PT. Trinitan Metals and Minerals dan BBPT Sepakati Audit Teknologi STAL Pengolahan Laterit Nikel

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT ) menandatangani nota kesepahaman (MoU) tentang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pengolahan Mineral dengan PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE).

Berdasarkan keterangan resmi Direktur Utama PURE, Petrus Tjandra, di Jakarta, Senin (21/12/2020), pada acara Business Gathering 2020 entitas anak PURE, PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) juga menandatangani Perjanjian Kerjasama (PKS) tentang Audit Teknologi Proses STAL (Step Temperature Acid Leach) pada Pilot Plant Pengolahan Laterit Nikel dengan Pusat Pelayanan Teknologi (Pusyantek) BPPT .

Penandatanganan MoU dilakukan Kepala BPPT , Hammam Riza dan Petrus Tjandra. Sedangkan penandatanganan PKS dilakukan Direktur Utama HMI, Widodo Sucipto dan Kepala Pusyantek BPPT , Yenni Bakhtiar. HMI merupakan anak usaha PURE yang memiliki hak atas teknologi pemurnian mineral yang dikembangkan PURE, salah satunya yaitu teknologi STAL .

Petrus menyebutkan, teknologi STAL terbukti berhasil melakukan konversi bijih nikel laterit kadar rendah menjadi Pregnant Leach Solution (PLS) dalam waktu empat jam, yang selanjutnya akan diolah ke produk lanjutan, seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) atau Mixed Sulphide Precipitate (MSP) maupun Nikel Murni atau Ni/Co Sulfate.

Menurut Petrus, audit teknologi yang dilakukan BPPT terhadap teknologi STAL ini diharapkan akan memvalidasi bahwa teknologi STAL merupakan solusi bagi pengolahan bijih nikel laterit kadar rendah di Indonesia, yang mampu menghasilkan nikel 99,96 persen (LME Grade), nikel sulfat (NiSO4) dan kobalt sulfat (CoSO4) battery grade.

“Teknologi ini sebelumnya belum pernah dikembangkan di Indonesia. Kami meyakini akan dapat menjadi salah satu hasil karya anak bangsa yang membanggakan bagi Indonesia, karena dapat meningkatkan nilai jual bijih nikel laterit kadar rendah yang menumpuk di Indonesia, dengan biaya investasi yang efisien,” papar Petrus.

Petrus mengatakan, HMI akan melakukan ekspor teknologi miliknya tersebut dengan melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) di Kanada. “Setelah dari Kanada, kami akan menuju ke London yang merupakan pusat metal dunia. Selain untuk memperluas akses investor global terhadap penerapan teknologi milik HMI, kami juga ingin membuktikan bahwa Indonesia mampu menjadi pionir teknologi di dunia,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Mineral BPPT , Rudi Nugroho, menegaskan bahwa kerjasama ini merupakan sinergi BPPT dengan swasta. Dia menyebutkan, kerjasama ini tidak hanya sebatas audit atau evaluasi teknologi, tetapi hasilnya akan diimplementasikan dalam skala komersil.

“Harapannya, kerjasama dengan PURE itu bisa diwujudkan dalam skala yang komersil, sehingga bangsa Indonesia dapat menguasai teknologi mineral, khususnya untuk nikel dan bisa bersaing dengan teknologi-teknologi yang datang dari negara lain,” ucap Rudi.

Sumber: IPOTNEWS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *