Beranda Berita Nasional Founder NBRI: Jadi Produsen Baterai EV Dunia, Indonesia Harus Kuasai Teknologi

Founder NBRI: Jadi Produsen Baterai EV Dunia, Indonesia Harus Kuasai Teknologi

1454
0
Prof Evvy Kartini saat wawancara dok. MNI/nikel.co.id

NIKEL.CO.ID, 16 Desember 2022 – Founder National Battery Research Institute (NBRI) Prof. Dr. Evvy Kartini menegaskan untuk menjadi produsen baterai electric vehicle tingkat dunia, hal yang terpenting untuk Indonesia adalah penguasaan teknologi. Katanya, percuma bila hanya memiliki sumber daya nikel terbesar di dunia tanpa memiliki teknologi untuk mengolahnya. 

Hal itu ditegaskan oleh Prof. Evvy Kartini dalam wawancara nikel.co.id di sela-sela kegiatan Training of Trainer yang diadakan oleh NBRI bekerjasama dengan Asosiasi Penambang Indonesia (APNI) di ruang Penataran Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Kamis (15/12) kemarin. 

“Untuk jadi produsen itu kita harus menguasai teknologinya. Walaupun kita bilang di perut Indonesia ada tambang, berbagai macam, ada nikel, segala macam, tapi kalau kita tidak bisa mengolahnya menjadi yang added value percuma,” kata Prof. Evvy. 

Menurutnya, yang diperlukan Indonesia adalah teknologi untuk digunakan dalam proses penambangan, pemurnian dari komoditi nikel sehingga memiliki nilai tambah. Seperti komoditi nikel berupa saprolit dengan kategori kelas satu yang dibutuhkan industri stainless steel.

Namun untuk kandungan nikel limonit Indonesia belum menguasai teknologinya. Teknologi itu diperlukan untuk memproses limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Dari MHP kemudian diproses menjadi nikel sulfat sebagai salah satu komponen prekursor baterai listrik.

“Tapi, kalau yang limonit itu kan belum, bagaimana memproses limonit sehingga dia menjadi the next MHP. MHP diproses, artinya ada teknologi fero – hidro itu harus dikuasai,” ujarnya.

Kemudian, dia menjelaskan, setelah MHP itu diproses untuk pemurnian (refinery), lalu diproses menjadi sulfat termasuk mangan dan kobalt diproses juga menjadi sulfat. Sehingga bila semua material yang diperlukan telah dapat dipenuhi, maka semua material itu harus diproses menjadi sulfat.

“Jadi, setelah dapat nanti semuanya dijadikan sulfat, ada the next technology, bagaimana teknologi pembuatan prekursor. Dan NBRI sudah mendalami proses pembuatan prekursor ini,” jelasnya. 

Dalam kaitan itu, Prof. Evvy menuturkan bahwa penguasaan teknologi pengolahan baterai EV dibutuhkan berbagai material dari prekursor diolah menjadi katoda dan dalam proses pembuatan katoda dibutuhkan material lithium hingga menjadi katoda. Selain itu juga harus ada material grafit dan anoda yang sampai sekarang di Indonesia material itu belum ditemukan.

Prof Evvy meyakini bahwa sebenarnya material anoda maupun grafit pasti ada di Indonesia tapi hingga sekarang belum ada yang berupaya untuk mengeksplorasi barang tambang tersebut. Sementara ini untuk lithium itu ada di Australia dan grafit ada di Kongo.

Ia menekankan, harus ada yang konsen untuk menemukan lithium dan grafit termasuk separator di Indonesia sendiri. Sehingga bila semua barang tambang dan material itu dapat ditemukan di Indonesia, maka tidak perlu lagi impor barang tambang tersebut, dan Indonesia menjadi negara yang benar-benar independen dalam memenuhi kebutuhan bahan baku baterai EV.

Selain penguasaan teknologi untuk memproses material yang diperlukan untuk bahan baku baterai EV siap jadi, yang diperlukan adalah manufaktur untuk membuat komponen dan material baterai sebagai manufaktur baterai.

“Kita bersyukur di Indonesia sudah ada pabrik baterai ABC, walaupun kapasitasnya belum besar, harus kita dukung. Cuma bagaimana si supplier ini mendukung nanti supply chain-nya di manufactur yang ada di Indonesia. Jadi punya pabrik baterai materialnya dari Indonesia,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Evvy menuturkan, setelah mampu menguasai teknologi maupun rantai pasok baterai EV, maka yang diperlukan adalah mengaplikasikan baterai itu ke teknologi EV dan energy storage dan perangkat lainnya. Sekarang ini seperti kapal laut, kapal selam, drone, tank, forklift, dan pesawat, semua sudah menggunakan baterai EV.

Dalam kebijakan energi transisi kendaraan-kendaran berbahan bakar fosil diubah menjadi berbahan bakar listrik maupun ramah lingkungan.

“Jadi sebenarnya banyak sekali penggunaanya, nanti bagaimana kita meng-assembly baterai tersebut untuk alat-alat yang dibutuhkan. Tapi tentu saja kalau ditingkat akhirnya testing, karena standardisasi ini penting,” tuturnya.

Terakhir, dia memaparkan bahwa selain teknologi yang terpenting adalah manusia. Oleh sebab itu, alih fungsi teknologi memerlukan peningkatan kualitas manusianya untuk menguasai teknologi dengan baik, benar dan tepat.

“Untuk itu memang tidak ada sekolah baterai, tidak ada sekolah nikel, itu ngga ada yang tiba-tiba lulus dari kuliah jadi ahli nikel, metalurgi. Karena masih umum. Makanya harus spesifik, kita harus melakukan pelatihan,” paparnya.

Prof. Evvy menjelaskan, dalam rangka peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), NBRI bekerjasama dengan APNI selalu melakukan kegiatan pelatihan guna meningkatkan kualitas pengetahuan dan teknologi pada generasi penerus anak bangsa.

“Pelatihan itu yang pernah kita lakukan di industri. Jadi mindsetnya diubah, dan hari ini kita melakukan training of trainer, NBRI bekerjasama dengan APNI supaya nanti dari ujung ke ujungnya kelihatan. Tadi saya lihat juga sudah mulai banyak pertanyaan dari peserta, mereka aware atau senang dari pembahasan yang disampaikan para pemateri,” kata Prof. Evvy. (Shiddiq/Varrel)

Artikulli paraprakCOO PT Angkasa-X Jelaskan Fungsi Satelit LEO di Industri Pertambangan
Artikulli tjetërKetum Aspebindo, Anggawira: Banyak Pengusaha Aspebindo Diversifikasi Bisnis ke Mineral