Beranda Berita Nasional Harita Nickel: Kepastian Regulasi Jadi Kunci Daya Saing Industri Nikel Indonesia

Harita Nickel: Kepastian Regulasi Jadi Kunci Daya Saing Industri Nikel Indonesia

VP ESG Transformation of Harita Nickel, Zahedi Zakaria (kanan) (Foto: MNI/Fi Yun)
Oleh Admin
Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah ESG-forum-2026-1024x341.jpeg

NNIKEL.CO.ID, JAKARTA — Kepastian regulasi menjadi faktor paling krusial bagi keberlanjutan dan daya saing industri nikel nasional di tengah berbagai tekanan yang dihadapi sektor pertambangan dan hilirisasi saat ini. Mulai dari perubahan kebijakan, kenaikan biaya produksi, hingga dinamika pasar global dinilai berpengaruh langsung terhadap iklim investasi dan kinerja perusahaan.

Hal itu disampaikan VP ESG Transformation of Harita Nickel, Zahedi Zakaria, dalam APNI Talk Show Series 2026, dalam rangkaian EV & Charging Indonesia 2026 yang digelar di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

“Kalau kita lihat secara makro, memang yang paling penting itu adalah kepastian regulasi tentunya,” kata Zahedi saat menanggapi pertanyaan mengenai tekanan yang dihadapi industri nikel dan dampaknya terhadap kinerja perusahaan maupun pasar modal.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi industri saat ini tidak hanya berasal dari fluktuasi harga komoditas global, tetapi juga berbagai kebijakan baru yang tengah dibahas pemerintah. Karena itu, pelaku usaha membutuhkan kepastian arah kebijakan agar dapat menyusun strategi bisnis dan investasi secara lebih terukur.

Dia mengungkapkan, Harita Nickel masih mengkaji sejumlah kebijakan yang berpotensi memengaruhi industri karena sebagian besar masih dalam tahap pembahasan.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference
Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah ICM-2026-Baru-update-1024x341.jpeg

“Terkait berbagai kebijakan baru yang sedang berkembang, kami masih melakukan kajian karena informasinya masih sangat baru. Jadi kami masih mempelajari dampaknya dan membutuhkan banyak masukan dari berbagai pihak mengenai langkah terbaik yang harus diambil,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tantangan tersebut tidak hanya dirasakan Harita Nickel, melainkan seluruh pelaku industri pertambangan dan pengolahan nikel di Indonesia.

“Kami tidak hanya berdiskusi secara internal, tetapi juga melalui asosiasi. Artinya, yang dirasakan Harita saat ini bukan hanya dirasakan oleh Harita, tetapi juga oleh seluruh pelaku industri,” katanya.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Di tengah berbagai tekanan tersebut, Harita Nickel mengandalkan integrasi vertikal yang telah dibangun sebagai salah satu strategi mempertahankan daya saing. Perusahaan tidak hanya memiliki akses terhadap bahan baku, tetapi juga mengembangkan kemandirian energi untuk meningkatkan efisiensi operasional.

“Keunggulan Harita adalah memiliki integrasi vertikal dalam operasinya. Kami tidak hanya mengamankan pasokan bahan baku, tetapi juga kebutuhan energi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perusahaan telah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 40 megawatt (MW) melalui pemasangan panel surya atap. Selain itu, Harita juga memanfaatkan panas buangan dari fasilitas pabrik asam (acid plant) untuk menghasilkan listrik hingga 50 MW.

“Ini merupakan salah satu upaya yang kami lakukan untuk mencapai efisiensi yang lebih baik, mengoptimalkan penggunaan energi, serta mengurangi konsumsi bahan bakar,” katanya.

Selain aspek operasional, Harita juga terus memperkuat penerapan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG) guna memenuhi tuntutan pasar global, khususnya Eropa.

Dia mengatakan, perusahaan saat ini tengah menjalani proses penilaian melalui Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA) serta berpartisipasi dalam penyusunan standar ESG Indonesia yang diinisiasi oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI).

“Dari sisi traceability, kami juga telah menjalani audit untuk memastikan material yang diproduksi berasal dari sumber yang jelas dan dapat ditelusuri. Ini merupakan bagian dari upaya perbaikan berkelanjutan yang kami lakukan,” ujarnya.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, ia tetap optimistis prospek hilirisasi nikel Indonesia masih sangat besar. Indonesia saat ini menguasai sekitar 42 persen cadangan nikel dunia dan memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global.

Namun, ia menilai keberhasilan hilirisasi tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya, melainkan juga pada dukungan kebijakan yang konsisten dan memberikan kepastian bagi investor maupun pelaku industri.

“Kita berharap ke depan ada kepastian yang lebih baik sehingga industri dapat terus tumbuh dan tetap kompetitif,” pungkasnya. (Shiddiq)

Artikel ini berguna?

Perkembangan cerita ini

Topik regulasi →

  1. Bappebti Siapkan Transisi Pengawasan Pasar Komoditas Strategis ke OJK
  2. Kementerian PPN/Bappenas Dorong Pengelolaan Limbah Nikel hingga Hilir
  3. Regulasi Ketenagakerjaan Perlu Seimbang, Lindungi Pekerja dan Jaga Daya Saing
  4. HPM Nikel Berubah Lagi: Limonit Mendapat Ruang Bernapas
  5. ESI Tawarkan Tiga Solusi Atasi Ancaman Ratusan Juta Ton Limbah Smelter Nikel
  6. Harita Nickel: Kepastian Regulasi Jadi Kunci Daya Saing Industri Nikel Indonesia sedang Anda baca

Agenda industri terdekat

Semua agenda →