

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong pengembangan smart grid dan energy storage untuk mengantisipasi perubahan sistem kelistrikan nasional seiring meningkatnya penggunaan energi terbarukan.
Direktur Teknik dan Lingkungan (Dirtekling) Direktorat Jenderal (Ditjen) Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, Ery Nurcahyanto, mengatakan, penambahan pembangkit saja tidak cukup untuk menghadapi perubahan karakter sistem kelistrikan. Aset yang sudah ada juga harus mampu dipantau dan dikendalikan secara real time.
“Memodernisasi sistem seperti ini tidak cukup dengan membangun aset baru, tetapi memonitor dan mengendalikan aset yang sudah ada secara real time,” ujar Ery dalam rangkaian Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series–Energy Week 2026, yang diselenggaran PT Pamerindo Indonesia, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (2/9/2026).


Menurut dia, sistem kelistrikan Indonesia ke depan akan semakin banyak mengandalkan sumber energi yang pasokannya bersifat intermiten. Kondisi tersebut membutuhkan jaringan yang lebih fleksibel sekaligus mampu merespons perubahan pasokan dan permintaan listrik secara cepat.
Ia menyebut, kapasitas pembangkit nasional diproyeksikan meningkat dari sekitar 160 gigawatt (GW) menjadi 431 GW pada 2060. Tambahan kapasitas tersebut akan didominasi energi terbarukan dan membutuhkan dukungan penyimpanan energi.
“Yang berubah bukan hanya besarannya saja, melainkan karakter sistem bergeser dari pasokan yang sepenuhnya dapat diatur menuju sistem yang sebagian besar pasokannya berasal dari energi terbarukan,” katanya.


Dirtekling itu mengatakan, pemerintah melihat tiga komponen penting dalam modernisasi sistem ketenagalistrikan, yakni penguatan jaringan, smart grid, dan energy storage. Ketiganya dinilai saling melengkapi untuk menjaga keandalan sistem.
“Energy storage memindahkan energi dan menjaga kualitas daya, sementara smart grid adalah lapisan kecerdasan yang membuat keduanya bekerja secara bersama,” jelasnya.
Selain kesiapan teknologi, ESDM juga menyoroti pentingnya interoperabilitas perangkat dari berbagai produsen. Pemerintah membuka ruang kolaborasi dengan badan usaha, lembaga riset, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mempercepat penerapan teknologi tersebut.
“Ke depan ada beberapa hal yang menjadi perhatian kami, di antaranya interoperabilitas antarperangkat dari berbagai pabrikan,” ujarnya.
Pengembangan smart grid dan energy storage diharapkan menjadi bagian penting dari transformasi sistem ketenagalistrikan nasional agar mampu mengakomodasi peningkatan energi terbarukan tanpa mengorbankan keandalan dan kualitas pasokan listrik. (Shiddiq)









































