Membincang Nikel, China dan Kejayaan

Oleh : Zainal Abidin Sidik

SEORANG senior mengunggah sebuah tangkapan layar yang berasal dari akun sosial media @giginpraginanto, yang diunggah kembali oleh akun @mardiguwp. Bunyinya rada seram, dan bisa bikin darah naik sampai ubun-ubun. ‘Pengiriman 90 persen nikel dari Konawi (mungkin Konawe, Sulawesi Tenggara) ke China hasilnya dahsyat. Sekarang China jadi produsen baterai dan mobil listrik terbesar di dunia. Indonesia cuma kebagian mimpi jadi pusat industri mobil listrik dunia. Bagaimana nih pak Luhut?Hampir saja saya mengumpat.

Kalau begini caranya, bisa jadi kekayaan nikel negeri ini, bakal menguap seperti kekayaan minyak di masa Orde Baru. Konon, nikel adalah bahan utama untuk pembuatan baterai, yang digadang-gadang menjadi tulang punggung energi terbarukan di masa mendatang, yang akan menjadi pengganti energi fosil yang hampir selesai masa tayangnya. Dan cadangan nikel di perut bumi Indonesia, sungguh berlimpah. Akankah kita menyia-nyiakannya kembali kesempatan kedua dari Tuhan?

Untung ada teman yang membisiki. Kalo dikesankan bahwa karena nikel dari Konawe, Tiongkok jadi raja batere dan mobil listrik, ya tentu salah. Sudah lama Tiongkok menyandang gelar itu. Di luar nikel, ada banyak mineral lain yang dibutuhkan (untuk bikin baterai), dan yang paling tak tergantikan itu malah logam tanah jarang (rare earth metals), yang Tiongkok sendiri adalah produsen terbesarnya.

Masuk tahun 2020, Pemerintah Indonesia menutup keran ekspor nikel mentah. Ini yang bikin Uni Eropa uring-uringan, karena industri mobil, – dan industri lain yang menggunakan nikel, terdampak banget. Tapi Tiongkok santai aja, karena industri batere dan mobil listriknya masih punya pasokan dari masa lalu. Mereka memang doyan numpuk. Dibandingkan tahun lalu sendiri, total impor nikel Tiongkok turun sepertiganya, lantaran tumpukan itu. Apa Indonesia nggak ekspor (nikel) ke Tiongkok? Ya tetap ada, dan banyak juga, yaitu dari jenis Nickel Pig Iron (NPI). Ekspor NPI dari Indonesia, masih tercatat di urutan kedua terbesar dengan tujuan ke Tiongkok di tahun ini. Tapi ini tidak buat batere, melainkan buat bikin baja.

Artinya, nikel Indonesia bakal lebih keliatan jejaknya di beragam gedung, jembatan, dll. Bukan di batere. Itu yang ditulis kawan saya.

Alhamdulillah. Apa yang saya pelajari sejak kecil, ada manfaatnya juga. Berpikir sejenak jauh lebih baik daripada shalat seribu rakaat. Setidaknya, sumbu saya jadi rada panjang gegara mikir sebentar. Di tengah arus informasi yang nyaris tidak terbendung, – mau tidak mau kita memang dituntut untuk melakukan self censorship. Cari data yang beres, bukan opini semata. Nggak gatal tangan untuk segera membagi informasi kepada orang lain, atau cepat meledakkan kemarahan.

Apalagi di Indonesia. Residu Pilpres agaknya bakal berlanjut sampai 2024. Aroma suka dan benci, sudah membelah bagian terbesar dari bangsa ini. Yang mencoba bertindak fair, bakal jadi sandsak hidup, dihajar kiri kanan. Keinginan untuk memperbaiki terkubur oleh nafsu melindungi (atau bahkan mempertahankan?) dan menyalahkan (atau bahkan menjatuhkan?). Kita semua tahu negeri ini memang bermasalah, tapi bertindak dengan dasar kebohongan, justru akan menambah permasalahan baru. Kata nenek, itu sungguh berbahaya.

Sumber: redaksiindonesia.com