Beranda Asosiasi Pertambangan Prof. Evvy Kartini, Founder NBRI: Baterai adalah Core Technology

Prof. Evvy Kartini, Founder NBRI: Baterai adalah Core Technology

962
0
Prof. Evvy Kartini pada acara Training of Trainers Seri V. Dok: MNI/Chiva.

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Prof. Dr. rer.nat, Evvy Kartini mengisi acara Training of Trainers (TOT) Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) yang ke-5 di Hotel Grand Sahid, Rabu (15/5/2024). Awalnya, fisikawati tersebut memaparkan latar belakang pendidikannya. 

“Saya SMA di Al Azhar, lalu lanjut ke Jurusan Fisika ITB. Setelah itu, lanjut program Ph.D ke Jerman di Technische Universitat Berlin,” ujar ibu dua orang anak yang menjadi profesor di umur 45 tahun ini.

Peneliti senior di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mengawali karier di Batan pada 1988 ini lanjut memaparkan materi dengan tema “Levelling up Nickel from Upstream to Downstream”

“Vietnam tidak punya nikel, tapi mereka punya pabrik baterai dan pabrik EV. Kita harus belajar dari Vietnam,” katanya.

Ia lanjut mengatakan, Indonesia sedang dijajah. Cara agar kita tidak dijajah adalah dengan menguasai teknologi agar kita tidak bergantung pada pihak luar. Karena itu, ia mendorong dirinya untuk berbuat banyak, salah satunya, dengan mendirikan pusat riset baterai National Research Battery Institute (NBRI) Bersama co-foundernya, Prof. Alan J. Drew.

We do what we can. Kalau menunggu pemerintah kelamaan. Indonesia belum memiliki baterai testing lab,” lanjutnya.

Sejak didirikan pada 7 Desember 2020, NBRI telah bekerja sama dengan berbagai pemangku kebijakan dan praktisi di lintas sektor.  Lembaga ini juga telah bekerja sama dengan Thermofisher yang ditandai dengan penandatanganan MOU pada 24 April 2024. Selain itu, NBRI juga bekerja sama dengan Carsurin.

Ia mengatakan, emisi kendaraan menyumbang 16 persen polusi. Produksi kendaraan listrik (electric vehicle atau EV) adalah salah satu cara mewujudkan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi Greenhouse Gas (GHG). 

“Targetnya pada tahun 2030, motor listrik diproduksi 13 juta unit, sekarang diproduksi 75.000 unit, mobil listrik diproduksi 4 juta unit, sekarang diproduksi 20.000 unit, dan charging infrastructure targetnya 67.000 unit, sekarang tersedia 578 unit dan 1700 swapping stations,” papar Prof. Evvy.

Ia melanjutkan, baterai adalah core technology dan ujung dari hilirisasi itu ke recycling. Oleh sebab itu, NBRI mengadakan pelatihan “Battery School: Advanced Material Processing in Battery Technology” yang akan diadakan pada 21–22 Mei 2024 di Indonesian Life Science Center, Puspiptek, Serpong dengan biaya investasi sebesar Rp6.000.000/orang. 

Adapun bagi peserta TOT APNI Seri V mendapatkan harga spesial menjadi Rp5.000.000/orang. Peserta dapat langsung mengisi dokumen ini atau menghubungi 0811-8125-1717. (Aninda)