelihood mining resilience framework (DLMRF), yaitu kerangka untuk menganalisis ketahanan masyarakat di wilayah tambang dengan menghubungkan dimensi aset manusia, sosial, ekonomi, infrastruktur fisik, ekologis, kerentanan, dan tata kelola, serta menilai sejauh mana industri pertambangan mendukung penghidupan masyarakat lokal. (Fuyun)





































