Melirik Potensi Tambang Nikel Untuk Mewujudkan Industri Baterai Nasional

oleh: Dwi Suryo Abdullah *)

NIKEL.CO.ID – Nikel adalah elemen logam dengan nomor atom: 28 dan berat atom: 58.6934 berwarna putih keperakan dengan dasar bersinar/berkilau yang diekstraksi dari dua bijih – sulfida magmatik dan laterit pada umumnya terbentuk secara alami yang merupakan elemen paling umum kelima di bumi dan muncul secara luas di kerak dan inti bumi. Nikel juga disebut sebagai logam pilihan untuk membuat superalloy – kombo logam yang dikenal memiliki kekuatan dan ketahanan yang tinggi terhadap panas, korosi, dan oksidasi, sehingga nikel sering digunakan sebagai lapisan luar pelindung untuk logam yang lebih lunak karena mempunyai kemampuan untuk menahan suhu yang sangat tinggi.

Mayoritas nikel yang ditambang saat ini sekitar 60 persen digunakan untuk membuat baja campuran nikel (baja nikel) seperti baja tahan karat, kuat dan tahan korosi. Nikel sering dicampur dengan besi dan logam lain untuk membuat magnet yang kuat yang dikenal sebagai magnet Alnico, merupakan bahan campuran dari aluminium, nikel, kobalt, dan besi. Campuran nikel lainnya digunakan pada poros baling-baling kapal dan sudu turbin gas, kubah, suku cadang mesin, pipa yang digunakan di pabrik desalinasi merupakan campuran nikel dengan tembaga , sering juga digunakan untuk pelapis produk kran air sehingga memberikan efek yang kilap /kemilau.

Selain Itu nikel juga digunakan untuk bahan utama baterai, uang koin, senar gitar, dan pelat baja. Sebagai contoh banyak baterai berbasis nikel dapat diisi ulang seperti baterai NiCad (nickel cadmium) dan baterai NiMH (nickel-metal hydride) yang digunakan pada kendaraan hibrida. Bahkan dikembangkan sebagai material pembuat chip, pada tahun 1881 nikel murni digunakan untuk koin di Swiss meskipun uang koin di AS pertama kali menggunakan nikel yang dicampur dengan tembaga pada tahun 1857.

Beberapa sifat nikel adalah sebagai logam yang keras namun mudah dibentuk dan ulet serta menjadi konduktor panas dan listrik yang baik. Disamping Itu nikel disebut bivalen yaitu memiliki valensi dua, merupakan logam yang larut perlahan dalam asam encer dengan titik leleh pada temperatur 1.453 ° C dan titik didih 2.913 °C. Nikel memiliki sifat fisik dan kimia yang luar biasa, dapat menjadikan banyak produk yang meningkat valuenya apabila dicampurkan dengan nikel seperti berbagi jenis baterai kendaraan listrik dengan bahan utama dari Nikel termasuk pelapis baling-baling kapal, mesin jet maupun sudu turbin gas bahkan juga sering dijumpai pada ribuan produk lainnya.

Nikel bersama dengan besi juga merupakan elemen umum dalam meteorit sehingga banyak dijumpai namun tidak banyak ditemukan pada tumbuhan, hewan dan air laut. Sehingga banyak ilmuwan meiyakini bahwa deposit besar bijih nikel ini adalah hasil dari tabrakan meteor purba, karena itulah Nikel merupakan logam yang keras dan tahan korosi.

Negara yang merupakan penghasil tambang nikel terbesar antara lain : Indonesia, Filipina, Rusia, Kanada, Brazil, Australia dan Kaledonia Baru dengan cadangan lebih dari 50 % sumber daya nikel global yang saat ini hampir mencapai 300 juta ton dengan deposit terbesar nikel di wilayah Sudbury di Ontario, Kanada .

Cadangan nikel di Kanada diperkirakan berasal dari meteorit raksasa yang jatuh ke bumi ribuan tahun yang lalu, selama ini sebagian besar nikel diperoleh dari mineral pentlandite (NiS · 2FeS), yang konsentrasi ekonomis nikel terjadi di sulfida dan di deposit bijih tipe laterit. Produsen nikel terbesar sàat ini adalah Rusia sedangkan Cina memimpin dalam hal penggunaan karena hampir 60 persen konsumsinya dikaitkan dengan produksi baja tahan karat.

Konsumsi nikel terbesar beberapa tahun ini adalah untuk campuran baja, baterai dan uang koin.

Seiring dengan penemuan batarai lithium ion oleh tiga ilmuwan kimia yaitu John B. Goodenough, M. Stanley Whittingham dan Akira Yoshino peraih nobel tahun 2019 menjadikan nikel sebagai logam yang paling banyak untuk digunakan dalam Industri baterai terutama untuk baterai kendaraan listrik, baterai surya, gadget, laptop, tablet dan banyak perkakas portable yang membutuhkan baterai sebagai penggerak motor listrik .

Tentunya ini akan mendongkrak konsumsi nikel global apalagi kendaraan listrik dan baterai surya menjadi backbone menurunkan emisi gas karbon dioksida (efek rumah kaca). Banyak mata pengusaha dan penguasa negara berusaha mengamankan cadangan nikel yang dimiliki agar dapat di ekplorasi untuk kemajuan negara sehingga membawa kemakmuran bagi rakyatnya,seperti Indonesia dengan menyiapkan Industri Baterai Nasional yang diinisiai oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara melalui Indonesia Battery Corporation yang merupakan konsorsium dari PT Pertamina (Persero) , PT PLN (Persero) , PT Inalum dan PT Aneka Tambang.

*) Dwi Suryo Abdullah adalah Pemerhati Kelistrikan

Sumber: ruangenergi.com