Minggu, Oktober 24
Shadow

Tentang Nikel 70% dan Hilirisasi yang Terintegrasi

Oleh: Arif S Tiammar *)

AKHIR-AKHIR ini, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah akan membuat aturan tentang ekspor produk olahan nikel. Aturan itu akan memuat larangan ekspor produk nikel dengan kandungan 30-40%. Hal itu dilakukan dalam rangka membuat desain besar agar mata rantai hilirisasi nikel bisa dimanfaatkan.

Selain itu, disebutkan produk olahan nikel dapat diekspor jika kandungannya mencapai 70%. Langkah ini dilakukan untuk menjaga cadangan nikel Indonesia serta meningkatkan nilai tambah komoditas.

Produk Olahan Nikel

Saat ini ada beberapa jenis produk olahan nikel di Indonesia, yaitu nickel pig iron (NPI), feronikel (FeNi), Ni-matte, mixed hydroxide precipitate (MHP), mixed sulphide precipitate (MSP), dan baja tahan karat (stainless steel).

Dalam waktu tidak lama akan dihasilkan pula nikel murni, nikel sulfat, dan material katode. Masing-masing produk tersebut memiliki karakteristik, baik secara teknis, komposisi kimia, penggunaan, dan nilai komersialnya.

Namun, hampir kesemua produk itu menggunakan bijih nikel saprolit, yang cadangannya sudah sangat menyusut.

Di sisi lain, potensi sumberdaya bijih nikel limonit, dengan kadar nikel lebih rendah, masih berlimpah. NPI adalah produk olahan nikel secara pirometalurgi (smelter) dengan kandungan unsur nikel di bawah 14%. NPI didominasi unsur besi dan beberapa unsur lain yang secara komersial tidak dihargai. Logam nikel pada NPI dihargai 88-95% LME (saat ini harga Ni berdasar London Metal Exchange setara US$ 19.160/ton).

Sebagai contoh, untuk 100 ton produk NPI 12% Ni, maka kandungan nikelnya adalah 12 ton. Nikel pada NPI tersebut dihargai 92% LME. Unsur-unsur lainnya dengan jumlah 88 ton sama sekali tidak dihargai.

Kini, NPI menempati porsi terbesar (lebih dari 75%) produk nikel olahan di Indonesia, yang sebagian diolah lanjut menjadi baja tahan karat. Produk FeNi (merupakan produk smelter) dengan kandungan nikel rerata 20%, harga nikelnya sekitar 100% LME. PT Antam Tbk adalah satu-satunya perusahaan produsen FeNi. Produk ini juga menjadi bahan dasar utama industri baja tahan karat.

Ni-Matte merupakan FeNi yang dikonversi menjadi matte (nikel sulfida) sehingga kandungan nikelnya naik hingga 75-80%. Produk ini dihargai sekitar 80% LME, lebih rendah dari NPI atau FeNi, walau kandungan nikel pada matte lebih tinggi. Matte merupakan bahan dasar industri lanjutan berbasis nikel, seperti nikel sulfat dan nikel murni. Adapun MHP dan MSP adalah produk olahan nikel berbasis hidrometalurgi (leaching plant) dengan kandungan nikel 30-45%.

Unsur kobalt (Co) merupakan unsur berharga tambahan di samping pengotor lain dalam bentuk hidroksida dan sulfida. Nikel pada produk ini dihargai 68-80% LME. Sedangkan unsur kobalt tergantung kesepakatan, berkisar 35-50%.

Nikel sulfat, lebih tepatnya nikel sulfat heksa-hidrat (NiSO4.6H2O), merupakan salah satu produk hasil pemurnian Ni-Matte, MHP, MSP atau bahkan FeNi. Kandungan nikelnya 22%, selebihnya adalah sulfat dan air kristal. Nikel pada produk ini dihargai paling tinggi, 120% LME (harga nikel sulfat battery grade US$ 5.150/ton).

Produk ini menjadi bahan dasar material katode pada baterai ion lithium. Baja tahan karat merupakan produk olahan lanjut dari NPI atau FeNi, dengan kandungan nikel berkisar 8-12%, dan dihargai sekitar 144% LME (SS HRC 10% Ni berharga US$ 2.800/ton).

Namun demikian, menghargai nikel secara LME sudah tidak relevan karena produk baja tahan karat sudah ditambahkan unsur krom (Cr) dan mangan (Mn), bahkan molibdenum (Mo) dan niobium (Nb). Material katode (contoh NMC- 811) merupakan produk olahan berbasis nikel yang paling mahal. Kandungan nikel pada produk ini adalah 48,3%, dan dihargai sekitar 315% LME (harga NMC-811 sekitar US$ 29.000/ton).

Menghargai nikel secara LME pada NMC-811 juga sudah tidak relevan karena sudah ditambahkan unsur kobalt (Co), mangan (Mn) dan lithium (Li).

Mengacu uraian di atas, produk asli olahan nikel (tanpa ada penambahan unsur lain) yang paling mahal mengacu kepada harga bursa LME adalah nikel sulfat. Bahkan mengalahkan harga produk nikel murni (99,95% Ni) yang sekitar 105% LME. Produk asli turunan nikel yang paling mahal saat ini adalah serbuk nikel nano (nickel nano powder).

Sedangkan produk Ni-matte dengan kandungan nikel seperti disebutkan Menteri Investasi (di atas 70%), secara LME, justru nikelnya dihargai lebih rendah dari nikel sulfat (22% Ni), apalagi material katode, padahal kandungan nikel pada kedua produk tersebut lebih rendah. Harga LME pada kedua produk tersebut bahkan melebihi harga LME untuk nikel murni. Mengapa demikian?

Karena pada dasarnya harga beberapa jenis produk olahan nikel akan makin tinggi jika nikel sudah dalam bentuk senyawa tertentu dengan proporsi yang sangat tepat untuk berbagai kebutuhan sangat spesifik. Bukan dalam bentuk nikel murni (kecuali nickel nano powder), apalagi Ni-matte, MHP dan MSP yang masih mengandung banyak pengotor.

Nilai Tambah Produk

Hilirisasi erat kaitannya dengan konsep nilai tambah dan daya saing produk. Semakin hilir sebuah produk yang dihasilkan dari kegiatan industri, makin tinggi nilai atau harganya.

Dalam tatanan ekonomi makro, semakin terhilirkan kegiatan sebuah produksi, akan memberikan kontribusi lebih besar terhadap total pendapatan domestik bruto sebuah negara.

Dalam praktik industrial, konsep nilai tambah merupakan perbedaan atau rasio antara nilai jual produk yang dihasilkan dengan seluruh komponen biaya untuk menghasilkan produk dalam satuan volume/ berat yang ekuivalen.

Struktur biaya produksi per ton produk merupakan akumulasi dari harga bahan baku, upah, biaya manajemen, produktivitas, pajak, depresiasi dan biaya-biaya lain yang sering tidak terduga.

Semakin rendah struktur biaya produksi, makin tinggi daya saing produk (atau negara tersebut). Apalagi jika kualitas produk yang dihasilkan sangat baik.

Hilirisasi yang Terintegrasi

Adalah sangat ideal jika hilirisasi industri nikel di dalam negeri bisa dilakukan guna melengkapi pohon industri, bila perlu sampai produk akhir. Dalam kasus nikel, hilirisasi dimulai dari pengolahan dengan smelter atau leaching plant menghasilkan produk antara, lalu dimurnikan atau diolah lanjut menghasilkan produk setengah jadi.

Selanjutnya diolah menjadi bahan baku produk akhir siap pakai. Integrasi terjadi dari hulu hingga hilir, seperti dilakukan di negara industri maju. Hilirisasi yang terintegrasi akan menghasilkan dampak sangat signifikan terhadap penciptaan nilai tambah, peningkatan pendapatan domestik, pengembangan teknologi, rantai pasok yang sinambung, dan yang paling penting bisa meningkatkan martabat bangsa.

Hilirisasi dari hulu hingga hilir memerlukan sinergi dan kesepahaman dari seluruh pemangku kepentingan.

Ada teknologi, kreasi, kewirausahaan, sekaligus investasi dari sisi investor, dipadu penataan regulasi dari pemerintah. Makin ideal jika melibatkan institusi perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

Kurang tepat bila pemerintah mengeluarkan baleid tentang batasan produk olahan nikel yang boleh diekspor, apalagi jika batasannya mengacu produk Ni-Matte (78% Ni) yang bukan produk jadi (levelnya sedikit di atas MHP atau MSP). Harga nikel ekuivalen pada produk ini juga lebih rendah. Ni-matte masih perlu hilirisasi lanjutan, menjadi nikel sulfat atau nikel murni. Nikel sulfat dilanjutkan menjadi material katode sebagai bahan utama baterai ion lithium.

Sedangkan nikel murni bisa dijadikan bahan baku paduan logam (alloy), metalurgi serbuk dan 3D printing, serta industri lain. NPI dan FeNi hampir seluruhnya digunakan sebagai bahan baku baja tahan karat. Hilirisasinya tidak terlalu beragam. Penggunaan dari baja tahan karat itulah sesungguhnya yang beragam, terutama untuk barang-barang industri modern.

Terobosan teknologi bisa dilakukan untuk memisahkan kandungan besi dalam FeNi dan NPI untuk produk paduan atau baterai berbasis besi. Hilirisasi dari jalur NPI/FeNi dengan matte akan saling melengkapi (co-exist). Hilirisasi NPI/ FeNi menjadi produk baja tahan karat (HRC & CRC seri 300) sudah dilakukan. Tinggal dilakukan hilirisasi lebih lanjut untuk menghasilkan produk akhir berbasis baja tahan karat.

Sedangkan hilirisasi Ni-Matte, MHP atau MSP masih dalam tahap rencana bisnis. Hilirisasinya memiliki keragaman walau akan didominasi hilirisasi ke arah material katode baterai ion litium.

Usulan ke Pemerintah

Hilirisasi yang terintegrasi untuk melengkapi pohon industri nikel merupakan upaya yang seharusnya dilakukan. Pelaksanaannya harus mengacu pada pertimbangan teknis, komersial, makro ekonomi dan telaah karakter (behavior) industri logam pada masa mendatang (foresight).

Hilirisasi memerlukan kolaborasi keberanian investor, bersinergi dengan pemerintah dalam memperbaiki iklim usaha. Mendorong produk akhir hilirisasi hingga menghasilkan produk dengan batasan Ni>70% bukan pilihan bijak. Karena produk dengan spesifikasi tersebut belum tentu merupakan produk akhir dan bahkan harga nikel ekuivalennya lebih rendah.

Pemerintah perlu mendorong hilirisasi nikel lebih hilir lagi dan tidak semata untuk baja tahan karat dan baterai ion lithium. Masih ada beberapa produk berbasis nikel yang bernilai tambah lebih tinggi. Apalagi beberapa analis memprediksikan, harga baterai (US$/kWh) akan terus turun.

Pada 2050 harga baterai ion lithium diprediksi US$ 70/kWh, turun drastis dari saat ini sekitar US$ 132/kWh. Para produsen baterai mesti siap menghadapi kondisi ini. Hal lain yang patut dilakukan dan mendesak adalah konservasi cadangan. Produksi nikel tahun 2025 diprediksi sebesar 2,7 juta ton dalam berbagai varian produk, dan memerlukan 237 juta WMT saprolit (kadar Ni tinggi) dan 40 juta WMT limonit (kadar Ni rendah).

Kapasitas selanjutnya diprediksi terus meningkat. Jika tidak ada kegiatan eksplorasi, cadangan nikel Indonesia akan habis kurang dari 10 tahun dari saat ini.

Karena itu, pembangunan proyek smelter berbasis pirometalurgi yang menggunakan bijih nikel kadar tinggi patut diatur dalam bentuk penangguhan atau moratorium. Tentu ini berlaku untuk pembangunan yang masih dalam perencanaan. Jika sudah ada realisasi investasi, silakan dituntaskan.

Setelah itu, moratorium patut dipertimbangkan oleh pemerintah. Moratorium juga tidak berlaku untuk proyek smelter atau leaching plant yang menggunakan bijih nikel kadar rendah yang selama ini kurang diberdayakan.

Dengan demikian, investasi baru tidak berfokus pada pembangunan smelter baru penghasil NPI/FeNi yang mengonsumsi bijih nikel kadar tinggi, tapi kepada industri lebih hilir untuk mendorong pengembangan industri secara vertikal.

Akan lebih elok pula jika rencana pelarangan ekspor produk olahan nikel dengan kadar nikel di bawah 70% dikaji secara komprehensif dengan melibatkan kementerian teknis terkait, serta praktisi industri nikel maupun industri lain berbasis mineral dan logam.

Pun, merujuk kepada kajian-kajian terdahulu, seperti kajian di level grand strategy dan roadmap mineral dan logam.

*) Arif S Tiammar adalah Dewan Penasihat Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia (Prometindo)

Sumber : Investor Daily

Open chat