Proyek Nikel di Morowali Bakal Bikin Tiongkok Makin Dekat Dengan Mimpinya Kuasai Dunia

NIKEL.CO.ID – Ketika itu, pada 3 Februari 2020, sebuah akun Twitter mengunggah narasi sembari mencatut media asing asal Prancis, France24.

Cuitan di Twitter itu terkait 40 ribu tenaga kerja asing asal China yang sedang dalam pengawasan terkait virus corona baru.

Tapi, apakah benar ada 40 ribu pekerja China di Morowali yang dikarantina karena virus corona?

Melansir dari antaranews, kantor berita ini melakukan penelusuran terhadap berita-berita France24.

Mereka menemukan berita yang dipublikasikan pada 31 Januari 2020, dengan judul ‘Thousands on virus lockdown at China-backed plant in Indonesia’.

Dalam berita tersebut dilaporkan bahwa ada lebih dari 40 ribu pekerja di kompleks pusat penambangan nikel di Morowali.

Namun, 40 ribu pekerja di PT Indonesia Morowali Industrial Park itu tidak semuanya berasal dari China, hanya sekitar 5.000 pekerja yang berasal dari China daratan.

Para karyawan itu pun telah menjalani tes medis dan tidak ada yang terinfeksi, menurut juru bicara perusahaan.

Terlepas dari hal itu, sebuah perusahaan milik negara yang dikelola secara terpusat dan mengkhususkan diri dalam proyek-proyek infrastruktur turnkey, yaitu China Communications Construction Co Ltd, akan mengubah dirinya menjadi pembangun rantai industri di negara-negara yang tergabung dalam Belt and Road Initiative (BRI).

Hal itu dilakukan selama periode Rencana Lima Tahun ke-14 (2021-2025), menurut seorang eksekutif seniornya pada Chinadaily.

Perusahaan tersebut yakin bisa memanfaatkan peluang perumbuhan baru yang direncanakan oleh banyak negara untuk membangun zona pengembangan ekonomi.

Termasuk jalur pelayaran regional dan pusat layanan, meningkatkan urbanisasi dan memodernisasi ekonomi untuk skala dan pertumbuhan yang berkelanjutan, jelas Sun Ziyu, wakil presiden kelompok yang bermarkas di Beijing.

Negara-negara tersebut telah melihat pembangunan infrastruktur selama bertahun-tahun di bawah kerangka kerja BRI, jelasnya lagi.

Pengetahuan dan pengalaman mereka telah diperoleh dari proyek-proyek tersebut ke bisnis mereka di Sri Lanka, Pakistan, dan Serbia.

Banyak zona ekonomi khusus di luar negeri, terutama di Asia Tenggara, Afrika, dan Timur Tengah, yang menghadapi masalah karena mereka hanya meniru pengalaman dan model dari China dan ekonomi maju.

Bukanlah hal yang benar untuk dilakukan karena sebenarnya hanya perlu menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan dan situasi lokal.

CCCC memiliki lebih dari 60 anak perusahaan, termasuk Shanghai Zhenhua Port Machinery Co, atau ZPMC, salah satu produsen mesin pelabuhan terbesar di dunia berdasarkan pangsa pasar, dan China Road and Bridge Corp, spesialis proyek infrastruktur.

Sementara, BRI sendiri telah membangun lebih dari 13.000 kilometer jalan, 180 jembatan, 121 tempat berlabuh dan 17 bandara di negara dan wilayah yang terlibat dalam BRI.

Maka, dengan lebih dari 900 proyek infrastruktur, industri dan olahraga sedang dibangun dan dikembangkan di seluruh ekonomi BRI, nilai kumulatif dari kontrak ini telah melampaui $100 miliar, kata CCCC.

BUMN tersebut saat ini mempekerjakan 100.000 pekerja di pasar luar negeri, termasuk 70.000 pekerja asing.

China Harbour Engineering Co Ltd, atau CHEC, spesialis proyek rekayasa kelautan dan anak perusahaan CCCC, menandatangani kontrak bulan lalu.

Kontrak tersebut untuk membangun dua tempat berlabuh di dermaga khusus untuk kapal curah berbobot 100.000 ton di Taman Industri Morowali di Indonesia, dengan masa konstruksi berlangsung selama 18 bulan.

Pemilik proyek adalah PT Indonesia Morowali Industrial Park. Terletak di Sulawesi Tengah, Pulau Sulawesi, Indonesia.

Proyek tersebut terutama terdiri dari dua tempat berlabuh khusus untuk kapal curah 100.000 ton, dua jembatan pendekatan dan dua jembatan.

Sebagai pelabuhan pendukung kawasan industri nikel-besi terbesar di Indonesia, Morowali Nickel-Iron Park, proyek ini akan menjadi area pelabuhan khusus bulk carrier terbesar di Indonesia setelah selesai.

Sumber: intisari.grid.id