Beranda Berita Nasional Menteri Airlangga Ungkap Indonesia Bersiap Amankan Rantai Pasok

Menteri Airlangga Ungkap Indonesia Bersiap Amankan Rantai Pasok

453
0
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto. (Foto.dok. Kemenko Perekonomian)

NIKEL.CO.ID, 11 JULI 2023- Melesunya perekonomian di China saat ini mendorong Indonesia untuk mempersiapkan langkah-langkah mengamankan rantai pasok. Negara tirai bambu tersebut kini merupakan mitra dagang utama Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto menjelaskan hal ini terjadi lantaran awal pandemi Covid-19 dua tahun silam. Rantai pasok global yang sangat bergantung pada China langsung terpukul hebat, dan ini juga mengakibatkan kenaikan harga komoditas yang sangat tinggi.

“Yang paling penting adalah critical mineral, termasuk untuk memproduksi baterai berbasis nikel. Ke depan, (critical mineral) tidak hanya untuk mobilitas, tapi juga untuk energi terbarukan yang nantinya akan mengandalkan pada ketersediaan baterai, dan itu akan jadi kekuatan utama Indonesia,” jelas Menko Airlangga, melalui siaran pers, Selasa (11/07/2023).

Oleh karena disrupsi rantai pasok di China, maka negara produsen besar yang mencari negara lain untuk memproduksi critical mineral atau critical parts untuk rantai pasok tersebut.

Misalnya, untuk produksi semikonduktor di mana Indonesia adalah salah satu negara yang dilirik untuk pembangunan pabriknya.

“Ini yang didorong Pemerintah untuk memberikan iklim yang lebih sehat kepada Kawasan Industri, Kawasan Ekonomi Khusus, ataupun Zona Perdagangan Bebas. Ini tentu disiapkan untuk menjadi basis rantai pasok global. Ini untuk menarik rantai pasok yang tadinya ada di China ke Indonesia,” tutur Menko Airlangga.

Menurut Menko Airlangga, Pemerintah mendorong industri nasional semakin terbuka, karena proyeksinya jangka panjang atau lebih dari 10 tahun ke depan.

Indonesia sudah menunjukkan resiliensi dari sektor industri, misalnya industri elektronik dan juga otomotif. Pada tahun lalu, industri otomotif sudah mengekspor kendaraan mendekati 400 ribu unit ke lebih dari 80 negara.

“Tinggal kita bangun satu lagi agar menjadi basis produksi EV. Alhamdulillah, mereka semua (investor) optimis atas investasi yang dibangun di Indonesia. Ini membuktikan bahwa basis produksi di Indonesia adalah cost competitive, karena kita punya biaya energi atau listrik yang efisien, termasuk juga biaya gas, karena itu jadi bagian dari daya saing industri kita (dibandingkan yang lain),” tuturnya. (Lili Handayani)