NIKEL.CO.ID, JAKARTA — PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBM) mencatat kinerja operasional yang solid pada kuartal, yang berakhir 30 September 2025, dengan pertumbuhan signifikan di sektor produksi bijih nikel dan peningkatan efisiensi di seluruh lini operasi.
Presiden Direktur MBM, Teddy Oetomo, mengatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam memperkuat rantai nilai bisnisnya.
“Kinerja kuat pada kuartal ini mencerminkan peningkatan struktural yang telah kami lakukan di seluruh rantai nilai, mulai dari penambangan, logistik, hingga pengolahan. Kami terus memperbaiki efisiensi biaya per unit, memperluas kapasitas produksi bijih, serta mendorong kemajuan proyek hilirisasi HPAL dan AIM (acid iron metal, red) yang akan menjadi transformasi besar bagi MBM dan industri bahan baku baterai Indonesia,” ujar Teddy sebagaimana dikutip laman Merdeka Battery Materials, Selasa (11/11/2025).

Pada kuartal III 2025, tambang PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM), anak usaha MBM, mencatat lonjakan produksi signifikan. Produksi saprolit naik 89% menjadi 2 juta ton basah, sementara limonit meningkat 51% menjadi 5,6 juta ton basah dibanding periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini didorong oleh ekspansi kapasitas penambangan dan efisiensi operasional yang lebih baik.
Dari sisi biaya, SCM berhasil menekan biaya tunai saprolit menjadi US$23,3 per ton basah, turun dari US$23,8 tahun sebelumnya, dengan margin kas naik 49% dibanding kuartal sebelumnya. Sementara itu, biaya tunai limonit turun menjadi US$7,9 per ton, dengan margin kas meningkat 20% secara tahunan dan 46% secara kuartalan.
Di lini pengolahan, produksi nickel pig iron (NPI) tercatat 19.819 ton, menurun dibanding tahun lalu, namun margin NPI meningkat tajam menjadi US$2.215 per ton nikel, didukung oleh penurunan biaya tunai sebesar 16% menjadi US$9.059 per ton.
MBM juga melaporkan kemajuan penting dalam proyek hilirisasi strategisnya. PT ESG New Energy Material (PT ESG) menghasilkan 7.181 ton nikel dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP) dan menjual 7.553 ton selama kuartal ini. Sementara proyek PT Sulawesi Nickel Cobalt telah mencapai 54% progres konstruksi pabrik HPAL dan 29% fasilitas feed preparation plant (FPP), dengan uji coba tahap pertama ditargetkan pada pertengahan 2026.
Selain itu, fasilitas acid iron metal (AIM) yang dioperasikan oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia juga mencatat produksi stabil 251.715 ton asam sulfat, serta memulai tahap komisioning pabrik klorida dan katoda tembaga yang hasil awalnya telah memenuhi standar London Metal Exchange (LME).

Selama sembilan bulan pertama 2025, MBM membukukan pendapatan belum diaudit sebesar US$935 juta, turun 32% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama berasal dari segmen NPI dan high-grade nickel matte (HGNM), meski sebagian tertutupi oleh kenaikan pendapatan dari penjualan limonit dan segmen lain.
Menatap akhir tahun, MBM berencana melanjutkan produksi HGNM pada kuartal IV 2025 setelah menandatangani perjanjian penjualan jangka panjang dengan ketentuan yang menguntungkan.
Teddy menegaskan bahwa perusahaan tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang.
“Kami optimistis dengan pertumbuhan berkelanjutan produksi bijih nikel, peningkatan efisiensi pengolahan hilir, serta kemajuan proyek strategis HPAL dan AIM yang akan memperkuat posisi MBM sebagai salah satu pemasok bahan baku baterai global terkemuka,” ujarnya menutup. (Shiddiq)





















