Beranda Nikel Kepemimpinan Berkelanjutan Dinilai Penting Jaga Rantai Pasok Industri Nikel

Kepemimpinan Berkelanjutan Dinilai Penting Jaga Rantai Pasok Industri Nikel

78
0
Ketua Umum FINI, Arif Perdana Kusumah (Foto: MNI/Tubagus)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Kepemimpinan yang kuat dan berwawasan keberlanjutan dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan rantai pasok industri nikel, khususnya dalam memastikan praktik ketenagakerjaan yang etis, adil, dan aman.

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, mengatakan, sektor mineral kritis, termasuk nikel, memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mendukung agenda transisi energi di tingkat nasional maupun global. Namun, keberlanjutan rantai pasok tidak semata-mata ditentukan oleh kapasitas produksi maupun nilai investasi.

“Keberlanjutan rantai pasok atau supply chain ini tidak hanya diukur dari misalnya kapasitas produksi atau nilai investasi semata, melainkan juga dari praktik ketenagakerjaan yang etis, adil, aman, dan patut terhadap regulasi,” kata Arif dalam webinar APNI, di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Aspek kepemimpinan, menurut dia, menjadi semakin penting untuk memastikan keberlanjutan industri berjalan secara menyeluruh, termasuk dalam hubungan antara perusahaan dan pekerja.

“Di sinilah peran kepemimpinan atau leadership yang nanti akan kita banyak ulas pada sore hari ini menjadi krusial,” ujarnya.

Kepemimpinan yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dinilai dapat mendorong terciptanya hubungan industrial yang harmonis. Selain itu, kepemimpinan tersebut juga berperan dalam mencegah terjadinya perselisihan serta memastikan hak dan kesejahteraan pekerja terlindungi di sepanjang rantai pasok.

“Kepemimpinan yang kuat dan berwawasan keberlanjutan akan menjadi penggerak utama dalam membangun hubungan industri yang harmonis, mencegah perselisihan, serta memastikan perlindungan dan kesejahteraan para pekerja di seluruh rantai pasok, khususnya industri nikel,” jelasnya.

Karenanya, ia menyampaikan, penguatan praktik ketenagakerjaan dinilai perlu dilakukan melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan di dalam rantai pasok mineral Indonesia. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan praktik-praktik baik yang dapat diterapkan di lapangan.

“Kami berharap bahwa sesi ini dapat memberikan wawasan baru, menginspirasi praktik-praktik baik di lapangan, serta menjadi wadah kolaborasi yang solid antara stakeholder di rantai pasok mineral Indonesia,” pungkasnya.

Pengembangan industri nikel dengan adanya pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan investasi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan ketenagakerjaan sebagai bagian integral dari pembangunan rantai pasok mineral yang berkelanjutan. (Fi Yun)