Bahlil Sebut Industrialisasi Dilakukan Sesuai Potensi SDA

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menuturkan pemerintah akan mengembangkan industri sesuai dengan potensi sumber daya alam (SDA). Selanjutnya potensi itu dilakukan hilirisasi industri sehingga memiliki nilai tambah.

“Kita tahu sekarang Indonesia hanya dikenal oleh sebagian besar dunia karena pariwisata di Bali. Indonesia tidak pernah dikenal oleh produk-produk yang memberikan kontribusi ke dunia,” ucap Bahlil dalam Investor Daily Summit pada Kamis (15/7/2021).

Salah satu contoh implementasi transformasi ekonomi untuk hilirisasi dan nilai tambah adalah pengembangan nikel. Guna mendorong energi baru dan terbarukan (EBT), banyak negara mewajibkan penggunaan mobil listrik. Sementara 40% komponen mobil listrik adalah baterai dengan bahan baku nikel, kobalt, mangaan, dan lithium.

“Cadangan nikel dunia 24% ada di Indonesia. Kita punya kobalt, mangan, dan nikel. Sekarang kita lagi mendorong untuk membangun di industri tersebut,” kata Bahlil.

Dia mengatakan perusahaan asal Korea LG sudah melakukan kerja sama dengan pemerintah Indonesia dengan investas sebesar US$ 9,8 miliar. Sementara perusahaan Tiongkok, Contemporary Amperex Technology (CATL) akan bekerja sama dengan BUMN dengan nilai investasi US$ 5,2 miliar. LG diperkirakan akan melakukan groundbreaking pada Agustus 2021 ini. Begitu juga dengan CATL yang diperkirakan groundbreaking di Indonesia.

“Kalau ini terjadi, Indonesia akan jadi salah satu produsen terbesar baterai mobil,” ucap mantan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) ini.

Bahlil menuturkan meski saat ini masih pandemi, seluruh pihak harus tetap optimistis meningkatkan investasi. Sebab investasi akan menciptakan lapangan kerja yang berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dia juga menekankan agar setiap investasi yang masuk ke Indonesia berkolaborasi dengan pengusaha daerah dan UMKM. Hal tersebut sejalan dengan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

“Sudah saatnya investasi untuk seluruh orang, tidak boleh hanya untuk segelintir orang. Sudah saatnya pertumbuhan ekonomi dirasakan oleh semua orang. Investasi Indonesia harus berbentuk investasi inklusif,” tandas Bahlil.

Sumber: beritasatu.com