Freeport Nyatakan Belum Putus Kerja Sama Tsingshan untuk Bangun Smelter di Maluku

Freeport menegaskan diskusi dengan Tsingshan terkait proyek smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera hingga saat ini masih berlangsung.

NIKEL.CO.ID –  Freeport Indonesia (Freeport) menepis isu batalnya kerja sama dengan Tsingshan Steel dalam pembangunan pabrik pemurnian atau smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

Kabar batalnya kerjasama Freeport dengan Tsingshan disebutkan karena berdasarkan hasil kajian, proyek smelter di Halmahera tidak lebih baik dibandingkan dengan proyek smelter di kawasan industri terintegrasi di JIIPE, Gresik, Jawa Timur, yang sudah berlangsung.

Juru bicara Freeport Indonesia Riza Pratama menegaskan bahwa diskusi kemitraan kedua belah pihak terkait proyek smelter di Halmahera hingga kini masih terus berlangsung.

Meski demikian, Riza tak membeberkan secara rinci sejauh apa diskusi telah berkembang.

“Belum diputuskan, masih dibicarakan,” kata dia kepada Katadata.co.id, Selasa (4/5/2021).

Juru Bicara Menko bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Jodi Mahardi juga turut membantah kabar tersebut. Menurut dia proses diskusi antara MIND ID, PTFI dan Tsingshan masih berlangsung. Namun ia juga tak membeberkan perkembangan dari rencana kerja sama tersebut.

“Coba klarifikasi ke Dirjen Minerba,” ujarnya.

Katadata.co.id, pun mencoba meminta konfirmasi kepada Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin. Namun, hingga berita ini terbit, yang bersangkutan enggan merespon.

Sementara, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Sugeng Mujiyanto tak ingin berkomentar lebih jauh mengenai polemik tersebut. Dia hanya menegaskan, jika smelter yang dibangun Freeport harus dapat selesai pada 2023.

“Itu kan business to business tolong ditanya ke para pihak,” kata Sugeng.

Freeport memiliki izin usaha pertambangan khusus (IUPK) sejak 2018 dengan durasi 2 x 10 tahun. Kendati demikian, ada kesepakatan dimana Freeport diberikan waktu 5 tahun sejak pemberian IUPK untuk menyelesaikan proyek smelter jika tidak akan menerima sanksi sampai berupa pencabutan IUPK.

Freeport saat ini memiliki dua opsi lokasi. Awalnya berada di Gresik, Jawa Timur. Namun, kini pemerintah juga membuka peluang membangunnya di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

Direktur Center for Indonesian Resources Strategic Studies (Cirrus) Budi Santoso sebelumnya menilai perkembangan pembangunan smelter Freeport di Gresik akan tertunda dengan berlarutnya keputusan kerja sama Freeport dengan Tsingshan. Apalagi pembangunan proyek smelter Freeport sebelumnya selalu menemui kendala.

“Kenapa kok terjadi hambatan kalau memang niat kerja sama? Apakah ada hambatan karena ada kepentingan pemerintah Amerika,” ujar Budi.

Menurut dia jika memang Freeport bersungguh-sungguh dan berkomitmen dalam pembangunan smelter, seharusnya tidak ada yang rumit. Kecuali jika perusahaan asal Amerika Serikat (AS) tersebut tidak berniat membangun dan mempunyai kepentingan lain dibaliknya.

Sumber: katadata.co.id

Read More

Freeport Batal Kerjasama Bangun Smelter Dengan Tsingshan

NIKEL.CO.ID – Rencana PT Freeport Indonesia dan perusahaan asal China, Tsingshan Group untuk membangun smelter tembaga baru di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, ternyata berakhir tidak seperti yang digadang-gadangkan sebelumnya.

PT Freeport Indonesia dikabarkan batal melanjutkan rencana kerja sama dengan Tsingshan terkait pembangunan smelter baru di Weda Bay ini.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin.

Dia mengatakan, batalnya rencana Freeport untuk kerja sama dengan Tsingshan ini dikarenakan setelah dikaji, pembangunan smelter di Weda Bay ini tidak lebih baik daripada rencana pembangunan di kawasan industri terintegrasi di JIIPE, Gresik, Jawa Timur, yang kini memang tengah diproses Freeport.

“Tidak jadi,” ungkap Ridwan kepada CNBC Indonesia saat ditanyakan apakah Freeport jadi join dengan Tsingshan di smelter Weda Bay.

Saat ditanya apa yang jadi pertimbangan batalnya rencana tersebut, dia pun menjawab.

“Tidak lebih baik daripada rencana pembangunan di JIIPE,” ungkapnya, Jumat (30/04/2021).

Sebelumnya, rencana kerja sama Freeport dan Tsingshan ini digadang-gadang oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Pada bulan lalu, Luhut bahkan sempat mengatakan bahwa Freeport dan Tsingshan akan melakukan penandatanganan perjanjian untuk pembangunan smelter tembaga baru di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara pada 31 Maret 2021. Luhut menyebut, ini akan menjadi suatu proses peningkatan nilai tambah buat Indonesia.

“Mudah-mudahan tanggal minggu depan kita akan tanda tangan pembangunan smelter di Weda Bay antara Freeport dengan Tsingshan,” tuturnya dalam “Mining Forum: Prospek Industri Minerba 2021 CNBC Indonesia”, Rabu (24/03/2021).

Secara rinci, berdasarkan data yang dipaparkan Luhut, penandatanganan perjanjian kerja sama dijadwalkan akan dilakukan pada 31 Maret 2021. Lalu, pada 1 April 2021 Freeport dan pemerintah Indonesia akan menyepakati revisi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) mengenai ekspor konsentrat dan persyaratan pembangunan smelter.

Smelter baru bersama Tsingshan ini disebutkan akan mengolah sekitar 2,4 juta ton konsentrat tembaga menjadi sekitar 600 ribu ton katoda tembaga.

Dalam proyek baru ini, Freeport disebutkan cukup berinvestasi sebesar 7,5% dari total nilai proyek sekitar US$ 2,5 miliar dan selebihnya ditanggung oleh perusahaan China tersebut.

Saat ini Freeport juga tengah membangun smelter tembaga baru di JIIPE Gresik dengan kapasitas olahan sekitar 2 juta ton konsentrat tembaga. Namun per Januari 2021 realisasinya baru sekitar 5,86% dari target seharusnya 10,5%. Adapun biaya yang telah dikeluarkan baru sebesar US$ 159,92 juta.

Sesuai aturan pemerintah dan komitmen awal, Freeport seharusnya menuntaskan proyek ini pada 2023. Namun karena adanya pandemi Covid-19, Freeport mengatakan bahwa proyek smelter akan mengalami keterlambatan selama satu tahun menjadi 2024.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

IWIP Nilai Indonesia Berperan Penting dalam Produksi Nikel Dunia

NIKEL.CO.ID – Direktur External Relations PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) Scott Ye mengungkapkan, Indonesia memiliki peran penting terkait ketersediaan dan produksi nikel dunia.

Hal tersebut disampaikan Scott dalam diskusi virtual bertajuk “Indonesia’s Nickel Boom and Plans to be an EV Battery Hub” yang digelar oleh The Jakarta Foreign Correspondents Club (JFCC), sebuah asosiasi wartawan asing di Indonesia.

Adapun diskusi yang dilaksanakan melalui Zoom Meeting tersebut dipandu langsung oleh Presiden JFCC Ed Davies pada Rabu (31/3/2021).

Menjadi salah seorang pembicara dalam acara tersebut, Scott Ye memaparkan sejarah penggunaan nikel di dunia yang dimulai dari Ancient Egyptian Pharaoh Tutankhamun untuk pisau, kemudian pembuatan koin, perkakas stainless steel, hingga tesla untuk kendaraan listrik.

“European United akan berhenti menggunakan kendaraan berbahan bakar energi fosil mulai tahun 2030. Sementara China menargetkan 25 persen kendaraan listrik (EV) di tahun 2025 untuk mengurangi emisi dan polusi,” paparnya.

Menurutnya, untuk membuat kualitas EV lebih baik, diperlukan kualitas baterai yang lebih baik pula. Sementara itu, kualitas baterai yang lebih baik membutuhkan komponen nikel yang lebih banyak.

Dalam materi diskusinya, ia menyebutkan bahwa Indonesia memiliki cadangan nikel sebesar 21 juta ton. Jumlah ini setara dengan 24 persen sumber nikel dunia. Bahkan, pada 2018, Indonesia berhasil memproduksi 560.000 ton nikel.

“Dahulu pada 1960-an, produksi nikel Indonesia masih terbatas, karena hanya ada dua pihak utama yang mengelola nikel, yaitu Antam dan Vale,” tutur Scott.

Namun pada 2014, Indonesia mulai meningkatkan produksi nikel. Penjualan nikel mentah menurun, sementara penjualan produk nikel terus meningkat pesat.

Sampai tahun 2019, ekspor produk nikel sudah naik enam kali lipat. Jika semula hanya mampu mengekspor 110 kiloton (kt), kini Indonesia mampu mengekspor lebih dari 600 kt.

“Saya percaya tahun ini produksinya bisa mencapai sekitar 900 kt nikel metal. Tahun depan, mungkin bisa mencapai 1.100 kt,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Scott Ye juga memaparkan pengembangan kompleks industri nikel di Indonesia yang berpusat di Pulau Sulawesi dan sekitarnya, termasuk Maluku Utara.

Beberapa kompleks industri yang disebutkan, antara lain Soroako-Pomala Belt, Konawe Belt, Morowali Belt hingga Halmahera Belt.

Scott mengatakan, saat ini IWIP yang berlokasi di Maluku Utara tersebut telah memiliki 20 lini dari total kapasitas 24 lini produksi.

“Data yang tertera dalam dokumen presentasi saya masih tertera 19 lini produksi, tapi kemarin kami baru saja menambah satu lini produksi, sehingga saat ini kami mempunyai 20 lini produksi,” terangnya.

Sementara itu, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Chrisnawan Anditya menyampaikan target pemerintah terkait produksi nikel.

“Proyeksi kebutuhan baterai Lithium Ion di Indonesia sebesar 758.693 ton. Total daya baterai yang dibutuhkan sebesar 113.804.000 kilowatt-jam (kWh), untuk 2.195.000 unit mobil listrik dan 13.002.000 unit sepeda motor listrik,” paparnya.

Besaran kebutuhan baterai tersebut, tutur Chrisnawan, merupakan tindak lanjut dari komitmen pemerintah untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan meningkatkan diversifikasi energi di sektor transportasi.

Menanggapi Chrisnawan, Founder Independent Research and Advisory Internasional (IRAI) Lin Che Wei menuturkan, roadmap atau peta jalan yang telah dibuat pemerintah tidaklah cukup.

“Kita harus fokus untuk mengeksekusi rencana kerja dan harus disiplin agar mampu memonitor serta mengejar target,” ucapnya.

Menurut Lin Che Wei, Indonesia harus belajar dari pengembangan energi terbarukan di China. Untuk mengembangkan sektor tersebut, Indonesia harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang memadai.

“Cukup ironis, Indonesia memiliki banyak sumber daya alam (SDA), tapi perkara teknologi masih menjadi tantangan besar. Keraguan terhadap dampak lingkungan pun menjadi tantangan yang bahkan lebih besar,” katanya.

Sementara itu, Principal Scientist Center for International Forestry Research (CIFOR) Michael Allen Brady mengingatkan para pemegang kepentingan tentang dampak tambang bagi lingkungan. Apalagi, saat ini 72 persen proses tambang tidak menjalankan fungsi reklamasi dengan baik.

“Reklamasi menjadi tantangan nyata ketika kita membuka permukaan bumi. Proses reklamasi itu memungkinkan, tapi biayanya mahal,” tuturnya.

Lebih lanjut, Michael mengklaim bahwa pihaknya mendukung pengembangan energi terbarukan. Untuk itu, ia pun berpesan agar keseluruhan prosesnya dipelajari dan direncanakan secara matang.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Direktur IWIP Nilai Indonesia Berperan Penting dalam Produksi Nikel Dunia

Read More

Manfaatkan Bijih Nikel Kadar Rendah, PT IWIP Siap Produksi Bahan Baku Baterai di 2022

NIKEL.CO.ID – Indonesia Weda Bay Industrial Park (PT IWIP) yang sudah ditetapkan sebagai salah satu (Proyek Strategis Nasional) pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024, saat ini mengoperasikan tiga smelter.

Menggunakan teknologi Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) dalam pembangunan smelter nikel di Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara, PT IWIP siap untuk memulai konstruksi pabrik pengolahan bahan baku baterai pada 2022.

General Manager External Relations PT IWIP, Wahyu Budi mengatakan bahwa pihaknya akan mengelola nikel dengan kadar rendah yang menjadi cikal bakal dari bahan baku prekursor baterai.

“Mudah-mudahan tahun ini atau tahun depan kita sudah bisa memulai konstruksi pabrik pengolahan bahan baku baterai,” ujar Wahyu Budi dalam keterangannya, Selasa (30/3/2021).

Namun demikian menurut Wahyu, hal tersebut tidak akan terlaksana jika pandemi Covid-19 belum membaik di Indonesia. Pasalnya dengan adanya pandemi ini, perusahaan akan sulit untuk merekrut tenaga kerja guna membangun smelter tersebut.

“Jadi kita akan mengelola nikel-nikel kadar rendah ini menjadi bahan baku prekursor baterai. Oleh karena itu, kita berharap mudah-mudahan dengan ekonomi ini membaik, lalu Covid-19 sudah nggak ada, ya mudah-mudahan tahun ini atau tahun depan kita sudah bisa memulai konstruksi pabrik pengolahan bahan baku baterai,” jelasnya.

Seperti diketahui, PT IWIP sendiri dalam melakukan pengembangan industri di kawasan Weda Bay tersebut mayoritas menggunakan teknologi RKEF yang merupakan salah satu teknologi terbaik di bidangnya.

Wahyu menambahkan setelah pembangunan menggunakan RKEF selesai ke depannya perusahaan akan menambahkan unit-unit untuk pembuatan bahan baku terlebih dahulu dibandingkan dengan yang lainya.

“Jadi untuk mencapai baterai ini harus melewati beberapa fase, mungkin 4-5 fase,” paparnya.

Proses RKEF sendiri banyak digunakan untuk menghasilkan feronikel dan nikel-matte. Proses ini diawali dengan pengeringan kandungan moisture hingga 45% melalui proses pretreatment.

Pada proses tersebut, bijih laterit dikeringkan dengan rotary dryer pada temperatur 250 derajat celcius hingga kandungan moisturenya mencapai 15-20%.

“Produk dari rotary dryer selanjutnya masuk ke-tahap kalsinasi (pre-reduksi) menggunakan rotary kiln pada suhu 800-900 derajat celcius,” pungkasnya.

Sumber: BeritaSatu.com

Read More

Sengkarut Hilirisasi Nikel Maluku Utara

Oleh: Almun Madi *)

SEKTOR pertambagan Maluku Utara (Malut), terutama penambangan nikel dan pabrik pemurnianya (smelter) pada beberapa tahun terakhir ini menjadi perbincangan hangat secara nasional, baik para investor maupun kalangan praktisi pertambangan. Betapa tidak, Malut dianggap salah satu daerah pemasok keterpadatan ferronikel yang merupakan elemen terpenting produksi beterai dan produk lainnya di era digitalisasi ini.

Berbagai negara telah mencanangkan armada transportasi ramah lingkungan, dan sebagai alternatifnya adalah penggunaan baterai pada mobil elektrik, di Jakarta saat ini telah kita temukan adanya mobil listik.

Perkembangan dunia saat ini, terutama penggunaan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebagai bahan baku baterai dan elemen-elemen terpenting produk digitalisasi sangat membutuhkan bahan baku nikel dan kobalt yang sebaran dan keterdapatannya melimpah di Malut (Pulau Halmahera dan Obi).

Atas dasar itu, perusahaan-perusahaan raksasa yang berambisi menguasai nikel Malut berlomba menancapkan investasi besar-besaran di Malut dengan dalil hilirisasi.

Saat ini sesuai data dari Kementerian ESDM, semangat hilirisasi nikel di Malut ditandai dengan hadirnya 8 smelter yang ditargetkan beroperasi secara massive pada 2021 ini. Perusahaan dimaksud adalah, PT. Indonesia Wedabay Industri Park (IWIP), PT. Mega Surya Pertiwi (MSP), PT. Wanatiara Persada (WP), PT. Aneka Tambang (ANTAM), PT. Fajar Bakti Lintas Nusantara (FBLN), PT. Tekindo Energi (TE), PT. First Pacific Mining (FPM), dan PT. Halmahera Persada Lygend (HPL).

Tiga dari perusahaan tersebut telah beroperasi, sementara PT. HPL di pulau Obi merupakan satu-satunya smelter yang akan memproduksi nikel kadar rendah (Lowgrade). Sebagian besar industri smelter raksasa seperti yang terdapat di pulau Obi dan Halmahera Tengah adalah hasil kerja sama dengan perusahaan asing (Tiongkok).

Setidaknya dari perusahaan-perusahaan tersebut, yang paling menyita perhatian publik Malut adalah PT. IWIP yang beroperasi di Halmahera Tegah, PT. MSP dan PT. HPL (Harita Group) yang beroperasi di Pulau Obi. Untuk mendukung ambisi mengusai nikel di Halmahera Tengah, PT. IWIP menyerap investasi senilai US$ 1 Miliar/Rp14.5 Triliun.

Sementara Harita group di Pulau Obi berinvestasi senilai 320 Juta US$ untuk PT. MSP dan telah beroperasi, memproduksi ferronikel sekitar 190 ribu ton per tahun. Sedangkan investasi Harita untuk PT. HPL adalah US$ 1,6 Miliar, berkapasitas 8,3 juta ton bijih nikel dengan target produksi MHP sebanyak 365.000 ton dan turunannya nikel sulfat sebanyak 246.750 ton, serta 31.800 ton kobalt sulfat. Kehadiran smelter di Malut juga diakui dapat melejitkan kinerja ekspor Malut meskipun di masa pandemi covid 19. Sesuai data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Malut, kinerja ekspor Malut melonjak naik pada 2020 disumbangkan oleh produk perpaduan ferro sebesar U$ 976.81 Juta. Adalah merupakan prestasi bagi kinerja ekspor daerah.

Selain itu, hadirnya smelter di Malut juga berdampak pada perekrutan Tanaga Kerja (TK) lokal.

Namun pertanyaan besar bagi pubik Malut adalah apakah melejitnya grafik ekspor dan perekrutan (TK) lokal tersebut berbanding lurus dengan taraf ekonomi kita, terutama kesejahteraan masyarakat lingkar tambang?

Untuk menjawab pertanyaan, bahwa semangat hilirisasi pertambangan terutama nikel Malut, menyisakan berbagai problem yang menyita perhatian publik.

Misalnya aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh masyarakat lingkar tambang di Halmahera Tengah dan Obi yang menggelait akhir-akhir ini menjadi bukti atas ketiadaan hak-hak rakyat lingkar tambang serta akibat tercemarnya lingkungan sekitar tambang yang mengancam kelangsungan hidup mereka.

Pada tataran itu, isu keberlangsungan lingkungan hidup tentunya menjadi isu penting bagi publik Malut, terutama adanya rencana pihak perusahaan yang berkeinginan mengalirkan limbah ke laut dalam.

Misalnya PT. HPL yang membutuhkan high pressure acid leach (HPAL) yang berpotensi pada ancaman lingkungan, misalnya unit asam sulfat, penanganan limbah  slurry HPAL sekitar 66.3 juta ton per tahunnya dan penanganannya membutuhkan kajian mendalam.

Jika PT. HPL dan mungkin pula PT. IWIP yang limbahnya benar-benar dialirkan ke laut, dipastikan berpengaruh dan menjadi perseden buruk bagi kelanjutan visi Malut sebagai Lumbung Ikan Naional (LIN). Dengan demikian opsi lain seperti  dray stack, backfilling bekas tambang, pembuatan kolam, dan DAM limbah dapat dilkukan, tentunya melalui kajian yang komprehensif.

Di titik itulah sebenarnya sengkarut hilirisasi nikel kita di Maluku Utara, karena penanganan lingkungan menjadi penting untuk diikhtiarkan.

Pada perspektif itu, sebagaimana ikhtiar dan peringatan oleh Jared Diamond dalam bukunya Collapse, menurut Profesor University of California ini, faktor utama yang menjadi pertimbangan runtuhnya suatu peradaban, yakni: kerusakan lingkungan akibat eksploitasi manusia, serta faktor lain seperti perubahan iklim; permusuhan; renggangnya persahabatan; respon masyarakat terhadap masalah lingkungan (termasuk lingkungan sosial dan politik).

Bahwa runtuhnya suatu peradaban tidak hanya disebabkan oleh satu faktor, melainkan bablasnya hubungan antara manusia dengan alam. Menurut Diamond, keruntuhan tidak terjadi secara cepat dan seketika, melainkan secara perlahan seperti bom waktu.

Dengan demikian, kita dituntut beriktiar atas fakta-fakta investasi dan nasib lingkungan hidup kita saat ini. Sebab sudah pernah terjadi banjir bandang di areal PT. WBN, PT. IWIP. Entah apa penyebabnya, tetapi perencanaan tambang PT. WBN patut dipertanyakan.

Kasus-kasus lingkungan lainnya seperti penggunaan air permukaan yang berlebihan, tercemarnya Daerah Aliran Sungai (DAS) di Halteng dan Obi yang sering mencuat ke publik adalah seabrek problem hillirisasi yang perlu diikhtiarkan secara dini.

*) Almun Madi adalah Dosen Teknik Pertambangan Unkhair/Sekretaris PERHAPI Maluku Utara

Sumber: malutpost.id

Read More

Kepala BKPM Sebut Proyek Nikel IWIP Pakai TKA, Tetapi…

NIKEL.CO.ID – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan penggunaan tenaga kerja asing (TKA) dalam proyek pembangunan industri pengolahan (smelter) nikel Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, berjalan sesuai aturan.

Dia juga memastikan, penyerapan TKA di kawasan industri tersebut tidak seperti yang kerap dikabarkan.

“Saya sempat cek. Penting disampaikan bahwa isu yang menyatakan TKA lebih banyak itu tidak benar. Ini sudah bagus,” ujar dia Bahlil usai meninjau langsung progres pembangunan industri smelter nikel di IWIP, Jumat (19/2/2021).

Dia menjelaskan, IWIP menargetkan mempekerjakan 25 ribu tenaga kerja, sementara jumlah TKA tidak lebih dari 2.500 orang. TKA hanya digunakan karena memiliki keterampilan yang dibutuhkan.

“Jadi tolong kalau mau sayang negara, sayang daerah, sampaikan data yang benar. Ini penting. Agar persepsi dunia tentang iklim investasi di Indonesia itu sudah berubah, sudah mulai bagus,” kata Bahlil.

Dalam kunjungan itu, Bahlil juga memastikan perizinan investasi serta pemanfaatan fasilitas insentif fiskal yang diberikan oleh BKPM.

“Perencanaan yang mereka kasih ke BKPM, sama atau tidak realisasinya. Baru kita berbicara investasi berkualitas. Apakah arah presiden tersebut sudah tercipta di sini atau tidak?” ungkap Bahlil.

Dia jug mengatakan, kunjungan dilakukan untuk meninjau langsung perkembangan pembangunan industri pengolahan (smelter) nikel beserta fasilitas pendukungnya, antara lain pembangkit listrik dan pelabuhan (terminal khusus).

Menurut dia, kawasan IWIP berada di lokasi yang sangat strategis antara bahan baku, industri, pembangkit listrik, dan pelabuhan.

Bahlil meyakini kawasan industri dengan nilai investasi mencapai USD5 miliar pada tahap pertama itu akan menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia.

“Bahkan terbaik di wilayah ASEAN karena perencanaan dan eksekusi yang komprehensif dan efisien,” ungkap Bahlil.

Presiden Direktur IWIP Xiang Binghe menyambut baik dukungan pemerintah kepada investor.

“Saat ini, IWIP terus berkembang pesat dengan semakin banyaknya smelter di kawasan IWIP yang sudah berada di tahap konstruksi dan produksi, dan juga dimulainya beberapa proyek baru,” ujar Binghe.

Dia juga mengucapkan terima kasih atas bantuan dari BKPM. Kawasan IWIP seluas 2.600 hektare merupakan kawasan industri terpadu pengolahan logam berat yang terletak di Lelief Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Sebelumnya, proyek IWIP ini berjalan sangat lambat selama 24 tahun. Dalam 20 bulan terakhir, kemajuan proyek berjalan cepat.

Pada tanggal 17 Januari 2020, Presiden Joko Widodo menetapkan IWIP sebagai salah satu dari sembilan Kawasan Industri Prioritas Nasional di luar Pulau Jawa.

Sumber: JPNN

Read More

Pantau Pengolahan Nikel, Bahlil Akan Kunjungi Maluku Utara

Satu pesan yang akan saya tekankan kepada pengelola Kawasan IWIP. Libatkan pengusaha lokal yang ada di Maluku Utara…

NIKEL.CO.ID – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia berencana melakukan kunjungan kerja ke Maluku Utara, Jumat (19/2/2021), untuk melihat secara langsung perkembangan pembangunan pabrik pengolahan nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia juga direncanakan akan meninjau fasilitas pendukungnya, antara lain pembangkit listrik dan pelabuhan (terminal khusus).

“Berdasarkan catatan BKPM, pembangunan IWIP ini progresnya positif. Nanti saya akan lihat langsung. BKPM akan terus mengawal penyelesaian proyek Kawasan IWIP tersebut serta memfasilitasi rencana investasi yang akan masuk. Kalau ada masalah, kita selesaikan. Jangan sampai mangkrak lah,” kata Bahlil Lahadalia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (18/02/2021).

Bahlil Lahadalia berharap berjalannya investasi yang berlokasi di kawasan Timur Indonesia tersebut dapat membantu mewujudkan investasi yang berkualitas melalui pemerataan penyebaran investasi.

Proyek tersebut juga diharapkan akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di kawasan itu dalam rangka pemerataan ekonomi.

“Satu pesan yang akan saya tekankan kepada pengelola Kawasan IWIP. Libatkan pengusaha lokal yang ada di Maluku Utara, sehingga nantinya investor dan pengusaha lokal, khususnya UMKM, dapat berkembang bersama dan pada akhirnya akan tercipta pertumbuhan ekonomi yang adil dan merata,” imbuh mantan Ketua Umum HIPMI itu.

Bahlil dijadwalkan pula bertemu dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku Utara, dan meminta Pemda proaktif dalam memfasilitasi penyelesaian proyek Kawasan IWIP tersebut.

Menurut dia, investasi di Kawasan IWIP diharapkan akan memberikan dampak ganda dan memberikan kontribusi nyata untuk meningkatkan perekonomian daerah, sehingga dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Maluku Utara dan Kabupaten Halmahera Tengah.

“Kalau Pemerintah Pusat sudah dukung dan kawal, tentunya perlu juga komitmen dari pemerintah daerahnya. Kita mau menjadikan Provinsi Maluku Utara, khususnya Kabupaten Halmahera Tengah sebagai salah satu percontohan pengolahan nikel (smelter) guna mendukung program pemerintah dalam rangka hilirisasi sektor pertambangan. Penting dilakukan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah,” ungkap Bahlil.

Provinsi Maluku Utara menjadi primadona baru tujuan investasi bagi Penanaman Modal Asing (PMA) di wilayah Indonesia Timur. Pada periode Januari-Desember 2020, provinsi Maluku Utara berada pada peringkat ketiga di antara semua provinsi yang menjadi lokasi PMA, dengan jumlah realisasi investasi sebesar 2,4 miliar dolar AS. Sedangkan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 662,1 miliar.

Sumber: ANTARA

Read More

Antam Berencana Tingkatkan Kepemilikan Saham PT Weda Bay Nickel Jadi 40%

NIKEL.CO.ID – Emiten BUMN tambang mineral, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam dikabarkan berencana menambah porsi kepemilikan saham pada PT Weda Bay Nickel menjadi 40% dari sebelumnya 10%.

Sejumlah sumber Bloomberg menyatakan rencana penambahan ini diprediksi mencapai US$ 300 juta atau setara dengan Rp 4,41 triliun.

Saat ini, perusahaan tambang asal Perancis, Eramet Group bersama perusahaan baja asal China, Tsingshan Holding Group Co menguasai 90% saham Weda Bay, dan sisa 10% dimiliki Antam. Situs resmi Eramet mencatat, dalam patungan itu, Eramet memiliki 43% saham, sementara Tsingshan memiliki 57%.

“Emiten tambang milik negara Indonesia Antam sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan kepemilikannya di Weda Bay Nickel, pemilik salah satu deposit mineral terbesar di dunia,” kata orang-orang yang mengetahui informasi tersebut, dikutip Bloomberg, Senin (26/10/2020).

“Antam juga menghubungi bank investasi untuk membahas potensi pembelian saham dari raksasa baja tahan karat China Tsingshan, salah satu pemegang proyek tersebut bersama Eramet SA Prancis,” kata sumber tersebut.

Situs Eramet mencatat, Weda Bay Nickel merupakan pemilik proyek pemurnian bijih nikel dengan teknologi pirometalurgi. Pabriknya berlokasi di kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Weda Bay Nickel memulai operasi penambangannya pada Oktober 2019 dan memiliki sebanyak 9,3 juta ton konten nikel dan diharapkan menghasilkan 30.000 metrik ton per tahun mulai tahun depan.

Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2020, Antam memiliki beberapa entitas patungan di antaranya Weda Bay Nickel (10%), PT Antam Niterra Haltim (30%), PT Sorikmas Mining 25%, PT Galuh Cempaka 20%, PT Gorontalo Minerals 20%, dan PT Sumbawa Minerals 20%.

CNBC Indonesia sudah menghubungi SVP Corporate Secretary Antam Kunto Hendrapawoko untuk meminta tanggapan. Dia menegaskan, berkaitan dengan informasi fakta material akan diinformasikan oleh Antam dengan melakukan keterbukaan informasi sesuai dengan ketentuan yang ada bagi perusahaan terbuka.

“Pada prinsipnya, kami akan terus berfokus pada ekspansi pengolahan mineral ke hilir yang memberikan nilai tambah yang positif serta perluasan basis cadangan dan sumber daya,” katanya, Senin (26/10/2020).

“Hingga tahun 2019 tercatat posisi cadangan bijih nikel Antam sebesar 353,74 juta wmt (wet metrik ton) dengan sumber daya bijih nikel mencapai sebesar 1,36 miliar wmt.”

“Potensi cadangan dan sumberdaya mineral nikel tersebut menjadi salah satu kekuatan dalam mengembangkan skala bisnis perusahaan melalui hilirisasi mineral nikel guna menciptakan nilai tambah produk nikel Antam serta meningkatkan kontribusi yang positif bagi negara dan masyarakat,” katanya.

“Perusahaan juga terbuka dalam menjalin kemitraan dengan partner strategis berdasarkan profitabilitas menguntungkan dalam mengembangkan proyek-proyek hilirisasi, baik nasional maupun internasional terutama mitra kerja yang memiliki akses terhadap teknologi dan pendanaan untuk mengembangkan produksi mineral olahan baru dari cadangan yang yang dimiliki perusahaan,” lanjut Kunto.

Dia menegaskan, Antam berfokus pada pengembangan bisnis untuk meningkatkan laba dan EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi) perusahaan, serta tetap berupaya menurunkan lebih lanjut cash cost, meningkatkan daya saing biaya, dan peningkatan kinerja bisnis inti untuk meningkatkan revenue.

Di sisi lain, sumber Bloomberg menyatakan, negosiasi sedang dalam tahap awal dan belum ada keputusan akhir yang dibuat soal berapa banyak saham yang dapat didivestasi Tsingshan.

Seorang juru bicara Tsingshan juga tidak menanggapi panggilan dan pesan WeChat oleh Bloomberg pekan lalu.

Data perdagangan mencatat saham ANTM minus 0,46% di posisi Rp 1.080/saham pada Senin (26/10), pukul 11.06 WIB. Dalam 5 hari perdagangan terakhir, saham ANTM naik 2,37% dan sebulan terakhir melesat 49%.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More