Beranda Berita Nasional APNI Prediksi Harga Nikel Akan Terus Turun Dua-Tiga Tahun ke Depan

APNI Prediksi Harga Nikel Akan Terus Turun Dua-Tiga Tahun ke Depan

2464
0
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Sekretaris Umum (Sekum) Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, memperkirakan harga nikel akan terus menurun di kisaran US$15.000-US$12.000 per ton dalam dua hingga tiga tahun mendatang.

Hal ini disampaikannya dalam acara Live Streaming KompasTV pada Rabu (24/1/2024) lalu yang memprediksi penurunan harga nikel akan terus berlanjut beberapa tahun ke depan. 

“Kalau menurut data kami, bukan hanya tahun ini, sampai dua hingga tiga tahun ke depan harga nikel juga akan terus turun. Bahkan prediksi kami akan bisa tembus di angka US$15.000 per ton, yang terparah bisa menembus di angka US$12.000 per ton. Mudah-mudahan tidak terjadi,” kata Meidy. 

Menurutnya, perkiraan itu berdasarkan penurunan harga nikel yang terus terjadi sampai sekarang. Dari data London Metal Exchange (LME) harga nikel berada pada US$16.070 per ton yang berarti nilai harga nikel sangat drastis penurunannya terhitung sejak April 2023.

“Salah satu faktor penentu dari harga itu adanya oversupply. Oversupply ini, Indonesia sangat amat menyumbang peranan, kalau kita bilang jorjoran,” ujarnya. 

“Jorjoran pembangunan processing nikel, yaitu hilirisasi nikel. Begitu banyaknya pabrik pengolahan di Indonesia, sehingga oversupply, dan demand-nya kurang saat ini. Kita lihat produk nikel semua ini di kirim ke China. Kita tahu bersamaan dengan ekonomi China yang sedang menurun juga, seperti menurunnya harga nikel,” sambungnya. 

Dia juga memaparkan, saat ini, produk nikel Indonesia seperti nikel pig iron (NPI), feronikel sangat dominan menguasai pasar untuk pabrik stainless steel. Stainless steel ini sangat penting bagi kebutuhan di negara China. 

Lebih lanjut, ia menjelaskan, terkait pabrik pengolahan hidrometalurgi penghasil Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yaitu campuran padatan hidroksida dari nikel dan kobalt sebagai bahan baku baterai, yaitu baterai katoda.

“Saat ini di Indonesia kita sudah punya empat pabrik (MHP),” jelasnya. 

Meidy membeberkan, mengenai penurunan harga nikel dilihat dari demand untuk baterai nickel mangan cobalt (NMC) saat ini belum ada. Sebenarnya faktor demand untuk baterai NMC adalah penentu keseimbangan antara supply and demand. Ini ditambah dengan pelemahan ekonomi China seperti turunnya harga nikel. 

Faktor hilirisasi sudah berhasil selama ini, dan oversupply Indonesia bukanlah hal yang mengkhawatirkan bagi para penambang melainkan kekurangan cadangan bahan baku nikel yang menjadi kekhawatirannya. 

“Kami takut cadangan nikel kita ini akan berkurang jika pabrik-pabrik pengolahan nikel ini jorjoran. Kami berharap pemerintah segera mengatur balancing di lokal dulu, diperdagangan di lokal dulu. dari raw material bijih nikel, ke pengolahan pabrik nikel itu sendiri,” bebernya.

Menurut dia, penyelesaiannya adalah mengenai aturan kebutuhan yang dibutuhkan seberapa besar, dan dihitung seberapa banyak cadangan bahan baku bijih nikel yang tersisa saat ini. Kemudahan perlu berapa banyak target pembangunan pabrik pengolahannya.

“Jadi jangan jorjoran, takut cadangan tidak cukup, terus ujung-ujungnya juga takut malah merusak harga market Internasional,” ujarnya. 

Ia membenarkan, jika terlalu banyak pabrik pengolahan nikel sedangkan cadangan nikel tidak memadai lagi maka tentu pabrik-pabrik pengolahan tidak lagi berfungsi.

“Betul banget. Jadi ini selalu saya bilang, nikel ini tidak beranak. Jadi pasti akan tetap habis. Pengolahan pabrik nikel itu sendiri saat ini di Indonesia sampai akhir 2023 itu sudah ada 81 pabrik pengolahan nikel,” ungkapnya. 

Dari 81 pabrik ada sebanyak 247 line furnace yang mengkonsumsi bijih nikel mencapai 160-170 metrik ton bijih nikel tahun 2023.

“Pediksi kami, perhitungan kami di tahun 2024 ada kebutuhan sampai 230 juta ton bijih nikel. Kalau di atas 200 juta ton kebutuhan per tahun, pasti habislah. Walaupun kita nomor satu cadangan dunia,” ungkapnya.

Terakhir, Meidy menyampaikan solusi untuk kedepan menghadapi penurunan harga nikel dan penipisan cadangan adalah dengan mendukung pabrik yang sudah ada dan menghentikan pembangunan pabrik baru. 

“Sudah tidak usah lagi pabrik yang sudah berdiri yang sudah eksis saja yang kita support. Kemudian bagaimana kita mengundang pabrik yang betul-betul hilir,” pungkasnya. (Shiddiq)