Profesor LIPI Buat Teknologi Ekstraksi Titanium dan Nikel

NIKEL.CO.ID – Profesor Riset Rudi Subagja dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan teknologi proses ekstraksi titanium, nikel dan tembaga. Teknologi ini bisa mendukung kemandirian industri nasional.

“Telah dikembangkan teknologi proses untuk memanfaatkan dan meningkatkan nilai tambah bijih ilmenit, nikel laterit kadar rendah, serta bijih tembaga malasit yang dimiliki Indonesia,” kata Rudi, Selasa (27/7/2021).

Rudi membacakan naskah orasi profesor risetnya berjudul “Pengembangan Teknologi Proses Ekstraksi Titanium, Nikel, dan Tembaga untuk Kemandirian Industri Nasional”. Rudi menuturkan Indonesia memiliki sumber daya mineral yang tersebar di beberapa daerah.

Mineral itu mempunyai peranan penting untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Namun, sumber daya mineral tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena masih terbatasnya kemampuan teknologi.

Untuk mengatasi permasalahan itu, Rudi mengembangkan teknologi proses ekstraksi untuk dapat memanfaatkan sumber daya mineral Indonesia. Khususnya bijih ilmenit, nikel laterit kadar rendah dan malasit.

Dari penelitian metalurgi ekstraksi yang dilakukan, Rudi mampu menghasilkan teknologi untuk membuat Titanium dioksida (TiO2) dari ilmenit Indonesia dan meningkatkan kandungan nikel dalam bijih nikel laterit kadar rendah Indonesia. Dia juga berhasil membuat logam nikel dengan kemurnian 99,7 persen, dan membuat logam tembaga dari bijih malasit.

“Teknologi proses pengolahan mineral yang dihasilkan menjadi modal dasar untuk menciptakan kemandirian industri nasional guna memanfaatkan dan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia, melengkapi mata rantai industri nasional, serta mengurangi ketergantungan impor TiO2, logam nikel dan tembaga,” ujar Rudi.

Rudi mengatakan penelitian tersebut dapat dijadikan rekomendasi untuk secara bersama-mengembangkan beberapa industri. Industri tersebut yakni pembuatan TiO2 dari ilmenit Indonesia dengan menggunakan teknologi proses dekomposisi ilmenit dengan Natrium hidroksida (NaOH).

Selain itu, juga rekomendasi industri pengolahan bijih nikel laterit kadar rendah menjadi konsentrat nikel dengan menggunakan teknologi thermal upgrading. Hasil penelitian itu juga bisa dimanfaatkan untuk pengembangan industri pengolahan malasit menjadi logam tembaga dengan proses pelarutan asam sulfat, dilanjutkan dengan proses pemurnian larutan, dan electrowinning untuk mendapatkan logam tembaga.

Sumber: REPUBLIKA

Read More

LIPI: Terbatasnya Penguasaan Teknologi, Indonesia Belum Optimal Kelola Sumber Daya Alam

NIKEL.CO.ID – Peneliti Utama Metalurgi Proses Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Ir. Rudi Subagja menilai, walaupun memiliki banyak sumber daya, Indonesia belum melakukan pengolahan secara optimal karena terbatasnya penguasaan teknologi. Ia mengharapkan melalui risetnya terkait ekstrasi titanium, nikel dan tembaga, dapat mendukung kemandirian industri Indonesia.

“Industri Indonesia akan tersokong dengan adanya pemanfaatan dan peningkatan nilai tambah sumber daya mineral. Semakin lengkapnya mata rantai industri nasional dan tentunya, dalam jangka panjang akan mengurangi ketergantungan impor TiO2, logam nikel dan tembaga,” kata Rudi dalam pembacaan orasi ilmiah sebagai profesor riset LIPI, Selasa (27/7/2021).

Ia menyatakan, teknologi proses pengolahan mineral yang dihasilkan akan menjadi modal dasar untuk menciptakan kemandirian industri nasional.

“Dengan memanfaatkan teknologi, maka dari ilmenit Indonesia dapat diperoleh Titanium dioksida (TiO2) dengan kandungan 95-98 persen. Dapat juga meningkatkan kandungan nikel pada bijih nikel laterit kadar rendah yang biasanya memiliki kandungan 1-2 persen akan menjadi nikel dengan kadar 99,7 persen dan membuat logam tembaga dari bijih malasit,” ucapnya.

Ia menguraikan, untuk pembuatan TiO2 dari ilmenit Indonesia, yang dilakukan adalah mengaplikasikan teknologi proses dekomposisi ilmenit dengan natrium hidroksida (NaOH) yang dilanjutkan dengan proses pelarutan dengan asam sulfat (H2SO4) dan proses hidrolisis larutan titanyl sulfat (TiOSO4).

“Sementara untuk industri pengolahan bijih nikel laterit kadar rendah menjadi konsentrat nikel dengan kadar lebih tinggi, akan menggunakan teknologi termal upgrading dan pembuatan senyawa nikel serta logam nikel akan menggunakan teknologi hydro dan elektrometalurgi,” ucapnya lagi.

Rudi menyebutkan pengembangan penelitian metalurgi ekstraksi ini akan mampu untuk menyokong program rencana induk pembangunan nasional Indonesia 2015 – 2035.

“Hasil penelitian ini menghasilkan beberapa rekomendasi pada pemangku kepentingan yaitu kerja sama dengan pihak industri akan mengembangkan produk turunan ilmenit dan nikel laterit, pemanfaatan monasit secara optimal, pengembangan ilmenit dam nikel laterit untuk implant material, pengembangan urban minning process, ekstraksi logam dari lumpur anoda dan pengembangan proses geohydrometalurgi,” ujarnya.

Ia menyatakan semua hasil penelitian ini tidak akan bisa mendukung kemandirian industri nasional tanpa ada dukungan dari para pemangku kepentingan.

“Dengan adanya komitmen, kerja sama, dukungan dan keterlibatan para pemangku kepentingan yang diwujudkan dalam kebijakan akan menjadi modal dasar bagi para peneliti untuk lebih mendalami penelitian. Misalnya kebijakan keringanan, kemudahan perizinan dalam implementasi hasil penelitian dan peningkatan keberpihakan BUMN,” pungkasnya.

Sumber: cendananews.com

Read More

Ternyata Ini Alasan RI Tak Asal-Asalan Bangun Smelter

NIKEL.CO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan pembatasan pembangunan smelter atau pabrik pemurnian nikel kelas 2 yakni untuk feronikel (FeNi) dan Nickel Pig Iron (NPI). Salah satu alasannya adalah nilai tambah yang lebih baik di Indonesia.

Praktisi Tambang & Nikel Ikatan Metalurgi ITB Arif S Tiammar mengaku setuju dengan usulan dari pemerintah ini, jika produksi hanya NPI dan FeNi saja.

“Saya pada posisi setuju dengan pemerintah batasi pembangunan jika hanya produksi FeNi, NPI,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Rabu, (23/06/2021).

Namun jika produksinya sampai dengan stainless steel atau nikel sulfat jangan dibatasi. Alasannya karena nilai tambah yang dihasilkan akan semakin tinggi di hilir.

Ia menjabarkan pandangannya mengenai konsep nilai tambah. Menurutnya konsep nilai tambah yang selama ini ada di masyarakat rasio antara harga produk dan bahan baku.

“Itu tidak benar, yang benar harga produk dibagi total biaya produksi,” ucapnya.

Dia menyebut dari segi return on investment (ROI) menambang dan menjual produknya itu akan lebih cepat dan lebih tinggi ROI nya. Namun tidak ada kebanggaan tidak ada nilai tambah.

“Pembangunan dari NPI jadi baterai material plant lebih cocok internal rate of return (IRR) di mana ada biaya investasi, produksi. Yang penting tentukan ROI adalah biaya investasi, harga produk, dan biaya produksi,” tuturnya.

Estimasi harga ekspor untuk FeNi diperkirakan akan berada di kisaran US$ 15.500 per ton pada 2025 mendatang, lalu nikel matte kisaran US$ 14.000 per ton, cukup jauh jika dibandingkan dengan nikel sulfat yang harganya diperkirakan bisa mencapai US$ 20.500 per ton.

Dengan asumsi penjualan feronikel pada 2025 mencapai 100 ribu ton dan estimasi harga di atas, maka penjualan diperkirakan mencapai US$ 1,55 miliar dan penerimaan negara sekitar US$ 135,63 juta.

Sementara untuk nikel sulfat, dengan perkiraan penjualan sebanyak 100 ribu ton, maka penjualan diperkirakan mencapai US$ 2,05 miliar dan penerimaan negara sebesar US$ 153,75 juta.

Dengan demikian, ada perkiraan tambahan penerimaan negara sebesar US$ 18,12 juta atau sekitar Rp 263 miliar (asumsi kurs Rp 14.500 per US$) bila menjual nikel sulfat.

Sehingga, pemerintah berencana membatasi pembangunan smelter dan ekspor feronikel dan NPI. Di sisi lain, akan mendorong pembangunan smelter kelas satu seperti nikel sulfat atau pabrik stainless steel.

Kementerian ESDM menargetkan sampai dengan tahun 2024 mendatang akan ada 53 fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) beroperasi, di mana 30 di antaranya merupakan smelter nikel.

Namun, pemerintah kini berencana untuk membatasi pembangunan smelter nikel baru. Kementerian ESDM tengah mewacanakan pembatasan pembangunan smelter nikel kelas dua yakni untuk feronikel (FeNi) dan Nickel Pig Iron (NPI).

Hingga 2020, terdapat 19 smelter telah beroperasi di mana 13 di antaranya merupakan smelter nikel.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Indonesia Harus Kejar Penguasaan Teknologi Baterai Untuk Kendaraan Listrik

NIKEL.CO.ID – National Battery Research Institute (NBRI) mengatakan Indonesia perlu terus mengejar upaya untuk menguasai teknologi dari membuat bahan material baterai hingga baterai litium untuk kendaraan listrik.

“Ini sangat penting karena jika Indonesia akan memulai pembuatannya, tetapi tanpa memikirkan sumber daya lokal, rantai pasokannya akan memakan biaya banyak,” kata Pendiri NBRI sekaligus Presiden Perkumpulan Masyarakat Riset Material-Indonesia (President of Materials Research Society-Indonesia) Evvy Kartini dalam “International Conference on Battery for Renewable Energy and Electric Vehicle 2021” (ICB-REV 2021), Jakarta, Selasa (22/6/2021).

Evvy mengatakan Indonesia memiliki bahan mineral untuk membuat baterai, di antaranya nikel di mana Indonesia merupakan penghasil terbesar nikel di dunia. Dengan kekayaan itu, Indonesia seharusnya bisa memanfaatkan sumber daya mineralnya secara optimal sehingga bisa menyokong sendiri kebutuhan baterai untuk kendaraan listrik di masa depan tanpa bergantung pada pihak luar.

Namun, kata dia, tentunya Indonesia harus bisa menguasai teknologi untuk memproses sumber daya nikel itu menjadi endapan nikel-kobalt hidroksida (MHP) yang diperlukan untuk membuat baterai, dan Indonesia perlu terus mengejar penguasaan teknologi itu.

“Masa depan kendaraan listrik adalah nikel, dan nikel akan menggantikan bensin,” tuturnya.

Penguasaan teknologi dalam membuat baterai litium untuk kendaraan listrik menjadi fokus Indonesia dalam upaya mengembangkan industri baterai untuk kendaraan listrik sendiri. Dalam hal ini, NBRI ikut mendorong kemajuan riset baterai di Indonesia.

Evvy menuturkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, peneliti, kementerian, BUMN hingga swasta, harus bekerja sama dan berkolaborasi untuk membangun industri baterai untuk kendaraan listrik di Tanah Air. Karena, ketika ada kendaraan listrik di Indonesia, maka harus dijamin salah satu komponen pentingnya, yakni baterai listrik, terpasok dengan aman.

International Conference on Battery for Renewable Energy and Electric Vehicles menawarkan platform untuk mempertemukan dan mendiskusikan ide-ide penelitian inovatif dan mendorong kolaborasi dalam bidang baterai dari hulu ke hilir dari para ahli, baik lokal maupun internasional.

Konferensi Internasional tersebut menjelaskan kesiapan Indonesia dalam menyukseskan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle), komitmen dan peran Indonesia terhadap baterai dan energi baru terbarukan (EBT) secara lokal dan global di berbagai sektor ekonomi, seperti transportasi, energi, industri, dan rumah tangga, serta dampak sosial dan ekonomi yang akan ditimbulkan.

NBRI merupakan platform yang menyatukan ilmuwan, akademisi, mitra industri, pemerintah, dan semua pemangku kepentingan yang fokus pada teknologi baterai dan energi terbarukan.

Sumber: ANTARA

Read More

BPPT Sebut Indonesia Siap Jadi Raja Baterai Dunia

NIKEL.CO.ID – Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengungkapkan bahwa Indonesia siap menjadi raja baterai dunia. Hal itu berdasarkan hasil audit teknologi yang sudah dilakukan BPPT sebagai bentuk dukungan dalam upaya mewujudkan pabrik smelter.

“Alhamdulillah, hasil yang didapatkan sesuai dengan harapan semua pihak, bahkan ini memberikan nilai tambah pada komoditas nikel,” kata Hammam dalam keterangan resmi, Selasa (11/5/2021).

BPPT melaporkan hasil audit teknologi yang dilakukan terhadap metode Step Temperature Acid Leach (STAL) yang dikembangkan PT Trinitan Metals and Minerals (PT TMM). Untuk proses pelindian ini mampu me-recovery nikel mulai 89% hingga 91% dan kobalt sebesar 90% hingga 94%. Metode tersebut dinyatakan mampu memberikan nilai tambah komoditas nikel ketika diterapkan dalam smelter skala kecil atau modular.

Hasil audit teknologi menunjukkan metode STAL lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan teknologi atmospheric leaching (AL) yang dapat menghasilkan recovery nikel antara 50% hingga 70%, dan cenderung mendekati teknologi high pressure acid leaching (HPAL) yang dapat mencapai 94% hingga 96%.

“Hasil audit teknologi ini bisa dijadikan rekomendasi dalam pembangunan smelter modular atau skala kecil yang bisa langsung dimanfaatkan oleh pertambangan rakyat, terlebih metode ini mengusung konsep zero waste, dimana hasil buang proses pelindian bisa diproduksi lagi,” tuturnya.

Pembangunan smelter modular nikel menurutnya merupakan sebuah kesempatan yang harus segera diambil oleh Indonesia. Lantaran persaingan teknologi energi sudah mulai beralih, dari energi fosil menjadi energi terbarukan, dan baterai diprediksi menjadi komoditas yang dibutuhkan industri di masa yang tidak lama lagi.

Kebutuhan akan baterai menurutnya akan selaras dengan permintaan nikel, dan beruntungnya Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Hal ini didasari data dari McKinsey, dimana Indonesia merupakan salah satu produsen nikel (Nickel Pig Iron /NPI), Bijih, Konsentrat, Presipitat) terbesar di dunia dengan menyumbang 27% total produksi global.

“Dengan dukungan penuh pemerintah dan ekosistem yang dibangun bersama oleh industri, Indonesia siap menjadi raja baterai dunia,” pungkasnya.

Sumber: Media Indonesia

Read More

BPPT: STAL Mampu Olah Nikel dengan Kandungan Lebih Baik

Teknologi STAL pun diklaim memiliki memiliki kelebihan dari sisi peralatan dan operasional yang lebih sederhana daripada High Pressure Acid Leaching (HPAL).

NIKEL.CO.ID –  Dalam audit teknologi proses Step temperature Acid Leach (STAL) yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) disebutkan bahwa teknologi pengolahan tersebut mampu menghasilkan nikel dengan kandungan yang baik.

Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Mineral (PTPSM) BPPT Rudi Nugroho mengatakan pihaknya telah merampungkan audit teknologi proses STAL (Step Temperature Acid Leach) pada pilot plant pengolahan laterit nikel milik PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) pada Kamis (6/5/2021) di Bogor, Jawa Barat.

Hasil audit teknologi STAL menunjukkan bahwa pada tahap proses pelindian atau ekstraksi zat, teknologi ini dapat menghasilkan recovery nikel mulai 89 persen hingga 91 persen, dan kobalt sebesar 90 persen hingga 94 persen.

Sementara itu, pilot plant STAL juga telah mampu menghasilkan MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) dengan kandungan Ni hingga lebih dari 35 persen, dimana produk MHP ini dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan baterai kendaraan listrik.

Rudi Nugroho mengatakan bahwa recovery nikel dengan teknologi STAL dapat mencapai 89 persen sampai dengan 91 persen. Menurutnya hasil itu jauh lebih bagus dibandingkan dengan AL (Atmosphere Leaching) yang hanya 50 persen hingga 70 persen, dan berbeda tipis dengan HPAL (High Pressure Acid Leaching) yang sekitar 95 persen hingga 96 persen.

Namun, Rudi menilai dengan kualitas yang tipis bedanya ini, teknologi STAL memiliki kelebihan dari sisi peralatan dan operasional yang lebih sederhana daripada HPAL.

“Butuh skill khusus untuk mengoperasikan HPAL. Peralatannya lebih kompleks, seperti tangki-tangki yang digunakan harus bisa dioperasikan dengan tekanan tertentu yang sesuai dengan standar High Pressure Acid Leaching,” kata Rudi dalam keterangan, Senin (10/5/2021).

Sumber: bisnis.com

Read More

BPPT Audit Teknologi Pengolah Komponen Baterai Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID –  Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menyoroti fakta bahwa upaya Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai belum diimbangi kemampuan dalam negeri untuk memproduksi sendiri komponen baterai. Sehingga, mau tak mau hingga saat ini baterai mobil listrik masih harus impor.

Hal ini layak jadi sorotan, karena menurut Hammam, Indonesia memiliki cadangan bijih nikel yang besar yang dapat dimanfaatkan sebagai komponen utama untuk pembuatan prekursor bahan baku baterei. Oleh karenanya, BPPT bekerjasama dengan PT. Trinitan Metals and Minerals, TBK (TMM) saat ini tengah mengagas sebuah pilot plant pengolahan nikel skala kecil yang dapat digunakan untuk pengolahan bijih laterit nikel menjadi MHP (Mixed Hidroxide Precipitated) yang merupakan bahan baku baterei.

“Metode yang dilakukan adalah proses pengolahan awal laterit nikel dengan aktivasi menggunakan asam, diikuti dengan pemanasan bertingkat dan dilanjutkan dengan proses leaching (pelindian) dengan asam sulfat. Metode ini dinamakan STAL atau Step Temperatur Acid Leaching,” kata Hammam kala menyampaikan sambutan di kunjungan ke PT. TMM, Cileungsi, Kamis (6/5/2021).

Dijelaskan Hammam, pihaknya telah melaksanakan Kerjasama dengan PT.TMM, untuk mengaudit kinerja Pilot Plant STAL tersebut. Melalui STAL ini, disebutkan bahwa prosesnya mampu me-recovery nikel cukup tinggi sehingga berpotensi untuk dikembangkan dan diterapkan skala besar di Indonesia.

“Hal ini kemudian juga dalam rangka mendukung dan meningkatkan nilai tambah komponen dalam negeri dan mendukung percepatan program pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai,” jelas Hammam.

Hammam berharap, hasil audit dari Pilot Plant STAL ini akan bisa dijadikan sebuah landasan pengolahan nikel di dalam negeri. Selain itu, guna mengakselerasi kinerja teknologi STAL, Hammam juga menilai perlu adanya ekosistem inovasi, yang bekerjasama triple helix bahkan pentahelix dimana salah satunya adalah adanya keterlibatan pihak swasta dunia usaha.

“Oleh karena itu Saya sangat mengapresiasi atas Kerjasama yang sudah dilakukan oleh TMM dengan BPPT ini, dalam mewujudkan inovasi baru karya Indonesia. Harapan saya, kerjasama yang telah dilakukan TMM dengan BPPT tidak hanya berhenti sampai audit pilot plant saja, namun BPPT siap mendampingi TMM ke arah komersialisasinya,” pungkas Hammam.

Sumber: Gatra.com

Read More

Luhut Ungkap Teknologi Pengolahan Nikel Kadar Rendah Karya Anak Bangsa

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan adanya pengembangan teknologi pengolahan nikel kadar rendah yang mampu bersaing dan bahkan disebutkan lebih ramah lingkungan.

Teknologi nikel ini disebut Step Temperature Acid Leaching (STAL) yakni memproses bijih nikel dengan tekanan atmosfer (atmospheric pressure). Teknologi ini disebut mampu menghasilkan recovery nikel di atas 90%.

Dia mengatakan, teknologi STAL yang dikembangkan PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE) ini juga menghasilkan limbah yang lebih ramah lingkungan. Pasalnya, limbahnya bisa dikelola kembali menjadi produk yang bernilai, dibandingkan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Menurutnya, limbah STAL menghasilkan residu Fe (besi) dan Al (aluminium) yang bisa diolah menjadi bijih besi atau iron ore dan produk lainnya.

“Selain itu, STAL juga dinilai akan menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan teknologi pengolahan nikel lainnya,” kata Luhut dalam keterangan resminya, Kamis (29/04/2021).

Oleh karena itu, Luhut pun mendorong adanya penerapan dari teknologi karya anak bangsa ini.

“Ini ada pengembangan teknologi baru dari anak bangsa, kita dukunglah. Saya ingin produk-produk dalam negeri terus maju,” pintanya.

Selain itu, Luhut juga berpesan kepada semua pihak agar teknologi STAL ini dapat dikembangkan terus dan diharapkan semua pihak bisa bekerja sama dengan baik.

Terkait dengan investasi di bidang ini, Luhut berharap Indonesia dapat menarik investor yang sesuai untuk pengembangan teknologi ini.

“Kita tidak mau main-main. Jadi makanya sekarang orang bicara soal green, jadi jangan ditipu lagi dengan data-data yang tidak benar,” tegasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan pengembangan teknologi STAL yang menggunakan metode hidrometalurgi ini dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi teknologi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil.

Dibandingkan dengan jenis-jenis teknologi yang digunakan pada industri pengolahan logam dasar, teknologi tersebut dapat berbentuk secara modular dan dipandang cocok untuk diterapkan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel (mine mouth).

Dengan teknologi modular ini, maka diperkirakan bisa dijangkau oleh industri pertambangan skala kecil yang banyak terdapat di Indonesia.

Desain teknologi STAL yang dikembangkan ini akan membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton bijih nikel per tahunnya atau 600 ton bijih nikel per hari untuk setiap modular STAL.

STAL dapat mengolah bijih nikel dengan kadar rendah sampai 1.1%. Kemudian listrik yang dibutuhkan dalam menggunakan teknologi ini yakni 1,3 mega watt hour untuk menghasilkan 1.800 ton nikel.

Teknologi STAL ini akan mengembangkan aplikasi cloud monitoring dan sistem kontrol untuk semua proses manufaktur dan dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya kepada semua pihak.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Menko Luhut Apresiasi dan Dukung Inovasi Teknologi STAL Yang Dikembangkan PT Trinitan Metals & Minerals

NIKEL.CO.ID – Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Monko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengapresiasi inovasi pengembangan teknologi Step Temperature Acid Leaching (STAL) yang dikembangkan oleh PT Trinitan Metal and Minerals Tbk.

Hal tersebut disampaikan Luhut saat menggelar rapat koordinasi bersama Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian ESDM, Kementerian Investasi, Kementerian Perindustrian, BPPT, Prof. Zaki Mubarok dari ITB, dan PT Trinitan Metal and Minerals, Tbk di Jakarta pada Kamis, (29/4/2021)

Pengembangan teknologi STAL pada nickel ore yang diproses dengan tekanan atmosfir (atmospheric pressure) dan mampu menghasilkan recovery nikel di atas 90 persen. Dengan Teknologi STAL , limbah yang dihasilkan juga lebih ramah lingkungan dan dapat dikelola kembali menjadi produk yang bernilai dibandingkan dengan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Limbah STAL menghasilkan residu Fe (besi) dan Al (aluminium) yang bisa diolah menjadi Iron Ore dan produk lainnya. Selain itu, STAL juga dinilai akan  menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan teknologi pengolahan nikel lainnya.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Menko Luhut mendorong penerapan teknologi hasil karya anak bangsa,

“Ini ada pengembangan teknologi baru dari anak bangsa, kita dukunglah. Saya ingin produk-produk dalam negeri terus maju,” ungkap Menko Luhut sebagaimana siaran pers yang diterima nikel.co.id.

Menko Luhut juga berpesan kepada semua pihak agar teknologi STAL ini dapat dikembangkan terus dan diharapkan semua pihak dapat bekerja sama dengan baik. Terkait dengan investasi di bidang ini, Luhut juga berharap Indonesia dapat menarik investor yang sesuai untuk pengembangan teknologi ini.

“Kita tidak mau main-main. Jadi makanya sekarang orang bicara soal green, jadi jangan ditipu lagi dengan data-data yang tidak benar,” tandas Luhut.

Pengembangan teknologi STAL yang menggunakan metode hidrometalurgi ini, dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi teknologi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil dibandingkan dengan jenis-jenis teknologi yang digunakan pada industri pengolahan logam dasar.

Teknologi tersebut dapat berbentuk secara modular dan dipandang cocok untuk diterapkan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel (mine mouth). Dengan teknologi modular ini, dinilai besaran (modal) yang dibutuhkan akan bisa dijangkau oleh industri pertambangan pada skala yang lebih kecil dan yang banyak terdapat di Indonesia.

Desain teknologi STAL yang dikembangkan ini akan membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton bijih nikel pertahun-nya atau 600 ton perhari untuk setiap modular STAL.

STAL dapat mengolah Nickel Ore dengan kadar rendah sampai 1.1%. Kemudian listrik yang dibutuhkan dalam menggunakan teknologi ini, yakni 1,3 mega watt hour untuk menghasilkan 1800 ton nikel.

Teknologi STAL ini akan mengembangkan aplikasi cloud monitoring dan sistem kontrol untuk semua proses manufaktur dan dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya kepada semua pihak. (Admin)

Read More

STAL, Terobosal Teknologi Pengolahan Nikel Yang Ramah Lingkungan

NIKEL.CO.ID – Konsultan ESG (Environmental, Social and Governance) dari PT Mitra Rekayasa Keberlanjutan (MRKL), Aldi Muhammad Alizar menyoroti pentingnya kehadiran teknologi pengolahan nikel yang berfokus pada aspek ESG.

Menurut Aldi, High Pressure Acid Leach (HPAL) merupakan teknologi pengolahan nikel untuk battery grade secara hidrometalurgi, yang banyak dipilih oleh smelter di Indonesia saat ini.

Namun, mengacu kepada paparan “Kinerja Sektor Komoditas dan Energi serta Kebijakan Hilirisasi 1Q2021” yang disampaikan Kemenko Marves dalam acara Finalisasi Pengujian Teknologi STAL oleh Kementerian ESDM dan TMM, pengelolaan limbah merupakan kendala terbesar dalam memproses bijih limonite melalui teknologi HPAL.

“Cara pengelolaan limbah HPAL dengan menempatkan limbah di bawah area laut dalam (Deep Sea Tailings Placement) dianggap berpotensi tinggi mencemari biodiversitas,” ujarnya.

“Padahal, cara ini adalah cara pengelolaan limbah yang saat ini dipertimbangkan oleh perusahaan pengolah nikel, untuk pengoperasian smelter HPAL milik mereka kelak,” ungkap Aldi.

Karena itu, Aldi meyakini, Indonesia membutuhkan teknologi pengolahan nikel yang berfokus pada aspek ESG, seperti teknologi hidrometalurgi Step Temperature Acid Leach (STAL) yang kini dikembangkan PT Trinitan Metals & Minerals Tbk (TMM).

Tujuannya, kata dia, adalah untuk mengakomodir investor asing yang ‘memelototi’ aspek ESG dan menjadikannya sebagai syarat utama dalam berinvestasi, seperti Elon Musk dan Tesla, yang mensyaratkan hal itu untuk berinvestasi di Indonesia.

Dia menilai, STAL merupakan terobosan teknologi ramah lingkungan yang dapat mendukung upaya Pembangunan Rendah Karbon yang sedang marak di Indonesia.

“Selain rendah karbon, STAL juga tidak membutuhkan pengelolaan limbah yang rumit, serta mendukung transparansi dalam bentuk digitalisasi data dan informasi sehingga meningkatkan akuntabilitas kepada shareholder dan stakeholder,” ungkap Aldi.

Aldi meyakini, teknologi STAL akan membawa dampak positif berupa kesejahteraan sosial dan ekonomi yang hijau, kepada masyarakat dan penambang nikel skala menengah.

Direktur Utama TMM Petrus Tjandra menyatakan, teknologi STAL mengaplikasikan zero waste managament dalam pengoperasiannya, dimana limbah olahan yang dihasilkan akan dapat diproses lagi menjadi by-product (produk samping), dalam bentuk iron ore untuk digunakan oleh industri baja, maupun bentuk batu bata (brick) yang dapat digunakan untuk membangun jalan maupun jembatan.

Petrus menjelaskan jika TMM melalui entitas anak perusahaannya, PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) juga telah menginisiasi Green+ Program, yang berfokus pada aspek ESG.

Program ini, kata dia, akan menjamin/mensertifikasi bahwa teknologi STAL sudah memprioritaskan lingkungan hidup dalam pengoperasiannya, untuk mencapai ekonomi rendah karbon, berdaya bahan dan sumber daya yang efisien.

“Green+ Program akan memastikan bahwa potensi pencemaran lingkungan akan dapat terdeteksi secara lebih dini, melalui kontrol digital yang dapat mengeluarkan data gas buang, maupun limbah olahan secara real time dan dapat terhubung dengan pihak yang berkepentingan,” ujar Petrus.

Petrus menambahkan jika aspek environmental, social and governance (ESG) adalah fokus utama TMM dalam setiap rencana implementasi teknologi STAL.

Hal ini, kata dia, merupakan wujud komitmen perseroan untuk menjawab pertanyaan seputar masalah lingkungan hidup dalam hilirisasi nikel, sekaligus mendorong terciptanya tata kelola nikel nasional yang ramah lingkungan.

Menyikapinya, Asisten Deputi Bidang Investasi Strategis Kemenko Marves, Bimo Wijayanto mengapresiasi komitmen TMM untuk fokus kepada aspek environmental, social and governance (ESG) dalam setiap rencana implementasi teknologinya.

Menurutnya, ini merupakan salah satu langkah maju yang dapat membantu pemerintah untuk menjawab pertanyaan tentang how green is exploitation of our mineral resources.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul “STAL Siap Jadi Terobosan Teknologi Pengolahan Nikel yang Ramah Lingkungan“.

Read More