Kabupaten Banggai Ingin Investor Bangun Smelter Nikel

NIKEL.CO.ID –  Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng), salah satu daerah yang diincar investor di sektor pertambangan nikel, tercatat saat ini telah terdapat 20 izin usaha pertambangan di daerah ini. Hal itu membuat masyarakat dan pemerintah daerah setempat mendorong pembangunan smelter nikel seperti di Kabupaten Morowali Utara.

Bupati Banggai Herwin Yatim menyatakan, pihaknya tengah mengubah tata ruang daerah agar smelter bisa dibangun.

“Saya mendesain tata ruang, Bualemo, Balantak Utara untuk menjadi kawasan industri. Sementara ini,” kata Herwin, kepada media ini, Senin (17/5/2021).

Dengan perubahan tata ruang, Herwin berharap investor dapat menanamkan modal untuk membangun smelter.

“Paling banyak nikel, ya sudah itu di wilayah kepala burung,” ujarnya.

Listrik yang menjadi kendala utama di Kecamatan Balantak, Balantak Selatan, Balantak Utara, dan Bualemo, menurut Herwin, telah diselesaikan pemerintah daerah dan PLN sejak 2 tahun lalu.

“Sudah ada gardu-gardu sebagaimana perencanaan mereka. Itu bagian dari mendukung kegiatan jangka panjang,” katanya.

Herwin meyakini industri tanpa sokongan energi listrik, investasi tak akan berjalan mulus. Pelaku usaha tak ingin mengeluarkan modal besar hanya untuk menopang bisnisnya.

“Industri akan ter-backup dengan listrik yang cukup, jika tidak nonsense,” katanya.

Ia memaparkan saat ke Beijing, China, bersama Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola, telah terdapat investor yang ingin membangun smelter di Kabupaten Banggai.

“Mereka mau investasi besar untuk membangun smelter. Bahkan sampai 80 tungku mereka mau bangun di Banggai, di Morowali itu hanya 80 tungku,” ujarnya.

Sumber: KUMPARAN.COM

Read More

Tsingshan Amankan Pasokan Bijih Nikel dari Indonesia Hingga Akhir 2022

Tsingshan akan mendapat pasokan nikel dari tambang milik Silkroad Nickel di Morowali, Sulawesi Tengah.

NIKEL.CO.ID – Produsen baja dan nikel asal Tiongkok, Tsingshan, telah menandatangani kesepakatan pembelian bijih nikel selama dua tahun dari Silkroad Nickel. Komoditas itu akan berasal dari tambang bijih nikel laterit di Morowali, Sulawesi Tengah.

Silkroad akan memasok 2,7 juta metrik ton kering (dmt) bijih nikel kadar tinggi dari Maret 2021 hingga Desember 2022. Perusahaan tambang yang berbasis di Singapura itu telah bersiap untuk pengiriman perdana dalam dua minggu ke depan.

Minimum pengirimannya adalah 50 ribu metrik ton per bulan.

“Secara bertahap kami akan meningkatkan produksi mulai April 2021 dan seterusnya untuk memenuhi komitmen offtaker yang baru,” kata Direktur Eksekutif dan Kepala Eksekutif Silkroad Hong Kah Ing, dikutip dari Argus Media, Rabu (17/3/2021).

Nilai kontraknya diperkirakan mencapai US$ 90 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun. Angka ini berdasarkan harga patokan bijih nikel yang ditetapkan pemerintah Indonesia.
Tsingshan pada awal bulan ini sepakat untuk memasok nikel matte ke pabrik peleburan kobalt, Huayou Cobalt, dan produsen energi terbarukan, CNGR. Nikel matte merupakan nikel sulfida yang diproduksi dari hasil peleburan atau smelting. Produk tersebut dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan kimia untuk produksi baterai.

Kesepakatan itu telah merusak perkiraan pasar. Harga nikel lalu anjlok 8% pada 4 Maret 2021 di London Metal Exchange. Angkanya menjadi US$ 15.945 per ton, kerugian intraday terbesar sejak Desember 2016.

Padahal, harga patokan itu sempat mencapai level tertinggi dalam enam tahun terakhir. Pelaku pasar sebelumnya memprediksi harga akan terus naik karena lonjakan permintaan dari sektor kendaraan listrik tapi produksinya terbatas.

Bos Tesla, Elon Musk, bahkan menyebut produksi nikel menjadi perhatian utama perusahaan. Mineral ini merupakan salah satu bahan baku pembuatan baterai lithium-ion untuk menggerakkan mobil listrik.

Dengan hadirnya kesepakatan Tsingshan untuk memproduksi massal nikel matte, kenaikan harganya menjadi terbatas.

“Ini secara substansial akan meredakan kekhawatiran kekurangan bahan baterai,” kata analis Mysteel Celia Wang kepada Bloomberg.

Pasokan nikel dari Silkroad akan digunakan untuk produksi nikel matte Tsingshan. Perusahaan juga berencana membangun fasilitas energi bersih berkapasitas dua ribu megawatt di Indonesia dalam tiga hingga lima tahun ke depan untuk mendukung operasinya di Asia Tenggar.

Sedangkan Silkroad, mengutip dari Reuters, adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang eksplorasi, penambangan, produksi, dan penjualan bijih nikel. Perusahaan memiliki izin usaha pertambangan untuk melakukan operasi penambangan bijih nikel di sekitar 1.301 hektare (ha) di wilayah konsesi Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Proyek Tsingshan di Indonesia

Tsingshan juga sempat disebut oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam proyek pabrik pemurnian atau smelter tembaga PT Freeport Indonesia.

Kedua perusahaan bakal membangun pabrik itu di Kawasan Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

“Ini tinggal finalisasi perjanjian antara Freeport dan Tsingshan,” katanya pada awal Februari 2021.

Rencananya, produsen baterai listrik terbesar dunia asal Negeri Panda, Contemporary Amperex Technologi atau CATL, juga akan ikut bergabung. Luhut memperkirakan investasi yang masuk dalam tiga tahun ke depan mencapai US$ 30 miliar atau sekitar Rp 420 triliun.

Ia mengatakan CATL telah menandatangani komitmen investasi sebesar US$ 10 miliar atau Rp 140 triliun. Lalu, produsen kobalt asal Tiongkok, yaitu Huayou Group, bersama Tsingshan dan Freeport akan menandatangani kontrak senilai US$ 2,8 miliar atau Rp 39,2 triliun untuk smelter.

“Ini akan melahirkan turunan pabrik pipa dan kawat tembaga, mungkin sampai US$ 10 miliar,” ucap Luhut.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Tsingshan Amankan Pasokan Bijih Nikel dari Indonesia Hingga Akhir 2022

Read More

Dari Morowali Menjadi Bintang Dunia

Oleh: Dahlan Iskan

INDONESIA sudah bisa mendikte harga nikel dunia –lewat Xiang Guangda dan He Xiuqin. Minggu lalu harga nikel dunia turun sampai 5 persen. Itu karena Tsingshan Holding Group –yang memiliki pabrik nikel di Morowali, Sulawesi Tengah– membuat pengumuman: akan memproduksi nikel jenis tertentu yang bisa untuk bahan baku baterai mobil listrik.

Dunia pun gempar. Indonesia hebat. Para produsen mobil listrik menjadi tenang.

Selama ini mereka khawatir. Tidak akan cukup nikel untuk baterai mobil listrik. Produksi mobil listrik sudah mencapai tipping point. Sampai Bos Tesla Elon Musk menyerukan agar negara yang punya cadangan nikel mau menambangnya besar-besaran.

Akibat kekhawatiran itu, harga nikel dunia terus naik. Sampai Mr Xiang Guangda membuat kejutan awal bulan tadi.

Bulan lalu harga nikel masih USD 14,070 per ton. Sekarang tinggal USD 11,055. Tapi itu masih lebih tinggi dibanding harga tahun 2017 yang USD 10.200.

Mr Xiang Guangda kini sudah ikut menentukan pasar nikel dunia. Lewat giga pabriknya yang di Indonesia. Tsingshan Holding sendiri kini sudah menjadi salah satu dari 500 perusahaan terbesar di dunia. Perusahaan Mr Xiang itu di nomor 361 di ranking Fortune 500. Dengan kekayaan (2018) RMB 226.5 miliar.

Mula-mula saya tidak tahu apa arti Tsingshan. Kok Mr Xiang mendirikan perusahaan dengan nama Tsingshan.

Yang saya tahu itu bukan nama Mandarin. Lalu saya cari tahu apa nama Mandarin perusahaan Mr Xiang itu. Ketemu: 青山. Dalam huruf latin mestinya ditulis Qingshan. Artinya: bukit yang tenang. Tapi ejaan itu menjadi Tsingshan, kemungkinan ikut ejaan Taiwan.

Di Tiongkok nama lengkap perusahaan itu: 青山控股集团. Artinya: Grup Holding Gunung Tenang.

Mengapa ejaan latinnya ikut Taiwan itu karena letak kampung halaman Mr Xiang memang di seberang pulau Taiwan. Yakni di Kabupaten Wenzhou, masuk provinsi Zhejiang. Atau itu ikut ejaan lama sebelum ada standardisasi ejaan baru di Tiongkok.

Mr Xiang awalnya memang pengusaha kecil di Kabupaten Wenzhou. Ia menjadi pemasok salah satu unsur kecil untuk pintu mobil. Yakni bagian yang terbuat dari stainless steel.

Kabupaten Wenzhou memang pusat industri kecil di Tiongkok –seperti Sidoarjo dulu. Pun sejak sebelum ekonomi Tiongkok dibuka, ekonomi Wenzhou sudah berkembang.

Ketika di seluruh Tiongkok sibuk dengan politik dan revolusi (1965-1975) penduduk Wenzhou tetap asyik berdagang. Mereka sampai menciptakan infrastruktur keuangan sendiri –di luar sistem bank. Itulah sistem kredit bawah tanah –di Indonesia disebut rentenir. Di Wenzhou rentenir tumbuh sangat subur. Pun sampai sekarang. Ketika sistem perbankan di Tiongkok sudah demikian majunya sistem keuangan bawah tanah itu masih subur di sana.

Saya beberapa kali ke Wenzhou. Di Tiongkok orang memberi gelar Wenzhou itu Yahudi-nya Tiongkok. Dari Kabupaten ini lahir pengusaha-pengusaha ulet dan tangguh.

Salah satunya Mr Xiang Guangda itu. Yang nekat membangun giga pabrik nikel di Morowali.

Pemilik grup holding Tsingshan itu hanya dua orang. Yang satu Mr Xiang Guangda itu. Satunya lagi: istrinya sendiri, He Xiuqin. Benar-benar khas Wenzhou.

Ketika masih menjadi pengusaha kecil –pemasok bagian pintu mobil– Mr Xiang bisa menjaga kepercayaan. Ketika industri mobil di Tiongkok meroket Mr Xiang seperti menunggang air pasang. Kebutuhan bagian pintu mobil meningkat.

Mr Xiang lantas membangun pabrik stainless steel kecil-kecilan –di Wenzhou. Di sinilah Mr Xiang belajar banyak membuat industri stainless steel yang efisien. Orang di Tiongkok terheran-heran: kok bisa ada pabrik stainless steel yang bisa jual produk sangat murah. Maka muncul guyon di sana: “Kenapa heran? Kan ia orang Wenzhou?”

Berkat Mr Xiang rakyat biasa pun bisa membeli stainless steel untuk pagar rumah.

Ilmu teknik industri ala Wenzhou itulah yang membuat dirinya yakin: bisa mengalahkan pesaing di seluruh dunia. Termasuk pesaing dari Tiongkok sendiri.

Salah satu kuncinya: pabriknya harus di dekat bahan baku. Itulah logika yang membawa Mr Xiang ke pelosok Morowali –siapa sih pengusaha kita yang mau ke sana?

Maka tanggal 2 Oktober 2013, terjadi penandatanganan di Shanghai. Antara perusahaan Mr Xiang dengan grup Bintang Delapan dari Indonesia. Presiden SBY menyaksikannya. Demikian juga Presiden XI Jinping.

Di situlah diputuskan untuk membangun Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Luasnya: 47.000 hektare. Penuh dengan nikel di bawahnya.

Di masa Presiden Jokowi Tsingshan akhirnya membangun mega pabrik itu. Luasnya 2.000 hektare. Lengkap sekali. Termasuk pelabuhan raksasanya.

Yang membuatnya terkenal adalah: Mr Xiang menerapkan perhitungan biaya rendah sejak dari perencanaan. Itulah untungnya membangun pabrik dari nol. Tidak ada tambal-sulam. Termasuk perencanaan furnish-nya.

Inovasi terbesar dan terbaru yang dilakukan Mr Xiang di Morowali adalah: penggunaan rotary kiln furnace. Untuk memproses nikel yang masih bercampur tanah. Bahan baku itu dimasukkan smelter, lalu dihubungkan dengan furnace untuk stainless steel secara tersambung melalui continuous hot flow.

Dengan gaya Mr Xiang ini, biaya produksi stainless steel dari Morowali bahkan lebih rendah dari biaya di Tiongkok –yang sudah terkenal murah itu.

Saya pun semula mengira Mr Xiang hanya fokus di stainless steel. Ternyata belum lama ini ia mengeluarkan pernyataan resmi. Mengumumkannya di London pula. Bahwa Tsingshan juga akan memproduksi nikel untuk bahan baku baterai.

Berarti saya harus meralat tulisan saya di Disway bulan lalu. Bahwa mesin-mesin smelter yang di Morowali tidak akan bisa untuk memproduksi bahan baku baterai. Ternyata bisa. Dengan upaya tertentu. Tsingshan memang harus investasi lagi untuk membuat bahan baku baterai itu.

Dan memang Tsingshan akan investasi sampai total USD 15 miliar. Itu sama dengan Rp 200 triliun.

Mana tahan.

Di zaman Presiden Jokowi semua itu terwujud. Morowali pun berubah total. Dari ”siapa yang sudi ke sana” menjadi ”bintang dunia”. Sampai ada yang membandingkannya di medsos: apa yang diperbuat Amerika di Papua selama 50 tahun, sudah kalah dengan yang dilakukan Mr Xiang di Morowali dalam lima tahun.

Berlebihan? (Dahlan Iskan)

Sumber: DISWAY

Read More

Defisit Daya, Morowali Akan Dilakukan Pemadam Listrik Bergilir Mulai Senin (15/03/2021)

NIKEL.CO.ID – Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng) mengalami defisit daya pada sistem kelistrikannya. Sehingga, daerah penghasil tambang di Sulteng itu mengalami akan gelap gulita selama sepekan karena terjadi pemadaman listrik bergilir, terhitung mulai Senin (15/3/2021) hingga Minggu (21/3/2021).

Rencana pemadaman listrik tersebut disampaikan melalui surat imbuan Nomor 20/PMD/BKU/III/2021 dari Manajemen ULP Bungku, Minggu (14/3). Empat kecamatan yang akan mengalami pemadaman bergilir, yakni Bungku Tengah, Bahodopi, Bungku Barat dan Bungku Selatan.

Dalam surat imbauan tersebut dijelaskan alasan terjadinya pemadaman listrik kembali yakni, terjadinya gangguan pada salah satu unit PLTU Desa Bahoruru, Kecamatan Bungku Tengah dan menurunnya daya mampu di PLTM Sakita (debit air PLTM masih kecil). Sehingga menyebabkan terjadinya defisit daya pada sistem kelistrikan ULP Bungku, maka akan terjadi penghentian pasokan listrik bergilir. Penghentian pasokan listrik bergilir tersebut dilakukan setiap pukul 17.00-22.00 WITA.

Namun, imbauan yang beredar pada grup-grup WhatsApp (WA) tersebut ditanggapi miring oleh warga. Secara keseluruhan mereka sangat menyayangkan pemadaman tersebut, sebab dari tahun ke tahun selalu sama saja alasannya.

“Perasaan ini musim hujan. Mana mungkin debit air berkurang,” kata Nani (35), salah seorang warga Bungku Tengah, Minggu (14/3/2021).

“Itu yang di Bahoruru tidak ada perbaikan kah? Dari tahun ke tahun tidak ada perubahan,” tambahnya.

Sumber: kumparan.com

Read More

Hasil Rakor Tim Pemantauan Orang Asing di Morowali Terungkap Banyak Pekerja Kasar Didatangkan Dari Tiongkok

NIKEL.CO.ID – Tim Pemantauan Orang Asing (Timpora) melakukan rapat koordinasi (rakor), di rumah makan puncak, Desa Ipi, Kabupaten Morowali, Senin (01/03/2021).

Pertemuan itu membicarakan pengawasan tenaga kerja asing (TKA) yang terindikasi marak di daerah Morowali.

Dalam rapat itu terungkap, masih ada ‘buruh kasar’ masih didatangkan dari Tiongkok. Mereka tidak memiliki keterampilan, namun tetap dipekerjakan di perusahaan. Sehingga tenaga kerja lokal tersingkirkan.

Rapat itu dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Morowali, Kuswandi, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II non TPI Banggai Wijaya, Kapolres Morowali diwakili Kompol Amri, Komdan Kodim 13 11/Morowali, kepala Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah (Kesbangpol) Morowali Abdul Wahid Hasan, Kepala Kejaksaan Negeri, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Badan Intelejen Negera (BIN), Badan Intelejen Strategis (BAIS) dan Kabag Hukum Kabupaten Morowali.

Ketua DPRD Kabupaten Morowali, Kuswandi, mengatakan, sejauh ini proses pengawasan masih lemah terkait pengawasan dokumen.

Kuswandi meminta, TKA yang datang bekerja di Morowali, bukan sekadar bekerja, namun ada pertukaran ilmu disalurkan ke warga lokal.

Kuswandi juga menyebut, hal yang merugikan daerah, masih ada tenaga kerja asing, yang tidak memiliki keterampilan, namun tetap dipekerjakan.

“Ini juga perlu kita periksa visa mereka. Apakah mereka datang bekerja atau berwisata,” tegas Kuswandi.

Kuswandi menyebut, lemahnya pengawasan orang asing, khususnya TKA asal Tiongkok di Morowali mendapat sorotan dari masyarakat, bahkan dari kalangan bawah.

Pasalnya ada indikasi terjadi penyalahgunaan Visa, bahkan ditemukan ada TKA yang tidak memilik skill, namun tetap dipekerjakan dalam perusahaan tambang nikel.

“Ini sudah jelas melanggar aturan keimigrasian dan merugikan negara hingga tenaga lokal. Akhirnya kedatangan TKA, maka tersingkirlah tenaga lokal akibat TKA,” tandasnya.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II non TPI Banggai Wijaya, mengatakan, pihaknya rutin melakukan pengawasan terhadap orang asing yang masuk di Morowali.

Sementara itu, kepala Kesbangpol Morowali, Wahid Hasan, mengungkapkan pertemuan tersebut sudah lama akan dilaksanakan, hanya saja terhalang oleh Covid19.

“Kedepan kami akan membentuk tim bersama dalam peningkatan pengawan TKA, kedatangan TKA di Bandara Morowali,” ujar Wahid Hasan.

Sumber: tekape.co

Read More

Kunjungi IMIP, Begini Harapan Wagub Sulteng

NIKEL.CO.ID – Manajemen Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menerima kunjungan rombongan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Dr. H. Rusli Dg Palabbi, SH, MH pada Rabu (24/2/2021).

Pada kesempatan itu, Rusli mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah dan mengapresiasi kontribusi IMIP bagi perekonomian daerah dan bangsa.

“Tentu ke depan apa yang sudah dilakukan (IMIP) memberi manfaat luar biasa bagi Sulawesi Tengah,” Ujar Rusli dalam sambutannya.

Rusli Dg Palabbi juga menyampaikan harapan agar IMIP dapat membuka kantor cabang di Palu dan memfasilitasi vaksinasi mandiri bagi 40 ribuan karyawan perusahaan nikel terbesar itu.

Sementara Kadis PMDPTSP Ir. Christina Sandra Tobondo, MT menyampaikan bahwa hampir 50% realisasi investasi Sulteng berasal dari IMIP.

Hal ini lanjutnya mengantarkan Sulteng ke peringkat 12 nasional.

Pada bulan Maret nanti, Ia informasikan akan dilaksanakan training bagi perusahaan dan DPMPTSP tentang OSS berbasis resiko.

Lebih lanjut Ia meminta IMIP bermitra dengan UMKM lokal dalam meningkatkan perekonomian daerah.

Merespon keinginan wagub dan kadis maka IMIP lewat juru bicara Syarif akan berkoordinasi dulu dengan manajemen pusat.

Terkait kemitraan dengan UMKM menurutnya selama ini telah berjalan sangat baik.

“Hampir seluruh UMKM wilayah Bahodopi sudah terlibatkan,” singkatnya memastikan.

Nampak ikut hadir, Wakil Ketua Komisi III DPRD Sulteng H. Zainal Abidin Ishak, ST, Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Dr. Syaifullah Djafar, M.Si dan Manajemen IMIP

Sumber: obormotindok.co.id

Read More

Imigrasi Kendari Kaget, Puluhan TKA China Tiba di Bandara Halu Oleo

NIKEL.CO.ID – Puluhan tenaga kerja asing (TKA) asal China kembali memasuki Sulawesi Tenggara.

Teranyar, 26 TKA China tiba di Bandara Halu Oleo pada Selasa (23/2/2021) pagi menggunakan maskapai Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-604.

Kedatangan rombongan TKA China di tengah masa pandemi Covid-19 yang belum usai ini mengagetkan pihak Kantor Imigrasi Kendari.

“Kami kaget juga dapat informasi itu, dan kami sedang dalami terkait perizinan yang mereka miliki,” kata Kepala Seksi (Kasi) Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I TPI Kendari, Mongin dikutip dari laman britakita.net.

Mongin mengatakan pihaknya masih akan berkoordinasi dengan Kantor Imigrasi Banggai, Sulawesi Tengah karena tujuan 26 TKA China ini memasuki Indonesia adalah untuk bekerja di Morowali, Sulawesi Tengah tepatnya di PT Transon Bumindo Resources (TBR).

“Kami akan berkoodinasi dengan pihak Kantor Imigrasi Banggai untuk memastikan dokumen 26 TKA itu karena itu wewenangnya mereka,” pungkasnya.

Sumber:  haluanrakyat.com

Read More

6.413 TKA Bekerja di Sulteng, Terbanyak dari China

NIKEL.CO.ID – Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Sulawesi Tengah mencatat ada 6.413 Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di berbagai perusahaan di sejumlah daerah di provinsi itu. Berdasarkan data per 31 Januari 2021, sebagian besar TKA merupakan warga negara China.

“Dokumen kependudukan mereka untuk bekerja sebagai TKA di Sulteng lengkap,” kata Kepala Bidang Pembinaan, Pelatihan, Pasar Kerja, dan Perluasan Penempatan Tenaga Kerja (P5TK) Disnakertrans Sulteng Firdaus Karim kepada Antara di Kota Palu, Rabu (24/2/2021).

Ia menyatakan, sebagian besar TKA tersebut bekerja di kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) perusahaan yang memproduksi nikel terbesar di Indonesia yang terletak di Kabupaten Morowali. TKA tersebut, lanjutnya, umumnya bekerja sebagai pekerja kontrak paling singkat enam bulan dan akan diperpanjang jika masa kontrak mereka akan berakhir.

“Mereka bukan pekerja yang menempati posisi strategis seperti direktur, komisaris, dan sejenisnya. Berdasarkan peraturan perundang-undangan, mereka berstatus sebagai buruh,” ujarnya.

Sementara itu, lanjutnya, total Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sulteng yang bekerja di luar negeri hingga saat ini sekitar 500 orang didominasi oleh wanita. Usia para PMI tersebut minimal 18 tahun.

“Mereka bekerja di negara-negara di Asia Tenggara, seperti di Malaysia dan Singapura. Namun, sejak awal tahun 2020 kami memoratorium pengiriman PMI asal Sulteng karena pandemi Covid-19. Jika pandemi berakhir maka kebijakan moratorium tersebut akan dicabut,” tuturnya.

Sumber: REPUBLIKA

Read More

Ekonomi Sulawesi & Papua Tumbuh Positif Berkat Nikel dan Tembaga

BPS mencatat hanya ekonomi Pulau Sulawesi dan Pulau Maluku & Papua yang berhasil tumbuh positif pada tahun lalu berkat kenaikan produksi nikel dan tembaga.

NIKEL.CO.ID – Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi secara nasional pada tahun lalu terkontraksi 2,07% dibandingkan 2019. Namun, ekonomi Sulawesi, serta Maluku dan Papua berhasil tumbuh positif. Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, ekonomi Sulawesi tumbuh 0,23%, sedangkan Maluku dan Papua tumbuh 1,44%. Namun, kontribusi kedua wilayah tersebut terhadap perekonomian nasional tak mencapai 10%.

“Ekonomi Sulawesi masih positif terutama berkat ekonomi Sulawesi Tengah yang tumbuh 4,86%. Sedangkan ekonomi Maluku dan Papua didorong oleh ekonomi Maluku Utara yang tumbuh 4,92% dan Papua 2,32%,” ujar Suhariyanto dalam konferensi pers PDB Kuartal IV 2020, Jumat (5/2/2021).

Suhariyanto menjelaskan, perekonomian Sulawesi Tengah didukung oleh kenaikan produksi nikel. Sedangkan perekonomian Papua didukung oleh kenaikan produksi tembaga.

Adapun struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada tahun lalu masih didominasi oleh Pulau Jawa dengan kontribusi 58,75%. Diikuti oleh Sumatera 21,36%, Kalimantan 7,94%, Sulawesi 6,66%, Bali dan Nusa Tenggara 2,94%, serta Maluku dan Papua 2,35%.

Kontraksi ekonomi paling dalam terjadi di Bali dan Nusa Tenggara mencapai 5,01%, disusul Jawa yang minus 2,51%, Kalimantan negatif 2,27%, dan Sumatera negatif 1,19%.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, ekonomi Sulawesi dan Maluku-Papua yang tumbuh positif seiring dengan perbaikan kinerja ekspor.

“Ini terutama ditopang oleh kenaikan harga komoditas global,” katanya.

BPS mencatat ekonomi Indonesia sepanjang tahun lalu minus 2,07%. Ini merupakan pertama kalinya ekonomi Indonesia negatif secara tahunan sejak krisis moneter 1998.

Indonesia tidak sendirian mengalami kontraksi ekonomi. Amerika Serikat negatif 3,5%, Singapura minus 5,8%, Korea Selatan negatif 1%, Hong Kong minus 6,1%, dan Uni Eropa minus 6,4%. Hanya Tiongkok dan Vietnam yang berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,3% dan 2,9%.

Ia menjelaskan,  seluruh komponen pengeluaran yang membentuk Produk Domestik Bruto pada tahun lalu terkontraksi, kecuali konsumsi pemerintah yang tumbuh 1,94%. Sementara konsumsi rumah tangga negatif 2,63%, konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) negatif 4,29%, pembentukan modal tetap bruto/investasi minus 2,95%, serta ekspor dan impor masing-masing minus 7,7% dan minus 14,71%.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, pandemi mendorong penurunan produktivitas dari sisi produksi terutama sektor manufaktur, perdagangan dan konstruksi.

Pertumbuhan ekonomi tahun lalu merupakan yang terendah sejak krisis moneter 1998.

“Kondisi ekonomi Indonesia sepanjang tahun lalu cenderung tidak lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara lain, mengingat tingkat Keketatan respons pemerintah dalam penangangan isu kesehatan COVID-19 yang juga relatif lebih longgar,” katanya.

Ke depan, menurut dia, pemerintah perlu fokus dalam penangangan isu kesehatan melalui optimalisasi program vaksinasi.

Saat ini, pemerintah tengah mengalokasikan anggaran PEN lebih besar mencapai Rp 553 triliun dan memproyeksi anggarannya dapat menngkat menjadi Rp 619 triliun. Anggaran ini diharapkan mampu membantu pemulihan ekonomi di tahun ini.

Sumber: katadata.co.id

Read More

Realisasi investasi di Sulteng tahun 2020 capai Rp30,88 triliun

NIKEL.CO.ID – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) mencatat realisasi investasi periode Januari-Desember 2020 mencapai Rp30,88 triliun yang didominasi investasi asing.

“Angka ini melebihi dari total target yang ditetapkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebesar Rp24,20 triliun dengan prosentase pencapaian yaitu sebesar 127,60 persen,”kata Kepala DPMPTSP Sulteng Christina Shandra Tobondo di Kota Palu, Senin (01/02/2021).

Lima besar daerah yang berkontribusi terhadap realisasi investasi di Sulteng yaitu Kabupaten Morowali dengan nilai realisasi investasi Rp22,64 triliun, Kabupaten Morowali Utara dengan nilai realisasi investasi Rp4,26 triliun.

Selanjutnya Poso dengan nilai realisasi investasi Rp3,24 triliun, Kota Palu dengan nilai realisasi investasi Rp314,49 miliar dan Banggai dengan nilai realisasi investasi Rp129,64 miliar.

“Dengan kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp25,62 triliun atau 83 persen, lebih besar dibandingkan dengan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp5,26 Triliun atau 17 persen,”ujarnya.

Berdasarkan negara asal PMA, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mendominasi dari lima negara teratas yang menanamkan modalnya atau berinvestasi di Sulteng sepanjang 2020 dengan nilai investasi Rp10,31 triliun atau 39,55 persen. Disusul Singapura yaitu Rp7,38 triliun atau 28,80 persen, Hongkong RRT Rp 4,51 triliun atau 17,60 persen, Taiwan Rp3,45 triliun atau 13,46 persen dan Inggris Rp33,64 miliar atau 0,13 persen.

Selain itu, berdasarkan sektor usaha, ada lima besar sektor usaha dengan nilai realisasi terbesar sepanjang 2020 antara lain industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya sebesar Rp 22,84 triliun atau 74 persen.

Kemudian listrik, gas dan air Rp4,02 triliun atau 13 persen, tanaman pangan, perkebunan dan peternakan Rp1,22 triliun, atau 3,9 persen. Berikutnya transportasi, gudang, dan telekomunikasi Rp1,01 triliun atau 3,6 persen dan Perumahan, kawasan industri dan Perkantoran Rp853,98 miliar atau 2,8 persen.

“Capaian realisasi investasi di Provinsi Sulteng pada periode 2020 berhasil menyerap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sebanyak 10.506 orang,” ujar Christina Sandra.

Sumber: ANTARA

Read More