Minggu, Oktober 24
Shadow

Wajah Nikel Indonesia di Rantai Pasok Dunia

Oleh: Aryo Bhawono

SELAMA ini Indonesia tercatat sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, yakni 23,7 persen dari total cadangan dunia. Kandungan nikel terbesar ini terdistribusi pada tiga daerah, yakni Sulawesi Tenggara (32 persen), Maluku Utara (17 Persen), dan Sulawesi Tengah (26 persen).

Riset Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) berjudul ‘Rangkaian Pasok Nikel Baterai dari Indonesia dan Persoalan Sosial Ekologi’ menyebutkan potensi rantai suplai produk nikel baterai Indonesia dari perusahaan pengolahan nikel di Morowali, Obi, dan Weda, terdapat perusahaan pemasok baterai global. Perusahaan itu terhubung dengan beberapa merek otomotif dunia seperti Tesla, BMW, Honda, hingga industri otomotif regional di China.

“Hal ini dipahami sebagai usaha untuk memenuhi permintaan baterai kendaraan listrik yang terus bertambah seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik,” tulis riset tersebut.

Mereka mencatat terdapat dua pabrik komponen baterai nikel dibangun pada tahun 2019 di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Dua perusahaan itu adalah PT. QMB New Material Energy dengan nilai investasi 998,57 miliar Dolar AS dan PT. Huayue Nickel and Cobalt dengan nilai investasi 1,28 miliar Dolar AS.

Pemilik saham PT. QMB terkait dengan perusahaan pemasok baterai untuk otomotif. Pertama adalah GEM Co.ltd, perusahaan ini menguasai 8 persen tambang nikel di China, 30% pasar global komponen baterai berbahan nikel dan kobalt, serta 20% pasar dunia precursor ternary power battery.

Bersama ECOPRO, perusahaan komponen baterai EV asal Korea Selatan, mereka menyepakati untuk memasok 170.000 ton bahan katoda litium NCA selama 2019-2023. GEM juga masuk ke rantai suplai perusahaan baterai global lainnya, yakni Samsung SDI. Hal tersebut terlihat dari patungan ECOPRO dan Samsung SDI dalam membangun pabrik material katoda NCA di Pohang, Korea Selatan pada tahun 2020.

Pabrik ini diperkirakan mulai memproduksi pada tahun 2022. Samsung SDI memiliki kontrak suplai baterai dengan penghasil mobil listrik asal Eropa: BMW, Volkswagen, dan Volvo.

Kedua adalah Contemporary Amperex Technology Co., Ltd. (CATL) yang menguasai saham melalui anak usahanya Brunp Recycling Technology Co, Ltd. CATL merupakan perusahaan baterai kendaraan yang berbasis di Ningde, China. CATL juga menjadi penjual baterai EV tertinggi dunia di 2017dengan menyingkirkan Panasonic.

Pada tahun 2020, CATL meneken kontrak dengan Tesla Inc. untuk pasokan baterai bagi mobil listrik Model 3 yang diproduksi di pabrik barunya di Shanghai, China. Adapun durasi kontrak ini selama dua tahun yaitu 2020-2022. Setahun sebelumnya, CATL menandatangani MoU dengan produsen EV asal Jepang, Honda Motor untuk menyuplai baterai li-ion hingga tahun 2027 dengan kapasitas penyimpanan 56 GWh.

Produsen EV global lain yang menjadi pelanggan CATL adalah BMW. Produsen mobil asal Jerman ini menandatangani kontrak untuk pasokan baterai selama tahun 2020-2031 dengan kontrak senilai USD 11,07 miliar. CATL juga menjadi pemasok bagi produsen mobil listrik kaliber dunia lain seperti Toyota (Jepang), Daimler, BMW, dan Volkswagen (Jerman); Hyundai Motor (Korea Selatan), dan PSA (Prancis).

Smelter rencananya juga dibangun di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera oleh PT Halmahera Persada Lygend (HPL) dengan perkiraan modal sebesar 1,5 miliar Dolar AS . Fasilitas ini diperkirakan menghasilkan 246.750 ton nikel sulfat dan 31.800 ton kobalt sulfat per tahun. Konstruksi pembangunan pabrik ini mulai dilakukan pada September 2018 dan produksi diperkirakan dapat dimulai pada Desember 2020.

HPL merupakan perusahaan patungan Zhejiang Lygend Investment Co., Ltd. dan Harita Group. Zhejiang Lygend merupakan perusahaan asal China yang bergerak di industri nikel. Melalui Ningbo Lygend Mining Co. yang merupakan anak perusahaannya, Ltd.

Zhejiang Lygend dapat dikatakan sebagai perusahaan yang baru memasuki industri mineral untuk sektor produksi baterai kendaraan listrik. Namun perusahaan ini tercatat sebagai importir bijih nikel nomor satu di Tiongkok pada 2016-2019. Impor tersebut berasal dari Filipina, New Caledonia, Turki, dan Tanzania.

Nikel dari Weda

Sementara itu di Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, ada pabrik produsen nikel baterai milik PT. Youshan Nickel Indonesia (Youshan). Pabrik ini memiliki nilai investasi 406,79 juta dolar AS hasil patungan Huayou Group, Chengtun Mining Group, dan Tsingshan Group.

Huayou Group selama ini dikenal sebagai penghasil produk kobalt terbesar China. Pada tahun 2018 Huayou memulai kerja sama dengan perusahaan komponen baterai asal Korea Selatan, POSCO, untuk membangun pabrik prekursor dan bahan katoda di Zhejiang, Tiongkok.

Di tahun yang sama, Huayou juga membangun dua perusahaan patungan dengan LG Chem yang akan menghasilkan prekursor dan katoda dengan target produksi 40.000 ton per tahun. LG Chem saat ini adalah pembeli katoda utama dari POSCO dan POSCO Chemical. Kerja sama ini memungkinkan produk Huayue dan Youshan menjadi bahan pasokan kedua proyek tersebut.

Selain itu, kerja sama ini akan membuat produk tersebut memiliki akses terhadap rantai suplai baterai yang sangat luas karena konsumen LG Chem tersebar di seluruh dunia mulai dari Tesla, General Motors, dan Ford (US), PSA dan Renault (Prancis), Volkswagen, Audi, dan Daimler (Jerman), Hyundai Motor dan Kia (Korea Selatan), dan Volvo (Swedia).

Berikutnya Tsingshan Group memiliki anak perusahaan yang bergerak di bidang baterai kendaraan listrik, Ruipu Energy Co. Ltd. (Ruipu). Mereka lebih banyak bergerak di pasar domestik Tiongkok dengan memasok baterai NCM dan LFP bagi produsen kendaraan listrik lokal seperti Dongfeng Passenger Cars, Weltmeister, SGMW, CRRC, dan Xiamen King Long

China Molybdenum (China Moly), investor di proyek Huayue Morowali, merupakan pemegang saham utama di salah satu tambang kobalt-tembaga terbesar di Republik Demokratik Kongo, Tenke Fungurume. Ini menjadikan China Moly sebagai perusahaan tambang kobalt terbesar kedua di dunia setelah Glencore.

Sumber: betahita.id

Open chat