

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Industri pertambangan Indonesia memasuki fase transformasi yang menuntut bukan hanya peningkatan produktivitas dan adopsi teknologi, tetapi juga kemampuan menghadapi risiko bencana, perubahan iklim, dan ketidakpastian ekonomi. Pesan itu mengemuka dalam pembukaan rangkaian Mining Indonesia 2026 yang menjadi bagian dari Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026, di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Rangkaian IEE Series 2026 resmi dibuka pada 9 September 2026 dan berlangsung hingga 12 September. Selain Mining Indonesia 2026, ajang ini mencakup Construction Indonesia, Concrete Show South East Asia Indonesia, Oil & Gas Indonesia, Water Indonesia, GIFA & METEC Indonesia, serta Asia Disaster Management and Civil Protection Expo & Conference (Adexco) 2026.

Pembukaan tersebut berlangsung bersamaan dengan The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR). Forum ini membawa pesan bahwa keberlanjutan pembangunan dan transformasi industri perlu ditopang oleh resiliensi yang terintegrasi, termasuk dalam menghadapi risiko bencana dan perubahan iklim.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Febrian Alphyanto Ruddyard, mengatakan, tantangan pembangunan saat ini tidak lagi berdiri sendiri. Perubahan iklim, risiko bencana, degradasi lingkungan, kerentanan ekonomi, dan pembangunan saling berkaitan. Persoalannya bukan lagi sekadar menambah kebijakan atau membangun institusi baru, melainkan memastikan seluruh elemen tersebut dapat bekerja secara terpadu.

“Tantangannya adalah bagaimana membuat semuanya bekerja secara bersama-sama. Dan, ini membutuhkan pergeseran mendasar dalam cara kita memandang resiliensi,” ujarnya saat membuka The 3rd GFSR, Adexco 2026 dan IEE Series Engineering Week 2026, di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Dia menegaskan, resiliensi tidak boleh dipandang sebagai agenda tambahan dalam pembangunan. Sebaliknya, ketangguhan harus menjadi bagian dari kualitas pembangunan itu sendiri.

“Kita harus mengubah cara kita merencanakan, berinvestasi, membangun, dan mengukur kemajuan,” katanya.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi sektor industri, termasuk pertambangan, yang menghadapi kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan operasi sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai risiko. Penguatan teknologi, infrastruktur, pembiayaan, dan tata kelola menjadi bagian dari upaya membangun industri yang lebih tangguh.
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, mengatakan, terdapat tiga prioritas yang menjadi pembahasan utama GFSR Ke-3, yakni integrasi arsitektur, penyelarasan modal, dan perwujudan resiliensi berkelanjutan. (Shiddiq)













































