Beranda Asosiasi Pertambangan APNI Khawatir Banyaknya Pabrik Pengolahan, Cadangan Nikel akan Habis

APNI Khawatir Banyaknya Pabrik Pengolahan, Cadangan Nikel akan Habis

2444
0

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (Sekum APNI), Meidy Katrin Lengkey, mengatakan, kekhawatirannya dengan banyaknya pabrik pengolahan nikel yang berdiri di Indonesia akan membuat cadangan nikel lebih cepat habis jika terus dieksploitasi.

“Dengan adanya hilirisasi, kita cukup bangga. Tadi saya sudah sampaikan, sebenarnya untuk informasi saja, sampai akhir 2023 kita sudah punya 81 pabrik pengolahan. Sangat banyak bahkan masih ada yang sedang dalam kontrusksi. Perhitungan APNI itu hampir 136 pabrik pengolahan nikel,” kata Meidy dalam acara Live Streaming IDTV, Selasa (23/1/2024).

Menurutnya, APNI sangat bangga dengan banyaknya pabrik pengolahan nikel yang berdiri namun dia merasa takut dan khawatir dengan semakin berkurangnya cadangan saat ini. Barang tambang yang setiap harinya dikeruk untuk diperjual belikan lama ke lamaan pasti akan habis.

“Ini yang harus jadi konsen pemerintah dan sebagai pelaku usaha nikel bagaimana kita menjaga cadangan, sehingga sustainability untuk meng-covery nikel ore consumption kepada pabri-pabrik pengolahan domestik di dalam negeri itu betul-betul bisa ter-cover,” ujarnya.

Dia menjelaskan, APNI tahun lalu sudah meminta kepada pemerintah untuk menghentikan izin pembangunan pabrik pengolahan nikel baru. Selain sudah terlalu banyak pabrik yang ada, juga ada dampak negatif terhadap masyarakat di sekitar wilayah pertambangan, belum lagi dampak terhadap lingkungan.

“Dan yang paling penting lagi kalau di compare (bandingkan) dengan neraca perdagangan, total nilai investasi dengan total nilai pendapatan masyarakat sekitar, itu bagaimana? Apakah cukup signifikan? Itu yang paling penting,” jelasnya.

Ia juga menuturkan, hasil dari hilirisasi mengakibatkan berdirinya pabrik-pabrik pengolahan atau smelter nikel sudah mencapai 81 pabrik dan dari 81 pabrik pengolahan bijih nikel itu sudah ada yang menghasilkan produk Nickel Pig Iron (NPI), MHP, Nickel Sulfat hingga sekarang menuju ke produksi baterai katoda.

“Yang pasti kita ingin ada baterai sel atau Electric Vehicle (EV) di Indonesia. Kalau stainless steel kita sudah punya tapi kalau menuju ke pengolahan hidrometalurgi, kita ingin ada baterai sel disini. Baterai sel itu akan menjadi benar-benar baterai bukan hanya dari nikel, nikel itu bukan faktor penentu dalam satu baterai,” tuturnya.

Meidy membeberkan, NMC itu adalah Nickel, Mangan, dan Cobalt yang menjadi sebuah baterai katoda. Namun Indonesia masih membutuhkan bahan baku lithium dan graphite karena sampai saat ini di Indonesia belum memiliki bahan lithium dan graphite tersebut.

“Kita mencoba menjalin kerjasama dengan negara lain penghasil lithium dan graphite, agar konsentrat lithium, graphite itu dikirim ke Indonesia sehingga baterai selnya ada di Indonesia,” bebernya. (Shiddiq)