BPPT Sebut Indonesia Siap Jadi Raja Baterai Dunia

NIKEL.CO.ID – Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengungkapkan bahwa Indonesia siap menjadi raja baterai dunia. Hal itu berdasarkan hasil audit teknologi yang sudah dilakukan BPPT sebagai bentuk dukungan dalam upaya mewujudkan pabrik smelter.

“Alhamdulillah, hasil yang didapatkan sesuai dengan harapan semua pihak, bahkan ini memberikan nilai tambah pada komoditas nikel,” kata Hammam dalam keterangan resmi, Selasa (11/5/2021).

BPPT melaporkan hasil audit teknologi yang dilakukan terhadap metode Step Temperature Acid Leach (STAL) yang dikembangkan PT Trinitan Metals and Minerals (PT TMM). Untuk proses pelindian ini mampu me-recovery nikel mulai 89% hingga 91% dan kobalt sebesar 90% hingga 94%. Metode tersebut dinyatakan mampu memberikan nilai tambah komoditas nikel ketika diterapkan dalam smelter skala kecil atau modular.

Hasil audit teknologi menunjukkan metode STAL lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan teknologi atmospheric leaching (AL) yang dapat menghasilkan recovery nikel antara 50% hingga 70%, dan cenderung mendekati teknologi high pressure acid leaching (HPAL) yang dapat mencapai 94% hingga 96%.

“Hasil audit teknologi ini bisa dijadikan rekomendasi dalam pembangunan smelter modular atau skala kecil yang bisa langsung dimanfaatkan oleh pertambangan rakyat, terlebih metode ini mengusung konsep zero waste, dimana hasil buang proses pelindian bisa diproduksi lagi,” tuturnya.

Pembangunan smelter modular nikel menurutnya merupakan sebuah kesempatan yang harus segera diambil oleh Indonesia. Lantaran persaingan teknologi energi sudah mulai beralih, dari energi fosil menjadi energi terbarukan, dan baterai diprediksi menjadi komoditas yang dibutuhkan industri di masa yang tidak lama lagi.

Kebutuhan akan baterai menurutnya akan selaras dengan permintaan nikel, dan beruntungnya Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Hal ini didasari data dari McKinsey, dimana Indonesia merupakan salah satu produsen nikel (Nickel Pig Iron /NPI), Bijih, Konsentrat, Presipitat) terbesar di dunia dengan menyumbang 27% total produksi global.

“Dengan dukungan penuh pemerintah dan ekosistem yang dibangun bersama oleh industri, Indonesia siap menjadi raja baterai dunia,” pungkasnya.

Sumber: Media Indonesia

Read More

BPPT: STAL Mampu Olah Nikel dengan Kandungan Lebih Baik

Teknologi STAL pun diklaim memiliki memiliki kelebihan dari sisi peralatan dan operasional yang lebih sederhana daripada High Pressure Acid Leaching (HPAL).

NIKEL.CO.ID –  Dalam audit teknologi proses Step temperature Acid Leach (STAL) yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) disebutkan bahwa teknologi pengolahan tersebut mampu menghasilkan nikel dengan kandungan yang baik.

Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Mineral (PTPSM) BPPT Rudi Nugroho mengatakan pihaknya telah merampungkan audit teknologi proses STAL (Step Temperature Acid Leach) pada pilot plant pengolahan laterit nikel milik PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) pada Kamis (6/5/2021) di Bogor, Jawa Barat.

Hasil audit teknologi STAL menunjukkan bahwa pada tahap proses pelindian atau ekstraksi zat, teknologi ini dapat menghasilkan recovery nikel mulai 89 persen hingga 91 persen, dan kobalt sebesar 90 persen hingga 94 persen.

Sementara itu, pilot plant STAL juga telah mampu menghasilkan MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) dengan kandungan Ni hingga lebih dari 35 persen, dimana produk MHP ini dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan baterai kendaraan listrik.

Rudi Nugroho mengatakan bahwa recovery nikel dengan teknologi STAL dapat mencapai 89 persen sampai dengan 91 persen. Menurutnya hasil itu jauh lebih bagus dibandingkan dengan AL (Atmosphere Leaching) yang hanya 50 persen hingga 70 persen, dan berbeda tipis dengan HPAL (High Pressure Acid Leaching) yang sekitar 95 persen hingga 96 persen.

Namun, Rudi menilai dengan kualitas yang tipis bedanya ini, teknologi STAL memiliki kelebihan dari sisi peralatan dan operasional yang lebih sederhana daripada HPAL.

“Butuh skill khusus untuk mengoperasikan HPAL. Peralatannya lebih kompleks, seperti tangki-tangki yang digunakan harus bisa dioperasikan dengan tekanan tertentu yang sesuai dengan standar High Pressure Acid Leaching,” kata Rudi dalam keterangan, Senin (10/5/2021).

Sumber: bisnis.com

Read More

BPPT Audit Teknologi Pengolah Komponen Baterai Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID –  Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza menyoroti fakta bahwa upaya Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai belum diimbangi kemampuan dalam negeri untuk memproduksi sendiri komponen baterai. Sehingga, mau tak mau hingga saat ini baterai mobil listrik masih harus impor.

Hal ini layak jadi sorotan, karena menurut Hammam, Indonesia memiliki cadangan bijih nikel yang besar yang dapat dimanfaatkan sebagai komponen utama untuk pembuatan prekursor bahan baku baterei. Oleh karenanya, BPPT bekerjasama dengan PT. Trinitan Metals and Minerals, TBK (TMM) saat ini tengah mengagas sebuah pilot plant pengolahan nikel skala kecil yang dapat digunakan untuk pengolahan bijih laterit nikel menjadi MHP (Mixed Hidroxide Precipitated) yang merupakan bahan baku baterei.

“Metode yang dilakukan adalah proses pengolahan awal laterit nikel dengan aktivasi menggunakan asam, diikuti dengan pemanasan bertingkat dan dilanjutkan dengan proses leaching (pelindian) dengan asam sulfat. Metode ini dinamakan STAL atau Step Temperatur Acid Leaching,” kata Hammam kala menyampaikan sambutan di kunjungan ke PT. TMM, Cileungsi, Kamis (6/5/2021).

Dijelaskan Hammam, pihaknya telah melaksanakan Kerjasama dengan PT.TMM, untuk mengaudit kinerja Pilot Plant STAL tersebut. Melalui STAL ini, disebutkan bahwa prosesnya mampu me-recovery nikel cukup tinggi sehingga berpotensi untuk dikembangkan dan diterapkan skala besar di Indonesia.

“Hal ini kemudian juga dalam rangka mendukung dan meningkatkan nilai tambah komponen dalam negeri dan mendukung percepatan program pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai,” jelas Hammam.

Hammam berharap, hasil audit dari Pilot Plant STAL ini akan bisa dijadikan sebuah landasan pengolahan nikel di dalam negeri. Selain itu, guna mengakselerasi kinerja teknologi STAL, Hammam juga menilai perlu adanya ekosistem inovasi, yang bekerjasama triple helix bahkan pentahelix dimana salah satunya adalah adanya keterlibatan pihak swasta dunia usaha.

“Oleh karena itu Saya sangat mengapresiasi atas Kerjasama yang sudah dilakukan oleh TMM dengan BPPT ini, dalam mewujudkan inovasi baru karya Indonesia. Harapan saya, kerjasama yang telah dilakukan TMM dengan BPPT tidak hanya berhenti sampai audit pilot plant saja, namun BPPT siap mendampingi TMM ke arah komersialisasinya,” pungkas Hammam.

Sumber: Gatra.com

Read More

PT. Trinitan Metals and Minerals dan BBPT Sepakati Audit Teknologi STAL Pengolahan Laterit Nikel

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT ) menandatangani nota kesepahaman (MoU) tentang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pengolahan Mineral dengan PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE).

Berdasarkan keterangan resmi Direktur Utama PURE, Petrus Tjandra, di Jakarta, Senin (21/12/2020), pada acara Business Gathering 2020 entitas anak PURE, PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) juga menandatangani Perjanjian Kerjasama (PKS) tentang Audit Teknologi Proses STAL (Step Temperature Acid Leach) pada Pilot Plant Pengolahan Laterit Nikel dengan Pusat Pelayanan Teknologi (Pusyantek) BPPT .

Penandatanganan MoU dilakukan Kepala BPPT , Hammam Riza dan Petrus Tjandra. Sedangkan penandatanganan PKS dilakukan Direktur Utama HMI, Widodo Sucipto dan Kepala Pusyantek BPPT , Yenni Bakhtiar. HMI merupakan anak usaha PURE yang memiliki hak atas teknologi pemurnian mineral yang dikembangkan PURE, salah satunya yaitu teknologi STAL .

Petrus menyebutkan, teknologi STAL terbukti berhasil melakukan konversi bijih nikel laterit kadar rendah menjadi Pregnant Leach Solution (PLS) dalam waktu empat jam, yang selanjutnya akan diolah ke produk lanjutan, seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) atau Mixed Sulphide Precipitate (MSP) maupun Nikel Murni atau Ni/Co Sulfate.

Menurut Petrus, audit teknologi yang dilakukan BPPT terhadap teknologi STAL ini diharapkan akan memvalidasi bahwa teknologi STAL merupakan solusi bagi pengolahan bijih nikel laterit kadar rendah di Indonesia, yang mampu menghasilkan nikel 99,96 persen (LME Grade), nikel sulfat (NiSO4) dan kobalt sulfat (CoSO4) battery grade.

“Teknologi ini sebelumnya belum pernah dikembangkan di Indonesia. Kami meyakini akan dapat menjadi salah satu hasil karya anak bangsa yang membanggakan bagi Indonesia, karena dapat meningkatkan nilai jual bijih nikel laterit kadar rendah yang menumpuk di Indonesia, dengan biaya investasi yang efisien,” papar Petrus.

Petrus mengatakan, HMI akan melakukan ekspor teknologi miliknya tersebut dengan melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) di Kanada. “Setelah dari Kanada, kami akan menuju ke London yang merupakan pusat metal dunia. Selain untuk memperluas akses investor global terhadap penerapan teknologi milik HMI, kami juga ingin membuktikan bahwa Indonesia mampu menjadi pionir teknologi di dunia,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Mineral BPPT , Rudi Nugroho, menegaskan bahwa kerjasama ini merupakan sinergi BPPT dengan swasta. Dia menyebutkan, kerjasama ini tidak hanya sebatas audit atau evaluasi teknologi, tetapi hasilnya akan diimplementasikan dalam skala komersil.

“Harapannya, kerjasama dengan PURE itu bisa diwujudkan dalam skala yang komersil, sehingga bangsa Indonesia dapat menguasai teknologi mineral, khususnya untuk nikel dan bisa bersaing dengan teknologi-teknologi yang datang dari negara lain,” ucap Rudi.

Sumber: IPOTNEWS

Read More