Pemerintah Gandeng PT CNI Vaksinasi 1.400 Warga di Kolaka

NIKEL.CO.ID – Arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mempercepat herd immunity atau kekebalan kelompok di Indonesia melalui vaksinasi Covid-19, direspon cepat oleh pemerintah daerah dan pelaku industri di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara bersama Pemerintah Kabupaten Kolaka menggandeng PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) melakukan vaksinasi terhadap 1400 Warga di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka. Dari jumlah itu, 80 persen diantaranya adalah karyawann CNI.

Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang sedang membangun smelter Nikel di Kabupaten Kolaka, CNI mendukung penuh upaya pemerintah untuk mempercepat vaksinasi secara nasional sebagai jalan mengakhiri pandemi Covid-19.

“Target vaksinasi ini akan menyasar sebanyak 1400 Warga, dimana 80 persen diantaranya adalah karyawan CNI. Tahap pertama kami diberikan sebanyak 697 vaksin yang diperuntukkan bagi karyawan dan warga, terutama mereka yang sudah berusia lanjut (manula),” kata Andi Perdana Kahar, Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 PT CNI, Senin (21/06/2021).

Andi menjelaskan, pelaksanaan vaksinasi ini didahului dengan proses sosialisasi dan edukasi secara bertahap yang melibatkan berbagai elemen, mulai dari tim Gugus Tugas Covid-19, dokter spesialis Paru masing-masing dokter A. Ibnu Hajar, dokter Aslan dan manajemen CNI.

Hal ini dilakukan untuk membangun kesadaran dan keyakinan bagi warga tentang pentingnya vaksinasi.

“Vaksinasi ini diselenggarakan oleh Dinas kesehatan Kolaka selaku vaksinator dan tidak mengurangi jam produksi perusahaan. Pelaksanaannya pun dilakukan sesuai protokol kesehatan 3 T dan 5 M agar tidak menimbulkan kerumunan,” katanya.

Manajer HRGA CNI, Siswo Poedji Priyono mengapresiasi tingginya animo masyarakat untuk melakukan vaksinasi.

Ia berharap setelah vaksinasi tahap pertama ini, vaksinasi tahap berikutnya bisa segera dilakukan pada bulan depan sehingga masyarakat bisa terjangkau semua, khususnya kaum Manula.

“Dengan sistem jemput bola yang dilakukan oleh pemerintah daerah ini, sangat mempermudah warga kecamatan Wolo untuk mendapatkan vaksinasi karena tempatnya jauh. CNI berkomitmen penuh dan siap memberikan fasilitas untuk mempercepat program pemerintah ini,” imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT CNI Derian Sakmiwata menginstruksikan kepada seluruh karyawan dan mitranya yang berada di site Wolo PT CNI untuk melaksanakan vaksinasi Covid-19 demi menyukseskan program pemerintah.

Instruksi vaksinasi ini bertujuan memperkuat sistem kekebalan komunal untuk melawan virus Covid-19 yang selama ini meresahkan, menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat Covid-19, melindungi dan memperkuat sistem kesehatan secara menyeluruh dan menjaga produktifitas dan meminimalkan dampak ekonomi dan sosial.

Selain itu, tim gugus Civid-19 PT CNI diminta memberikan penjelasan secara detail melalui sosialisasi, kampanye dan pemasangan banner, pamflet ditempat yang starategis, guna memberikan pemahaman pada karyawan dan keluarganya, sekaligus melibatkan dokter ahli dalam sosialisasi dan pelaksanaan vaksin Covid-19.

Berdasarkan data Tim Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Sulawesi Tenggara (Sultra), total warga di provinsi itu yang terinfeksi positif COVID-19 mencapai 10.697 setelah pada Sabtu (19/6/2021) bertambah 22 orang.

Dari jumlah itu, pasien sembuh mencapai 10.218 orang.

Sumber: tribunnews.com

Read More

Mimpi Pemain Nasional dalam Industri Hilir Nikel Global

NIKEL.CO.ID – Acara CEO Forum 2021 yang diadakan oleh Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) dihelat secara online pada tanggal 28 April 2021 ini menghadirkan beberapa CEO atau jajaran direksi perusahaan yang berperan dalam industri tambang dan logam. Rangkaian acara yang diselenggarakan oleh MGEI ini bertujuan untuk mempertemukan berbagai sosok di balik perusahaan-perusahaan yang turut andil dalam industri pertambangan mineral logam di Indonesia.

Salah dua dari perusahaan yang berunjuk gigi mengenai sepak terjang hingga rencana pengembangan adalah PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan PT Ceria Nugraha Indotama.

Merepresentasikan PT IMIP, Alexander Barus selaku CEO mengisi slot awal dari sesi pertama dari acara CEO Forum 2021. Alexander memaparkan fakta-fakta dasar mengenai IMIP, seperti tanggal berdiri perusahaan pada 3 Oktober 2012. Selain itu, IMIP memiliki area konsesi mencapai 47.000 hektar dengan area operasi tambang IMIP berkisar 2.000 Ha dan berencana ekspansi hingga 3.000 Ha. Saat ini IMIP mempekerjakan sekitar 46.000 orang, dengan 7.000 di antaranya berkewarganegaraan asing. Dari sisi investor, Alexander menyebutkan Tsingshan Group, Bintang Delapan Group, serta Hanwha.

Alexander juga menyinggung mengenai budaya kerja di IMIP. Perusahaan ini memiliki motto “United We Can”, dengan poin-poin budaya dalam akronim WTS: Working Hard, Target Oriented, dan Smart.

Sepanjang perkembangan dari kiprah dalam industri, IMIP memiliki beberapa anak perusahaan dengan spesialisasi yang berbeda. IMIP memiliki 14 smelter nickel pig iron (NPI), dengan kapasitas smelter mencapai 3 juta metrik ton per tahun (MTPY). Selain nikel, IMIP juga memiliki 1 smelter baja karbon dengan kapasitas 3,5 juta MTPY, 5 smelter katoda nikel-kobalt-mangan berkapasitas 240 ribu MTPY, serta fasilitas pengolahan daur ulang baterai EV dengan kapasitas 20 ribu MTPY. Tidak hanya itu, PT IMIP pun berencana membangun pusat penelitian dan pengembangan yang terkait dengan HPAL.

Dalam perjalanan industri, operasi PT IMIP pun ditunjang oleh pembangkit listrik berkapasitas 3.000 MW, pelabuhan, bandara, serta infrastruktur dasar seperti wisma. Bahkan PT IMIP pun juga memiliki institusi, yakni Politeknik Industri Logam Morowali yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan perusahaan. Saat ini politeknik tersebut memiliki kapasitas 96 mahasiswa per tahun yang tersebar di tiga jurusan.

Dalam rencana ke depan, PT IMIP tidak berhenti untuk berekspansi selagi mengikuti prinsip yang berkelanjutan. PT IMIP sedang dan akan bergerak ke bisnis ramah lingkungan, dengan fokus pada pengembangan EBT seperti energi surya melalui ekonomisasi slag nikel. Dalam segi operasi, IMIP berencana untuk berfokus lebih ke pengolahan bijih nikel dengan grade rendah. Selain itu, IMIP juga ingin untuk menyerap lebih banyak tenaga lokal, serta meningkatkan wujud dari pengabdian masyarakat.

Selain PT IMIP, sesi pertama juga diisi oleh PT Ceria Nugraha Indotama yang disampaikan oleh CEO, Derian Sakmiwata. Ceria sendiri merupakan perusahaan swasta nasional dengan wilayah IUP berlokasi di Kolaka, Sulawesi Tenggara dan mencakup luas sebesar 6.785 Ha. Ceria berfokus pada komoditas nikel dan kobal.

Pada periode 2017 – 2019 Ceria memperdagangkan sekitar 2 juta metrik ton (wmt) per tahun. Namun sejak Tahun 2020, Ceria hanya melakukan perdagangan domestik. Sesuai RKAB 2021, pada tahun ini, Ceria berencana meningkatkan volume dagang menjadi 4.8 juta wmt.

Saat ini, Ceria sedang membangun Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dengan kapasitas produksi 379.000 tpa FeNi dan selajutnya HPAL sebagai upaya memproduksi bahan baterai dengan kapasitas produksi 103.000 tpa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Pembangunan smelter ini telah melibatkan beberapa BUMN diantaranya PT PP, PT WIKA dengan pemasok listrik dari PT PLN.

Tidak hanya fokus di peningkatan produksi dan operasi, Ceria juga berkomitmen terhadap lingkungan, yang dibuktikan dengan sertifikasi Blue Proper Rating dari Kementerian Lingkungan dan Kehutanan selama dua tahun berturut-turut, yaitu Tahun 2019 dan 2020. Selain itu Ceria juga sudah mendapatkan Sertifikat ISO 9001:2015, ISO 45001:2018 dan ISO 14001:2015 serta 12 jam kerja tanpa LTI.

Derian memaparkan bahwa 2021 diperkirakan akan menjadi tahun ekonomi global kembali ke normal (rebound) di tengah ambang pandemik, dengan harga nikel dan kobal kembali mengalami kenaikan. Berdasarkan Wood Mackenzie, 2021, pada tahun 2023, bahkan diperkirakan bahwa permintaan terhadap nikel untuk baterai EV akan sangat signifikan dalam pangsa pasar. Konsumsi nikel akan meningkat sebesar 100 kiloton dalam rentang waktu 2020 dan 2023, dan terus meningkat sebesar 130 kt hingga 2025. Derian juga optimis bahwa mengikuti prediksi, harga nikel akan meningkat ke level 19.275 dolar AS/ ton pada 2030.

Sampai tahun ini, Ceria telah melakukan pengeboran dengan jumlah lubang bor sebanyak lebih dari 40.000 yang umumnya terkonsentrasi di bagian timur dan utara cebakan Lapaopao, mengikuti area prospek laterit. Berdasarkan survey GPR, terdapat cebakan laterit dari 500 juta ton. Hingga Tahun 2019, erdasarkan laporan sumberdaya JORC oleh Ade Kadarusman (AKGC) dan Mick Elias (CSA), dilaporkan bahwa Ceria telah memiliki sumberdaya mineral sebanyak 168 juta dengan potential upside 196 juta ton  dan cadangan bijih sebanyak 53 juta dengan potential upside 172 juta ton, kombinasi saprolit dan limonit. Lebih dalam dari itu, Ceria juga memiliki rencana jangka panjang untuk pengembangan industri. Ceria pun berharap tidak hanya sekedar menjadi penyedia sumber daya nikel semata tetapi juga mampu menjadi pusat industri nikel dan baterai dalam skala regional hingga global.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More

Perusahaan Tambang Nikel Harus Lindungi Lingkungan

NIKEL.CO.ID – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia menegaskan bahwa perusahaan tambang Nikel harus lindungi lingkungan.

Salah satu contoh peduli lingkungan ini adalah PT Ceria Nugraha Indotama (CNI), perusahaan  tambang nikel di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Perusahaan ini merupakan perusahaan pemegang Proper Biru pada 2019 dan 2020.

Demikian diungkapkan Nunu Anugrah, Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) KLHK, Kamis (1/4/2021). Proper Biru tersebut ditetapkan melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia nomor 3 tahun 2014 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Berdasarkan penilaian Proper pada tahun 2019 dan 2020, PT CNI ini mendapatkan Proper Biru. Sedangkan untuk penilaian tahun 2021 masih dalam proses dan penentuannya pada Juli 2021 dengan acuan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia nomor 1 tahun 2021 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup,” ujarnya.

Dijelaskan bahwa, berdasarkan peraturan menteri tersebut, Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut Proper adalah evaluasi kinerja penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan di bidang pengelolaan lingkungan hidup.

“Proper merupakan penghargaan bagi dunia usaha yang menunjukkan kinerja luar biasa dalam pengelolaan lingkungan hidup. Penghargaan terhadap dunia usaha dilakukan melalui proses evaluasi terhadap ketaatan peraturan pengelolaan lingkungan hidup, penerapan sistem manajemen lingkungan, efisiensi energi, konservasi air, pengurangan emisi, perlindungan keanekaragaman hayati, limbah B3 dan limbah padat Non B3 serta pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran KLHK, Karliansyah menambahkan penilaian juga termasuk Pengendalian Kerusakan Lahan meliputi upaya sistematis yang terdiri dari pencegahan, penanggulangan, dan  pemulihan kerusakan lahan akibat pertambangan.

“Termasuk juga Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal), Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan dan Pengelolaan lingkungan yang selanjutnya disebut RKL/RPL, Persetujuan Lingkungan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah.”

“Selain itu harus turut serta melakukan Audit Lingkungan Hidup berupa evaluasi yang dilakukan untuk menilai ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap persyaratan hukum dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah,” tandasnya.

Meski demikian Karliansyah mengungkapkan peringkat proper bisa berubah setiap tahun. Jadi semua itu tergantung kepada kemampuan perusahaan bisa atau tidak untuk menaati peraturan lingkungan hidup (mengolah air limbah dan emisinya sesuai baku mutu air limbah dan baku mutu emisi kegiatan yang bersangkutan, juga mengelola LB3 sesuai standar yangg berlaku).

“Untuk kegiatan pertambangan ditambah lagi potensi kerusakan lingkungan, kalau semua persyaratan dapat dipenuhi, maka perusahaan akan memperoleh peringkat BIRU, tetapi kalau tidak, dipastikan akan mendapat peringkat MERAH. Bila ditemukan pembuangan air limbahnya dengan cara bypass atau LB3 dibuang secara open dumping, maka perusahaan langsung dapat peringkat HITAM,” imbuhnya.

Direktur Utama Evodia Global Sertifikasi (EGS) Umi Fadhila mengatakan, untuk mendapatkan sertifikasi ISO, PT Ceria telah melalui serangkaian penilaian secara ketat dalam kurun waktu yang panjang.

Dalam prosesnya kata Umi, PT Ceria dinilai telah memenuhi seluruh standar penilaian tersebut.

“Sertifikasi ISO 9001 merupakan standar bertaraf internasional di bidang sistem manajemen mutu. Penilaian kami, PT Ceria telah sesuai dan memenuhi persyaratan internasional dalam hal sistem manajemen mutu,” jelasnya.

Dikatakannya, Sertifikasi ISO 9001 2015 merupakan suatu standar bertaraf internasional untuk Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu, atau bisa disebut juga sebagai Sertifikasi Sistem Manajemen Kualitas.

Tujuannya untuk menjamin produk yang dihasilkan perusahaan memenuhi persyaratan yang ditetapkan badan standar dunia yaitu ISO.

Sedangkan Sertifikat ISO 14001:2015 adalah standar yang disepakati secara internasional dalam menerapkan persyaratan untuk sistem manajemen lingkungan (SML).

“Penilaian yang paling penting seperti penerapan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), sustainability produk, dan komitmen untuk mewujudkan green economic, terutama bagi masyarakat setempat,” jelasnya.

Sumber: republika.co.id

Read More

KLHK Tegaskan PT CNI Berstatus Proper Biru


NIKEL.CO.ID –  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menegaskan PT Ceria Nugraha Indotama (CNI), perusahaan tambang nikel di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, merupakan perusahaan pemegang Proper Biru pada 2019 dan 2020.

Menurut Kepala Biro Hubungan Masyarakat (Humas) KLHK Nunu Anugrah, Proper Biru tersebut ditetapkan melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Berdasarkan penilaian Proper pada tahun 2019 dan 2020, PT CNI ini mendapatkan Proper Biru. Sedangkan untuk penilaian tahun 2021 masih dalam proses dan penentuannya pada Juli 2021 dengan acuan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 1 Tahun 2021 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup,” ujar Nunu dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/4/2021).

Dijelaskan, berdasarkan peraturan menteri tersebut, Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut Proper adalah evaluasi kinerja penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan di bidang pengelolaan lingkungan hidup.

Proper, kata Nunu, merupakan penghargaan bagi dunia usaha yang menunjukkan kinerja luar biasa dalam pengelolaan lingkungan hidup.

“Penghargaan terhadap dunia usaha dilakukan melalui proses evaluasi terhadap ketaatan peraturan pengelolaan lingkungan hidup, penerapan sistem manajemen lingkungan, efisiensi energi, konservasi air, pengurangan emisi, perlindungan keanekaragaman hayati, limbah B3 dan limbah padat Non B3 serta pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran KLHK Karliansyah menambahkan penilaian juga termasuk Pengendalian Kerusakan Lahan meliputi upaya sistematis yang terdiri dari pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan kerusakan lahan akibat pertambangan.

Termasuk juga Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Amdal), Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan dan Pengelolaan lingkungan yang selanjutnya disebut RKL/RPL. “Selain itu juga Persetujuan Lingkungan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah, serta Audit Lingkungan Hidup berupa evaluasi yang dilakukan untuk menilai ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap persyaratan hukum dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah,” tandasnya.

Meski demikian Karliansyah mengungkapkan peringkat proper bisa berubah setiap tahun tergantung kemampuan perusahaan bisa atau tidak untuk menaati peraturan lingkungan hidup (mengolah air limbah dan emisinya sesuai baku mutu air limbah dan baku mutu emisi kegiatan yang bersangkutan, juga mengelola LB3 sesuai standar yangg berlaku).

Untuk kegiatan pertambangan ditambah lagi potensi kerusakan lingkungan, kalau semua persyaratan dapat dipenuhi, maka perusahaan akan memperoleh peringkat BIRU, tetapi kalau tidak, dipastikan akan mendapat peringkat MERAH.

“Bila ditemukan pembuangan air limbahnya dengan cara bypass atau LB3 dibuang secara open dumping, maka perusahaan langsung dapat peringkat HITAM,” imbuhnya.

Selain Proper Biru dari KLHK, PT CNI juga telah meraih tiga sertifikat berstandar internasional. Di antaranya Sertifikat ISO 9001: 2015, Sertifikat ISO 14001: 2015 dan Sertifikat ISO 45001:2018.

Direktur Utama Evodia Global Sertifikasi (EGS) Umi Fadhila mengatakan, untuk mendapatkan sertifikasi ISO, PT Ceria telah melalui serangkaian penilaian secara ketat dalam kurun waktu yang panjang.

Dalam prosesnya, kata Umi, PT Ceria dinilai telah memenuhi seluruh standar penilaian tersebut.

“Sertifikasi ISO 9001 merupakan standar bertaraf internasional di bidang sistem manajemen mutu. Penilaian kami, PT Ceria telah sesuai dan memenuhi persyaratan internasional dalam hal sistem manajemen mutu,” jelasnya.

Dikatakan, Sertifikasi ISO 9001 2015 merupakan suatu standar bertaraf internasional untuk Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu, atau bisa disebut juga sebagai Sertifikasi Sistem Manajemen Kualitas.

Tujuannya untuk menjamin produk yang dihasilkan perusahaan memenuhi persyaratan yang ditetapkan badan standar dunia yaitu ISO. Sedangkan Sertifikat ISO 14001:2015 adalah standar yang disepakati secara internasional dalam menerapkan persyaratan untuk sistem manajemen lingkungan (SML).

“Penilaian yang paling penting seperti penerapan Amdal, sustainability product, dan komitmen untuk mewujudkan green economic, terutama bagi masyarakat setempat,” jelasnya.

SML membantu organisasi memperbaiki kinerja lingkungan melalui penggunaan sumber daya yang lebih efisien dan pengurangan limbah, sehingga mendapatkan keunggulan kompetitif dan kepercayaan pemangku kepentingan.

“Sistem Manajemen Lingkungan (SML) membantu perusahaan mengidentifikasi, mengelola, memantau dan mengendalikan isu lingkungan secara holistik,” jelasnya.

Sementara sertifikat ISO 45001:2018 adalah standar internasional pertama di dunia yang menetapkan persyaratan atau pedoman untuk sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3).

“PT Ceria telah lulus audit dan mendapatkan tiga sertifikat ISO. Artinya perusahaan tersebut telah memenuhi berbagai persyaratan yang telah ditetapkan secara internasional,” imbuhnya.

Secara terpisah, Alpi Cekdin Kepala Teknik Tambang PT Ceria Nugraha Indotama, menegaskan bahwa penambangan yang diterapkan Best Mining Practice dengan luasan Wilayah Izin Usaha Pertambangan seluas 6.785 hektare (ha).

Sumber: Sindonews.com

Read More

Proyek Strategis Smelter Nikel PT. CNI di Kolaka Ditargetkan Rampung 2024

NIKEL.CO.ID – Setelah ditetapkan masuk dalam program pembangunan smelter sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) mempercepat pembangunan pabrik bijih nikel di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Proyek Pembangunan Pabrik Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) dan Pembangunan Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian Kobalt dengan Teknologi (HPAL) ini ditargetkan mulai beroperasi dan rampung pada 2024.

Deputi Direktur PT CNI Djen Rizal mengatakan perusahaan terus menggenjot pembangunan infrastruktur strategis di lokasi smelter. Untuk mempercepat pembangunan infrastruktur pabrik, PT CNI telah menggandeng sejumlah BUMN Indonesia, yakni PT Wijaya Karya (WIKA) dan PT PP.

Sementara PT PLN (Persero) bekerja sama untuk penyediaan sumber energi listriknya berdasarkan Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPJBTL) sebesar 350 megawatt (mw).

“Pembangunan smelter tetap on progres dan kami optimistis smelter bisa selesai sesuai target meskipun sempat terkendala oleh pandemi covid-19,” ujar Djen, dalam keterangan resminya, Senin, 8 Maret 2021.

Adapun kerja sama PT CNI dan Wijaya Karya fokus pada pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian nikel RKEF Produksi 3 dan 4 (2×27 MVA). Kontrak kerja sama di bidang Engineering, Procurement, and Construction (EPC) itu senilai Rp2,8 triliun. WIKA mendapat kepercayaan sebagai pelaksana proyek tersebut berdasarkan evaluasi administrasi, teknis, harga, kualifikasi, dan verifikasi oleh PT CNI.

Pabrik feronikel tersebut akan terdiri dari dua lajur produksi, masing-masing lajur akan ditunjang dengan fasilitas produksi utama yaitu Rotary Dryer berkapasitas 196 ton per jam (wet base), dan Rotary Kiln berkapasitas 178 ton per jam (wet base).

Kemudian, electric furnace berkapasitas 72 MVA serta peralatan penunjang lainnya dengan target penyelesaian proyek pada 2023 dan mampu mencapai kapasitas produksi sebesar 27.800 ton Ni per tahun (feronikel 22 persen Ni).

Selain itu kerja sama keduanya juga berfokus pada sinergi EPC proyek nickel laterite hydrometallurgy beserta power plant dengan estimasi nilai kontrak sebesar USD1,1 miliar.

Proyek HPAL yang menjadi inti pada kerja sama dengan CNI-WIKA tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas produksi per tahun sebesar 100 ribu ton per tahun Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) (40 persen Ni dan 4 per Co dalam MHP). Serta 158 ribu ton per tahun konsetrat chromium.

Sementara kerja sama CNI dan PP fokus pada pembangunan pabrik peleburan smelter) feronikel fase 2 (jalur produksi 2) dan fase 4 (jalur produksi 5 dan 6).

Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Wahyu Utomo sebelumnya melalui Surat kepada PT Ceria Nugraha Indotama Nomor:  T/I/PW/68/D.VI.M.EKON.KPPIP/12/2020 tanggal 04 Desember 2020, Perihal Status PSN  Smelter Nikel PT Ceria Nugraha Indotama, menerangkan bahwa Program pembangunan smelter merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tercantum dalam lampiran Peraturan Presiden nomor 109 tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Presiden nomor 3 tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan PSN.

Dijelaskan dalam rapat terbatas evaluasi PSN yang dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pada Mei 2020, program pembangunan smelter terdiri dari 22 proyek smelter yang tersebar di Indonesia.

Salah satu dari 22 smelter yang termasuk dalam program pembangunan smelter adalah pabrik pengolahan komoditi bijih nikel di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara yang dikembangkan oleh PT CNI.

“Kami menerangkan bahwa proyek smelter nikel PT Ceria Nugraha Indotama di Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan bagian dari program pembangunan smelter sebagai salah satu PSN,” pungkasnya.

Sumber: medcom.id

Read More

Pabrik Nikel di Sulawesi Tenggara Segera Dibangun, Berapa Nilai Investasinya?

NIKEL.CO.ID – Pemerintah terus melakukan percepatan pada hilirisasi nikel. Salah satu buktinya adalah dengan percepatan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian bijih nikel rotary-kiln electric furnace (RKEF) dan Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian Kobalt di Kolaka, Sulawesi Tenggara yang merupakan kelanjutan dari fase sebelumnya.

Pembangunan pabrik pengolahan atau smelter tersebut menelan biaya USD180 juta atau setara Rp2,8 triliun. Di mana, proyek yang ada di Sulawesi Tenggara ini dikerjakan oleh PT Wijaya Karya (Persero) sebagai pelaksana proyek.

Direktur Utama Wika Agung Budi Waskito mengatakan, rencananya, proyek ini akan berlangsung selama 36 bulan kalender kerja. Diharapkan proyek ini bisa selesai tepat waktu yaitu pada 2023 mendatngan dengan kualitas yang sangat baik.

Nantinya, proyek tersebut akan terdiri dari dua lajur produksi, dimana masing-masing lajur akan ditunjang dengan fasilitas produksi utama. Seperti Rotary Dryer berkapasitas 196 ton/jam (wet base), Rotary Kiln berkapasitas 178 ton/jam (wet base), Electric Furnace berkapasitas 72 MVA serta peralatan penunjang lainnya.

“WIKA menyambut positif kepercayaan besar yang diberikan oleh PT. CNI. Insha Allah, proyek ini dapat selesai tepat waktu dengan kualitas yang memuaskan dan bisa menjadi titik ungkit kebangkitan industri berbasis mineral di tanah air dan dunia,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu (29/11/2020).

Sementara itu, Direktur Utama PT CNI Derian Sakmiwata mengatakan, dengan pembangunan fasilitas smelter ini diharapkan bisa menggenjot produk nikel di tanah air. Sehingga berefek domino bagi perekonomian nasional.

Nantinya fasiltas produksi utama pada pabrik tersebut adalah Ore preparation facility dan Hydrometallurgical plant berkapasitas 3,6 juta ton per tahun. Kemudian Limestone treatment plant berkapasitas 770 ribu ton per tahun, Sulfuric Acid Plant berkapasitas 550 ribu ton per tahun, Residue storage facilites berkapasitas 970 ribu ton tailing serta peralatan penunjang lainnya.

Read More

CNI dan WIKA Bersinergi Bangun Smelter Nikel di Kolaka Sulawesi Tenggara

NIKEL CO.ID –  PT Ceria Metalindo Indotama (CMI), anak entitas PT Ceria Nugraha Indotama (CNI), menandatangani kontrak kerja sama dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) untuk mengerjakan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel di Wolo, Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Penandatanganan dilakukan Direktur Utama PT CNI Derian Sakmiwata dan Direktur Operasi II WIKA Harum Akhmad Zuhdi serta disaksikan oleh manajemen kedua perusahaan di Jakarta, Jumat (27/11/2020).

WIKA mendapat kepercayaan sebagai pelaksana proyek itu berdasarkan evaluasi administrasi, teknis, harga, kualifikasi, dan verifikasi oleh PT CNI.

“Semoga dengan ditandatanganinya kontrak strategis ini, PT CNI bisa mengoptimalkan besarnya potensi nikel di dalam negeri dan menjadikan industri hulu dan hilir nikel sebagai sektor yang diprediksi bakal prospektif dalam beberapa tahun ke depan,” ujar Derian.

Dengan semangat Merah Putih, lanjut dia, komoditas nikel akan menjadi harapan untuk menggenjot pertumbuhan industri logam dasar, sekaligus pertumbuhan ekonomi nasional.

Rencananya Proyek yang berlokasi di Wolo, Kolaka, Sulawesi Tenggara, ini akan berlangsung selama 36 bulan kalender kerja.

Lingkup pekerjaan WIKA meliputi engineeringprocurementconstructioncommisioning, dan financing.

“WIKA menyambut positif kepercayaan besar yang diberikan oleh PT Ceria Nugraha Indotama. Insha Allah, proyek ini dapat selesai tepat waktu dengan kualitas yang memuaskan dan bisa menjadi titik ungkit kebangkitan industri berbasis mineral di Tanah Air dan dunia,” ujar Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito.

Pembangunan pabrik feronikel itu akan terdiri atas dua lajur produksi, jalur produksi 3 dan 4 (2×72 MVA) dengan nilai kontrak sebesar Rp2,8 triliun dan 180 juta dolar AS.

Masing-masing lajur ditunjang dengan fasilitas produksi utama, yaitu rotary dryer berkapasitas 196 ton/jam (wet base), rotary kiln berkapasitas 178 ton/jam (wet base), electric furnace berkapasitas 72 MVA serta peralatan penunjang lainnya dengan target penyelesaian proyek pada 2023 dan mampu mencapai kapasitas produksi sebesar 27.800 ton Ni/year (ferronickel 22 persen Ni).

Selain CMI, entitas anak dari CNI yang juga melakukan tanda tangan dengan WIKA adalah PT Ceria Kobalt Indotama (CKI).

Kerja sama keduanya berfokus pada sinergi EPC proyek nickel laterite hydrometallurgy beserta power plant dengan estimasi nilai kontrak sebesar 1,1 miliar dolar AS.

Proyek pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian kobalt dengan teknologi HPAL, yang menjadi inti pada kerja sama dengan CMI-WIKA itu diproyeksikan memiliki kapasitas produksi per tahun sebesar 100.000  ton/tahun mixed hydroxide precipitate (MHP) (40 persen Ni dan 4 persen Co dalam MHP) dan 158.000 ton/tahun konsentrat chromium.

Fasilitas produksi utama pada pabrik itu adalah ore preparation facility dan hydrometallurgical plant berkapasitas 3,6 juta ton/tahun (dry base), limestone treatment plant berkapasitas 770 ribu ton/tahun (wet base), sulfuric acid plant berkapasitas 550 ribu ton/tahun, residue storage facilities berkapasitas 970 ribu ton tailing serta peralatan penunjang lainnya.

Teknologi terkini

Agung Budi menyampaikan proyek pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian nikel dalam pengoperasiannya kelak akan menggunakan rute rotary kiln-electric furnace yang sudah terbukti (proven) untuk mengolah bijih nikel kadar 1.59 persen Ni menjadi ferronickel dengan kadar 22 persen.

Dikemukakan, berbeda dengan pabrik nikel di Indonesia pada umumnya yang menggunakan electric furnace tipe circular, pabrik ini menggunakan electric furnace tipe rectangular yang memiliki keunggulan, antara lain, pertama, memiliki konsumsi energi/ton atau kWh/ton yang lebih efisien karena menggunakan desain electrode yang tercelup slag (submerged).

Kedua, memiliki service life yang lebih lama karena fleksibilitas struktur rectangular yang sangat baik mengatasi masalah ekspansi furnace.

Ketiga, memiliki tingkat recovery Ni yang lebih baik, melalui bagian slag settling yang diperpanjang oleh dimensi rectangular.

Sementara, proyek pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian kobalt yang menjadi inti pada kerja sama dengan CKI-WIKA, teknologi yang akan digunakan adalah teknologi high pressure acid leaching (HPAL) yang sudah terbukti untuk mengolah bijih nikel limonit kadar 1,25 persen Co dan  0,13 persen Ni menjadi mixed hydroxide precipitate dengan kandungan 40 ribu ton nikel/tahun dan 4 ribu ton kobalt/tahun sebagai bahan baku komponen baterai kendaraan listrik.

Produk sampingan (byproduct) yang bernilai ekonomis dari HPAL plant ini adalah konsentrat kromium sebesar 158 ribu ton/tahun.

Teknologi HPAL mampu memanfaatkan bijih nikel kadar rendah (limonit) untuk diambil mineral berharganya seperti kobalt dan nikel secara ekonomis, dikarenakan konsumsi energi yang rendah, sehingga meminimalisir biaya operasional (opex) dan memiliki tingkat perolehan (recovery) nikel dan kobalt yang tinggi hingga 90 persen.

Kedua proyek yang ditandatangani Jumat ini, dikatakan, semakin menambah portofolio WIKA yang sebelumnya telah berhasil menyelesaikan pabrik feronikel RKEF Halmahera Timur; ore preparation line 4 MOP-PP RKEF FeNi Pomalaa, Sulawesi Tenggara; RKEF non crucible furnace MOP-PP Pomalaa, Sulawesi Tenggara; refining system MOP PP RKEF FeNi 1 Pomalaa, Sulawesi Tenggara; dan chemical grade alumina Tayan, Kalimantan Barat.

Sumber: ANTARA

Read More

PT Ceria Nugraha Dapat Apresiasi dari DPRD Kolaka

NIKEL.CO.ID – Progress maraton pembangunan pabrik smelter serta pabrik HPAL (High Pressure Acid Leaching) dipresentasekan PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) mendapat apresiasi dan acungan jempol dari DPRD Kabupaten Kolaka. Apresiasi ini disampaikan langsung dewan Kolaka saat gelaran Rapat Dengar Pendapat (RDP), Rabu 21 Oktober 2020.

Anggota Komisi I DPRD Kolaka, dr Hakim Nur Mampa mengatakan, realisasi cepat dua pabrik milik PT Ceria bakal membuka peluang kerja baru bagi masyarakat Kolaka. Ekonomi masyarakat pun bisa meningkat seiring berjalannya aktifitas bisnis perusahaan tersebut di Bumi Mekongga.

“Kami memberikan apresiasi pada PT Ceria atas pemaparannya dan kita optimis PT Ceria bisa berjalan dengan baik, apalagi akan membangun smelter dan pabrik HPAL (High Pressure Acid Leaching),” ujar mantan petinggi Antam tersebut.

Tak hanya itu saja, komitmen PT Ceria yang turut menggandeng Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kolaka dalam proses rekrutmen karyawan disaluti dewan Kolaka.

“Yang perlu diingat dalam proses rekrutmen itu adalah dibuat kriteria karyawan ring 1, sebab dari pengalaman banyak calon karyawan yang membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) ring 1,” ujarnya.

General Manager PT CNI, Chandra B. Sumarah mengatakan besarnya kadar mineral bijih terkandung dalam tanah IUP PT CNI menambah optimisme perusahaan dalam target memenuhi pasokan kekurangan nikel dunia. Termasuk pasar yang sedang berkembang untuk kendaraan listrik melalui pembangunan pabrik HPAL sebagai produsen material baterai. Sebagaimana diketahui penggunaan baterai menjadi begitu tinggi seiring produksi kendaraan listrik yang meningkat.

“PT CNI mematuhi peraturan pemerintah dalam rangka mempromosikan pengolahan dan pemurnian mineral dalam negeri. PT CNI sedang dalam perjalan membangun pabrik smelter dan HPAL untuk produksi material baterai.

“Pabrik Pyrometallurgical atau smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang menghasilkan Ferroncikel, kemurnian tinggi dengan kadar 22 persen nikel, juga pabrik Hydrometallurgical; High Pressure Acid Leaching (HPAL) menghasilkan Nickel-Cobalt Mixed Hydroprecipitation (MHP),” jelasnya.

Adapun kendala proses pembangunan pabrik PT CNI loleh Chandra lebih pada masalah hambatan akibat pandemi Corona.

“Pengadaan barang dan jasa dari China sejak akhir tahun 2019 terhambat. Begitu juga kendala perizinan karena terjadi perubahan kebijakan pusat, sehingga batas waktu izin ekspor yang lebih cepat dari yang telah direncanakan perusahaan pada Desember 2021, menyebabkan bank harus melakukan tinjauan ulang atas proposal pendanaan yang telah disampaikan. Kondisi pasar menyebabkan harga besi nikel domestik di bawah harga wajar untuk kadar bijih nikel yang dijual, sehingga mempengaruhi strategi penambangan dan cashflow dalam persiapan equitas perusahaan,” jelas Chandra.

Khusus mengenai rekrutmen tenaga kerja, Chandra menyatakan PT CNI akan memprioritaskan masyarakat pada lingkar kawasan industri atau Ring 1.

“Tenaga kerja dan kontraktor per Oktober 2020, untuk Ring 1 berjumlah 712 orang atau 53,6 persen, ring 2 berjumlah 81 orang atau 6,1persen, ring 3 berjumlah 153 orang atau 11,5 persen, ring 4 berjumlah 266 orang atau 20 persen, serta ring 5 berjumlah 116 orang atau 8,7 persen,” rincinya.

Sumber: sultraberita.id

Read More

PT. CNI Raih Predikat Sebagai Perusahaan Berkelas Dunia

NIKEL.co.id – PT Ceria Nugraha Indotama (CNI), perusahaan Pertambangan Nikel Terintegrasi Pengolahan dan Pemurnian beserta fasilitas pendukungnya, meraih predikat sebagai perusahaan berkelas dunia.

Pasalnya, PT Ceria baru saja meraih tiga sertifikat berstandar internasional diantaranya Sertifikat ISO 9001: 2015, Sertifikat ISO 14001: 2015 dan Sertifikat ISO 45001:2018.

Direktur Utama Evodia Global Sertifikasi (EGS) Umi Fadhila mengatakan, untuk mendapatkan sertifikasi ISO, PT Ceria telah melalui serangkaian penilaian secara ketat dalam kurun waktu yang panjang.

Dalam prosesnya kata Umi, PT Ceria dinilai telah memenuhi seluruh standar penilaian tersebut.

“Sertifikasi ISO 9001 merupakan standar bertaraf internasional di bidang sistem manajemen mutu. Penilaian kami, PT Ceria telah sesuai dan memenuhi persyaratan internasional dalam hal sistem manajemen mutu,” jelasnya melalui keterangan resmi di Jakarta, Jumat (25/9/2020).

Sistem manajemen mengarah pada apa yang perusahaan lakukan untuk melakukan proses atau aktivitas, sehingga produk nikel yang dihasilkan PT Ceria memenuhi tujuan.

Tujuan produk yang dihasilkan PT Ceria telah ditetapkannya sendiri, diantaranya; Memenuhi persyaratan kualitas konsumen, sesuai dengan peraturan dan sesuai dengan tujuan lingkungan.

Dikatakan, Sertifikasi ISO 9001 2015 merupakan suatu standar bertaraf internasional untuk Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu, atau bisa disebut juga sebagai Sertifikasi Sistem Manajemen Kualitas. Sertifikasi ini menetapkan berbagai persyaratan, pedoman, dan rekomendasi untuk desain dan penilaian dari suatu Sertifikasi Manajemen Kualitas.

Tujuannya untuk menjamin produk yang dihasilkan perusahaan memenuhi persyaratan yang ditetapkan badan standar dunia yaitu ISO.

Sedangkan Sertifikat ISO 14001:2015 adalah standar yang disepakati secara internasional dalam menerapkan persyaratan untuk sistem manajemen lingkungan (SML).

“Penilaian yang paling penting seperti penerapan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), sustainability produk, dan komitmen untuk mewujudkan green economic, terutama bagi masyarakat setempat,” jelasnya.

SML membantu organisasi memperbaiki kinerja lingkungan melalui penggunaan sumber daya yang lebih efisien dan pengurangan limbah, sehingga mendapatkan keunggulan kompetitif dan kepercayaan pemangku kepentingan.

“Sistem Manajemen Lingkungan (SML) membantu perusahaan mengidentifikasi, mengelola, memantau dan mengendalikan isu lingkungan secara holistik,” jelasnya.

Sementara sertifikat ISO 45001:2018  adalah standar internasional pertama di dunia yang menetapkan persyaratan atau pedoman untuk sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3).

“PT Ceria telah berhasil lulus audit dan mendapatkan tiga sertifikat ISO, artinya perusahaan tersebut telah memenuhi berbagai persyaratan yang telah ditetapkan secara internasional,” imbuhnya.

Sebagai informasi, PT Ceria saat ini sedang menyelesaikan pembangunan pabrik peleburan dan pengolahan bijih nikel dengan teknologi Rectangular Rotary-kiln Electronic Furnace (RKEF) untuk memproduksi Ferronickel (FeNi) dan mengembangkan pabrik pengolahan nikel dan kobalt dengan teknologi High-Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk memproduksi bahan baku baterai untuk kendaraan listrik.

Lokasi proyek berada di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia.

Sumber: AsiaToday.id

Read More