Proyek Komponen Baterai Beroperasi, RI Bakal Diserbu Investor

NIKEL.CO.ID – Indonesia memiliki cita-cita untuk menjadi pemain baterai kelas dunia. Bukan tanpa alasan, besarnya cadangan nikel di Tanah Air menjadi salah satu pemicu banyak pihak luar melirik nikel Indonesia. Indonesia merupakan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia di mana pada 2020 tercatat memiliki 72 juta ton Ni (nikel), atau 52% dari total cadangan nikel dunia yang mencapai 139.419.000 ton Ni.

Cita-cita ini menjadi kian nyata dengan adanya sejumlah proyek pengolahan dan pemurnian (smelter) komponen baterai, tepatnya smelter nikel berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), tengah dibangun di Indonesia. Tak main-main, total investasi untuk enam proyek bahan baku komponen baterai di Tanah Air ini diperkirakan mencapai US$ 6,25 miliar atau sekitar Rp 91 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$).

Apalagi, belum lama ini pada 27 Juli 2021 lalu, Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemerintah Indonesia untuk membentuk perusahaan patungan (joint venture) di Indonesia sebagai upaya dalam memproduksi sel baterai dari mobil listrik bertenaga baterai atau BEV.

Melalui MoU ini, Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution akan menginvestasikan dana senilai US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 15,9 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$) ke dalam joint venture untuk membangun pabrik sel baterai di Karawang, Indonesia.

Namun ke depannya, diperkirakan tidak hanya Hyundai dan LG ini yang akan berinvestasi baterai di Tanah Air, namun juga investor dari berbagai negara diperkirakan akan datang untuk berinvestasi pabrik baterai di Indonesia.

Steven Brown, konsultan independen di industri pertambangan, mengatakan saat ini banyak calon investor tengah mengkaji untuk pembangunan pabrik baterai di Indonesia. Ini seiring dengan adanya sederet proyek bahan baku komponen baterai yakni smelter HPAL yang tengah dibangun di Indonesia.

Begitu smelter HPAL ini beroperasi, maka menurutnya bukan mustahil banyak investor berdatangan untuk investasi baterai di Indonesia.

“Sekarang lagi dikaji, pasti akan sejalan dengan pembangunan HPAL-nya. Begitu HPAL ada progres, setelah itu proyek untuk baterai akan jalan, tapi smelter HPAL harus terbukti dulu lah. Jadi sekarang mereka mengkaji opsinya,” tuturnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (20/08/2021).

“Kemungkinan besar akan ada investasi, tapi sampai saat ini belum di-announced untuk kepastian investasi, tapi sekarang banyak sih yang lihat untuk Indonesia untuk membangun downstream (hilir)-nya,” lanjutnya.

Selain beberapa proyek smelter HPAL dibangun, menurutnya beberapa investor juga akan melanjutkan investasi di proyek pabrik pembuatan nikel sulfat, sebagai produk turunan dari smelter HPAL yang berupa Mix Sulphide Precipitate (MSP) maupun Mix Hydroxide Precipitate (MHP). Salah satu investor yang akan membangun pabrik nikel sulfat di Indonesia yaitu Harita Group.

Seperti diketahui, Harita Group melalui anak usahanya, PT Halmahera Persada Lygend, sudah resmi mengoperasikan smelter nikel dengan teknologi HPAL di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Smelter HPAL ini memiliki kapasitas produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebesar 365 ribu ton per tahun dan merupakan bahan baku dasar baterai kendaraan listrik.

Diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Rabu (23/06/2021), smelter HPAL ini menjadi pabrik bahan baku baterai kendaraan listrik pertama yang beroperasi di Indonesia. Proyek ini diperkirakan memakan biaya mencapai lebih dari US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,4 triliun (asumsi kurs Rp 14.400 per US$).

Setelah adanya produk nikel sulfat di Indonesia, maka diperkirakan akan berdatangan investor untuk precursor chemistry baterai lithium untuk material katoda baterai, hingga nanti investasi untuk pabrik sel baterainya, bahkan tak menutup kemungkinan hingga kendaraan listriknya.

“Tapi step by step bisa ke arah itu,” ujarnya.

Namun dia mengatakan, karena jenis industri ini masih baru di Indonesia, maka memang dibutuhkan waktu bagi calon investor untuk mengkaji lebih dalam.

“Setelah HPAL on progress, butuh waktu untuk kajian, kan kajian gak bisa cepat juga, butuh waktu cukup lama, dan ini pemain baru dan belum pernah ada aktivitas ini di Indonesia, jadi mereka take times untuk membangun, mengkaji opsinya, membuat plan (rencana), lalu membangunnya,” paparnya.

Apalagi, lanjutnya, investor yang akan berinvestasi di hilir baterai ini merupakan investor di industri kimia, bukan lagi industri pertambangan seperti pada smelter HPAL, sehingga butuh kajian lebih dalam lagi.

“Tapi akhir-akhir ini ada tren misalnya perusahaan mobil seperti Tesla, mereka mau investasi ke upstream (hulu)-nya, ke baterainya atau bahkan nikelnya, dan juga chemical company mulai berani investasi ke HPAL-nya. Jadi, semuanya sedang mengkaji opsi seperti itu karena kalau gak ambil alih, bisa ketinggalan. Jadi, vertical integration sudah dimulai,” jelasnya.

Sumber: CNBC Indonesia